Diputusin pas lagi sayang- sayangnya tentu membuat nyesek dan sakit hati. Itulah yang dialami oleh Vina yang di putus oleh Dafa. Putus tanpa kejelasan yang dilakulan Dafa membuat Vina pusing tujuh keliling memikirkan kesalahan yang mungkin diperbuatnya.
Namun, perlakuan Dafa yang sama ketika mereka masih berpacaran menambah pening Vina. Perhatian- perhatian diberikan pada Vina, membuat gadis itu yang belum move on hampir goyah.
Apa sebenarnya alasan Dafa memutuskan hubungan jika masih memberikan perhatian dan harapan? Lalu, apakah Vina dapat bertahan hingga akhir atau malah goyah dan kembali jatuh?
Ikuti kelanjutan hubungan keduanya yang penuh dengan lika- liku dan berbagai emosi yang menguras hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Fujiwara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Dokter
Dafa terdiam mendengar ucapan Eky. Vina sakit? Seketika dalam hatinya merasa khawatir. Cowok itu masih mematung berdiri di depan etalase obat itu, tiba- tiba ia lupa mengapa dirinya di sini. Eky yang melihat Dafa masih berdiri mematung pun mengernyitkan dahi bingung.
“Heh! Lo kenapa melamun?” sentak Eky menabok lengan Dafa.
Dafa mengerjap dan menoleh kearah Eky, bahkan dua apoteker itu juga memperhatikannya. Dafa berdehem untuk mnegurangi rasa malunya.
“Vina sakit apa?”
“Kecapekan kayaknya sama dia lagi PMS. Oh ya, Fa.”
“Apa?” tanya Dafa yang mulai merasakan firasat buruk.
“Lo punya duit lima ribu? Obat si Vina kurang nih,” jawab Eky dengan wajah memelas.
Dafa mendengus kesal, tapi ia juga mengeluarkan uang dari kantongnya. Wajah Eky kembali sumringah.
“Ini Mbak Novi dan Mbak Nara uangnya yang kurang tadi,” ucap Eky – tadi ia membaca nametag dua apoteker itu – memberikan uang itu.
Dua apoteker itu hanya bisa mengelengkan kepala melihat tingkah aneh pelanggan satu ini.
Kini Eky dan Dafa berada di depan apoteker dengan barang di tangan masing- masing. Ternyata Dafa ke apotek hendak membeli minyak kayu putih untuk Papanya yang sedang masuk angin. Cowok itu diperintahkan Bu Ririn untuk membelinya di apotek. Minyak kayu putih itu digunakan untuk bahan kerokan.
“Lo buru- buru nggak?” tanya Eky.
“Nggak juga, kenapa?”
“Gue nitip ini dong, anter ke rumah ya? Sekalian lo jenguk si mantan. Gue ada urusan sebentar,” jelas Eky.
“Oke.”
Eky pun segera pamit, begitu juga dengan Dafa yang menghampiri motornya dan segera menggas menuju rumah Vina. Namun dahi Dafa mengernyit melihat motor Eky terparkir di depan rumah seseorang. Dafa ikut berhenti untuk mencari keberadaan cowok itu. Namun nihil, ia tidak menemukan jejak Eky.
“Motornya ada, orangnya kemana?” gumam Dafa.
“Sssttt,” desis seseorang.
Dafa yang mendengar desisan tesebut yang berasal dari atas mendongak. Matanya membulat mendapati Eky sudah nangkring di atas pohon mangga.
“Lo ngapain di sana?” tanya Dafa bingung.
“Gue mau panen, kalo lo mau nanti kumpul deket lapangan rumah gue,” jawab Eky dari atas pohon,
“Gue nitip obat Vina ya?”
Dafa menggelengkan kepalanya dan segera pergi darisana, dirinya takut ketahuan sang pemilik rumah. Sementara Eky masih asik dengan mangga di pohon itu.
Dafa sampai di rumah Vina, ia mengetuk pintu rumah itu. Tidak lama seseorang membukakan pintu itu, orang itu mengernyit bingung. Pasalnya yang berdiri di depan pintu adalah Dafa, bukan Eky yang sejak tadi sudah di tunggu kepulangannya.
“Ini obat Vina, Bun,” ucap Dafa memberikan kantong plastik itu pada Bunda.
“Eky kemana, Fa? Kamu mau jenguk Vina?” tanya Bunda mempersilakan Dafa masuk.
“Tadi ada urusan sebentar katanya, Bun,” jawab Dafa dan mengekor Bunda masuk ke dalam.
“Vina demam sama pusing kepalanya, mungkin besok Bunda mau bawa dia ke dokter,” jelas Bunda.
Bunda membuka pintu kamar Vina, terlihat Vina masih bergelung di dalam selimut. Tubuhnya menggigil kedinginan, tapi suhu tubuhnya tinggi. Belum lagi perutnya yang terasa melilit perih akibat menstruasi.
“Dek, minum obat dulu ya?” tanya Bunda.
Vina berusaha membuka matanya yang terasa berat, cewek itu hanya mengangguk lemas. Bunda pun keluar kamar untuk mengambil air minum, meninggalkan Dafa di sana. Dafa berjalan mendekat dan menyentuh dahi Vina. Membuat cewek itu tersentak kaget merasakan tangan dingin menyentuh dahinya.
“Maaf,” ucap Dafa segera menarik tangannya kembali.
“Lo ngapain di sini?” tanya Vina serak melihat Dafa duduk di tepi ranjang.
“Gue mau jenguk lo,” jawab Dafa.
