Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Dari Raja
Baru beberapa hari kehidupan Elisa kembali damai. Tidak ada lagi insiden yang membuatnya harus berurusan dengan Leon ataupun Pangeran Erlan. Hari-harinya kembali dipenuhi rutinitas sederhana sebagai putri keluarga Winter. Bagi Elisa, ketenangan seperti itu terasa jauh lebih berharga daripada pesta atau perhatian para bangsawan. Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa hari.
Pagi itu, sebuah undangan datang ke kediaman Winter, bukan undangan biasa, melainkan undangan dari Raja Simon. Amplop tebal bersegel lilin emas itu seketika membuat seluruh penghuni riuh, terutama Nyonya Winter. Tentu saja Elisa tau tentang adegan ini, Raja menyebarkan undangan kepada keluarga bangsawan dari berbagai wilayah, untuk menghadiri acara tahunan yaitu berburu bersama Raja.
Menurut novel aslinya, acara berburu tahunan itulah titik awal semuanya. Di sanalah Agnes pertama kali bertemu dengan Pangeran Erlan. Di sanalah pula, Jasmine Snow dan Nandikara saling menunjukkan kemampuan sekaligus kecantikan mereka demi menarik perhatian sang putra mahkota. Persaingan kecil yang awalnya hanya berupa sindiran akhirnya berkembang menjadi permusuhan panjang.
Elisa mengusap dahinya pelan."Kalau mengikuti alur novel, inilah awal konfliknya."
Meskipun keluarga Winter bukan termasuk bangsawan tingkat tinggi, mereka tetap mendapat undangan setiap tahun sebagai keluarga bangsawan yang telah lama mengabdi kepada kerajaan.Namun, tahun ini berbeda. Ada satu kabar yang membuat seluruh kerajaan gempar.
Raja dikabarkan akan memilih seorang gadis bangsawan untuk dijadikan calon istri putra mahkotanya, Pangeran Erlan.
Kabar itu menyebar secepat angin. Semua keluarga bangsawan langsung berlomba-lomba mempersiapkan putri mereka sebaik mungkin. Begitu pun Keluarga Winter.
Sejak matahari baru saja naik, kediaman keluarga Winter sudah seperti pasar yang sedang mengadakan festival.
"Nina! Karpet ruang tamu diganti yang baru!"
"Rika! Jangan lupa bersihkan ruang depan! Kalau pembuat gaun datang dan melihat rumah berantakan bagaimana?"
"Cepat! Cepat! Kenapa kalian santai sekali?"
Suara nyaring Nyonya Winter terdengar dari segala penjuru rumah. Para pelayan sampai berlarian ke sana kemari.
Elisa yang baru keluar kamar sampai terdiam di ambang pintu."Apa terjadi kebakaran?" gumamnya lirih.
"Sejak subuh Nyonya sudah begini," bisik Cani.
Belum sempat Elisa membalas ucapan Cani, terdengar suara nyaring ibunya
"Nandikara!"
Elisa menoleh dengan wajah malas.
Nyonya Winter berjalan cepat menghampirinya sambil membawa beberapa lembar kain.
"Kenapa kau masih memakai pakaian itu? Cepat ganti! Hari ini pembuat gaun akan datang!"
Elisa mengedip bingung."Untuk apa?"
Nyonya Winter menatapnya seolah baru saja mendengar pertanyaan paling aneh di dunia."Untuk apa katamu? Tentu saja membuat gaun baru."
"Tapi aku masih punya banyak gaun. Sudah penuh isi lemari pakaianku."
"Itu gaun lama."
"Masih bagus."
"Sudah ketinggalan model!"
"Masih bisa dipakai."
Nyonya Winter memegang dahinya."Ya Tuhan anak ini. Sejak jatuh pingsan, menjadi sangat menyebalkan."
Suri yang baru turun tangga terkekeh melihat adiknya dimarahi tanpa alasan yang menurutnya masuk akal. Untung saja dia bukan putri kesayangan dari ibu tirinya jadi dia bisa sedikit lega.
