Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang kembali patah
Malam semakin larut, jam menunjukan hampir pukul dua dini hari.Mobil Ages berhenti tepat di halaman rumah Sabiru.Mesin bahkan belum benar-benar mati ketika Ages turun dan berlari memasuki rumah.
"Adek!"
Tidak ada jawaban.Ia langsung menaiki tangga dua anak sekaligus menuju kamar putranya.
"Kala." panggilnya setelah mengetuk pintu.
Hening.Ages kembali mengetuk.
"Dek, ini Papa."
Tetap tidak ada jawaban.Namun, dari bawah pintu, cahaya lampu masih terlihat menyala.
Ages mulai panik. "Kala!"
Ia mencoba memutar gagang pintu tapi terkunci.Dadanya semakin sesak.
"Bang!"
Sean yang baru keluar dari kamarnya langsung menghampiri. "Kenapa Om?"
"Kala ngunci pintu sejak tadi?"
Sean ikut mengetuk. "Dek! Buka pintunya!"
Tidak ada jawaban.Ages menoleh kepada Arsen. "Kunci cadangannya di mana?"
Arsen masih memasang wajah dingin. "Laci ruang keluarga."
Tanpa menunggu lebih lama, Ages berlari mengambil kunci cadangan.Tangannya sampai gemetar ketika mencoba memasukkan kunci ke lubang pintu.
Pintu terbuka dan Ages langsung masuk.Matanya segera mencari sosok Kalandra.Remaja itu sedang berbaring membelakangi pintu dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya.Lampu kamar masih menyala.Ponselnya tergeletak di samping bantal.
"Dek..."
Ages berjalan mendekat,ia duduk di tepi ranjang.Pelan-pelan ia mengusap rambut putranya.
"Kala."
Tidak ada respons,namun Ages menyadari sesuatu.Bulu mata Kalandra sedikit bergetar.Ia tahu putranya belum tidur.
"Kamu pura-pura tidur ya?"
Hening dan Ages hanya bisa tersenyum pahit.
"Kalau memang belum mau bicara, tidak apa-apa."
Beberapa detik berlalu.Tiba-tiba terdengar suara pelan.
"...pap."
Ages langsung menoleh. "Iya, Nak."
Kalandra masih membelakangi ayahnya. "Kenapa baru datang?"
Pertanyaan sederhana itu membuat tenggorokan Ages terasa tercekat.
"Papa..."
Ia menarik napas panjang. "Papa minta maaf."
Kalandra memejamkan mata. "Papa benar-benar lupa."
"Maaf,tapi bukan karena papa sudah tidak sayang sama kamu."
Kalandra menggigit bibirnya. "Tapi tetap saja papa lupa." Suaranya terdengar lirih.
Ages menundukkan kepala. "Iya."
"Selama ini Papa enggak pernah lupa."
"Maaf."
"Aku nunggu dari sore."
Ages tidak mampu menyela.
"Aku pikir Papa lagi nyiapin kejutan." Suara Kalandra mulai bergetar. "Tapi ternyata..."
Ia mengusap cepat sudut matanya. "Papa bahkan lupa kalau hari ini aku ulang tahun."
Ruangan itu kembali hening.Ages memeluk putranya dari belakang.Pelukannya sangat erat. "Pukul Papa kalau itu bisa bikin kamu lega."
Kalandra menggeleng. "Aku enggak mau mukul Papa."
"Papa benar-benar minta maaf."
Beberapa saat kemudian, Kalandra membalikkan badan.Matanya sembap. "Papa janji jangan gitu lagi."
Ages mengangguk tanpa ragu. "Janji."
"Serius?"
"Serius."
Ages menggenggam tangan putranya. "Sebagai gantinya..."
"Apa?"
"Besok malam kita makan malam berdua."
"Berdua?"
"Iya."
"Gak ada kerjaan?"
"Tidak ada."
"Gak ada rekan bisnis?"
Ages menggeleng. "Hanya Papa dan Kalandra."
Kalandra tersenyum tipis. "Janji?"
Ages mengacungkan jari kelingkingnya. "Janji."
Kalandra menyambutnya.Keduanya saling mengaitkan jari."Kalau Papa bohong..."
"Papa terima hukumannya."
Kalandra mengangguk pelan. "Kalau papa bohong,nanti giliran Kala yang akan lupa sama Papa."
.
.
Besoknya..
Sejak sore, Kalandra sudah bersiap.Ia mengenakan kemeja favoritnya.Bahkan Sean sampai menggoda penampilannya.
"Wih... ganteng banget."
Kalandra tersenyum."Kan mau dinner sama Papa."
Sean mengacak rambutnya. "Semoga kali ini jadi."
"Pasti." Jawaban Kalandra terdengar begitu yakin.
Pukul tujuh malam.Kalandra sudah duduk di restoran,ia memilih meja dekat jendela.Dua gelas air sudah tersedia namun satu kursi masih kosong.
Pelayan datang. "Apakah ingin memesan dulu?"
Kalandra tersenyum sopan. "Saya tunggu Papa saya."
"Baik."
