NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sinar matahari pagi kembali menyapa ibukota Jakarta dengan hawa panasnya yang khas.

​Bima sudah bersiap sejak pagi buta mengenakan pakaian sederhana yang dibelikan oleh Pak Herman kemarin.

​Hari ini dia berencana pergi ke pusat pasar tradisional terbesar di kota ini untuk mencari beberapa bahan khusus.

​Terapi akupunktur yang akan dia lakukan pada Clara membutuhkan minyak esensial dari bunga teratai darah.

​Bunga jenis itu sangat langka dan biasanya hanya dijual secara rahasia di pasar gelap atau toko herbal tua.

​Tok tok tok.

​Bima mengetuk pintu ruang kerja Pak Herman yang berada di lantai satu.

​"Masuk saja, pintunya tidak dikunci."

​Terdengar suara berat Pak Herman dari dalam ruangan.

​Cklek.

​Bima membuka pintu dan melihat miliarder itu sedang sibuk memeriksa tumpukan dokumen tebal di atas meja kerjanya.

​"Selamat pagi Pak Herman, saya ingin meminta izin untuk keluar sebentar hari ini."

​Pak Herman langsung menghentikan pekerjaannya dan menatap Bima dengan senyum hangat.

​"Tentu saja boleh Nak Bima, kamu tidak perlu meminta izin seperti tahanan rumah begitu."

​"Kamu butuh sesuatu dari luar, biar sopir pribadiku yang mengantarkanmu ke tempat tujuan."

​Bima segera menggelengkan kepalanya menolak tawaran tersebut dengan halus.

​"Tidak usah repot-repot Pak, saya berencana pergi ke pasar herbal tradisional di sudut kota."

​"Tempat itu jalannya sangat sempit dan kumuh, mobil mewah Bapak pasti tidak akan bisa masuk ke sana."

​Pak Herman mengangguk paham mendengar alasan yang masuk akal dari Bima.

​"Baiklah kalau begitu, tapi biarkan aku memberimu sedikit uang saku untuk membeli keperluanmu di sana."

​Pak Herman mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya lalu menyodorkannya kepada Bima.

​"Terima kasih Pak Herman, saya anggap ini sebagai pinjaman dan akan saya ganti nanti."

​Bima mengambil uang itu secukupnya lalu segera berpamitan keluar dari rumah mewah tersebut.

​Dia berjalan kaki menyusuri jalanan perumahan elit itu menuju halte bus terdekat.

​Setelah berganti angkutan umum sebanyak dua kali, Bima akhirnya tiba di kawasan pasar tradisional yang sangat padat.

​Suasana di pasar itu sangat bising dengan teriakan para pedagang yang menjajakan barang dagangan mereka.

​Brak!

​Seorang kuli panggul tidak sengaja menabrak bahu Bima karena terlalu terburu-buru membawa karung beras.

​"Maaf anak muda, jalanan ini terlalu sempit," ucap kuli panggul itu sambil terus berjalan.

​"Tidak apa-apa Pak, hati-hati di jalan," balas Bima dengan senyum ramah.

​Bima terus melangkah masuk ke bagian paling dalam dari pasar tersebut.

​Hidungnya yang sangat peka mulai mengendus aroma berbagai macam tanaman obat yang dikeringkan.

​Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah toko tua yang papannya sudah terlihat berlumut dan hampir lapuk.

​Toko itu terlihat sangat sepi dan gelap dibandingkan dengan toko-toko lain di sekitarnya.

​Kring.

​Lonceng kecil berbunyi nyaring saat Bima mendorong pintu kayu toko tersebut.

​Seorang pria tua bungkuk dengan kacamata tebal sedang duduk tertidur di balik meja kasir.

​"Permisi Kek, apakah di sini menjual ekstrak bunga teratai darah?"

​Bima bertanya dengan suara yang cukup keras agar kakek itu terbangun dari tidurnya.

​Kakek tua itu membuka matanya perlahan lalu menatap Bima dari atas ke bawah dengan pandangan menyelidik.

​"Bunga teratai darah bukan barang sembarangan yang bisa dibeli oleh anak muda sepertimu."

​"Harganya sangat mahal dan penggunaannya sangat berbahaya jika salah takaran."

​"Saya tahu Kek, saya seorang tabib dan saya butuh ekstrak itu untuk mengobati pasien saya hari ini."

​Kakek itu mendengus pelan lalu berjalan tertatih-tatih menuju rak kayu di bagian paling belakang tokonya.

​Dia mengambil sebuah botol kaca berukuran sangat kecil yang berisi cairan berwarna merah pekat.

​"Ini adalah ekstrak teratai darah terakhir yang aku miliki tahun ini."

​"Harganya lima ratus ribu rupiah, tidak bisa ditawar sama sekali."

