Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 DI BAWAH LAMPU YANG REDUP.
Malam turun perlahan, menyelimuti rumah mewah itu dengan kesunyian yang semakin pekat. Lampu-lampu besar di ruang utama telah dipadamkan. Hanya cahaya temaram dari lampu dinding yang menyisakan bayangan panjang di lantai marmer.
Di sudut rumah, di sebuah mini bar pribadi yang jarang disentuh, Ammar Abraham duduk sendirian.
Segelas wiski berada di tangannya, cairan keemasan itu bergoyang pelan setiap kali jemarinya bergerak. Jas kerjanya tergeletak sembarangan di kursi, kemeja putihnya sudah terbuka satu kancing, sesuatu yang jarang ia lakukan. Wajahnya keras, namun matanya menyimpan kelelahan yang dalam.
Panggilan telepon baru saja berakhir. Bukan suara Sabrina yang masih terngiang di kepalanya melainkan suara Melinda.
“Ammar, kamu pikir ini waktu yang tepat untuk menelepon? Sabrina sedang pemotretan besar! Kamu mengganggu fokusnya!”
Ammar mengencangkan rahangnya.
“Aku hanya ingin bicara dengan istriku,” jawabnya dingin saat itu.
“Kamu egois. Karier Sabrina bukan main-main.
Jangan bersikap seolah rumah tanggamu lebih penting dari masa depannya.”
Klik.
Telepon ditutup sepihak.
Ammar mengangkat gelas wiski ke bibirnya, meneguknya tanpa menikmati. Tenggorokannya terasa panas, namun dadanya justru semakin dingin.
“Bahkan menyapa suamimu pun terlalu berat…” gumamnya lirih.
Ia menyandarkan tubuh ke kursi, menatap langit-langit gelap. Dalam kesunyian itu, wajah Queen terlintas. Tawa kecil di halaman belakang. Senyum tulus yang jarang ia lihat.
Dan tanpa ia kehendaki wajah Sari ikut muncul.
Tatapan polos. Senyum sederhana. Cara gadis itu memeluk Queen seolah dunia tak serumit pikirannya.
Ammar menutup mata keras-keras, berusaha mengusir bayangan itu.
Namun justru di saat itu... Langkah kaki pelan terdengar dari arah lorong dapur. Sari berjalan perlahan, kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Matanya sembab, napasnya tidak stabil. Sejak sore tadi, dadanya terasa sesak. Entah mengapa, hatinya mudah sekali tersentuh malam ini, Ia hanya ingin mengambil air minum. Menenangkan diri.
Namun langkahnya terhenti. Di bawah cahaya lampu yang redup, ia melihat sosok itu. " Tuan Ammar."
Duduk sendirian. Wajahnya setengah tertutup bayangan. Segelas minuman di tangannya.
Sari terkejut. Jantungnya berdegup kencang.
“T-Tuan…” suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Ammar membuka mata.
Tatapannya menyapu Sari perlahan dingin, dalam, dan penuh sesuatu yang tak bisa Sari pahami. Untuk sesaat, waktu seperti berhenti.
“Kamu belum tidur?” tanya Ammar, suaranya rendah.
“S-saya mau ambil air minum, Tuan,” jawab Sari gugup.
Ia hendak melangkah pergi.
Namun langkah Ammar lebih cepat.
Ia berdiri, tinggi dan kokoh, bayangannya jatuh menutupi tubuh Sari yang jauh lebih kecil. Sari refleks mundur satu langkah, napasnya tercekat.
“Tuan…?” panggilnya pelan.
Ammar tidak menjawab. Tangannya terangkat, mencengkeram pergelangan tangan Sari tidak kasar, tapi cukup kuat untuk membuat gadis itu terkejut.
“T-Tuan, lepaskan…,” suara Sari bergetar.
Ammar menatapnya. Matanya gelap, penuh konflik.
“Diam,” ucapnya lirih namun tegas. Ia menarik Sari masuk ke dalam kamarnya yang hanya berjarak beberapa langkah. Pintu tertutup dengan bunyi pelan, namun bagi Sari, suara itu terdengar begitu keras.
“Tuan, tolong… saya takut,” ucap Sari, mencoba menarik tangannya. Ia memberontak kecil, namun tenaganya kalah jauh. Tubuhnya terdorong ke dinding, punggungnya menyentuh permukaan dingin. Ammar berdiri sangat dekat. Terlalu dekat. Napas mereka saling bertemu.
Sari bisa mencium aroma wiski samar di napas Ammar. Tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca.
“Saya tidak bermaksud...” ucapnya terbata.
Ammar menghentikan gerakannya. Tangannya masih menahan Sari, namun cengkeramannya melemah. Ia menatap wajah itu polos, ketakutan, namun jujur.
Dan sesuatu di dadanya runtuh.
