"Apa kurang dari ku, Mas? Kamu dengan tega nya berselingkuh dengan Winda" teriak Mora dengan penuh air mata.
"Kau tidak kurang apapun, sayang" lirih Aron dengan menatap manik mata Mora dengan sendu.
"Kau yang membawa ku kemari , kau yang berjanji akan memberi ku banyak kebahagian, tapi apa Mas? Kau mengkhianati ku dengan teman ku sendiri" tegas Mora.
"Pergilah dan ceraikan aku secepat nya" ucap Mora dengan penuh ketegasan.
DEG.
Aron langsung saja menatap Mora dengan tidak percaya. Wanita yang sangat di cintai nya kini tersakiti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hnislstiwti., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Ke esokan pagi nya, Dokter yang di maksud oleh Tuan Darma pun datang.
"Selamat pagi Nona" sapa Dokter Wildan dengan lembut.
"Pagi, Dok" balas Mora dengan tersenyum.
Dokter Wildan menatap Mora dengan kagum, ia terlihat tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Mora yang sangat teduh.
"Ehemmm" dehem Tuan Darma dengan kuat.
Ehh.
Dokter Wildan langsung memalingkan wajah nya dengan tersenyum kikuk pada Tuan Darma.
"Maaf Dokter, boleh tidak yang nyentuh nya perawat wanita pada kaki Putri ku?" tanya Tuan Darma.
"Oh tentu boleh Tuan, saya sudah menyiapkan perawat nya juga kok" jawab Dokter Wildan ramah.
"Baiklah kalau begitu bisa saya mulai?" tanya Dokter Wildan kembali.
"Silahkan Dok" jawab Mora lembut.
Dokter Wildan lalu menyuruh perawat wanita untuk memeriksa kaki Mora dan setelah itu ia akan mendengarkan laporannya.
Dokter Wildan memberikan intruksi untuk ini dan itu pada perawat tersebut, bahkan ia sesekali memberikan contoh pada perawat itu.
"Emm Dokter" ucap Mora tak enak.
Dokter dan perawat tersebut langsung menghentikan pembicaraan nya.
"Kenapa sayang?" tanya Nyonya Hesti lembut.
"Dokter , tidak apa jika Dokter yang langsung memberikan pijatan itu asal kaki saya di tutupi selimut saja" ucap Mora dengan lembut.
"Nak, bener gak apa?" tanya Tuan Darma.
"Iya Ayah, mungkin dengan itu aku akan cepat sembuh" jawab Mora tersenyum.
"Subhanallah cantik sekali" batin Dokter Wildan.
Dokter Wildan lalu menatap Tuan Darma untuk meminta persetujuan nya.
"Silahkan Dok, karena Putri saya sendiri yang meminta nya" ucap Tuan Darma.
Dokter Wildan lalu langsung saja menerapi kaki Mora dengan sangat lembut.
Hingga 2 jam kemudian terapi tersebut selesai , Mora terlihat sudah lebih rilexs.
"Dokter , ini kartu nama saya. Besok anda datang saja ke mansion karena nanti sore Putri saya akan pulang" ucap Tuan Darma.
"Baiklah Tuan, kalau begitu saya permisi" pamit Dokter Wildan.
"Iya Dokter, terimakasih" balas Mora lembut.
Dokter Wildan mengangguk kan kepala dan ia pergi dari sana dengan perawat.
**
-Negara I
Saat ini Aron sedang membahas kembali pekerjaan bersama Afnan.
Sedangkan Elisa, ia pergi ke mengantarkan anak panti yang akan kuliah di luar Negeri.
Afnan sangat profesonal, ia bahkan melupakan masalah nya dengan Aron saat sedang membahas pekerjaan.
"Baiklah, kalau begitu saya menginginkan rancangan ini di keluarkan bulan besok" ucap Aron
"Baik, kalau begitu pertemuan kita sampai disini saja" balas Afnan datar.
Aron menganggukan kepala , ia menyuruh Frans untuk membereskan berkas yang ada di meja.
"Afnan" panggil Aron pelan.
Afnan menatap Aron dengan memicingkan mata nya, ia seolah tahu bahwa Aron akan menanyakan sesuatu.
"Bagaimana keadaan , Mora?" tanya Aron lirih.
"Dia masih KOMA" jawab Afnan penuh penekanan.
"Saya permisi dulu Tuan Aron" pamit Afnan dengan cepat melenggang pergi dari sana.
Aron, duduk termenung di kursi. Ia sejujur nya masih terpikirkan tentang keadaan Mora.
"Frans, apa masih belum ketemu tempat Mora di rawat?" tanya Aron.
"Belum Tuan, aku yakin bahwa Tuan Darma menyembunyikan jejak nya" jawab Frans datar.