​Bima langsung mengeluarkan uang yang diberikan oleh Pak Herman tadi dan meletakkannya di atas meja.

​"Terima kasih banyak Kek, barang ini sangat berarti bagi pasien saya."

​Bima mengambil botol kecil itu dan menyimpannya dengan hati-hati ke dalam saku celananya.

​Saat Bima membalikkan badan untuk keluar dari toko, telinganya yang tajam menangkap suara langkah kaki yang mencurigakan di luar.

​Tap tap tap.

​Suara langkah kaki itu terdengar sangat pelan namun berirama, khas seperti orang yang sedang mengendap-endap.

​Bima pura-pura tidak menyadari hal tersebut dan tetap melangkah keluar dari toko herbal tua itu dengan santai.

​Dia berjalan menyusuri lorong pasar yang mulai sepi karena matahari sudah semakin terik.

​"Satu, dua, tiga... ah, ternyata ada lima ekor tikus got yang mengikutiku dari tadi."

​Bima bergumam di dalam hatinya sambil tersenyum sangat tipis.

​Dia sengaja mengubah arah langkahnya menuju sebuah gang buntu yang sepi di belakang area pasar daging.

​Tempat itu sangat bau dan kotor, dipenuhi oleh tumpukan sampah sisa sayuran dan tulang belulang sapi.

​Tepat saat Bima sampai di ujung gang buntu tersebut, kelima orang yang mengikutinya langsung memblokir jalan keluar.

​Mereka adalah para preman berbadan besar dengan tato yang memenuhi kedua lengan mereka.

​Salah satu dari mereka yang memiliki bekas luka sayatan di pipinya melangkah maju ke depan.

​"Hei anak kampung, ternyata kau cukup bodoh mengantarkan nyawamu sendiri ke tempat sepi ini."

​Preman berewok itu berbicara sambil memukul-mukulkan tongkat bisbol kayu ke telapak tangannya sendiri.

​Bima membalikkan badannya dengan sangat tenang dan menatap kelima preman itu tanpa ekspresi ketakutan sama sekali.

​"Siapa yang menyuruh kalian mengikutiku sampai ke tempat ini?"

​"Kau tidak perlu tahu siapa yang menyuruh kami, bocah tengik."

​Preman berkepala botak di sebelah kanan ikut menimpali dengan nada suara yang sangat kasar.

​"Tugas kami hari ini hanya untuk mematahkan kedua kakimu dan memastikan kau tidak pernah kembali lagi ke rumah keluarga Herman."

​Mendengar nama keluarga Herman disebut, Bima langsung bisa menebak siapa dalang di balik penyergapan murahan ini.

​"Oh, jadi Tante Vina yang membayar kalian untuk melakukan pekerjaan kotor ini ya?"

​Pemimpin preman itu sedikit terkejut karena Bima bisa menebak nama majikannya dengan sangat akurat.

​"Jangan banyak bicara kau anak gembel, serang dia sekarang juga dan habisi sampai lumpuh!"

​Wush!

​Preman berewok itu langsung mengayunkan tongkat bisbolnya dengan kekuatan penuh ke arah kepala Bima.

​Angin berdesir kencang menandakan bahwa ayunan itu bisa menghancurkan tengkorak manusia biasa dalam sekali pukul.

​Namun Bima sama sekali tidak bergeser dari tempatnya berdiri.

​Tepat sebelum tongkat kayu itu mengenai dahinya, Bima mengangkat tangan kirinya dengan gerakan yang sangat santai.

​Tak!

​Suara benturan keras terdengar saat telapak tangan kosong Bima menahan laju tongkat bisbol tersebut dengan sempurna.

​Preman berewok itu membelalakkan matanya tidak percaya melihat serangannya dihentikan hanya dengan satu tangan.

​"Bagaimana mungkin tangan kurusmu itu bisa menahan pukulanku?"

​"Pukulanmu terlalu lambat dan tenagamu terlalu lemah, mirip seperti ayunan anak kecil."

​Bima menjawab dengan nada mengejek yang membuat emosi preman itu langsung memuncak.

​Krak!

​Dengan sedikit remasan tenaga dalam, Bima menghancurkan ujung tongkat bisbol itu hingga terbelah menjadi dua bagian.

​Sebelum preman itu sempat menarik tangannya, jari telunjuk dan jari tengah Bima melesat cepat seperti ular berbisa.

​Jleb!

​Dua jari Bima menusuk tepat di titik saraf yang berada di pangkal leher preman berewok tersebut.

​Preman itu langsung menjatuhkan sisa tongkatnya dan memegangi lehernya yang tiba-tiba terasa seperti tercekik.

​Bruk.

​Tubuh besar preman itu tumbang ke tanah dengan mata melotot karena kesulitan bernafas.

​Keempat preman lainnya langsung mundur selangkah melihat bos mereka dilumpuhkan dalam waktu kurang dari dua detik.

