Ini bukan kisah istri yang terus-terusan disakiti, tetapi kisah tentang cinta terlambat seorang suami kepada istrinya.
Ini bukan kisah suami yang kejam dan pelakor penuh intrik di luar nalar kemanusiaan, tetapi kisah dilema tiga anak manusia.
Hangga telah memiliki Nata, kekasih pujaan hati yang sangat dicintainya. Namun, keadaan membuat Hangga harus menerima Harum sebagai istri pilihan ibundanya.
Hati, cinta dan dunia Hangga hanyalah untuk Nata, meskipun telah ada Harum di sisinya. Hingga kemudian, di usia 3 minggu pernikahannya, atas izin Harum, Hangga juga menikahi Nata.
Perlakuan tidak adil Hangga pada Harum membuat Harum berpikir untuk mundur sebagai istri pertama yang tidak dicintai. Saat itulah, Hangga baru menyadari bahwa ada benih-benih cinta yang mulai tumbuh kepada Harum.
Bagaimana jadinya jika Hangga justru mencintai Harum saat ia telah memutuskan untuk mendua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Harum tengah duduk di meja kasir sembari memainkan pulpen saat sorot matanya menangkap sosok seorang wanita yang di matanya terlihat sangat cantik, masuk ke dalam kedai.
Posisi meja kasir memang persis berhadapan dengan pintu masuk kedai, sehingga ia bisa melihat dengan jelas cantiknya paras wanita itu.
Mirip sekali dengan artis Korea idolanya, Song Hye Kyo.
“Cantik banget. Saya saja yang perempuan begitu mengagumi kecantikannya, apalagi laki-laki,” gumam Harum dalam hati.
Saking terpukau, Harum sampai memperhatikan hingga wanita itu duduk. Bahkan di sela pekerjaannya sebagai kasir, beberapa kali ia melempar pandang pada sosok wanita cantik tersebut dari tempatnya duduk.
Hingga kemudian terjadilah insiden pencurian ponsel si wanita oleh salah seorang pengunjung lain yang ia saksikan dengan matanya sendiri.
Harum semakin mengagumi sosok wanita tersebut saat dengan bijak wanita itu memilih untuk memaafkan si pencuri dan tidak memperpanjang kasusnya.
Selain cantik, wanita itu juga bijak dan ramah. Terbukti saat wanita cantik itu terlebih dahulu menanyakan namanya dengan ramah dan akhirnya mereka berkenalan.
Akhirnya Harum dapat mengetahui nama wanita sejuta pesona itu.
Namanya Nata.
“Nin, cepat dong! Sudah sore nih, takut Mas Hangga sudah pulang ke rumah,” ujar Harum pada sahabatnya.
Biasanya tepat pukul empat sore, ia sudah keluar kedai. Gara-gara insiden pencurian itu, ia masih tertahan di kedai saat menit jam sudah lewat ke angka enam. Molor tiga puluh menit dari jam kebiasaannya pulang.
“Iya sih, yang udah punya suami,” sahut Nina sembari mata dan tangannya sibuk menghitung uang di laci kasir. Salah satu prosedur pergantian kasir atau penutupan kasir adalah memastikan jumlah uang di laci cocok dengan data di komputer.
“Saya doakan semoga kamu juga cepat punya suami,” sahut Harum sembari tersenyum menatap Nina, sedangkan Nina tetap fokus menatap lembar demi lembar uang di tangannya.
“Pas," sahut Nina tepat setelah Harum selesai berucap.
“Harusnya jawab Amin dong, Nin, bukan pas,” protes Harum.
“Lah, uangnya pas kok bilang ‘amin’, aman harusnya,” sahut Nina yang memang tidak menyimak doa Harum yang tulus itu.
Harum mencubit pelan pipi Nina yang chubby saking gemasnya. Kemudian ia segera meraih tas kerjanya.
“Oke deh. Saya pulang duluan ya, Nin. Bye.” Tanpa basa-basi, Harum langsung berpamitan.
“Hati-hati di jalan, Rum. Kalau jatuh, bangun sendiri ya,” celetuk Nina mengantar langkah Harum yang terburu-buru.
Harum tidak menyahut, hanya melambaikan tangan berdadah-dadah pada sahabatnya itu.
“Pulang, Neng?” Petugas parkir berusia lima puluh tahunan di depan kedai tanpa sungkan menyapa Harum yang dikenalnya sebagai menantu pemilik kedai.
“Iya, Pak,” sahut Harum ramah.
“Bapak bantu seberangkan jalan setelah ini ya, Neng,” ujar petugas parkir di sela kegiatannya mengarahkan sebuah mobil yang hendak masuk ke area parkir kedai.
“Tidak usah, Pak, terima kasih," tolak Harum.
Biasanya petugas parkir itu selalu membantu Harum untuk menyeberang jalan, namun kali ini ia menolak lantaran buru-buru. Harum mengayun langkah cepat ke tepi jalan bersiap untuk menyeberang.
“Harum.” Panggilan seseorang menghentikan langkah Harum yang hendak menyeberang jalan.
Harum menoleh ke arah suara. Bibirnya melengkungkan senyum ramah saat mengetahui yang memanggilnya adalah Nata.
Nata yang juga tengah berdiri di tepi jalan itu berjalan menghampiri Harum. “Kamu mau pulang?” tanyanya.
“Iya, Kak." Harum menjawab ramah.
“Loh, memang kerjanya enggak sampai malam?”
“Kalau saya kebetulan memang shif pagi terus, jadi selalu pulang sore,” sahut Harum.
“Oh, gitu.” Nata mengangguk-anggukan kepalanya. “Pulangnya ke mana, Rum?” tanyanya kemudian.
“Di ....” Jawaban Harum menggantung karena bunyi dering ponsel Nata.
