Ini bukan tentang perjodohan bukan pula tentang pengorbanan seorang anak yang membantu keluarga nya , tetapi ini tentang....
Syeila Rinjani Ahmad (17 th) , merupakan gadis cantik yang polos, ceria dan manja kepada siapapun yang dia anggap dekat dengannya.
Faishal Amarkhan (30 th), merupakan pribadi yang dingin dan tak tersentuh kecuali keluarga dan wanita nya, ya wanitanya yang sekarang berstatus sebagai istri temannya.
Bagaimana kisah Syeila dan Faishal ? bagaimana mereka bisa terikat dengan status pernikahan ? Dan apakah mereka bisa menerima kenyataan ? Penasaran ? Tetap pantau terus ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Halo halo kak. Aku comeback lebih cepet nih. Makasih banyak buat yang masih setia dengan cerita Om Fai dan Biji Sawi. Maaf banget ya kak, alurnya sedikit aku rubah, semoga kalian tetap suka. Sebelum baca bab ini, aku saranin kalian balik baca bab 31 biar nggak begitu bingung. Dan jangan lupa ya kak tinggalkan jejak kalian bberupa LIKE+KOMENTARnya.
***
Beberapa saat suasana menjadi hening, sampai Faishal bersuara kembali, “Syeila…”
Syeila diam saja tidak menjawab, karena masih bertahan dengan kecengoannya.
Faishal yang tidak mendapatkan sautan dari Syeila, segera mengguncang kecil bahu Syeila sambil berucap,“Syeila, kamu tidak apa apa kan?”
Faishal khawatir, karena Syeila terlihat bengong dengan tatapan kosong.
Syeila sadar setelah mendapatkan guncangan pelan dibahunya, kemudian menetralisisr rasa gugup akibat mengingat artikel yang dia baca tentang malam pertama, dan mendongakkan kepalanya supaya bisa melihat wajah Om Fai nya.
“I-iya Om, ada apa?”
“Kamu tidak papa kan?”
“Tid-Tidak papa Om, Syeila tidak papa.”
“Syukur deh. Jadi bagaimana?”
“Bagaimana apa Om?”
“Malam panjang!”
Syeila yang mendengarkan ucapan Faishal mengerjapkan matanya bingung, “Hah, malam panjang Om?”
“Iya biji sawi, malam panjang pertama kita melaksanakan ehem ehem.” Gemes Faishal melihat betapa lemotnya biji sawi.
Syeila langsung menelan ludahnya ketika faham arah pembicaran Om Fai nya.
“Apa yang harus Syeila lakukan ya Lord? Syeila kan takut hiiiii,” gumam Syeila dalam hati sambil bergidik ngeri
Faishal yang tidak mendapat jawaban dari Syeila, tetapi gesture tubuh Syeila yang terlihat takut dan ngeri langsung bertanya, “Syeila kamu kenapa? Kamu nggak mau melakukannya?”
Syeila yang mendengar kembali ucapan dari Faishal segera menggelengkan kepalanya dan menyahut, “Bu-bukan begitu Om, Syeila mau kok, tetapi...”
Sungguh Syeila grogi, takut dan bingung bercampur menjadi satu. Syeila tidak tau harus bilang apa. Karena dari pelajaran yang diperoleh, ini merupakan salah satu kewajibannya. Tetapi Syeila belum siap gitu loh. Astaga, Syeila bener bener bingung.
“Tetapi apa Syeila?” desak Faishal. Malam ini Faishal berharap bisa mereguk kesempurnaan nikmat dunianya.
“Tetapi Syeila kan masih kecil Om.”
“Tetapi kan kita sudah menikah Syeila.” Faishal kekeh tiidak ingin kalah dari argument Syeila. Mau dapat enak enak kok, eman kalau ditunda tunda. Kurang lebih begitulah batin Faishal.
“Syeila nya masih kecil loh Om.”
“Ya ampun Syeila, mau kecil atau besar, yang penting kan sudah menikah.”
"Ehhh, kok ngomong besar kecil sih gue," batin Faishal merutuki mulut mesumnya.
“Ish, bukan itu Om.”
“Kalau begitu apa Syeila?”
Faishal yang sudah terlanjur geram dan kesal kembali melontarkan pertanyaan dengan nada yang sedikit agak tinggi,sedikit loh ya. “Kalau begitu apa hah? Atau jangan jangan, kamu nggak mau melakukannya dengan saya hah?”
