[Proses Revisi]
Empat orang gadis memiliki kemampuan yang semua orang tidak miliki, melihat mahluk halus? melihat masa depan? melihat masalalu? merasakan aura disekitar? Mengerikan bukan? Tentu saja. Siapa yang baik-baik saja ketika memiliki kemampuan tersebut.
Kadang melihat sesuatu yang mengerikan itu sangat melelahkan.
Tapi semua itu membaik ketika mereka bertemu dengan Kakak senior di sekolah barunya, memiliki aura yang notabenenya mereka butuhkan selama ini.
Bagaimana kisah cinta mereka dan kisah mereka dengan para mahluk tak kasat mata?
On IG: @ry_riuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RIANA
"Ca yakin gak apa-apa?"tanya Ivy.
Mereka telah sampai di rumah Echa sekitar setengah jam yang lalu. Sekarang Mereka sedang berada dikamar Echa.
"Gak apa-apa seriusan."jawab Echa.
"Kalau Ana bilang semua ini karena perkataan itu Caca bakal marah sama Ana?"tanya Riana.
Echa hanya kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Riana.
"Kenapa Ana bisa tau?"tanya Echa dalam hati.
"Tau Ca, tenang aja Ana juga tau kalau kalian semua punya kelebihan."jawab Riana yang membuat Hanin, Ivy dan Echa kaget mendengar penuturan itu.
"Ana tau darimana?"tanya Ivy
"Tau lah."jawab Riana dengan senyuman manis.
Ivy menatap mata Riana tanpa sedetikpun mengalihkannya meskipun Riana selalu menghindar dari tatapan itu, Ivy hanya ingin tahu apa semuanya itu benar.
"Gak usah diterawang Vi."ucap Riana yang lagi-lagi membuat orang yang didalam kamar itu melongo tak percaya.
Semuanya terjadi begitu saja dan kenapa harus datang secepat ini bahkan setiba-tiba ini.
"Gimana kalau malam ini kita nginap dirumah Caca? Sambil cerita tentang kelebihan yang aku juga punya."ujar Riana yang melihat teman-temannya masih bingung itu.
"Eh, iya, itu, Vivi juga udah lama gak nginep disini, kangen banget. Boleh kan Ca kita disini?"tanya Ivy.
"Boleh banget, Caca serasa punya saudara kalau rame kayak gini, biasanya rumah itu sepi."jawab Echa yang tersadar.
"Hanin juga setuju, terakhir kali itu waktu sama Aira kan?"tanya Hanin.
"Iya, udah mungkin seminggu kurang."jawab Echa.
"Aira?"tanya Riana.
"Iya, adiknya Kak Bara, kalau Ana liat dia itu gemesin banget. Jadi pengen punya adik kayak gitu deh."jawab Hanin.
"Gimana gak gemesin dari atasnya aja udah wah banget Nin." jawab Ivy.
"Oh iya soal tadi Ana tau sesuatu tentang Caca?"tanya Hanin.
Riana melihat kearah Echa yang juga sama melihat kearah dirinya. Echa hanya diam tidak merespon atau memberi isyarat pada Riana. Tapi menurut Riana semua beban ini harus hilang dibenak Echa apalagi Echa sudah pernah trauma setelah kehilangan orang tersayangnya.
"Maaf nih Ca, Ana kasih tau sama Hanin, Vivi. Soalnya kalau gak dikasih tau bakalan jadi beban tersendiri buat Caca. Jadi harus berbagi seenggaknya sedikit aja."ujar Riana sambil mengelus pundak Echa yang melamun.
"Beban kalau dipikul sendiri gak bakal ketemu titik terangnya, kalau dibagi-bagi jadi enak nanti bakal nemuin titik terangnya."sambung Ivy sambil mengusap air mata yang menetes ke pipi Echa.
"Ca, Seberat apapun sesulit apapun bahkan serumit apapun bakalan jadi ringan kalau kita percaya sama diri sendiri. Menguatkan hati adalah hal yang terpenting, Caca bahkan udah banyak ngelewatin masa sulit Caca juga bakalan tau seberat apa beban tanpa dibagi." sahut Hanin tersenyum sambil memegang tangan Echa.
Echa menatap ketiga sahabatnya ini satu persatu, Echa sangat beruntung memiliki sahabat yang selalu ada ketika semua dunia Echa hancur. Echa memeluk mereka bertiga sambil meneteskan air matanya, menghilangkan segala kegundahan dan keresahan dihatinya saat ini.
"Makasih ya, udah selalu ada buat Caca."ujar Echa sambil memeluk ketiga sahabatnya itu.
"Kita bakalan selalu ada buat Caca, kapanpun Caca butuh."ucap Riana.
