Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berapa Ukurannya?
“Ya ampun … gue lupa, masa gue tidur pake baju kayak gini,” ucap Zara. Saat ini, ia sedang berada di kamar mandi. Niatnya ia mau membersihkan diri, seraya mengganti pakaian. Namun ia lupa, untuk membeli baju tidur dan baju salin untuk dirinya besok.
“Za … lama bener, ayo gantian.” Reynan berucap di balik kamar mandi, seraya mengetuk pintu.
“Y-ya tunggu. Sebentar lagi,” sahutnya.
Di dalam kamar mandi, Zara mondar mandir seraya menggigit kukunya.
“Aduh, gimana ini?” gumamnya.
Zara mengedarkan pandangannya, dan– “Ah ya, pake itu aja.”
Setelah memakainya, Zara pun membuka pintu dengan perlahan.
“Loh, gak sekalian pakai baju?” tanya Reynan, ia melihat Zara keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.
Zara pun melonjak kaget, ia kira Reynan tidak ada di kamar. Karena saat ia membuka pintu, Reynan tidak ada.
Namun ternyata, Reynan ada di balik pintu kamar mandi.
“Em- anu—”
Reynan menaikan satu alisnya, ia menunggu Zara melanjutan ucapannya.
“Anu, anu apa? Anu itu … memangnya kamu udah siap?” goda Reynan, seraya membuat lingkaran dari ibu jari dan jari telunjuk. Lalu jari telunjuk dari tangan kanan, ia masukan kelingkaran itu.
“Ish … apa sih yang kamu omongin,” kilah Zara, dengan wajah memerah. ia pun mengerti kemana arah Reynan bicara.
Reynan pun tergelak.
“Ya terus? Kenapa pakai itu?” tanya Reynan lagi.
“Saya lupa, gak beli baju gantinya,” jawab Zara.
“Oh … begitu. Tunggu,” kata Reynan. Ia pun berjalan menuju lemari pakaian.
“Pakai ini saja. Dari pada pakai itu, gak nyaman dipakai tidur.” Reynan bicara seraya menyerahkan baju dan celana kepada Zara.
“Gak usah, saya pakai ini aja.” Zara menolaknya.
“Yakin? Siapa tau nanti, tanpa sepengetahuanmu tali bathrobe itu terlepas,” ucap Reynan dengan senyum godanya.
Zara berdecak. Namun ia pun segera mengambil pakaian itu, lalu pergi ke kamar mandi.
Reynan menggelengkan kepalanya. “Kalo tali itu kebuka, berabe nanti. Mending kalo udah siap di bobol itu gawang,” celetuknya disertai kekehan.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Zara tengah memakai pakaian yang Reynan beli tadi.
“Ya ampun … udah kayak orang-orangan sawah,” celetuk Zara.
Bagaimana tidak, baju itu ukurannya dua kali lipat dari tubuhnya, begitu juga dengan celana training yang panjang.
“Ish … apa gak ada yang kecil,” gerutu Zara.
Zara juga terus memandang tubuhnya, untuk memastikan jika pucuk ranumnya tidak begitu menonjol.
Bagaimana tidak, selain tidak ada baju salin. Pakaian dalamnya pun, lupa untuk membelinya. Jadi … malam ini, Zara tidak memakai dalaman atas maupun bawah.
Tadi pun, ia memakai bekas pagi. Meski tidak nyaman, tapi mau bagaimana lagi. Daripada ia tidak memakainya, bukan?!
Beruntungnya, baju kaos itu berwarna hitam dan celana training berwarna abu-abu.
Setelah memastikan itu, Zara pun keluar dari kamar mandi seraya bicara: “punya kaki, kayak kaki jerapah,” ucapnya.
Mendengar itu, Reynan mengerutkan dahinya. Namun tidak lama, ia pun menoleh pada Zara.
Seketika tawa Reynan pecah.
“Apa kamu?” tanya Zara seraya memutar bola matanya.
Reynan langsung mengatupkan bibirnya. “Oh … nggak. Lucu,” jawab Reynan.
Zara tidak menghiraukannya, ia langsung naik ke atas ranjang.
“Mau tidur, Za?”
“Hem.”
“Jangan dulu. Saya mau bicara.”
“Bicara apa? Cepat. Saya lelah, mau istirahat.”
“Nanti saya antar kamu pulang hari minggu. Sekalian bantu kamu pindah ke rumah Ayah.”
Zara menjawab dengan anggukan.
“Rumah itu, nanti mau di tempati Hendri. Kamu keberatan gak?”
Zara menoleh ke arah Reynan. “Nggak. Kenapa harus keberatan? Itu rumah, punyamu,” jawabnya.
“Ya … nggak gitu. Meski saya beli sebelum menikah, tapi saya rasa. Kamu berhak berpendapat,” ucapnya.
“Hem … ya gak apa-apa. Bagus ada yang nempatin, biar ada yang urus.”
Reynan pun menganggukan kepalanya.
“Udah, gitu doang?” tanya Zara.
Reynan mengambil sesuatu dari dompetnya, lalu berjalan mendekat pada Zara. “Ini.” Reynan menyerahkan kartu pada Zara.
“Apa ini?” tanya Zara.
“Ambil,” titah Reynan.
Namun, Zara belum juga mengambilnya.
“Ambil. Dalam kartu ini ada uang yang dari Papa, terus nanti setiap bulannya saya akan transfer ke sini. Sebagai nafkah lahir,” ucapnya.
“Em- gak perlu lah, saya juga kerja.”
“Ini hakmu. Ambil,” kata Reynan lagi.
“T-tapi—”
“Saya gak akan minta hak itu, jika kamu belum siap. Biarlah mengalir seperti air, toh kita juga baru kenal.”
Mendengar ucapan Reynan, Zara menarik napas dengan lega. Lalu ia mengambil kartu itu.
“Tapi … saya harap … Kamu pun sadar, kalo saya lelaki dewasa. Reynan bicara dengan cengiran.
Zara langsung membulatkan matanya.
“Bercanda …” godanya. “Oh ya, btw berapa ukuran baju kamu biar saya pesan untuk ganti besok,” ucap Reynan.
“Hah?” Zara cengo.
“Iya, bajumu ukuran apa? Saya akan memesannya,” kata Reynan lagi.
“Ukuran M,” jawab Zara.
“Dalamannya? Biar sekalian,” lanjutnya.
“Kamu!” Zara melempar bantal ke arah Reynan.
Dengan sigap, Reynan pun menangkapnya.
“Loh, memangnya salah? Saya kan bertanya?”