NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27 : Calon Menantu

Arga masih memandangi langit-langit kamarnya beberapa saat. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Desa Sekar Sari menuju Jakarta akhirnya mulai terasa.

Ia mengembuskan napas pelan, lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. "Besok saja aku mengurus semuanya," gumamnya lirih.

Kelopak matanya terasa semakin berat. Tanpa sadar, Arga pun tertidur.

Siang menjelang sore...

Sinar matahari yang masuk melalui celah gorden perlahan menyinari wajah Arga. Pria itu membuka matanya perlahan, lalu meraih ponsel di atas nakas.

"Pukul dua siang..."

Arga bangkit dari tempat tidur sambil meregangkan tubuhnya. Tidur beberapa jam membuat rasa lelahnya jauh berkurang.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia mengenakan kemeja putih sederhana dipadukan celana panjang hitam. Penampilannya tampak rapi, meski kali ini bukan sebagai seorang dokter yang sedang bertugas.

Sebelum keluar apartemen, Arga sempat berpikir sejenak.

"Sudah sampai Jakarta... sebaiknya aku menemui Mama dan Papa dulu."

Sudah lama ia tidak pulang ke rumah karena menjalankan tugas di Desa Sekar Sari. Ia yakin kedua orang tuanya pasti merindukannya. Tanpa menunda lagi, Arga mengambil kunci mobil, lalu meninggalkan apartemennya.

Sekitar empat puluh menit kemudian...

Mobil Arga perlahan memasuki halaman luas Kediaman Keluarga Pratama. Deretan tanaman hias yang tertata rapi dan air mancur di tengah taman memberikan suasana teduh dan elegan.

Begitu mobil berhenti, seorang pelayan segera menghampiri untuk membukakan pintu. "Selamat datang, Den Arga."

Arga tersenyum ramah. "Terima kasih, Pak Herman."

Belum sempat ia melangkah masuk ke dalam rumah, pintu utama sudah terbuka lebih dulu.

"Arga!"

Suara seorang wanita paruh baya terdengar penuh kegembiraan.

Arga menoleh. Senyum di wajahnya semakin lebar saat melihat ibunya, Chintya Pratama, berjalan cepat menghampirinya.

"Ma."

Chintya langsung memeluk putra sulungnya itu dengan erat. "Ya ampun, akhirnya kamu pulang juga." Matanya tampak berkaca-kaca. "Mama sampai hampir lupa wajah anak sendiri."

Arga tertawa kecil sambil membalas pelukan ibunya. "Ma, Arga baru satu tahun di desa."

"Arga, setahun itu waktu yang sangat lama." Chintya sedikit menjauh, lalu memperhatikan wajah putranya dari atas hingga bawah. "Kamu kok jadi lebih kurus? Apa di sana kamu tidak makan yang benar?"

Arga menggeleng sambil tersenyum. "Arga baik-baik saja, Ma."

"Tetap saja Mama khawatir."

Saat keduanya masih berbincang, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun keluar dari ruang keluarga. Pria itu berwajah tegas, namun sorot matanya penuh wibawa dan kehangatan.

Dialah Arman Pratama, ayah Arga sekaligus pendiri Grup Pratama. "Jadi, anak yang katanya lupa jalan pulang akhirnya ingat rumah juga."

Arga tersenyum lebar. "Papa."

Ia segera menghampiri lalu menyalami dan memeluk ayahnya dengan hormat.

Arman menepuk bahu putranya beberapa kali. "Bagaimana kabarmu?"

"Baik, Pa."

"Sehat?"

"Alhamdulillah sehat."

Arman mengangguk puas. "Bagus."

Meski hanya satu kata, Arga tahu ayahnya juga sangat merindukannya. Arman memang bukan tipe pria yang pandai mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Namun perhatian yang ia tunjukkan selalu terlihat dari sikapnya.

Chintya tersenyum melihat suami dan putra sulungnya itu. "Sudah, jangan berdiri di luar terus. Masuk dulu."

"Iya, Ma."

Mereka bertiga pun berjalan memasuki rumah. Begitu tiba di ruang keluarga, seorang pelayan segera menyajikan teh hangat dan berbagai camilan kesukaan Arga.

Chintya kembali menatap putranya dengan penuh kasih.

"Kamu sengaja pulang tanpa memberi kabar, ya? Mama sampai tidak sempat menyiapkan makanan kesukaanmu."