Lima belas menit berlalu Ages belum datang.Kala terus menunggu hingga setengah jam.Kalandra mulai melihat layar ponselnya.Tidak ada pesan atau panggilan dari sang Ayah.
Ia mencoba menelepon Ages namun tidak diangkat.
"Pak, apakah sudah ingin memesan?"
"Sebentar lagi mbak."
Hingga satu jam berlalu,kursi di depannya masih kosong.Senyum Kalandra perlahan menghilang.
Di waktu yang sama ponsel Sean berdering.Ia melihat nama sang papi yang menghubunginya.
"Halo pi?"
"Bang"
"Iya,pi."
"Om kamu ada di rumah sakit."
Sean mengernyit. "Rumah sakit?"
"Iya."
"Ngapain?"
"Katanya ayah Nadira kritis."
Sean terdiam.Matanya langsung menuju Kalandra yang masih duduk menunggu.Ia sengaja mengikuti sang adik karena merasa tak enak hati.Ia takut terjadi sesuatu pada sang adik,dan ternyata benar terjadi.Adiknya kembali menunggu sendiri tanpa kepastian.
Beberapa menit kemudian, Arsen tiba di restoran.Ia menghampiri Kala bersama Sean.
"Kala."
Kalandra menoleh. "Kok kalian ke sini?"
Sean terlihat ragu."Dek..."
"Kalian datang sama Papa?"
Arsen menghela napas. "Ages di rumah sakit."
Wajah Kalandra langsung berubah khawatir."Papa sakit?"
"Bukan."
"Terus?"
"Dia menemani ayah Nadira."
Kalimat itu membuat Kalandra terdiam.Beberapa detik tanpa berkata apa-apa, ia berdiri.
"Ayo."
"Mau ke mana?"
"Ke rumah sakit."
Arsen dan Sean saling menatap,tanpa banyak bicara keduanya langsung mengikuti Kalandra.
Sesampainya di rumah sakit Kalandra berjalan cepat menyusuri lorong.Langkahnya berhenti ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya.
Ages Sabiru sang Papa.
Pria itu sedang duduk di depan ruang ICU,Di sampingnya ada Nadira yang terlihat menangis.Sementara Ages menepuk pelan bahunya, berusaha menenangkan.
Pemandangan itu membuat langkah Kalandra membeku.Dadanya terasa sesak ia tidak marah karena Ages membantu orang lain.Ia juga memahami bahwa orang sakit memang harus ditolong.
Yang menghancurkan hatinya adalah papanya tidak memberi kabar.Papanya kembali mengingkari janji.Dan sekali lagi...orang yang ditunggu Kalandra memilih berada di tempat lain.
Ages yang mendengar suara langkah kaki menoleh.Matanya langsung membesar.
"Kala..."
Kalandra menatap ayahnya.Tatapannya datar,tidak ada air mata atau teriakan.
Justru itu yang membuat Ages semakin takut."Maaf... Papa—"
Kalandra menggeleng pelan."Enggak perlu."
"Kala, dengarkan Papa dulu."
"Kemarin Papa yanh janji."
Ages membisu.
"Katanya cuma kita berdua." Suara Kalandra sangat tenang.Namun setiap katanya terasa seperti menghantam dada Ages.
"Tadi Papa panik dan mau bantu-."
"Aku tahu."
"Kondisinya mendadak."
"Aku juga tahu."
Kalandra mengangguk pelan. "Tapi Papa tahu enggak..." Ia tersenyum tipis, senyum yang jauh dari biasanya.
"...yang aku tunggu bukan makan malamnya."
Ages menatap putranya tanpa berkedip.
"Aku cuma pengin Papa menepati janji."
Hening. "Aku rela makan mi instan di rumah."
Suara Kalandra mulai bergetar. "Hanya karena ingin makan bareng Papa."
Kalimat itu membuat Ages benar-benar kehilangan kata-kata.Lagi-lagi ia mengecewakan putra yang selalu menjadi alasan hidupnya.
Dan kali ini Kalandra tidak menangis.Ia hanya menatap Ages beberapa detik, lalu berbalik pergi.
"Kala!"
Ages hendak mengejarnya.Namun langkahnya terhenti ketika dokter keluar dari ruang IGD dan memanggil keluarga pasien.Nadira refleks berdiri untuk menahan Ages.
Ages menoleh ke arah punggung Kalandra yang semakin menjauh.
Arsen yang melihatnya dari jauh langsung menghampiri Ages.
Sean yang khawatir dengan Kalan memilih untuk menyusul Kalandra."Abang susul Kala pi."
"Iya,bang.Hati-hati...kabari Papi kalau ada apa-apa."
Arsen melangkah dengan cepat.Tanpa berkata-kata ia langsung memukul Ages tepat di wajahnya.
"Brengsek."
"Anj* lo."
"Gak usah janji anj* kalo emang gak bisa nepati." Bentak Arsen.
Ages hanya bisa pasrah,kali ini ia tak akan membalas.
"Cuma gara-gara cewe ini lo sampe ingkari janji lo sama Kala." Bentaknya lagi,jarinya menunjuk Nadira tepat di wajahnya
Ages menunduk kali ini kesalahannya benar-benar fatal.
.......
.......
.......
...♡Sabiru♡...
🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