“Sebentar, Rum.” Nata berjalan menjauh beberapa langkah untuk menerima panggilan telepon. Setelah menerima panggilan telepon yang singkat itu ia kembali mendekat kepada Harum.
“Rum, ayo pulang bareng aku aja,” ajak Nata. “Pacarku jemput, tapi mobilnya berhenti di sana, dekat pom bensin,” ujarnya lagi.
“Terima kasih, Kak Nata. Tapi, tidak usah. Saya naik angkot saja,” tolak Harum dengan ramah.
“Ayolah, Rum! Anggap saja, ini sebagai ucapan terima kasih aku karena tadi kamu sudah menolong aku,” bujuk Nata.
“Lain kali saja, Kak. Soalnya saya buru-buru, khawatir suami sudah pulang ke rumah,” sahut Harum.
Saat Harum memutuskan untuk kembali bekerja di kedai, ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk pulang tepat waktu dan berusaha untuk sampai di rumah sebelum suaminya pulang.
“Kamu sudah menikah, Rum?” Nata sedikit terkejut. Sejak awal pertemuan tadi, ia mengira Harum adalah seorang gadis yang belum menikah. Ia juga menaksir usia Harum masih muda. Lebih muda darinya.
“Alhamdulillah,” ucap Harum diiringi sebuah senyum.
Bagaimanapun kepahitan pernikahan yang dijalaninya, jauh di lubuk hati, ia merasa bersyukur karena telah dipertemukan jodoh yang terbaik oleh Sang Sutradara terbaik drama kehidupannya.
“Suamimu pasti pria beruntung karena punya istri cantik, lembut, dan baik seperti kamu," sahut Nata. Sama seperti Harum, ternyata Nata juga mengagumi perempuan ayu berjilbab itu.
Dipuji cantik oleh wanita cantik membuat Harum tersipu. “Pacar Kakak juga beruntung punya pacar secantik Kakak. Semoga segera dihalalkan. Semoga kalian segera menikah,” ucapnya tulus.
“Amin,” sahut Nata dengan kedua tangannya saling bertaut di depan dada seperti kebiasaannya jika tengah berdoa.
Kemudian ponsel Nata berdering lagi. Panggilan telepon dari orang yang sama sebelumnya. “Iya, aku ke sana sekarang,” ucap Nata pada si penelepon yang tidak lain adalah Hangga.
“Pacarku telepon lagi, aku duluan ya, Rum,” ujar Nata setelah memutus sambungan teleponnya.
‘Kenapa pacarnya enggak disuruh putar balik ke sini saja? Biar Kakak enggak usah jalan kaki ke sana.’ Ingin sekali Harum mengatakan begitu, tetapi tidak etis rasanya mengatakan hal seperti itu pada seseorang yang baru dikenalnya.
“Iya, hati-hati, Kak,” ucap Harum akhirnya.
“Kamu juga hati-hati ya,” balas Nata.
Kemudian dua wanita cantik itu berpisah. Harum menyeberang jalan untuk menyetop angkot, sedangkan Nata berjalan menuju mobil yang berjarak cukup jauh dari tempatnya berdiri.
Lewat lima belas menit dari pukul lima, Harum sampai di rumah. Mungkin karena pulang kesorean, jalanan juga jadi lebih macet dari biasanya. Beruntung ia sudah melakukan kewajiban asarnya di kedai.
Biasanya setiap pulang kerja, ia langsung cuci tangan, cuci muka lalu masak. Dan yang terakhir adalah mandi. Namun, sore ini ia merasa tubuhnya sangat lelah, rasanya malas sekali untuk masak. Harum mulai menimbang-nimbang apakah mau memasak atau tidak.
Beberapa hari ini Hangga selalu pulang lebih larut dari biasanya sehingga tidak pernah makan malam di rumah. Masakan yang dimasak oleh Harum selalu berakhir di perutnya sendiri.
Harum meraih ponsel lalu mengetik sebuah pesan yang akan dikirimkan kepada suaminya. Ia sudah mendapat nomor Hangga dari Jenah, ART yang sudah lama membantu keluarga Hangga. Meskipun untuk mendapatkan nomor ponsel suaminya itu, ia harus berbohong dengan mengatakan nomor Hangga terhapus dari kontak.
Padahal sejak dulu nomor Hangga memang tidak ada di dalam daftar kontaknya.
Harum mulai mengetik sederet kalimat.
[Assalamualaikum, Mas, ini Harum. Mas Hangga apa mau makan malam di rumah?]
“Kirim, enggak, kirim, enggak, kirim, enggak.” Setelah mengetik pesan tersebut, ia malah jadi bimbang untuk mengirimnya.
“Astagfirullah.” Harum tergemap karena tak sengaja menyentuh tanda panah warna hijau yang membuat pesan itu langsung terkirim.
"Duh, gimana ya," gumam Harum sembari menggigit bibirnya karena resah.
Hati Harum masih dag dig dug mencemaskan reaksi Hangga, lantaran ini adalah kali pertama Harum mengirim pesan pada laki-laki yang berstatus suaminya tersebut.
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi notifikasi pesan masuk dari ponselnya. Harum yang masih memegang ponsel, lekas membuka pesan tersebut.
Mas Hangga : [GAK]
Harum tergugu membaca pesan tersebut. Ada sedikit rasa nyeri mencubit hati. Entah karena balasan pesan singkat dari Hangga yang ditulis dengan huruf besar-besar, atau karena jawaban Hangga yang lagi-lagi tidak akan makan malam di rumah.
Mungkin keduanya sama-sama menyakitkan.
sungguh nikmat kn mas Hangga poligami itu 😈
yg bener nggak sadar diri
perempuan yang merendahkan diri sendiri demi cinta yg akhirnya di telan waktu