Xin Lian, seorang dukun terkenal yang sebenarnya hanya bisa melihat hantu, hidup mewah dengan kebohongannya. Namun, hidupnya berubah saat seorang hantu jatuh cinta padanya dan mengikutinya. Setelah mati konyol, Xin Lian terbangun di dunia kuno, terpaksa berpura-pura menjadi dukun untuk bertahan hidup.
Kebohongannya terbongkar saat Pangeran Ketiga, seorang jenderal dingin, menangkapnya atas tuduhan penipuan. Namun, Pangeran Ketiga dikelilingi hantu-hantu gelap dan hanya bisa tidur nyenyak jika dekat dengan Xin Lian.
Terjebak dalam intrik istana, rahasia masa lalu, dan perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka, Xin Lian harus mencari cara untuk bertahan hidup, menjaga rahasianya, dan menghadapi dunia yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah dia bayangkan.
"Bukan hanya kebohongan yang bisa membunuh—tapi juga kebenaran yang kau ungkap."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seojinni_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Gerbang Menuju Kegelapan
Gerbang batu kuno itu bergetar, membuka diri dengan suara bergemuruh yang memecah kesunyian. Kabut kelam merayap keluar dari celahnya, berputar-putar seperti makhluk hidup yang mengawasi dengan tatapan tak kasatmata.
Di hadapan mereka terbentang jalan berbatu yang diselimuti kegelapan, hanya diterangi lentera merah yang bergoyang tertiup angin. Suasana di tempat ini begitu sunyi hingga napas mereka sendiri terdengar seperti gangguan.
Xin Lian berdiri di ambang gerbang, lengan terlipat di depan dada, matanya menyapu sekeliling dengan penuh kewaspadaan. Ia menghela napas pendek.
“Benar-benar seperti jalan menuju alam baka.”
Xiao Chuan menelan ludah, telapak tangannya menggenggam gagang pedang di pinggangnya. “Klan Xuanming memang jarang berhubungan dengan dunia luar, tetapi aku tidak menyangka tempat ini akan dipenuhi hawa kematian seperti ini.”
“Apa kau ingin mengatakan bahwa kita tengah berjalan ke dalam sarang setan?” Xin Lian meliriknya sekilas, bibirnya melengkung dengan nada mengejek. “Kalau begitu, kau harus berjalan paling depan.”
Xiao Chuan terbatuk pelan, enggan menanggapi ucapannya.
Di sisi lain, Tianlan berdiri dengan tenang, tatapannya lurus ke depan tanpa ekspresi. Angin dingin yang bertiup membuat jubahnya sedikit berkibar, tetapi lelaki itu seolah tak terpengaruh.
Hanya Zhuang Yan yang tampak menikmati suasana ini. Ia menyusuri jalan dengan langkah ringan, senyum tipis terukir di bibirnya seakan sedang mengagumi pemandangan indah.
Namun sebelum mereka dapat melangkah lebih jauh, tiba-tiba—
Srrrt!
Kabut di depan mereka bergolak, menggulung seperti pusaran air yang bergerak perlahan. Dari balik kegelapan, sesosok siluet muncul.
Ia mengenakan jubah panjang berwarna hitam, tudungnya menutupi sebagian besar wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata pucat yang bersinar samar. Wajahnya tidak terlihat jelas, seolah menyatu dengan kabut di sekelilingnya.
Sosok itu berdiri tegak di depan gerbang, menghalangi jalan mereka.
“Yang datang ke tempat ini,” suaranya bergema, dalam dan berlapis, seakan berasal dari lebih dari satu orang. “Sudahkah kalian mempersiapkan diri?”
Xin Lian menyipitkan mata. “Mempersiapkan diri untuk apa? Apakah kami akan dipersembahkan dalam ritual kutukan?”
Sosok itu tetap diam, tetapi kabut di sekitarnya mulai berputar, membawa bisikan lirih yang terdengar seperti ratapan ribuan arwah.
Xiao Chuan merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Ia sedikit bergeser mendekati Xin Lian, meski tak berniat mengatakannya secara langsung.
Tianlan tidak berkata apa-apa, tetapi sorot matanya semakin tajam, seolah membaca setiap gerakan sosok di hadapan mereka.
Sementara itu, Zhuang Yan tetap tersenyum tipis. Ia melangkah sedikit ke depan, kedua tangannya berada di balik lengan bajunya yang lebar.
“Bai Xue,” katanya dengan nada santai. “Kami mencari Bai Xue.”
Xin Lian menoleh dengan kening berkerut. “Siapa itu?”
Zhuang Yan menoleh sekilas padanya, lalu kembali menatap sosok berjubah hitam di hadapan mereka. “Ketua klan ini. Jika ingin melangkah lebih jauh, kita membutuhkan izinnya.”
Begitu nama itu disebut, kabut di sekitar tiba-tiba menggulung seperti ombak besar. Hawa dingin semakin menekan, dan tanah di bawah kaki mereka bergetar halus.
Sosok itu tetap berdiri di tempatnya, tetapi tatapannya seolah menembus ke dalam jiwa mereka.
Lalu—
Swoosh!
Sosok itu menghilang dalam sekejap, lenyap seolah tak pernah ada.
Pada saat yang sama, kabut yang menutupi jalan mulai menyingkir, membuka jalur setapak berbatu yang mengarah ke sebuah bangunan besar di kejauhan. Lentera merah yang tergantung di sepanjang jalan berkedip-kedip, cahayanya berpendar samar di tengah kegelapan.
Xin Lian menatap jalan itu dengan mata menyipit, lalu mendengus pelan. “Jika ini bukan jalan menuju alam baka, aku tidak tahu lagi tempat apa yang lebih menyeramkan dari ini.”
Tianlan akhirnya membuka suara, suaranya tenang namun sarat kewaspadaan. “Kita harus berhati-hati.”
Zhuang Yan terkekeh, tampak benar-benar terhibur. “Menarik, bukan?”
Xiao Chuan diam saja, tetapi ekspresinya cukup untuk menunjukkan betapa ia tidak menyukai tempat ini.
Tanpa pilihan lain, mereka akhirnya melangkah memasuki wilayah Klan Xuanming.
Begitu mereka masuk—
Brak!
Gerbang besar itu menutup sendiri dengan suara bergemuruh, memutus jalur kembali ke luar.
Dan dengan itu, mereka benar-benar telah memasuki wilayah Klan Xuanming, tempat di mana kutukan bukan sekadar legenda belaka.