Sungguh untuk saat ini Vina tidak ada tenaga untuk berdebat dengan Dafa, cewek itu kembali memejamkan matanya. Sementara Dafa masih menunggu di sana.
Setelah minum obat, Vina tertidur. Entah berapa lama dirinya tidur, saat membuka mata suasana kamarnya hening dengan sinar matahari masuk melalui jendela kamarnya. Vina membuka matanya dan menoleh kearah pintu. Bunda masuk ke kamar Vina dengan membawa nampan berisi sarapan untuknya.
“Sarapan dulu, Dek,” ucap Bunda.
Vina berusaha duduk dengan dibantu Bunda, kepalanya masih terasa pusing. Obat yang diminumnya semalam belum menunjukkan reaksi.
“Nanti berobat sama Bunda ya?”
Vina hanya mengangguk, ia berusaha menelan sarapannya dengan susah payah. Makanan itu terasa pahit di mulut Vina.
“Udah, Bun. Rasanya pahit,” ucap Vina menolak suapan Bunda.
“Karena kamu lagi sakit, Dek. Satu suap lagi ya?” paksa Bunda.
Vina membuka mulut dan melahap makanan itu, tapi seketika ia mengernyit heran merasakan makanan di dalam mulutnya terasa aneh.
“Kok asin? Bunda nyuapin Vina garam, ya?” tanya Vina segera masuk kamar mandi untuk memuntahkan makanan di mulutnya.
“Masa’ sih? Atau Bunda kurang rata aduknya, ya?” gumam Bunda.
Setelah melakukan aktivitas paginya, Vina diantar Bunda menuju dokter yang tidak jauh dari rumah mereka. Walau begitu, Vina terlalu lemas untuk berjalan. Akhirnya Bunda memesan B-Car, beliau juga tidak mau Vina pingsan di tengah perjalanan. Mereka pun sampai di klinik tempat praktek dokter itu. Dokter ini merupakan dokter langganan keluarga Pak Cahyo.
“Duduk dulu, Vin. Bunda mau ambil nomor antrean.”
Vina hanya menurut dan duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tunggu. Ada beberapa orang yang ada di sana, mereka menunggu giliran untuk diperiksa.
“Nih nomornya, Vin,” ucap Bunda memberikan nomor itu ke Vina.
“Untung kita berangkat lebih awal, jadi nggak terlalu lama nunggunya.”
Vina hanya mengangguk, ia memainkan ponselnya. Sejak kemarin setelah Galang menelponnya, Vina tidak memegang ponselnya lagi. Banyak chat juga telpon dari teman- temannya, grup juga sudah ramai dengan makhluk- makhluk di dalamnya. Banyak yang menanyakan keberadaannya sejak semalam. Namun Vina enggan membalas teman- temannya itu. Vina yakin pagi tadi juga teman- temannya mendapat jawaban atas ketidakhadirannya di kelas. Bunda sudah mengirim surat izin untuk Vina.
Tiba giliran Vina untuk diperiksa, ia masuk bersama Bunda. Suasana ruang periksa sungguh epik. Desain interiornya sangat memanjakan mata, membuat pasien betah berlama- lama di dalam. Apalagi sang dokter muda juga menambah pemandangan yang membuat mata seketika jernih.
“Dek Vina, ya? Keluhannya apa?” tanya dokter bernama Parwujin itu.
“Demam, pusing, perut sakit. Kalo perut sakit karena menstruasi, dok. Tapi kalo demam sama pusing mungkin karena saya kelelahan menghadapi hubungan rumit ini, entahlah si dia senang sekali menggantung hubungan ini. Bilangnya sudah putus tapi masih saja membayang- bayangi saya…”
“Ehrm,” Dokter Parwujin berdehem, sementara Bunda menabok paha Vina. Membuat cewek itu meringis.
“Baik, saya tensi dulu ya?”
Vina mengangguk dan memberikan kedua tangannya, “Pilih yang mana, dok? Jangan sampai salah pilih, nanti menyesal.”
Bunda menggelengkan kepalanya, beliau benar- benar kapok membawa Vina ke sini. Vina benar- benar sudah tak tertolong lagi.
Vina merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga, dirinya lelah setelah pemeriksaan tadi. Mulutnya yang terasa lelah. Ponselnya berdering tanda ada seseorang yang menelpon. Ia melihat layar ponselnya dan mengernyit melihat si penelpon.
“Halo? Lo nggak sekolah emang?” sapa dan tanya Vina langsung.
“Gue bolos. Tadi kok rumah lo sepi? Gue mau main nih.”
“Gue ke dokter tadi."
...🐈🐈🐈...
Say hay pada Dokter Parwujin 🤗🤗🤗
dah punya gc ayo gunakan para membernya
😂😂😂😂 lagi seru-seru, baca pertarungan mereka....tegang dengan emosinya Juno. Eh kox gambar mas Kardi mendelik 🤣🤣🤣
Si bunda juga iseng banget, sampe nyuruh semua anaknya beli minyak goreng promo
Untung sukses bund 👍👍😂😂
Eh Ekky, kamu kox sepertiku, yang suka maling mangga 🤣🤣 dan selalu sukses juga 😂😂 sumpah deh, nih cerita eh, episode....judulnya Maling Mangga yang Gesrek 🤣🤣🤣
pagi pagi absen dimari
kolom misi tertera karya Author lain 🤦🤦🤦
Omegot NT mah
duh....nostalgila dehh
kalian bikin kepengen 😥😥