Di dalam hening dan gelapnya malam, akhirnya Shima mengetahui sebuah rahasia yang akan mengubah seluruh hidupnya bersama Kim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaLibra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gak bisa milih
Cello membawa Nadia keluar dari butik karena malu luar biasa dengan tingkah istri 'anugrah terindah'nya itu. Bahkan Nadia sangat fasih melafalkan kata umpatan. Cello meremas rambutnya frustasi saat berhasil menyeret Nadia ke dalam mobil. Ia melajukan mobil dengan kecepatan kencang. Sedangkan Nadia masih menggerutu sepanjang perjalanan.
"Kamu seneng kan Mas, digoda sama perempuan kecentilan tadi.? Kalau aku gak dateng, pasti kamu sudah diembat sama dia. Emang kalau wanita miskin lihat cowok keren langsung ijo matanya. Mereka gak peduli biarpun si cowok udah punya pasangan. Mas juga kok mau aja di goda sama dia. Apa aku kurang cantik.? Jadi suami kok gampang kegoda banget. Dosa tahu Mas. Dasar wanita si_alan."
"Bisa diam tidak? " Cello membentak Nadia dengan keras. Cello bahkan sedang berpikir keras. Bagaimana istrinya yang menurutnya sholehah ini, bisa dengan lancar memaki Shima. Bukannya seharusnya Nadia tidak melakukan itu kepada Shima? Bukankah biasanya, Nadia selalu berkata lembut.? Atau karena Nadia yang sangat emosi hingga membuatnya meluapkan segala amarahnya.? Cello pusing dibuatnya.
"Oh.. Jadi Mas lebih bela wanita tadi. Ya udah, turunin aku disini. Biar aku pulang naik taksi aja"
Cekiiiiit
Cello mengerem mobilnya mendadak.
"Kamu beneran mau turunin aku disini? Tega kamu Mas? Kalau kamu turunin aku disini, aku bakal balik ke butik lagi buat bikin perhitungan sama wanita jelek itu. Mas JAHAT. " Nadia menangis terisak.
Cello memukul keras kemudi mobilnya. Ia coba meredamkan semua amarah yang bersarang di kepala dan hatinya. Ia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Perlahan suaranya jadi melunak.
"Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tadi emosi. Aku malu ditonton banyak orang. Sebenarnya wanita tadi adalah mantan istriku. Namanya Shima. Kamu gak usah cemburu. Dia tukang selingkuh. Aku gak ada perasaan apapun padanya. Bahkan kamu lebih cantik darinya." Cello lebih memilih membual dan sedikit menceritakan sosok Shima pada istrinya dari pada Nadia semakin salah paham.
Nadia menganga tak percaya. Bukannya apa, wanita tadi terlihat lebih muda darinya yang bahkan dua tahun lebih tua dari Cello. Wanita tadi yang menurutnya lebih cantik dan lebih segalanya dari dirinya. Nadia mendadak insecure tapi ia menutupnya dengan sifat arogannya.
" Kamu ada rencana balik lagi sama dia? Kamu mau tinggalin aku Mas? " Tanya Nadia meledak - ledak.
"Mana ada. Aku gak akan balik sama wanita penghi_bur itu. Wanita itu gak sebaik kamu sayang. Aku cinta sama kamu. Dia tidak sebanding dengan kamu, wanita yang pandai menjaga diri" Jawab Cello. Semakin pandai saja ia berbohong.
Nadia mendadak pias tapi ia segera mengubah ekspresinya dengan cepat. Ia memeluk lengan kiri Cello dan bertekad akan mempermalukan mantan istri dari suaminya tersebut lain kali. Ia akan membuat wanita itu keluar dari pekerjaannya di Sofeea Boutique dan membuatnya pergi dari kota ini agar bisa jauh dari suaminya.
"Kita pulang ya" Ajak Cello.
Nadia mengusap air matanya dan mengangguk.
"Istri sholehah." Puji Cello dan mengelus kepalanya yang tertutup hijab. "Kamu sudah bersih kan? "
Nadia gelagapan dengan pertanyaan Cello.
"S_sudah Mas" Jawab Nadia.
Cello tersenyum dan membelai lembut pipi Nadia.
*
*
Shima kesal setengah mati. Bagaimana ia bisa bertemu dengan mantan suaminya dengan istri barunya.
"Hiiisss.. Istri suci konon. Bahkan orang gi_la saja tidak bisa mengumpat selancar dirinya. Ada - ada saja. Mana mungkin aku mau kembali pada suaminya yang sudah jelas namanya saja aku tidak mau menyebutnya lagi. Dasar wanita sin_ting" Shima menggerutu dan menyambar tas yang tergeletak di meja ruangannya.
"Mbak Shima mau kemana? " Tanya Ika, pegawai yang ada di butik.