Syeila yang mendengar nada tinggi dari Om Fai, matanya sudah berkaca kaca. Kemudian menunduk sambil menggeleng dengan bahu bergetar.
Astaga. Faishal baru sadar dengan ucapannya barusan dan berdampak dengan biji sawinya menahan tangis.
Faishal meraup wajahnya kasar, kemudian memegang bahu Syeila dan berucap, “Maaf, maafkan saya. Kamu bisa menjelaskannya pelan pelan, tetapi apa hem?”
Syeila mendongakkan kepalanya sejurus dengan luruhnya kristal bening yang mendesak berlomba lomba ingin keluar.
“Tetapi kan Syeila masih kecil Om,” cicit Syeila dengan air mata yang terus keluar tanpa komando.
Astaga. Kalau bukan dalam kondisi seperti ini, Faishal rasanya ingin mengumpat, mendengar cicitan Syeila. Ampun, dari tadi jawabannya itu mulu. “Sabar Fai, yang loe nikahi masih bocah suci. Maklumi saja.”
Setelah menghela napas dan memejamkan matanya sejenak Faishal segera berucap dengan ibu jari yang sibuk menghapus air mata yang membanjiri pipi Syeila.“Sudah jangan menangis, maafkan saya. Terus kenapa kalau Syeila masih kecil hem?’
Syeila yang mendapat perhatian dari Om Fai nya, segera berhambur ke dada bidang Om Fai nya karena tidak mampu menahan untuk tidak meloloskan isak tangis. “Huwaaaa, Syeila takut Om hiks hiks katanya nanti sakit nyeri terus berdarah hiks hiks, nanti kalau Syeila pingsan gimana Om hiks hiks. Syeila nggak mau melakukannya, Syeila nggak mau pingsan hiks hiks.”
Faishal yang mendadak mendapatkan pelukan Syeila menjadi kelabakan, apalagi Syeila nya nangis kejer loh. Ini belum apa apa aja udah nangis kejer kayak gini, apalagi kalau sudah melakukannya. Beneran pingsan kali biji sawinya.
“Cup cup cup Syeila. Sudah jangan nangis ya. Syeila tidak akan pingsan kok kalau melakukan itu,” ucap Faishal sambil mengelus punggung bergetar Syeila
“Sepertinya kamu tidak bisa merasakan kenikmatan dunia sekarang thong. Sabar ya, sarangnya masih perlu di asah,” lanjut batin Faishal miris.
Tapi ya mau bagaimana lagi, sejak ijab qobul diucapkan, Faishal sudah bertekat mau menerima biji sawi dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Seperti saat ini, Faishal sadar tidak boleh seenaknya, apalagi meminta haknya. Biji sawinya masih sangat polos dan suci, masih perlu bimbingan dan edukasi darinya. Setidaknya beberapa minggu ini, Faishal harus bersabar jangan sampai membobol gawang biji sawinya.
Faishal menghela napas dengan segala pikiran yang bercokol di otaknya dengan tangan yang terus mengusap punggung Syeila, kemudian berucap, “Cup cup cup, sudah dong jangan nangis.”
Syeila yang mendengar ucapan Om Fai nya semakin mengeratkan pelukannya dan segera menyahut, “Hiks hiks bentar lagi ya Om, ini ngggak mau hiks hiks berhenti nangisnya hiks hiks.”
Faishal terkekeh geli mendengar ucapan biji sawinya. Aneh pikirnya, nangis kok bisa ditawar.
Lima belas menit kemudian, sudah tidak terdengar kembali isak tangis Syeila. Dilihatnya, ternyata Syeila sudah terlelap dalam pelukan Faishal.
Direbahkannya Syeila ke kasur dengan posisi senyaman mungkin. Kemudian, disingkirkannya anak rambut yang menutupi wajah Syeila. Ditatapnya wajah biji sawinya dan berucap lirih,”Maafkan saya, saya tidak akan memaksa lagi. Saya akan menunggu sampai kamu siap sayang.”
Di kecup sekilas bibir mungil Syeila dan beralih ke kening Syeila lumayan lama. Setelahnya, Faishal ikut merebahkan dirinya dengan membawa Syeila kepelukannya.
.
.
.
TBC
Visual
Syeila si Biji Sawi
Om Fai nya Biji Sawi
dulu aq baca pkek akun lma q kk,, sekarang aq lnjut kn pkek akun yg baru