Arga tersenyum kecil. "Maaf, Ma. Arga pulang cepat karena ingin mengurus surat perpanjangan tugas kerja."

Chintya yang semula tersenyum langsung tertegun.

"Perpanjangan... surat tugas?" ulangnya pelan.

Arga mengangguk. "Iya, Ma."

"Berarti setelah semua urusan selesai..." Chintya menatap putranya penuh harap. "Kamu akan kembali bertugas di Jakarta, kan?"

Arga terdiam sejenak sebelum menggeleng pelan. "Belum, Ma."

Senyum di wajah Chintya perlahan memudar. "Maksudnya?"

"Arga masih harus kembali ke Desa Sekar Sari."

"Apa?"

Kali ini bukan hanya Chintya yang terkejut, Arman pun ikut mengangkat wajah.

Arga menjelaskan dengan tenang, "Masa penugasan Arga masih enam bulan lagi. Setelah itu baru Arga kembali ke Jakarta dan bertugas di rumah sakit besar di sini. Memang seperti itu prosedurnya."

"Tapi..." Chintya menghela napas panjang. "Bukankah sudah setahun kamu bertugas di sana?"

"Iya, Ma. Tapi tugas Arga belum selesai."

Chintya menggeleng pelan dengan wajah kecewa. "Mama kira kali ini kamu pulang untuk selamanya."

Arga tersenyum tipis. "Ma, sebagai dokter, Arga hanya menjalankan tugas. Masih banyak masyarakat di desa yang membutuhkan pelayanan kesehatan."

"Tapi kamu juga anak Mama." Nada suara Chintya mulai terdengar manja. "Masa Mama harus menunggu enam bulan lagi?"

Arga hanya tersenyum sambil meraih tangan ibunya. "Enam bulan tidak akan terasa, Ma."

"Bagi kamu mungkin." Chintya mendengus pelan. "Bagi Mama, sehari saja rasanya lama."

Arman yang sejak tadi diam akhirnya ikut tersenyum kecil. "Biarkan dia menjalankan tanggung jawabnya, Chintya."

"Tentu saja Papa membelanya."

"Bukan membela. Memang begitu tugas seorang dokter."

Chintya menghela napas panjang, meski dalam hatinya ia tetap belum rela. "Sudahlah." Ia kemudian menatap Arga dengan wajah sedikit kesal. "Deren sibuk mengurus perusahaan setiap hari. Sekarang kamu juga sibuk dengan pasien-pasienmu."

Wanita itu melirik ke sekeliling ruang keluarga yang terasa begitu luas. "Rumah ini jadi sepi."

Arga hanya tersenyum mendengarkan keluhan ibunya.

Chintya kembali melanjutkan dengan nada yang lebih lembut. "Kapan Mama dikasih menantu?"

Arga langsung terbatuk kecil. "Ma..."

"Pa, cukup jangan membela Arga terus." Chintya melipat kedua tangan di depan dada. "Mama juga ingin menggendong cucu. Biar rumah ini semakin ramai."

Arman terkekeh pelan melihat wajah putranya yang mulai salah tingkah. "Nah, itu pertanyaan yang bagus."

Arga mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Belum kepikiran ke sana, Ma."

"Belum kepikiran bagaimana?" Chintya langsung memotong. "Usiamu sudah matang. Dokter-dokter seusiamu banyak yang sudah menikah."

Arga hanya tersenyum tipis. "Kalau Arga sudah yakin dengan wanita ini..." Ia berhenti sejenak. "Pasti akan Arga kenalkan kepada Mama dan Papa."

Ucapan itu membuat Chintya dan Arman saling berpandangan. Keduanya menangkap sesuatu dari nada bicara putra mereka.

Arman mengangkat sebelah alisnya. "Jadi..."

Chintya langsung duduk sedikit lebih maju dengan mata berbinar. "Jangan-jangan sekarang kamu sedang dekat dengan seseorang?"

Arga terdiam sesaat. Wajah seorang gadis desa dengan senyum sederhana tiba-tiba terlintas di benaknya. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

Melihat perubahan ekspresi itu, Chintya langsung menepuk pelan lengan suaminya. "Mas, lihat! Anak kita senyum."

Arman ikut memperhatikan wajah Arga yang tampak berbeda dari biasanya. "Nak..." katanya sambil tersenyum penuh arti. "Sepertinya memang ada seseorang yang sedang mengisi hati dan pikiranmu."

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!