NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UANG YANG DIPAKAI UNTUK OBAT

Aku menjatuhkan tumpukan buku dari rak.

Satu buku mengenai lantai dengan punggung terbuka. Pensil Nira menggelinding sampai ke bawah dipan. Kaleng susu itu tetap tidak ada.

“Kak, berisik,” gumam Nira dari tikar.

“Bantu cari kaleng.”

Ia langsung bangun. Rambutnya menempel di satu sisi wajah. “Yang sepatu?”

Aku mengangguk.

Kami memeriksa bawah meja, belakang karung jagung, dekat tungku, bahkan keranjang pakaian kotor. Rumah kami tidak cukup besar untuk membuat pencarian itu lama. Setelah beberapa menit, Nira berdiri sambil memegang pinggang.

“Mungkin Ayah pindah.”

“Ayah sudah pergi ke jalur longsor.”

“Ya nanti ditanya.”

Aku hendak mengangkat tikar ketika melihat kain pembungkus kaleng di dekat kaki dipan Ibu. Sebagian kain terselip di bawah selimut.

Kalengnya ada di sana.

Aku menariknya. Tutupnya miring. Tidak ada bunyi ketika kugoyang.

Nira mendekat. “Coba lagi.”

Aku menggoyangnya lebih keras. Tetap kosong.

Tutupnya kulepas. Kaleng kubalik di atas telapak tangan. Debu, sepotong kertas, dan satu serpih karat jatuh. Tidak ada koin.

“Ibu.”

Suaraku membuat Ibu membuka mata. Ia berkedip beberapa kali, lalu melihat kaleng di tanganku. Tangannya bergerak ke bawah bantal.

“Langga,” katanya.

“Uangnya di mana?”

Nira menarik ujung bajuku. “Jangan keras-keras.”

“Itu uang kita.”

Ibu mencoba bangun. Ia menahan dada sebelum berhasil bersandar pada dinding. Di dekat bantalnya ada botol cokelat dan dua bungkus obat dari warung.

“Ibu pakai,” katanya.

Aku menatap botol itu, lalu kaleng, lalu Ibu lagi. “Semua?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Ibu mengambil napas pendek. “Semalam sesak. Bu Mirah bilang obatnya harus dibeli.”

“Kenapa tidak bilang?”

Ibu tidak segera menjawab. Ia merapikan ujung selimut yang sudah rapi.

“Kalau bilang, kalian tidak akan membolehkan.”

“Ya memang.”

Nira mencubit lenganku. Aku menepis tangannya.

“Ibu bilang uang itu punya kami.”

“Ibu tahu.”

“Itu buat sepatu Nira.”

“Aku tahu.”

Jawaban Ibu membuatku makin kesal. Ia tahu, tetapi kaleng itu tetap kosong. Selama dua minggu aku menolak ubi goreng, membersihkan rumput kandang Pak Darma, dan membawa singkong Bu Mirah. Nira menyerahkan uang jajannya. Kami menghitung koin satu per satu. Sekarang yang tersisa hanya kertas bertuliskan SEPATU di sisi kaleng.

Ibu batuk sebelum aku sempat berkata lagi. Batuk pertama pendek. Yang kedua membuat tubuhnya terlipat. Ia menutup mulut dengan kain, tetapi suara dari dadanya tetap terdengar. Nira naik ke dipan dan memegang bahunya.

“Bu, minum dulu.”

Ibu mengangkat tangan, meminta waktu. Wajahnya memerah. Saat batuk berhenti, ia bersandar dengan mata tertutup.

Nira mengambil botol obat. “Ini yang bikin Ibu nggak batuk?”

“Harusnya,” jawab Ibu.

“Berarti dipakai saja.”

Aku menoleh kepadanya. “Sepatumu?”

Nira melihat ujung kakinya yang keluar dari selimut. Jempolnya masih dibalut kain tipis.

“Dijahit lagi.”

“Sudah berkali-kali.”

“Ya dijahit berkali-kali lagi.” Ia mengambil kaleng dari tanganku. “Nanti isi lagi.”

Ia mengatakannya sambil mencoba memasang tutup yang penyok. Tutup itu lepas dua kali. Pada percobaan ketiga, ia memukulnya dengan telapak tangan sampai rapat.

Ibu menunduk. Setetes air jatuh ke punggung tangannya.

“Aku minta maaf,” katanya.

Aku ingin menjawab, tetapi yang keluar hanya embusan napas. Aku mengambil botol obat, membaca tulisan kecil di label, lalu mengembalikannya. Aku tidak mengerti namanya. Aku hanya mengerti harga yang tertulis pada bungkus kertas. Hampir sama dengan semua uang dalam kaleng.

“Masih utang sedikit di warung,” kata Ibu.

Aku menendang kaki meja. Meja bergeser dan gelas kosong bergetar.

“Langga,” tegur Ibu.

Aku keluar sebelum mulutku mengatakan hal lain.

Udara pagi basah. Air menetes dari ujung atap ke halaman yang becek. Aku duduk di batu dekat sumur dan menggosok karat pada tutup kaleng dengan kuku. Dari dalam rumah terdengar Nira berbicara pelan kepada Ibu. Aku tidak bisa menangkap kata-katanya.

Beberapa saat kemudian Nira keluar membawa dua pasang sepatu.

“Kita telat.”

“Aku tidak mau sekolah.”

“Kenapa?”

Aku menatapnya. “Ibu sakit.”

“Kalau kita di rumah, Ibu sembuh?”

Aku tidak menjawab.