"Ibu, bukankah itu acara berburu? Orang-orang akan masuk hutan. Kenapa harus membuat gaun baru?"
Nyonya Winter langsung memandang Elisa dengan wajah serius."Berburu adalah tugas para pria, Kara. Sedangkan tugasmu adalah berdandan secantik mungkin untuk bisa menjaga martabat keluarga."
Elisa hanya bisa menarik napas panjang.
"Ada kabar yang berhembus, katanya Yang Mulia Raja akan memilih calon Putri Mahkota. Bahkan ayahmu sendiri yang memerintahkan agar pembuat gaun terbaik datang hari ini." Lanjut Nyonya Winter.
Baru saja Elisa hendak menjawab, seorang pelayan masuk dengan tergesa-gesa.
"Nyonya! Pembuat gaunnya sudah datang!"
"Akhirnya." Mata Nyonya Winter langsung berbinar. "Cepat persilakan masuk! Nandikara! Suri! Jangan ke mana-mana!"
"Ibu..." Elisa menghela napas panjang.
"Mulai hari ini kalian berdua berada di bawah pengawasanku sampai acara berburu selesai!"
Suri yang sejak tadi berdiri memperhatikan pertengkaran kecil antara ibu dan anak itu hanya tertawa kecil."Sepertinya kita tidak akan bisa kabur."
Elisa hanya bisa pasrah.
***
Sore itu, ruang kerja Raja Simon diselimuti keheningan. Cahaya matahari yang mulai condong masuk melalui jendela-jendela tinggi, menerpa meja kayu besar yang dipenuhi tumpukan dokumen kerajaan. Di salah satu sudut ruangan, Pangeran Erlan berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang punggung, menunggu ayahnya selesai membaca laporan yang baru saja diserahkan.
Raja Simon akhirnya menutup berkas itu perlahan, lalu mengembuskan napas panjang. Tatapannya beralih kepada putra mahkotanya.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan. Duduklah."
Erlan menurut tanpa banyak bertanya. Ia mengambil kursi di hadapan meja kerja sang raja. Wajahnya tetap tenang seperti biasanya, nyaris tanpa ekspresi.
Raja Simon menyandarkan tubuhnya."Akhir-akhir ini kau terlalu banyak menghabiskan waktu untuk urusan negara."
"Itu memang tugasku." Erlan mengangkat pandangan.
Raja Simon tersenyum tipis, tetapi senyum itu segera memudar."Sebagai calon raja, kau memang harus memikirkan kerajaan. Namun sebagai manusia, kau juga harus memikirkan hidupmu sendiri."
Erlan tidak segera menjawab.
"Kau tahu," lanjut Raja Simon,"sejak kecil hidupmu terlalu diatur oleh protokol istana. Bangun sebelum matahari terbit, belajar strategi perang, politik, diplomasi, hukum kerajaan, etika bangsawan, bahkan cara berjalan dan berbicara pun diawasi."
"Sekali lagi itu sudah menjadi tugasku."
"Aku tahu." Raja Simon mengangguk pelan."Dan aku yang memerintahkannya."
Ruangan kembali sunyi beberapa saat.
"Apa Yang Mulia menyesal?" tanya Erlan datar.
"Bukan menyesal. Hanya terkadang aku merasa terlalu banyak mengambil masa mudamu."
Erlan hanya memandang ayahnya tanpa mengatakan apa pun.
Raja Simon tersenyum kecil sambil menggeleng."Berbeda denganku dulu."
Erlan sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan itu.
"Waktu seusiamu, aku bahkan terkenal sering berganti pasangan."
Sedikit kerutan muncul di dahi Erlan."Itu bukan hal yang pantas untuk dibanggakan."
"Hahaha... bukan membanggakan." Raja Simon terkekeh pelan."Hanya mengakui kenyataan. Aku bertemu banyak wanita sebelum akhirnya memilih ibumu sebagai ratuku."