"Kamu handle semua ya Ik. Aku rasanya mau memakan orang hari ini. "
"Iya Mbak. Hehehe. Mbak Ima lucu"
"Jangan ketawa" Bentak Shima.
Ika bukannya berhenti tapi malah mengencangkan tawanya.
"Mbak Ima lucu kalau marah. Pipinya gembung" Ika tertawa cekikikan.
Shima berlalu meninggalkan Ika yang masih setia dengan tawa sumbangnya.
Shima membawa motor kesayangannya yang baru ia beli kemarin karena tidak mau jika sampai Kim mengantarkannya ke butik. Bisa ramai saja para pekerja disana melihat kedatangan si pangeran tak berkuda. Eh.
Shima membelokkan motornya ke tempat kerja Umi.
Shima langsung nyelonong masuk ke ruang kerja Umi di lantai 2.
"Shi?"
Shima melempar tasnya dan duduk di sofa ruang kerja Umi.
"Aku kesel banget tahu nggak? Aku tadi ketemu sama si mantan suami bonus sama istrinya. Si mantan ngejar aku ke lantai 2. Malah dia hina aku, dia tanya berapa tarif aku. Kan si_alan. Tahu - tahu istrinya, udah nyusul ke atas marah- marah. Malah dia maki- maki aku. Aku gedek banget sama mereka. Si laki bilang kan kalau istrinya tuh suci, mana ada wanita suci kata - katanya kotor gitu" Shima terus berbicara tanpa jeda.
Umi tertawa terbahak.
"Kamu nge_tawa_in aku? " Shima semakin dongkol.
"Kamu lucu tahu nggak Shi. Terus terus.? Kamu gak bales gitu ucapan mereka? "
"Aku cuek aja. Aku diancam juga sama si betina mau dilaporin ke bu Sofie, emang aku takut apa" Jawab Shima menggebu -gebu.
"Dia belum tahu kalau kamu itu diincar bu Sofie buat dijadikan mantu. Hahahah" Umi tertawa.
Shima mendadak terdiam. Bu Sofie begitu baik padanya tapi ia belum bisa membalas kebaikan bu Sofie. Jika bu Sofie meminta yang lain, pasti akan Shima usahakan. Tapi untuk jadi mantu? Ahh, masih jauh. Selain bu Sofie, ada juga mantan anak indekos yang dulu gencar mendekatinya juga. Siapa lagi kalau bukan Kim. Shima jadi ingin menangis.
"Udah capek? Makanya diem? " Tanya Umi.
"Aku kepikiran ucapan kamu. Bu Sofie baik banget, minta aku jadi mantunya. Mas Kim juga baik. Tapi aku juga belum siap untuk mengenal laki -laki. Aku masih takut Mi. Ya kalau ibunya Mas Kim setuju anaknya dapet janda. Nah kalau nggak? Tekanan batin lagi akuuuh dapet mertua yang gak kasih restu. Begitu juga bu Sofie, ya kalau anaknya mau sama janda punya buntut. Aku gak mau ah jadi janda lagi. Gak enak" Mata Shima berkaca - kaca.
"Kamu berdoa saja"
"Udah tiap hari tahu. " Pipi Shima menggembung.
"Berdoa aja biar Mas Kim jadi anaknya Bu Sofie. Hahahaha" Umi tertawa puas setelah Shima semakin mencak - mencak.
"Aku seneng sekarang kamu ceria Shi. Gak kaya pertama kali kamu di kereta nangisin siluman biawak. Hahahaha"
Shima semakin dongkol pada Umi. Tapi ia pun bersyukur, walau sekarang ia hanya sendirian tanpa orang tua, tapi Shima dikelilingi orang - orang yang baik.
"Tapi misal disuruh milih, kamu milih siapa Shi? " Umi penasaran pada jawaban Shima.
"Aku gak tahu. Aku gak bisa milih. Huwaaaaa" Shima benar - benar menangis.
"Eehhh.. Gak usah nangis." Umi mendekati Shima dan memeluknya. "Aku becanda. Maaf. Maaf ya" Umi menepuk punggung Shima.
Shima menghapus air matanya dan kembali menyambar tasnya dan melenggang pergi begitu saja membuat Umi geleng - geleng kepala. Cepat sekali berubah mood janda muda itu. Shima sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Umi sempat berfikir, andai saja kakaknya seperti Shima yang sangat baik pasti ia akan sangat senang sekali.
Nyatanya sampai sekarang, kakaknya tidak memberi tahu kepada orang tuanya dimana ia tinggal dengan suaminya.
Pintu ruang kerja Umi kembali diketuk dari luar.
"Masuk" Jawab Umi.
Alangkah terkejutnya jantungnya yang mungil karena kedatangan seseorang.