Seandainya waktu bisa diulang kembali.
Penyesalan Mark Theodor dalam hidupnya, adalah mengabaikan istrinya demi keluarga kandungnya, hingga istrinya meninggal saat hamil muda.
Di saat ia sudah menua dan sakit-sakitan, keluarga kandung yang sangat ia sanjung, tidak satupun menaruh rasa kasihan pada keadaannya.
Mark hanya bisa menangisi dirinya yang malang, sampai akhirnya ia menutup mata untuk selamanya.
Tapi, tiba-tiba ia membuka matanya, dan terbangun dari tidurnya.
Ia mendapati dirinya kembali ke tahun 1973, di saat usianya masih dua puluh delapan tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32.
Melihat pandangan tajam mata suaminya melihatnya, Melina pun buka suara dengan nada gemetar.
"Bu.. bukan aku! i.. itu kerjaan Orla! di.. dia yang mencari mereka, dan dia juga yang menyarankan untuk mencelakai Mark! bukan aku!!!"
"Bohong! anda yang mengatakan kepada kami untuk mematahkan tangan dan kaki Tuan ini! ini, lihat! uang yang Nyonya berikan kepada kami!!"
Salah satu preman yang memimpin teman-temannya itu, memperlihatkan pembayaran yang Melina berikan kepada mereka.
Melina dan Alice nyaris melompat ditempat mereka berdiri melihat uang, yang diperlihatkan preman itu kehadapan semua orang.
"Nyonya Theodor, anda sungguh jahat sekali! bukankah kalian sudah pisah rumah, kenapa anda masih mengganggu Mark!!" sahut salah satu tetangga yang berkerumun di halaman Theodor.
"Iya! anda bahkan sampai pergi mencarinya!!"
"Apakah Mark bukan putra kandung anda, sampai anda tega ingin mencelakainya?!"
"Iya, benar! jangan-jangan Mark bukan putra anda!!"
"Iya! aku juga curiga! mungkin Mark anak yang dulunya kalian adopsi!!"
Terdengar suara dari para tetangga ribut berkomentar, setelah mereka mendengar apa yang dikatakan preman tersebut.
Dan juga melihat perhatian keluarga Theodor, terlihat jauh berbeda sekali terhadap Mark.
Raut wajah keluarga Theodor seketika tampak berubah mendengar, apa yang dikatakan para tetangga mereka.
"Kami tidak tahu kalau Tuan ini ternyata putra Nyonya itu! dia sangat benci sekali pada Tuan ini, saat tadi memberi intruksi pada kami untuk mencelakai Tuan ini!!" kata pemimpin preman menjelaskan cara Melina menyewa mereka.
"Oh, begitu rupanya!!" senyum dingin Mark semakin dingin mendengar apa yang dikatakan preman tersebut.
Frank, Mario, dan Marley tidak dapat berkata-kata untuk menjawab Mark, dan pertanyaan tetangga mereka.
"Tuan Theodor, katakan dengan jujur! apakah benar aku ini bukan putra kandungmu? aku baru menyadari, perhatian kalian memperlakukan ku begitu berbeda dari ke tiga anak anda! bahkan istriku saja kalian tindas! tapi tidak dengan istri Mario, kalian begitu memanjakannya!!"
Frank dan Melina tersentak mendengar apa yang dikatakan Mark, dan tidak dapat menjawab pertanyaan Mark.
Tapi kemudian Melina dengan nada ketus, dan raut wajah yang terlihat tidak suka melihat Mark, ia mengacungkan jari telunjuknya menunjuk Mark.
"Dia menipu kita semua! sebelumya dia anak yang penurut! kenapa dia tiba-tiba berubah?! dia sudah merencanakan jauh sebelumnya untuk memberontak, agar bisa pisah rumah dengan keluarga kita! dia.. dia menyimpan kemampuannya mencari nafkah! anak seperti dia perlu diberi pelajaran!!!"
Bibir Melina sampai gemetar bicara, dan air ludahnya melompat keluar saat ia bicara, dengan nada yang nyaris melengking penuh emosi.
"Iya! apa Papa tidak tahu, hari ini dia menyewa toko untuk membuka sebuah restoran!!!" Alice menambahkan apa yang dikatakan Melina.
"Pantas saja dia begitu percaya diri mengajukan pisah rumah! ternyata dia sudah mempersiapkan sebelumya untuk menikmati sendiri penghasilan nya!!" Marley pun seketika menyadari maksud Mark pisah rumah.
"Mark! ternyata selama ini kamu membodohi kami!!" Mario juga ikut buka suara, dengan raut wajah yang mulai terlihat marah pada Mark.
Plak!!
Tangan Mark dengan kencang melayang menampar wajah Mario, sampai wajah Mario terhempas ke samping.
Mata keluarga Mark seketika membulat melihat Mark menampar Mario, dan Melina pun sontak berteriak pada Mark.
"Mark!! berani sekali kamu memukul adikmu?!!"
"Memangnya kenapa, kalau aku menamparnya? dia sebagai adik tidak punya sopan santun bicara padaku!!" jawab Mark dengan begitu tenangnya.
"Ka.. kamu semakin kurang ajar Mark!! kamu tidak pantas dihormati sebagai kakak!!!" teriak Melina dengan suara yang nyaris melengking.
