NovelToon NovelToon
Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.

Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.

Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Kita Tinggalkan

Bab 21

Waktu berjalan begitu tenang, seolah takdir pun kini tersenyum melihat keutuhan yang terbentuk perlahan di rumah besar itu. Hari-hari tidak lagi diwarnai kecemasan yang menyergap tiba-tiba, pertarungan yang menguras tenaga, atau bisik-bisik curiga yang menyiksa batin. Kini setiap detik yang berlalu terasa penuh makna, terisi oleh hal-hal sederhana yang ternyata menjadi pondasi kebahagiaan yang kokoh.

Pagi dimulai bukan lagi dengan suara ketakutan atau langkah tergesa-gesa Leonid yang berangkat lebih awal. Kini yang terdengar pertama kali adalah suara tawa renyah Alvaro yang berlari kecil menyusuri lorong, memanggil nama Mama dan Ayah sambil membawa mainan kesayangannya. Elena biasanya sudah bangun lebih dulu, merapikan kamar atau sekadar duduk di tepi jendela menikmati udara pagi, bersyukur dalam hati bahwa ia masih diberi kesempatan melihat matahari terbit bersama orang-orang yang kini menjadi segalanya baginya.

Siang itu, saat sedang merapikan rak buku tua di perpustakaan rumah, tangan Elena tersentuh benda berkulit keras yang sudah lama tersembunyi di sudut paling belakang. Sebuah buku harian bersampul kulit cokelat yang sudah mulai mengelupas pinggirannya. Saat ia menariknya perlahan dan membuka halaman pertamanya, tertulis nama dengan tulisan tangan yang anggun namun sedikit goyah: “Kepada anakku yang kelak mungkin akan mengerti mengapa aku begini.”

Jantung Elena berdegup pelan. Ia tahu ini milik ibu Leonid, wanita yang sudah tiada sejak Leonid masih remaja, namun kisahnya masih sering terdengar samar-samar dari mulut pelayan lama. Ia duduk di lantai bersila, mulai membaca baris demi baris dengan hati-hati. Di sana tertulis tentang perjuangan seorang wanita yang berusaha melunakkan hati suaminya yang keras, tentang doa yang tak pernah putus untuk anak laki-lakinya yang tumbuh dengan dinding tinggi di hatinya, dan tentang harapan yang selalu ia selipkan di setiap doa: “Semoga kelak ada seseorang yang mampu melihat kebaikan di balik sikap dingin anakku. Semoga ada yang bisa mengajarkannya bahwa memimpin bukan hanya dengan kekuatan dan kekuasaan, tapi juga dengan hati yang tulus.”

Air mata menetes perlahan membasahi halaman yang sudah agak menguning itu. Elena menyadari saat itu juga bahwa kehadirannya di sini bukan sekadar kebetulan atau anehnya takdir semata. Ia adalah jawaban dari doa yang dipanjatkan puluhan tahun silam oleh seseorang yang tak pernah ia temui, namun yang tulus menginginkan kebahagiaan anaknya.

“Kau menemukan apa?”

Suara berat Leonid terdengar lembut dari ambang pintu. Ia melangkah masuk perlahan, seolah takut mengganggu keheningan yang menyelimuti ruangan itu. Saat melihat buku di tangan Elena dan wajah wanita itu yang basah oleh air mata, langkahnya terhenti sejenak, lalu mendekat dan duduk di sampingnya.

“Ini buku harian ibumu,” jawab Elena pelan sambil menyerahkan buku itu. “Dia sangat menyayangimu, Leonid. Dia selalu berdoa agar kau menemukan seseorang yang bisa mengerti hatimu.”

Leonid menerima buku itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia membacanya dalam diam cukup lama, dan perlahan rahang tegasnya melembut, matanya yang biasanya tajam kini berkaca-kaca menahan haru yang mendalam. “Aku hampir lupa buku ini ada di sini. Dulu aku tidak sanggup membacanya... terlalu banyak rasa sakit yang tertinggal saat beliau pergi.”

Ia menutup buku itu perlahan, lalu menatap Elena lekat-lekat. “Dan kau... kau datang dan mewujudkan semua harapan beliau. Kau yang mengajarkanku kembali cara tersenyum, cara mencintai tanpa syarat, dan cara menjadi ayah yang tidak menakutkan bagi anakku.”

Elena meraih tangan besar itu, menggenggamnya erat. “Kita belajar bersama, Leonid. Kau mengajariku berani berdiri tegak dan melindungi apa yang menjadi hakku. Kau mengajariku bahwa kelembutan bukan berarti lemah. Dan aku... aku hanya berusaha mengajarkanmu bahwa tidak apa-apa untuk membuka hati dan membiarkan orang lain masuk.”

Sore itu mereka duduk cukup lama di sana, mengenang sosok yang telah tiada namun kasihnya masih terasa nyata. Malam harinya, setelah Alvaro terlelap pulas di tempat tidurnya, Elena mulai menceritakan sedikit tentang masa lalunya—tentang apartemen kecil yang sempit, tentang lembur sampai larut malam, tentang hujan deras yang selalu ia benci, dan tentang harapan sederhananya untuk bisa hidup lebih lama demi meraih mimpi kecilnya. Ia tidak menceritakan seluruh rahasia tentang kematiannya dan perpindahan jiwanya, namun ia mulai membuka sedikit jendela kehidupan yang dulu ia jalani.

Leonid mendengarkan dengan tenang, sesekali mengusap punggung tangannya atau mengusap rambutnya pelan, tak pernah memotong atau mempertanyakan hal yang belum siap ia ucapkan. “Tak peduli seberapa jauh tempatmu dulu, atau seberapa sulit hidupmu waktu itu,” ucapnya lembut saat Elena selesai bercerita, “sekarang rumahmu ada di sini. Di sampingku, di samping Alvaro. Dan tidak ada satu pun yang boleh mengusirmu dari tempat ini.”

Malam itu Elena menyadari satu hal yang paling penting: cerita mereka belum berakhir, melainkan baru saja dimulai dengan benar. Setiap tawa yang tercipta, setiap pelukan yang terjalin, dan setiap janji yang terucap adalah jejak yang akan mereka tinggalkan—jejak kasih sayang yang tak akan terhapus oleh waktu, jejak perbaikan yang mengubah luka menjadi kekuatan, dan jejak takdir yang menyatukan tiga hati yang dulu sempat tersesat, kini berjalan beriringan menuju hari esok yang penuh harapan.

 

Bersambung...

1
ocvia
🤣baik kak
Susi Nugroho
Nanti bikin Elena mengandung kembar.... Lanjut....
yula
👍
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
ocvia: siap kak
total 1 replies
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu.... Semangat
ocvia: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!