Naora, seorang wanita yang dijadikan taruhan oleh suaminya yang sering menyiksanya selama dua tahun pernikahan. Ia dengan tega menyerahkan Naora pada lawannya yang seorang penguasa.
Damian, seorang Bos mafia yang kejam seketika menaruh rasa iba pada Naora saat melihat luka-luka di tubuh Naora.
Sikap Damian yang dingin dan menakutkan tidak ada ampun pada lawannya tapi tidak sedikitpun membuat Naora merasa takut. Hatinya sudah mati rasa. Ia tidak bisa merasakan sakit dan bahagia. Ia menjalani hidup hanya karena belum mati saja.
Namun tanpa diduga, hal itu malah membuat Damian tertarik dan ingin melepaskan Naora dari jerat masa lalunya yang menyakitkan.
Akankah Damian bisa melakukannya dan terjebak dalam rasa penasarannya ?
Minta dukungan yang banyak ya teman-teman 🫶 Terimakasih 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama di pagi hari
Naora segera pergi ke kamar setelah sampai di mansion. Sedangkan Damian pergi ke mansion belakang untuk melatih anak buahnya bertarung.
Sepanjang latihan, semua anak buahnya tampak bingung dengan sikap Damian yang tidak biasa.
Pasalnya Damian diam-diam tersenyum sendiri. Meskipun senyuman kecil, tapi tertangkap oleh pandangan anak buahnya.
Dan lagi, Damian tidak marah atau berteriak seperti biasanya jika ada yang melakukan kesalahan. Ia hanya mengatakan perbanyak latihan saja.
Semua anak buahnya menduga bahwa ini pasti ada hubungannya dengan seorang wanita yang berada di dalam mansion. Meskipun mereka tidak tau siapa itu dan apa hubungannya dengan Damian, tapi mereka harus meyakini sedikit banyak bahwa Damian sedang jatuh cinta padanya.
Damian masuk ke dalam kamarnya saat hari sudah begitu larut. Jika urusan pekerjaan, ia seringkali lupa pada hal lain. Entah itu makan atau beristirahat.
Ia mendapati Naora tidur diujung ranjang dengan selimut membalut seluruh tubuhnya menyisakan kepala saja.
"Apa nyaman tidur seperti itu ?". Tanya Damian seorang diri.
Kemudian ia memutuskan untuk mandi setelah itu berbaring di sebelah Naora hanya dengan mengenakan celana panjang saja tanpa atasan.
Damian menatap langit-langit kamarnya. Memikirkan apa yang hari ini terjadi.
Lagi-lagi sebuah senyum kecil terukir di bibirnya. Ia kini sudah memiliki istri. Hal itulah yang membuatnya selalu tersenyum sejak tadi. Entah mengapa, memikirkan Naora membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Lama Damian hanya mengedipkan matanya saja. Rasa kantuk belum menghampirinya. Ia menoleh kearah Naora yang sudah membuka sebagian selimutnya sampai ke perut.
Tiba-tiba Damian merasa ingin sekali memeluk tubuh Naora. Dengan perlahan, Damian mendekatkan tubuhnya kearah Naora dan mengangkat kepala Naora dengan perlahan. Kemudian ia menelusup kan lengannya dibawah leher Naora.
Naora bergerak pelan mencari posisi yang nyaman hingga akhirnya ia menemukan posisi itu dengan memeluk tubuh Damian yang dianggapnya sebagai guling.
Damian tersenyum kecil. Menganggap jika Naora merasa nyaman dengan pelukannya.
Tidak butuh waktu lama Damian merasa matanya berat dan akhirnya memejamkan matanya dalam hitungan detik.
..
Naora merasa tubuhnya berat sekali dan susah untuk bergerak. Ia mengira mungkin karena kelelahan dan mencoba meregangkan tubuhnya bahkan sebelum membuka mata.
Brukk..
"Sial.." Pekik Damian keras.
Mendengar suara Damian yang terdengar mencekam, membuat Naora segera membuka matanya dengan cepat dan melihat Damian sudah tergeletak di bawah ranjang dengan mengusap pinggang nya.
"Astaga, apa yang terjadi. Ayo Tuan ku bantu kau berdiri". Kata Naora cepat-cepat turun dan membantu menarik tangan Damian.
Damian tidak menolak. Meskipun ia merasa kesal karena tendangan dari Naora tapi ia senang juga melihat perhatian Naora padanya. Meskipun itu lebih nampak seperti rasa bersalah.
"Kenapa kau duduk di lantai ?". Tanya Naora setelah Damian duduk diatas ranjang.
"Apa kau bilang ? Duduk di lantai ? Kau yang menendang ku. Kau meregangkan tubuhmu sampai-sampai tangan dan kakimu menjatuhkan ku yang sudah berada diujung ranjang". Kata Damian menggebu-gebu. Enteng sekali Naora menganggap nya duduk di lantai.
"Apa ? Aku ? Aduh maaf Tuan, aku sungguh tidak sengaja". Kata Naora merasa bersalah.