Nira duduk di tanah, memasukkan kakinya ke sepatu, lalu meringis ketika jempolnya menyentuh bagian depan. Ia menarik tali merah lebih kencang.

“Ibu nyuruh berangkat,” katanya. “Aku mau kasih tugas membaca ke Bu Satya.”

Aku masuk untuk mengambil tas. Ibu sudah berbaring lagi. Obat, gelas air, dan kain batuk diletakkan dekat tangannya.

“Jangan lari di jalan,” katanya.

Aku mengangguk tanpa melihat wajahnya.

Sepanjang perjalanan, Nira beberapa kali tertinggal. Sol depannya menampar tanah setiap kali ia melangkah. Aku memperlambat jalan, tetapi tidak menawarkan menggendong tasnya. Sisa marah masih menempel di tenggorokan dan membuat semua hal terasa mengganggu.

Di tikungan kebun karet, Nira berhenti.

“Kak.”

“Apa?”

“Kalau Ibu nggak beli obat, terus Ibu kenapa-kenapa, uangnya tetap ada, kan?”

Aku menatap lumpur di sepatu.

“Iya.”

“Terus buat apa?”

Ia berjalan lagi sebelum aku menjawab.

Di sekolah, Bu Satya melihat kami dari depan kelas. Ia tidak langsung bertanya. Ia menunjuk bangku dan menyuruh kami menyimpan tas. Saat pelajaran dimulai, aku salah membaca dua baris dan lupa membawa penggaris yang sebenarnya ada di saku depan.

Ketika istirahat, Bu Satya mendekat.

“Ibumu bagaimana?”

“Batuk.”

“Sudah diperiksa?”

“Belum. Baru beli obat warung.”

Ia mengangguk. “Kalau sesaknya bertambah, panggil Bu Kemuning. Jangan tunggu sampai malam.”

Aku mengucapkan iya. Ia tidak menanyakan kaleng, uang, atau mengapa wajahku kusut. Aku lega sekaligus kesal karena ingin ada orang yang tahu tanpa aku harus bercerita.

Gala melihat kaleng saat aku mengambil bekal.

“Bawa kaleng ke sekolah?”

Aku meletakkannya di lantai. “Kosong.”

“Dicuri?”

“Dipakai Ibu beli obat.”

“Oh.”

Ia mengunyah singkong rebusnya. Untuk sekali itu, Gala tidak membuat lelucon. Setelah beberapa detik ia merogoh saku dan menjatuhkan satu koin ke dalam kaleng.

Ting.

Aku segera mengambilnya. “Jangan.”

“Kenapa?”

“Uangmu.”

“Ya, terus?”

“Kau beli makan saja.”

“Aku bawa bekal.”

Aku menyodorkan koin itu. Gala memasukkan kedua tangan ke saku celana.

“Kalau kau kasih balik, kutaruh lagi.”

“Gala.”

“Capek, Langga. Simpan saja.”

Ia pergi ke lapangan. Aku masih memegang koin sampai bel berbunyi. Akhirnya koin itu kumasukkan ke kaleng. Bunyinya kecil, tetapi Nira yang duduk di tangga menoleh dan tersenyum.

Sepulang sekolah kami mampir ke bengkel Mbah Wreda. Ia membuka jahitan lama pada sepatu Nira, membersihkan lumpur, lalu mengambil potongan ban yang lebih tebal.

“Jangan ditekuk terus bagian depannya,” katanya.

“Kalau jalan naik, pasti menekuk,” jawab Nira.

“Ya sudah. Berarti sepatunya yang harus mengalah.”

Aku duduk dekat rak dan menggoyang kaleng satu kali.

“Tabungan habis,” kataku.

Mbah Wreda tidak berhenti bekerja. “Untuk apa?”

“Obat Ibu.”

“Hmm.”

“Aku marah.”

“Sudah bilang ke ibumu?”

Aku mengangguk.

“Dengan baik?”

Aku diam.

Mbah Wreda memasukkan benang ke lubang sol. “Kalau pulang, bantu ambilkan air minumnya.”

“Hanya itu?”

“Apa lagi? Uangnya sudah jadi obat.”

Ia memotong benang dengan gigi. Tidak ada nasihat panjang. Tidak ada kata-kata yang membuat masalah kami mengecil. Ia hanya mengembalikan sepatu Nira dan memasukkan satu kancing logam ke kaleng.

“Biar koinnya tidak sendirian,” katanya.

Malam itu Ayah pulang dengan tangan penuh lumpur dari jalur longsor. Ibu mengaku memakai tabungan sebelum aku sempat bicara. Ayah melihat kaleng, lalu obat di dekat dipan.

“Ayah ganti sedikit-sedikit,” katanya.

Aku hampir bertanya dengan uang dari mana. Kata-kata itu sudah sampai di lidah, tetapi kulihat kulit telapak tangannya terkelupas. Aku menelannya kembali.

Kami makan nasi jagung dan garam. Nira menggoyang kaleng di pangkuannya. Koin Gala dan kancing Mbah Wreda beradu dua kali.

Sesudah minum obat, batuk Ibu sempat reda. Aku tertidur dekat pintu dengan seragam belum dilipat.

Tengah malam, bunyi bangku terseret membangunkanku.

Ibu duduk membungkuk di tepi dipan. Satu tangan memegang dada. Mulutnya terbuka, tetapi udara seperti tidak masuk. Ayah menyalakan lampu minyak dan menepuk punggungnya.

“Ibu?” Nira berdiri di belakangku.

Ayah menyentuh leher Ibu, lalu menatapku.

“Bangunkan Pak Darma,” katanya. “Sekarang.”

1
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!