"Caca ngerasa udah kenal jauh sama Ana, meskipun baru tadi pagi deketnya."sambung Echa.
Echa melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya itu. Ternyata hal yang paling menyenangkan adalah menangis lalu bahagia.
"Eh, iya sampai lupa kan Caca sama siapa bisa gitu An?"tanya Ivy.
Riana tidak langsung menjawab pertanyaan Ivy dia melihat kearah Echa yang langsung diberi anggukan lemah dari Echa.
"Em, kalian jangan marah ya. Soalnya semua ini ada sangkut pautnya sama kalian juga."ujar Riana.
"Yaudah iya cepet apaan? jadi penasaran." sahut Hanin.
"Caca itu gini karena Kak Ratu, Kak shasha sama Kak Kayla."ucap Riana.
" Kaya pernah denger tapi dari siapa."ujar Hanin yang nampak berpikir.
"Gak asing namanya."sambung Ivy yang sama berpikirnya seperti Hanin.
"KAK NATHAN, KAK AZKA."ujar Hanin dan Ivy kompak setelah 1 menit berpikir mereka menemukan jawaban yang dicarinya.
"Jadi gimana lagi An?"tanya Ivy.
"Jadi sebenernya yang nampar Caca itu Kak Ratu sama Kak Shasha." jawab Riana sambil melihat kearah Echa yang sedang menatap kosong.
"Oh, orang itu, bener-bener ini harus dikasih pelajaran. Gak tau apa dulu Hanin pernah ikut pencak silat."ujar Hanin sambil menggulungkan lengan bajunya dengan bangga.
"Elah baru kuda-kuda dikit aja udah encok." ucap Ivy sambil mendelik sebal.
"Ya buat gaya-gaya lah Vi, jangan buka kartu."sambung Hanin yang dibalas tak kalah tajam.
"Trus lanjutannya gimana?"tanya Ivy.
"Tamparan buat Caca itu gak seberapa, Caca udah biasa ngadepin dunia yang kejam tanpa orang tua, yang buat Caca sakit itu cuman perkataan nya Kak Ratu yang bilang, Sampai kapanpun kamu gak bakalan bisa jadi Ratunya Bara. Caca emang kuat tapi soal hati dia belum dapetin kerasnya semua itu."jelas Riana sambil memegang tangan Echa yang sudah meneteskan air mata sejak tadi.
"Kurang ajar banget mereka, berani-beraninya keroyokan. Gak tau apa Vivi ini bisa aja ngejatuhin mereka cuman sama masa lalunya."ujar Ivy.
"Vi, dia itu bahaya buat kita bisa-bisa dia neror pake mahluk yang kuat banget. Yang dulu Aira bilang, dia bahkan bisa ngebunuh orang cuman dengan sekali sentuhan." sambung Echa dengan suara lemah dan serak sehabis menangis.
"Saking kuatnya mahluk itu bisa naklukin apa aja yang tuannya mau."ujar Riana.
"Jadi kalau Ratu pengen Kak Bara, dia bisa kabulin itu?"tanya Hanin.
"Bisa jadi, tapi semua itu tergantung hati Kak Bara sendiri, kalau dia teguh sama pendiriannya dia gak bakalan goyah meski sekuat apapun sihirnya." jawab Riana.
"Jadi, diantara kalian jangan sekali-sekali memberitahukan Kak Ratu pelakunya, mahluk itu bakalan celakain kita. Bahkan mahluk itu bisa denger apa yang kita bicarain tentang tuannya itu." jelas Riana.
"Terus sekarang gimana?"tanya Ivy panik.
"Gak usah panik kita punya penjaga disini yang namanya Shila kan?"tanya Riana.
"Ana kenapa bisa tau semua ini?"tanya Echa sambil menatap mata Riana.
"Sebenernya Riana itu punya kelebihan membaca pikiran orang dan bahkan bisa melihat mereka." jawab Riana.
"Kirain yang kaya Caca cuman Caca aja."sambung Echa.
"Kalau Caca beda, Caca emang istimewa buat mereka."ujar Riana.
"Kenapa bisa gitu? Padahal Ana sama kaya Caca kan?"tanya Hanin.
"Kalau di misalkan Ana itu cuman pintu, Caca kuncinya."Ucap Riana.
setelah 3 thun lalu aku baca 3 kali, tahun ini baca lagi yng ke empat saking bagusnya ni cerita 😍😍
di baca deh, di jamin bakalan nagih 🥳👍
saking suka buat nama panggilan jdi caca🤭
but thanx ya.....lanjut ghostvilla......bye²
Othorr TANGGUNG JAWAB!!!😭😭😭😭
di online pengen ad yg jual tp semua nihil
hbsnya greget sma lnjutnn si teror
ini ulng baca dr awal terus tp tenag gl bosan" kok