Hati Ivana sangat sakit sekali mendengar teriakan Melina memarahi Mark.
Sebagai putra sulung, Mark sedikit pun tidak dihormati sebagai kakak oleh adik-adik Mark.
"Kalian sungguh jahat! kalian tidak pantas menjadi keluarga suamiku! kalian sedikit pun tidak pernah menunjukkan rasa hormat sebagai putra sulung di keluarga Theodor!!!"
Tiba-tiba Ivana bangkit dari duduknya, dan berteriak mengeluarkan sakit hatinya melihat sikap keluarga Mark, yang terus saja memojokkan Mark.
"Diam kamu!!!" bentak Alice dengan wajah penuh emosi ke arah Ivana, "Kamu orang asing yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan kami! kamu tidak berhak buka suara di sini!!!"
Plak!!
"Akh!!"
Alice mengaduh kesakitan sampai tubuhnya oleng ke samping akibat tamparan, yang tiba-tiba diberikan Mark pada wajahnya.
"Lancang kamu! berani sekali kamu membentak kakak iparmu tepat di depan mataku! sudah lama aku ingin memberi pelajaran padamu, yang semakin hari semakin kurang ajar pada istriku!!"
"Ma!!" Alice sontak berlindung ke balik punggung Melina dengan raut wajah kesakitan, sembari menahan tangis memegang pipinya yang sakit.
"Mark!! kamu semakin arogan! kamu pantas diberi pelajaran!!!" teriak Frank yang seketika tidak senang melihat Mark menampar Alice.
"Semakin arogan?" senyum dingin Mark tersinggung di sudut bibirnya.
Mark menunjuk para preman yang masih belum pergi, "Lihat! ini orang-orang yang di perintahkan istri anda untuk mematahkan tangan dan kakiku! siapa sebenarnya yang disini bersikap arogan??!"
Mata Frank berkedip mendengar apa yang dikatakan Mark, ia seketika tidak dapat menjawab Mark.
"Kamu pantas mendapatkannya! kamu hanyalah anak yang tidak memiliki pendidikan yang dapat membanggakan orang tua!!!" teriak Melina.
"Oh, tidak dapat membanggakan diri?!" kembali sudut bibir Mark menyunggingkan senyuman dingin, "Siapa yang tidak menginginkan aku melanjutkan sekolah ku sampai tamat?!"
Frank dan Melina kembali bungkam, dan tampak menciut mendengar nada dingin Mark.
Jari telunjuk Mark mengacung menunjuk Frank dan Melina bergantian, "Kalian yang tidak pernah menginginkan aku memiliki pendidikan tinggi, agar kalian dapat mengendalikan aku menjadi tulang punggung keluarga Theodor!!"
"Ohhh... ternyata seperti begitu! pantas saja Mark dibiarkan saja menjadi anak tidak berguna!!" kata salah satu tetangga Theodor, yang seketika semakin mengerti permasalahan keluarga Theodor.
"Iya, benar! aku sekarang baru mengerti kenapa Mark tidak memiliki pendidikan tinggi seperti adik-adiknya, ternyata memang disengaja anda berdua!!" tetangga yang lain ikut menanggapi.
"Ck ck ck! orang tua macam apa mereka! begitu kejam pada anak kandungnya sendiri! atau memang benar dia bukan anak kandung Theodor?!!"
Yang lain kemudian saling mengeluarkan pendapat mereka menilai sikap kejam Melina kepada Mark.
"Siapa yang memanggil Polisi? ada yang melapor di sini ada keributan?!!"
Tiba-tiba empat orang Polisi menyeruak dari antara para tetangga, yang berkerumun di ambang pintu pagar rumah Theodor.
"Mereka!!" tunjuk Berwyn ke arah Melina dan Alice.
"Bukankah mereka baru saja di bebaskan dari kantor Polisi? kenapa bisa mereka melakukan kejahatan lagi?!" salah satu Polisi tersebut mengerutkan keningnya melihat wajah Melina dan Alice.
Melina dan Alice sontak memalingkan wajah mereka.
"Astaga, Nyonya Melina! ternyata anda baru saja keluar dari kantor Polisi! dan sekarang sudah melakukan kejahatan lagi!!" sahut tetangga Theodor membulatkan mata mereka terkejut mendengar apa yang dikatakan Polisi.
Saat Polisi melihat ke arah para Preman, mereka sontak menjadi pucat.
"Ka.. kami dihasut Nyonya itu! di.. dia menyewa kami untuk mencelakai Tuan ini, kami tidak tahu apa-apa, Paman!!" jawab salah satu preman itu dengan gugup dan mulai gemetar.
"I.. iya! kami hanya.. hanya di suruh saja!!"
Preman yang lain menganggukkan kepalanya dengan cepat, membenarkan apa yang dikatakan temannya.
"Tidak perduli kalau kalian hanya disuruh! kalian sudah melakukan tindak pidana! semua harus ikut ke kantor Polisi untuk diperiksa!!"
Dengan tegas, dan suara yang terdengar berwibawa, salah satu Polisi yang memiliki lencana pada pakaian seragamnya memberi kode kepada rekannya.
Tiga Polisi lainnya mendorong para preman dan Melina, serta Alice untuk ikut ke kantor Polisi.
Bersambung..........
akhirnya up juga ya Thor,, sehat selalu ya
rasain Daniela