Vira, terkejut ketika kartu undangan pernikahan kekasihnya Alby (rekan kerja) tersebar di kantor. Setelah 4 tahun hubungan, Alby akan menikahi wanita lain—membuatnya tertekan, apalagi dengan tuntutan kerja ketat dari William, Art Director yang dijuluki "Duda Killer".
Vira membawa surat pengunduran diri ke ruangan William, tapi bosnya malah merobeknya dan tiba-tiba melamar, "Kita menikah."
Bos-nya yang mendesaknya untuk menerima lamarannya dan Alby yang meminta hubungan mereka kembali setelah di khianati istrinya. Membuat Vira terjebak dalam dua obsesi pria yang menginginkannya.
Lalu apakah Vira mau menerima lamaran William pada akhirnya? Ataukah ia akan kembali dengan Alby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Calon Menantu
Sementara di belahan bumi lainnya.
Di kediaman Antonius Suryono, para tamu dari keluarga Jonatan disambut dengan hangat. Latar belakang keluarga Jonatan yang militer, sejalan dengan latar belakang keluarga Vira, menciptakan suasana perbincangan yang akrab di ruang keluarga. Namun, hanya Vira sendiri tidak memiliki keinginan untuk mengikuti jejak militer ayah dan ketiga kakaknya.
“Vira sangat beruntung jika dapat menjadi pendamping hidup Jonatan. Kami semua tahu, Jonatan adalah pemuda yang baik, bertanggung jawab, dan memiliki masa depan yang cerah. Seorang pria dengan dedikasi tinggi serta berwibawa,” puji Aina, pada calon pria yang akan dijodohkan dengan putrinya, Vira.
“Tentu, saya tidak mungkin salah menilai pria yang baik untuk putri saya,” timpal Bapak Suryono dengan bangga.
“Kita sama-sama beruntung. Jonatan juga beruntung dapat mempersunting Vira. Mereka berdua memang tampak serasi,” sahut Veronica, ibunda Jonatan.
“Keluarga Suryono dan Mahendra berbesan tentu menjadi kabar baik di tahun ini, bukankah begitu… besan,” timpal Mahendra, ayah Jonatan.
Riuh tawa memenuhi ruangan. Di ruang keluarga, para orang tua saling bertukar pujian. Sementara kedua anak mereka tengah berbincang di halaman belakang—pembicaraan serius yang kontras dengan suasana di dalam rumah.
“Katakan pada keluargamu, Jonatan, aku butuh waktu. Kita tidak bisa menikah secepat ini. Kita bahkan… belum saling mengenal dengan baik,” kata Vira, kedua tangannya bertautan erat untuk menyembunyikan kegugupannya. Kedua orang tuanya bersikeras agar pernikahan dilangsungkan enam minggu lagi. Namun, ayahnya menambahkan, semua bisa ditunda jika Jonatan yang menginginkan
Jonatan, dengan gaya rambut buzz cut dan kaos wangky berwarna army, duduk di gazebo. Tangannya bersilang di dada, matanya terpaku pada layar ponsel, seolah mengabaikan permintaan wanita yang akan menjadi istrinya.
“Jonatan, apa kau tidak mendengar ku?” tanya Vira, napasnya terasa berat.
Jonatan mengangkat alis, bangkit dari duduknya, dan dengan kasar mendorong Vira hingga punggungnya membentur pilar bambu. Tangannya mencengkeram pilar, mengurung Vira. “Kamu berisik sekali.” Ucapannya tenang, namun seringai dingin menghiasi wajahnya. “Seharusnya kamu bersyukur ada pria yang mau menikahi mu. Pria terhormat mana yang sudi menikahi wanita yang tubuhnya sudah dilihat banyak pria?”
“A-apa maksudmu?” Vira mendongak, menatap pria yang menjulang tinggi di hadapannya. Hampir dua jengkal perbedaan tinggi keduanya.
“Berita lima tahun lalu... Kau pikir kami tidak tahu?” Mata Jonatan membesar. “Video dimana kamu menjadi fantasi banyak pria, meskipun itu bukan salahmu.”
Vira mendorong dada Jonatan, menciptakan jarak di antara mereka “Kenapa kamu ingin menikah denganku?”
