Pensiun sebagai pembunuh nomor satu karena penyakit mematikan, Kenzo bereinkarnasi ke dalam novel kultivasi buatannya sendiri. Berbekal 'Sistem Sampah' yang ia modifikasi menjadi senjata maut dan pengetahuan sebagai sang pencipta, Kenzo siap membantai siapa pun yang berani mengusik waktu santainya bersama sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Harga Diri sang Kreator
Kenzo menatap pedang hitam di tangannya seolah benda itu adalah bom waktu yang menjijikkan. Radar di matanya terus berkedip merah, menandakan musuh sudah sangat dekat. Hawa panas dari Ranah Raja mulai membakar ujung-ujung daun di sekitar gubuk.
"Kenapa kau diam saja?" goda Ling Yue sambil menyeka sisa air mata tawanya. "Ayo, cabut pedangnya. Aku ingin mendengar suaramu yang merdu... kukuruyuk!"
Kenzo melirik Ling Yue dengan tatapan tajam yang bisa membekukan lautan. Kemudian, sebuah ide licik muncul di kepalanya. Ia ingat bahwa Ling Yue sekarang memiliki tubuh fisik yang terhubung dengan sistem.
"Kau ingin melihat tarian itu, ya?" Kenzo menyeringai tipis. "Kalau begitu, kau saja yang melakukannya."
Ling Yue menghentikan tawanya. "Apa maksudmu? Aku ini sistem, aku tidak—"
"Kau memiliki tubuh sekarang, Ling Yue. Dan sebagai Kreator, aku memindahkan hak kepemilikan pedang ini... kepadamu!" Kenzo menyentuh dahi Ling Yue dengan cepat, sementara tangan lainnya menyerahkan gagang pedang hitam itu.
[Ding!]
[Pemindahan Hak Milik Berhasil!]
[Pengguna Baru: Ling Yue (Entitas Sistem).]
"Hah?! Tunggu! Kenzo, kau brengsek—"
Belum sempat Ling Yue memprotes, ledakan energi Qi menghancurkan pagar bambu di depan mereka. Sang Leluhur Keluarga Feng, seorang pria tua dengan jubah merah menyala, mendarat dengan sombong. Di belakangnya, lima puluh prajurit Inti Emas mengepung gubuk dengan pedang terhunus.
"Mana pembunuh putriku?!" teriak sang Leluhur. "Keluar dan hadapi kematianmu!"
Kenzo mundur satu langkah, duduk dengan tenang di kursi malasnya yang masih utuh, lalu melipat kaki. "Hei, Leluhur Tua. Kau beruntung. pelayanku sedang ingin memamerkan teknik rahasianya."
Ling Yue mematung. Tangannya secara otomatis menggenggam pedang Pembelah Langit. Sifat pedang itu sangat dominan; begitu musuh terdeteksi, ia memaksa penggunanya untuk mencabut bilahnya.
Sring!
Bilah hitam legam itu keluar dari sarungnya, memancarkan aura kegelapan yang mengerikan. Seluruh pasukan Keluarga Feng gemetar ketakutan melihat pedang legendaris tersebut. Namun, kengerian itu hanya bertahan selama satu detik.
"K-KUKURUYUKKKK!"
Suara Ling Yue yang biasanya merdu tiba-tiba berubah menjadi lengkingan ayam jantan yang sangat nyaring. Tak berhenti di situ, kakinya secara otomatis merapat, tangannya menekuk di samping pinggang, dan tubuhnya mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan kaku.
"Hah?" Sang Leluhur Keluarga Feng melongo.
"Apa yang dilakukan wanita cantik itu?" bisik para prajurit bingung.
Ling Yue, dengan wajah yang merah padam hingga ke leher karena malu, terus menari pinguin di depan musuh-musuhnya. Air mata kemarahan mulai menggenang di matanya. "Kenzoooo! Aku akan membunuhmu setelah ini!" teriaknya di sela-sela tarian paksa tersebut.
Namun, di balik kekonyolan itu, pedang di tangannya mulai mengeluarkan cahaya hitam yang sanggup membelah ruang. Setelah sepuluh detik tarian memalukan itu selesai, Ling Yue tidak membuang waktu. Ia melampiaskan seluruh rasa malunya dalam satu tebasan horizontal.
VUUUSHHH—BOOOM!
Gelombang energi hitam raksasa melesat, menghancurkan apa pun di depannya. Lima puluh prajurit Inti Emas lenyap menjadi abu dalam sekejap. Sang Leluhur Ranah Raja mencoba menahan serangan itu dengan perisai apinya, namun perisai itu hancur seperti kaca, dan tubuhnya terlempar sejauh satu mil hingga menabrak gunung.
Hening.
Hanya ada suara angin yang berhembus di halaman gubuk yang kini rata dengan tanah. Ling Yue berdiri dengan napas terengah-engah, pedang hitam di tangannya masih bergetar. Ia perlahan menoleh ke arah Kenzo yang sedang asyik memakan manisan buah.
"Bagus sekali, pelayan" ucap Kenzo tanpa dosa. "Teknik Ayam Pinguin milikmu benar-benar tak tertandingi."
"KENZOOOO! MATI KAU!" Ling Yue melemparkan pedang itu ke tanah dan menerjang Kenzo untuk mencekiknya.
"Ibu hebat! Ibu bisa menari seperti pinguin!" sorak Lin-er dari jendela gubuk sambil bertepuk tangan.
Ling Yue berhenti mencekik Kenzo, wajahnya terkubur di telapak tangannya sendiri. "Hancur sudah harga diriku sebagai sistem tingkat tinggi..."
Kenzo hanya tertawa pelan—tawa tulus pertamanya di dunia ini. Sambil menepuk bahu Ling Yue, ia bergumam, "Setidaknya kita punya pedang yang kuat sekarang. Selama bukan aku yang memakainya."
sebentar😅😅