Dia benar-benar tidak punya rasa malu. Bagaimana bisa menjatuhkan pemilik ranjang atau lebih tepatnya pemilik mansion ini dengan tendangan. Seingatnya tadi malam saat tidur ia berada di ranjang sebelah kiri. Tapi sekarang ia bangun di sisi sebelah kanan. Benar jika ia sudah menjajah tempat tidur Damian. Pikir Naora.
"Tendanganmu lumayan juga". Kata Damian dengan wajah kesalnya. Entah itu pujian atau sindiran tapi bagia Naora benar-benar memalukan.
"Apa ada yang sakit ? Biar aku pijat". Kata Naora pelan. Ia tidak mau membangunkan singa dalam diri Damian pagi-pagi begini.
"Hem. Pijat pinggang ku". Balas Damian tanpa menolak. Ia bahkan sudah tengkurap diatas ranjang.
"Baiklah. Tapi sebentar, aku ingin ke toilet dulu". Kata Naora segera berlari masuk ke kamar mandi.
Naora memutuskan untuk buang air kecil, mencuci wajah dan menggosok gigi. Itu kebiasaan sehari-hari setelah bangun tidur pagi hari.
Kemudian ia keluar dengan wajah yang lebih segar karena terkena air.
"Aku tidak perlu ke kamar mandi. Meskipun bangun tidur aku masih harum dan tampan". Kata Damian pelan.
"Apa ?". Tanya Naora tidak terlalu jelas mendengar ucapan Damian.
"Tidak ada. Cepat pijat pinggang ku". Perintah Damian menunjuk pinggang sebelah kirinya.
Kulit Damian sangat bersih terawat. Jadi sekalian terkena benturan atau pukulan sudah pasti akan terlihat memerah.
Naora memijat bagian yang nampak merah tersebut dengan perlahan. Jangan sampai ada komentar apapun dari Damian. Sungguh ia tidak ingin mendengar nya untuk saat ini.
"Yang ini". Tunjuk Damian si sebelah pinggang nya yang lain.
"Ini juga".
"Itu. Bawahnya".
"Keatas sedikit".
"Ya itu".
"Benar disitu saja".
"Sedikit ditekan lagi".
"Jangan terlalu kuat. Kulitku itu sensitif".
Banyak sekali perintah Damian. Yang awalnya Naora hanya berniat memijat pinggang yang sakit sekarang malah memijat seluruh tubuh belakang Damian.
Sebenarnya tidak masalah bagi Naora. Tapi Damian selalu berkomentar disetiap pijatannya.
"Kalau tidak enak lebih baik kau memanggil terapis saja". Saran Naora.
"Tidak mau. Ada dirimu yang gratis kenapa harus membayar". Lagi-lagi ucapan pedas Damian terlontar untuk Naora. Dan seperti sebelumnya, Naora tidak pernah memasukkannya ke dalam hati.
Hinaan atau pujian dari Damian sama sekali tidak berarti untuk Naora. Atau memang Naora yang memberi batas untuk itu. Membiarkan hatinya benar-benar kosong tanpa apapun.
"Sudah cukup. Terima kasih". Kata Damian segera bangun dari tidurnya dan berjalan ke kamar mandi.
"Siapkan pakaianku. Aku ingin bertemu seseorang". Kata Damian sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Naora tidak menjawabnya sebab Damian segera menutup pintu kamar mandi. Ia beranjak dari ranjang da menyiapkan pakaian yang akan Damian gunakan.
Naora sering kali kebingungan memilih pakaian untuk Damian. Pasalnya kemeja yang Damian memiliki hanya ada tiga warna saja meskipun jumlahnya sangat banyak. Hanya ada hitam, putih dan biru tua.
Naora memutuskan mengambilkan kemeja putih beserta jas dan celana hitam. Tidak lupa sarung senjatanya juga kemudian membawanya keluar.
Ia membereskan tempat tidur dengan terburu-buru agar bisa segera keluar dan menghindari Damian yang pastinya hanya memakai handuk sebatas pinggang. Sungguh hal itu membuatnya tidak nyaman.
Setelah selesai, ia menuju kearah taman favoritnya dan melihat bunga-bunga mawar sudah bermekaran. Ingin sekali ia mengambilnya namun alangkah baiknya ia meminta izin pada pemilik mansion lebih dulu. Pikirnya.
"Aku akan pergi. Kau jangan kemana-mana". Kata Damian yang menghampiri Naora di taman.
"Baiklah, Tuan. Berhati-hatilah. Semoga semua urusan mu diberi kelancaran". Kata Naora berdiri menyambut Damian.
"Apa ? Tuan ?". Tanya Damian dengan nada ketusnya.
"Oh, maksudku Boo. Hati-hati dijalan Boo". Kata Naora memaksa dirinya untuk tersenyum.
"Jangan tersenyum jika dipaksa. Kau sangat jelek". Kata Damian meninggalkan Naora dan pergi ke luar mansion.
Kekesalan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya melihat Naora yang terpaksa bersikap manis.
"Dasar betina". Gerutu Damian dengan wajah masam.
..
Maaf banget gaes, othor gak bisa up cerita kemarin-kemarin karena lagi sakit. Beberapa hari hujan deras terus cuacanya dingin☺️