“Pergi,” ucap Ammar tiba-tiba, suaranya serak.
Sari terdiam.
“Pergi sebelum aku melakukan hal yang akan kusesali,” lanjutnya lirih, matanya memejam.
Sari tak perlu disuruh dua kali.
Dengan langkah gemetar, ia keluar dari kamar itu, air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. Dadanya sesak, tubuhnya dingin, pikirannya kacau.
Di dalam kamar, Ammar menjatuhkan dirinya ke kursi.
Tangannya gemetar. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu memukul meja kecil di sampingnya.
“Apa yang hampir aku lakukan…” gumamnya penuh penyesalan. Ia menatap pintu yang telah tertutup.
Di balik pintu itu, seorang gadis desa yang tak bersalah hampir terseret ke dalam kekacauan hatinya.
Dan untuk pertama kalinya, Ammar Abraham menyadari
Bahwa kehadiran Sari bukan lagi sekadar pelayan.
Dan perasaannya… mulai berjalan ke arah yang berbahaya.
...----------------...
Lampu-lampu studio menyala terang, memantulkan cahaya putih yang menyilaukan. Musik latar berdentum pelan, berpadu dengan suara kamera yang terus berbunyi klik, klik, klik menangkap setiap sudut sempurna dari wajah Sabrina.
Sabrina berdiri di tengah set, mengenakan gaun panjang berwarna perak dengan potongan elegan. Wajahnya tanpa cela, riasannya sempurna, senyumnya terlatih. Di depan kamera, ia adalah sosok yang diidamkan banyak orang cantik, anggun, tak tersentuh.
Namun di balik semua itu, pikirannya tak sepenuhnya berada di sana.
Ponsel yang tergeletak di meja kecil di pinggir set sempat bergetar beberapa menit lalu. Sabrina sempat melirik, tapi Melinda ( Ibu Sabrina sekaligus manager Sabrina) lebih cepat mengambilnya.
Pemotretan dihentikan sejenak.
Sabrina melangkah turun dari set, menerima handuk kecil dari asistennya. Ia meneguk air mineral, lalu menoleh ke arah ibunya yang sedang memeriksa ponsel dengan wajah tak ramah.
“Siapa, Mam?” tanya Sabrina pelan, nadanya datar namun jelas penasaran.
Melinda mendengus kecil. Jemarinya masih sibuk menekan layar.
“Tidak penting.”
Sabrina mengernyit tipis.
“Istirahat lima menit!” seru Melinda pada kru, lalu menatap putrinya. “Kamu fokus saja sama pemotretan. Ini campaign besar. Banyak mata yang melihat.”
Sabrina mengangguk kecil. “Iya, Mam.”
Ia duduk di kursi rias, menatap bayangannya sendiri di cermin besar yang dikelilingi lampu. Wajah cantik itu menatap balik dengan tatapan kosong sesaat. Di balik kilau matanya, ada kelelahan yang jarang ia akui.
Ia tahu siapa penelepon tadi. Dan ia juga tahu, ibunya sengaja tak menyebut nama itu.
“Ammar, ya?” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Melinda tak menjawab. Ia hanya merapikan jadwal di tabletnya.
Sabrina menghela napas kecil, lalu berkata lirih namun tegas, “Kalau ada panggilan dari Ammar… beritahu aku.”
Melinda berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan tajam. “Kamu yakin? Jangan sampai emosimu mengganggu pekerjaan.”
Sabrina menatap cermin lagi. Kali ini lebih dalam.
“Dia tetap suamiku, Mam.”
Hening sejenak.
Melinda akhirnya mengangguk singkat. “Ya.”
Sabrina menutup mata sesaat. Di kepalanya terlintas bayangan Queen wajah kecil yang sering ia tinggalkan demi runway, kamera, dan kontrak bernilai miliaran.
Dan entah mengapa, untuk sesaat, hatinya terasa kosong.
" Setelah pemotretan ini usai, Aku ingin pulang ke rumah. aku rindu suami dan juga putriku " Ucap Sabrina
“Ready, Sabrina!” teriak fotografer.
Sabrina berdiri. Senyum profesional kembali terpasang sempurna. Ia melangkah ke set, kembali menjadi Sabrina yang dikenal dunia.
Namun jauh di dalam hatinya, sebuah jarak mulai terasa jarak antara dirinya dan rumah megah yang kini berjalan tanpa kehadirannya.
pantesan ...
type istri mu adalah yang bener2 wanita berkeluarga.bukan wanita hanya mementingkan karier.aku juga kerja,tapi begitu pulang anak terutama ku peluk,ku suapkan makan,ku Nina bobokan ketika tidur, walaupun umur nya sudah 4 tahun,cowok lagi.tapi karena aku ingin berdekatan dengan anak,ingin mempererat jalinan bathin kami berdua.
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...