"Apa aku terlalu kejam, ya" gumam Aron dengan memejamkan mata nya.
"Ya bahkan adalah manusia terkejam dan terkeji yang saya kenal, bahkan anda membiarkan wanita yang sudah menemani kesuksesan anda ini" batin Frans dengan geram.
"Saya permisi ke ruangan saya dulu, Tuan" pamit Frans dengan menundukan kepala nya.
"Hmmm" balas Aron dengan lirih.
Setelah kepergian Frans, Aron menatap ke arah luar jendela yang saat ini sedang turun hujan.
"Kau dimana , Mora? Maafkan aku" gumam Aron dengan lirih.
"Semoga kau baik-baik saja" ucap Aron dengan pelan.
Lalu Aron bangkit dari duduk nya, ia beranjak keluar dari ruangan meeting dan akan ke ruangan nya sendiri.
Drrttt Drrttt
"Winda" gumam Aron dengan menatap ponsel nya sambil tersenyum.
"Halo sayang" sapa Aron dengan lembut.
"Halo Mas, Mas kita makan siang di Resto jepang ya, aku ingin sekali makanan jepang" ucap Winda dengan antusias.
"Baiklah, kemarilah bersama sopir sayang sebentar lagi jam makan siang akan tiba" balas Aron dengan masuk ke dalam ruangan nya.
"Yasudah sudah dulu ya, aku akan kesana sekarang" ucap Winda dengan berbinar.
Tut.
Aron menyimpan ponsel nya, lalu ia membuka berkas yang sudah ada di meja nya.
Ia akan mengerjakan beberapa berkas sebelum keluar untuk makan siang.
*
Sedangkan Winda, ia segera menyiapkan diri untuk pergi makan siang bersama sang Suami.
"Ahh aku akan membuat kamu melupakan Mora segera , Mas. Aku tau bahwa selama ini kau masih mencintai nya" ucap Winda dengan tersenyum licik.
"Aku sudah melakukan ini semua sejak dulu, jadi aku tidak akan berhenti di tengah jalan. Bahkan aku sedang mengandung anak mu, Mas" ucap nya lagi dengan mengusap perut buncit nya.
Setelah selesai, ia langsung saja keluar dari kamar nya. Ia melangkah menuju ke luar mansion yang dimana disana sudah menunggu sopir nya.
"Ayo Pak" ucap Winda ramah.
"Baik Nyonya" balas Sopir tersebut.
Lalu sang sopir melajukan mobil nya ke arah kantor sang Tuan, ia hanya diam dengan fokus ke jalan saja.
Setelah beberapa menit di perjalanan, akhir nya Winda sampai juga di perusahaan Aron.
"Pak, saya akan makan siang bersama Mas Aron , jadi bapak langsung pulang saja" ucap Winda
"Baik Nyonya" balas Sopir dengan patuh.
Winda lalu melangkahkan kaki nya masuk ke perusahaan, para karyawan disana sudah tahu tentang Aron yang menikah lagi, Mora yang celaka dan koma, bahkan mereka juga menatap Winda dengan tatapan tidak suka nya.
Bagi mereka, Winda itu sudah seperti wanita yang merebut paksa kebahagian Mora dan juga Aron.
"Apa Tuan Aron ada di ruangannya?" tanya Winda
"Ada Nyonya" jawab resepsionis.
Winda menganggukan kepala dan ia langsung saja melenggang masuk ke dalam lift khusus perusahaan.
"Ya Tuhan, meski Bu Mora jarang kesini tetapi dia itu sangat sopan , ramah dan baik. Tetapi ini, ahh sudahlah" ucap Resepsionis itu dengan kecut.
"Ya, aku kurang suka pada Bu Winda, karena dia itu sangat sombong dan aku yakin bahwa ia juga bermuka dua" bisik pelan rekan kerja nya.
Mereka lalu diam dan kembali bekerja, mereka hanya bisa diam tanpa ikut campur apapun.
Sedangkan Winda, ia sudah sampai di depan ruangan Aron. Winda langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Sayang" panggil Winda lembut.
Aron mengalihkan pandangan nya dari laptop, ia tersenyum kecil dan langsung saja menghampiri Winda.
"Hai anak Ayah, apa kabar hari ini? Jangan buat Bunda kelelahan ya" ucap Aron dengan mengecup perut Winda.
"Aku baik, Ayah" balas Winda tersenyum kecil.
Winda lalu memeluk Aron dengan sayang, ia bahkan mengecup pipi Aron kecil.
"Ehh manja nya" ledek Aron dengan terkekeh.
Winda hanya terkekeh dan terus saja memeluk Aron dengan erat.
.
.
.
Mu itu untuk Sang Pencipta.
mu itu untuk orang
Nya itu untuk Sang Pencipta.
nya itu untuk ciptaanNya