​"Sialan, anak ini ternyata punya ilmu bela diri."

​"Keluarkan pisau kalian semua, jangan ada yang menahan diri lagi!"

​Sring sring sring.

​Keempat preman itu serentak mengeluarkan pisau lipat bergerigi dari saku celana mereka masing-masing.

​Mereka langsung berlari mengepung Bima dari empat arah yang berbeda untuk menutup ruang geraknya.

​"Maju kalian semua, aku sedang buru-buru ingin pulang."

​Bima menurunkan kuda-kudanya sedikit dan menatap tajam ke arah empat preman yang menyerangnya secara bersamaan.

​Preman botak di depan langsung menusukkan pisaunya ke arah perut Bima dengan sangat cepat.

​Bima hanya memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri membiarkan pisau itu lewat beberapa milimeter dari bajunya.

​Tangan kanan Bima langsung meluncur menangkap pergelangan tangan preman botak itu lalu memelintirnya dengan kuat.

​Krek!

​Terdengar suara tulang yang patah diikuti oleh jeritan kesakitan yang sangat melengking dari preman botak tersebut.

​"Ahhh, tanganku patah!"

​Bima tidak membuang waktu dan langsung menggunakan tubuh preman botak itu sebagai tameng untuk menahan serangan dari preman lainnya.

​Bugh!

​Tendangan keras dari preman ketiga malah mengenai perut temannya sendiri yang sedang ditahan oleh Bima.

​Bima melepaskan preman botak itu lalu melompat setinggi dada orang dewasa.

​Wush!

​Satu tendangan memutar Bima mendarat telak di rahang preman ketiga hingga membuatnya terpelanting menabrak tembok gang.

​Gigi preman itu rontok dan dia langsung pingsan di tempat dengan mulut berdarah.

​Kini hanya tersisa dua preman yang berdiri dengan tangan gemetar memegang pisau mereka.

​Mata mereka memancarkan rasa ketakutan yang luar biasa melihat Bima bertarung seperti monster yang tak kenal ampun.

​"Kenapa kalian diam saja?"

​"Bukankah tadi kalian bilang ingin mematahkan kedua kakiku?"

​Bima melangkah maju mendekati kedua preman itu dengan senyum dingin yang sangat mengerikan.

​"A-ampun Tuan, kami hanya disuruh dan dibayar murahan untuk melakukan ini."

​"Tolong lepaskan kami, kami berjanji tidak akan mengganggu Tuan lagi."

​Kedua preman itu langsung membuang pisau mereka dan berlutut memohon ampun di depan kaki Bima.

​Nyali mereka sudah hancur lebur melihat teman-teman mereka ditumbangkan dengan cara yang sangat brutal.

​Bima menghentikan langkahnya dan menatap kedua preman pengecut itu dengan tatapan jijik.

​"Kalian kembali saja ke majikan kalian dan sampaikan pesan dariku ini."

​"Katakan padanya, jika dia berani mencoba mengganggu proses pengobatan Clara lagi, aku sendiri yang akan mematahkan lehernya."

​Kedua preman itu mengangguk cepat berkali-kali seperti ayam yang sedang mematuk beras.

​"Baik Tuan, kami pasti akan menyampaikan pesan Anda kepada Nyonya Vina."

​"Sekarang pergi dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran dan mematahkan tulang rusuk kalian."

​Mendengar ancaman itu, kedua preman tersebut langsung bangkit berdiri dan berlari terbirit-birit meninggalkan gang buntu itu.

​Mereka bahkan tidak mempedulikan teman-teman mereka yang masih tergeletak mengerang kesakitan di tanah.

​Bima menghela nafas panjang lalu merapikan bajunya yang sedikit berantakan akibat pertarungan tadi.

​Dia merogoh saku celananya untuk memastikan bahwa botol kaca berisi ekstrak teratai darah itu tidak pecah.

​"Untung saja barang berharga ini masih aman."

​"Aku harus segera kembali ke rumah Pak Herman sebelum mereka mulai mencariku."

​Bima berjalan santai keluar dari gang kumuh itu seolah tidak pernah terjadi apa-apa di sana.

​Dia tidak sadar bahwa sejak dia masuk ke pasar tadi, ada sepasang mata-mata lain yang mengawasinya dari atas atap bangunan.

​Sosok berpakaian serba hitam itu menatap kepergian Bima dengan pandangan yang sangat tajam dan penuh perhitungan.

​"Ternyata target kali ini bukan sekadar tabib kampung biasa."

​"Dia memiliki ilmu bela diri kuno yang sudah lama menghilang dari dunia persilatan modern."

​Sosok misterius itu bergumam pelan sebelum akhirnya menghilang di balik bayangan cerobong asap bangunan tua tersebut.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!