Tatapan Raja Simon berubah lebih serius."Sedangkan kau..."
Beliau menghela napas."Bahkan tidak ada satu pun wanita yang pernah benar-benar dekat denganmu."
Erlan tetap diam.
"Para pelayan istana bahkan mulai bertaruh apakah putra mahkota memiliki hati atau tidak."
"Itu bukan urusan mereka."
"Tentu saja bukan." Raja Simon terkekeh lagi."Tetapi mereka tidak sepenuhnya salah." Raja itu kemudian menatap putranya lekat-lekat."Ketika Lady Anastasia datang ke istana beberapa waktu lalu kau malah mengajukan ekspedisi ke wilayah timur."
Wajah Erlan tetap datar."Hanya kebetulan saja."
"Kebetulan?" Raja Simon mengangkat sebelah alis."Surat permintaan ekspedisi itu masuk tepat sehari sebelum Anastasia tiba."
"Memang jadwalnya yang pas."
"Erlan." Nada suara Raja Simon kini lebih berat."Kau boleh membohongi siapa pun, tetapi jangan ayahmu."
Erlan tidak menjawab.
"Semua orang bisa melihat Lady Anastasia menyukaimu."
"Apa itu harus menjadi urusanku?"
"Erlan, seorang raja harus memiliki ratu." Tegas Raja Simon."Putri semata wayang Duke Gilbery itu datang membawa hadiah khusus untukmu, terus-menerus mencari kesempatan berbicara denganmu, bahkan menghadiri latihan pedang hanya untuk melihatmu dari kejauhan. Dia begitu gigih, jadi kupikir dia cocok untuk menjadi calon ratu."
"Apa kehidupan pribadiku pun harus diatur oleh Raja," Suara dari Pangeran Erlan mulai terdengar tajam.
"Tentu saja tidak. Ayah hanya ingin kau mulai membuka dirimu." Tatapan Raja Simon melembut."Kenali seseorang. Siapapun itu, berikan kesempatan pada dirimu sendiri."
Erlan menarik napas perlahan."Perasaan tidak bisa dipelajari seperti strategi perang."
"Memang."
"Dan tidak bisa dipaksakan."
Raja menarik napas panjang."Itu juga benar."
"Lalu untuk apa kita membicarakan ini?"
Raja Simon terdiam sesaat sebelum berkata pelan,"Karena sebagai seorang ayah, aku khawatir."
Kalimat itu membuat Erlan akhirnya menatap ayahnya sedikit lebih lama."Ayah khawatir suatu hari nanti, kau akan menjalani hidup yang terlalu sepi."
Keheningan memenuhi ruangan. Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara. Akhirnya Erlan berdiri dari kursinya."Jika ini mengenai urusan kerajaan, aku akan menjalankannya."
"Erlan..."
"Jika Ayah ingin mengatur jadwal, tugas, ekspedisi.." Ia berhenti sejenak."Atur apa pun." Tatapan matanya tetap setenang es."Tetapi tidak untuk masalah ini." Nada suaranya dingin, namun tegas."Itu adalah satu-satunya hal yang ingin aku tentukan sendiri."
Raja Simon memandang putranya tanpa berkedip. Ia memahami kerasnya kepala Erlan. Semakin dipaksa, semakin tinggi pula tembok yang dibangun putra mahkotanya.
"Erlan."
Pangeran itu berhenti di depan pintu.
"Ayah hanya ingin kau bahagia."
Tanpa menoleh, Erlan menjawab singkat,"Jika waktunya tiba aku akan memutuskannya sendiri."
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia membuka pintu dan melangkah keluar. Pintu menutup perlahan, meninggalkan Raja Simon sendirian di ruang kerjanya.
Sang raja mengembuskan napas panjang sambil mengusap dahinya."Anak itu..." gumamnya pelan dengan senyum tipis yang bercampur rasa khawatir. "Keras kepala persis seperti ibunya."