Kehidupan yang semula diharapkan bisa mendatangkan kebahagiaan, rupanya merupakan neraka bagi wanita bernama Utari. Dia merasakan Nikah yang tak indah karena salah memilih pasangan. Lalu apakah Utari akan mendapatkan kebahagiaan yang dia impikan? Bagaimana kisah Utari selanjutnya? simak kisahnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akmal Ditangkap
Akmal sudah berkeliling di sekitaran komplek kumuh tempat tinggalnya. Akan tetapi, tidak ada satu pekerjaan pun didapatnya.
Dua suruhan Dewa sudah mulai bosan mengikuti Akmal. Saat motor Akmal dan motor mereka melewati taman yang sepi, dua suruhan Dewa itu segera memotong jalan. Akmal yang terkejut, seketika mengerem mendadak dan alhasil dia dan motornya jatuh ke aspal.
"S*alan! Kalau ga bisa bawa motor jangan naik motor," ujar Akmal marah. Dua pria kekar segera turun dari motor dan berdiri di depan Akmal tanpa ada niatan untuk menolong.
Akmal tiba-tiba saja merasakan firasat buruk. Dengan gerakan pelan dia mengangkat wajahnya dan mendapati dua orang pria sedang menatapnya tajam.
"Ka_kalian siapa?"
Salah satu pria maju dan memberikan satu pukulan keras di pipi Akmal.
"Siapa kami itu ga penting. Siapa suruh kalian cari masalah dengan tuan kami."
"Tuan kalian?" Akmal benar benar terlihat bingung, tetapi ke dua pria itu sana sekali tidak peduli.
Mereka menarik tangan Akmal. Akmal langsung berteriak minta tolong. Sayangnya tempat itu benar-benar sepi, karena kesal, salah satu pria itu memukul Akmal sampai jatuh pingsan.
Ke dua pria itu celingukan untuk memastikan daerah taman itu benar benar sepi. Mereka menyeret Akmal dan menyandarkan Akmal di sebuah pohon besar.
"Gimana? Kamu sudah menghubungi tuan Dewa belum?"
"Sudah. 10 menit lagi mobil jemputan sampai. Kita berdua pasti akan mendapatkan bonus besar."
Ke dua pria itu sama-sama tersenyum membayangkan bonus yang akan mereka terima. Tak lama mobil jemputan mereka tiba. Akmal di masukan ke dalam mobil dengan kasar.
Di dalam mobil, Akmal diikat dan mulutnya di sumpal. Motor Akmal sudah diurus oleh salah satu orang suruhan Dewa untuk diantar ke tempat kosannya. Mereka melakukan semuanya dengan senatural mungkin untuk menghindari kecurigaan tetangga kos Akmal.
Setelah semuanya beres mereka segera kembali untuk melapor pada Dewa.
Malam itu, Bian dan Utari mengajak Nisa pergi ke mall. Ini kali pertama mereka bertiga keluar bersama. Nisa sangat senang saat Bian mengendongnya.
"Bi, mendingan biar Nisa jalan aja."
"Ga pa-pa Tari. Lagian juga dia ga berat, kok." Bian tersenyum dengan lembut. Utari langsung memalingkan muka begitu melihat senyum Bian.
Mereka berjalan-jalan mengelilingi banyak toko. Bian bahkan mengajak Nisa bermain di playground. Hari ini Utari bisa melihat jelas senyum kebahagiaan Nisa. Dalam hati Utari bersumpah akan membahagiakan Nisa bagaimana pun caranya.
Setelah puas bermain, Mereka bertiga pulang. Dalam perjalanan Nisa tertidur di pangkuan Utari.
"Syukur, ya. Sekarang Nisa sudah jauh terlihat lebih baik. Aku berharap mulai hari ini dan seterusnya, dia hanya akan merasakan bahagia," kata Bian.
Utari menunduk dan merapikan poni Nisa. Dia pun juga mengulas senyum kecil. "Ya, semoga saja setelah ini Nisa selau diberkahi dengan kebahagiaan."
"Loh, Nisa tidur, ya?" Utari yang membawa belanjaan berhenti saat mendengar suara mama Sukma.
"Iya, Mah," kata Utari sembari menatap punggung Bian yang sedang menggendong Nisa.
"Gimana? Nisa keihatannya seneng, ga?" tanya mama Sukma. Utari pun mengangguk.
"Iya, Mah. Nisa kelihatan senang sekali."
"Bagus. Kamu sama Bian harus sering-sering ajak Nisa pergi main, jalan-jalan. Kalau perlu ajak Nisa ke luar negeri. Biar dia makin senang."
"Boros, Mah." Utari terlihat keberatan dengan ide mama Sukma.
"Kamu ini anaknya Keenan pengusaha nomor wahid di negara ini. Masa iya cuma ke luar negeri aja boros kata kamu. Nanti biar mama suruh Bian ajak kamu. Apa mau ke luar negerinya sekalian honey moon?"