Sudut bibir Jonatan tertarik ke atas, membentuk senyum sinis. “Setiap ayah ingin putrinya mendapatkan pria terhormat. Dan aku... sialnya, ada di posisi ini.” Jonatan mendorong bahu Vira, membuatnya terhuyung. “Diam dan ikuti saja, mengerti!”
Dengan tenang, pria setinggi 190 sentimeter itu berbalik dan melangkah pergi, seolah kata-katanya barusan tidak berarti apa-apa.
.
Vira mengejar langkah kaki Jonatan. Ia lalu menarik tangan pria itu dengan gerakan kasar. “Tunggu aku mau bicara?”
Jonatan menoleh, melihat semua mata keluarga menyorot ke arah mereka dengan gerakan lembut Jonatan mengusap puncak kepala Vira. “Iya Vira…” nada suara yang semula ketus berubah lembut.
“Apa maksudmu mengatakan itu tadi?” suara Vira meninggi, ia butuh kepastian dan kejujuran dari pria yang berdiri di depannya.
“Ada apa ini?” tanya Suryono, matanya membulat mendengar nada bicara putrinya yang meninggi.
“Dia bilang…”
Belum sempat Vira menyelesaikan kalimatnya, Jonatan memotong. “Ayah, Vira ingin mempertimbangkan kembali pernikahan ini,” ucapnya tenang.
“Apa?” Suryono tersentak, langsung berdiri dari kursi.
“Apa lagi yang perlu kamu pikirkan? Jonatan itu pria yang cocok untukmu... Astaga…” Suryono tampak frustrasi. Ia memegangi dada kirinya yang terasa sakit. “Ka-kamu…” Suaranya tercekat, membuat semua orang panik.
“Ayah…” Aina dan Ikmal bergegas mendekat, membantu Suryono yang hampir limbung.
Vira berlari menghampiri ayahnya, diliputi ketakutan serangan jantung ayahnya kambuh..
.
.
Sementara, dari seberang jalan… David mengamati pertemuan dua keluarga di rumah Vira. Detektif swasta yang disewa oleh William itu bertugas mengorek informasi tentang Jonatan. Sudah hampir tiga hari ia mengawasi gerak-gerik pria yang memiliki atribut satu melati emas di pundak seragam hijaunya.
Pria dengan kemeja lengan panjang—dipadukan kacamata hitam gaya aviator serta aksesoris topi baret itu bak menjelma menjadi Detektif Jim Rockford seperti dalam serial tv 1980-an.
Pertemuan dua keluarga itu usai. Sebuah BMW hitam meluncur keluar dari pagar, dan David segera bersiap, ia harus membuntuti Jonatan yang sedang menikmati masa cutinya.
Drrt…drrrt…
Layar ponsel David menyala, menampilkan nama William.
"Iya, Pak," jawab David.
"Bagaimana perkembangan informasi tentang pria itu?" tanya William dari seberang.
"Akan saya kirimkan nanti. Saat ini, saya sedang membuntutinya. Sepertinya ada kejutan lain yang tersimpan," lapor David.
Mobil BMW itu masih berada tepat di depannya. David tidak ingin kehilangan jejak. Tak lama kemudian, mobil itu memasuki halaman sebuah rumah mewah, lalu kembali keluar. David melihat Jonatan yang menyetir. Ia pun kembali membuntuti.
BMW itu berhenti di depan sebuah rumah di area perumahan pinggir kota. Klakson berbunyi, memecah keheningan. Seorang wanita dan anak balita berlari membuka pagar.
“Papa!” seru anak laki-laki berusia sekitar lima tahun, girang menyambut Jonatan.
Jonatan keluar, menggandeng wanita itu dan menggendong anaknya di pundak. David mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya.
Klik!
Foto itu langsung meluncur ke ponsel William.
Sementara William yang menerima pesan berupa gambar itu tersentak.
“Sial!” desisnya, ketika mengetahui pria yang menjadi saingannya memiliki keluarga tersembunyi.
Bersambung…
Setelah mendapatkan bukti sisi lain kehidupan Jonatan, akankah pernikahan mbak Vira akhirnya batal?
Atau mungkinkah tetap berlanjut... 🤔🤔