"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Beberapa saat kemudian, seorang perawat mengabarkan bahwa Laura sudah sadar dan telah dipindahkan ke ruang rawat. Dirga dan Karin segera melangkah masuk untuk melihat kondisinya.
"Laura... kamu sudah sadar, Sayang?" sapa Dirga lembut.
Laura menatap suaminya dengan tatapan kosong sebelum akhirnya tersadar sepenuhnya.
"Mas, anak kita... anak kita gimana?" tanya Laura cemas.
"Kamu tenang dulu ya, Ra. Jangan banyak pikiran, aku nggak mau kamu kenapa-napa," ucap Dirga berusaha menenangkan istrinya, meski matanya tak bisa menyembunyikan kesedihan nya.
"Mas, jawab aku! Gimana anak kita? Kenapa kamu diam?!" bentak Laura, mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Dirga tertunduk. Ia tidak sanggup menatap mata Laura yang terus mendesaknya. Keheningan itu pecah saat isak tangis Dirga terdengar.
"Ra, kamu yang sabar ya... anak kita... anak kita nggak bisa diselamatkan. Kamu keguguran," ujar Dirga sambil menangis dan langsung memeluk Laura dengan erat.
"Apa?! Nggak mungkin! Aku keguguran, Mas? Aku nggak mungkin kehilangan anakku!" Laura menangis histeris. Ia meronta dalam pelukan Dirga.
Saat tangisnya masih pecah, mata Laura menangkap sosok Karin yang berdiri di sudut ruangan. Kemarahannya seketika meluap.
"Kenapa kamu ada di sini?! Kamu puas sekarang melihat aku kehilangan anakku?! Aku nggak akan biarkan kamu hidup tenang... aku bakal laporin kamu ke polisi, Rin!" teriak Laura penuh ancaman.
Karin menghela napas panjang, ia tidak gentar sedikit pun.
"Kamu nggak bisa laporin aku ke polisi, Ra. Ini semua salah kamu sendiri. Kamu yang datang ke rumahku marah-marah. Aku sudah minta kamu pergi, tapi kamu malah menolak. Sampai akhirnya kamu terjatuh sendiri... jadi jangan salahkan aku dong."
"Tapi kalau kamu tetap mau laporin aku, silakan saja, Ra. Aku punya bukti kalau kamulah yang mau mendorongku saat itu," tegas Karin.
Laura tertawa sinis di sela tangisnya. "Bohong! Bagaimana kamu bisa buktikan kalau aku yang mau dorong kamu? Bahkan HP kamu saja sudah rusak!"
"HP-ku memang sudah rusak karena kamu banting, tapi di rumahku ada CCTV-nya. Aku bisa serahkan rekaman itu ke polisi kalau kamu tetap nekat melaporkan aku," ujar Karin tenang.
"Sial! Kenapa ada CCTV di rumahmu? Kapan kamu memasangnya? Bukankah dulu tidak ada CCTV di sana saat aku tinggal di sana? Kamu pasti berbohong, kan?!. Wajah Laura seketika pucat.
"Buat apa aku berbohong, Ra? CCTV itu sudah terpasang sejak lama. Aku sengaja menyembunyikannya dari kalian, supaya aku bisa tahu perselingkuhan kalian di belakangku dulu," ucap Karin tajam.
Dirga tersentak mendengar pengakuan itu. "Apa? Jadi kamu memasang CCTV itu untuk menyelidiki perselingkuhan kita, Rin?" tanya Dirga, merasa tertampar oleh kenyataan.
"Iya, Mas. Kenapa? Kamu kaget sekarang?"
Karin beralih menatap Laura kembali. "Jadi gimana, Laura? Apa kamu tetap akan melaporkan aku? Hahaha... aku rasa kamu pasti gak berani kan?".
"Sial! Awas kamu, Rin! Aku akan balas kamu! Walaupun aku nggak bisa masukin kamu ke penjara, aku akan buat hidup kamu menderita!" teriak Laura sambil menunjuk Karin dengan jari gemetar.
"Iiiih... aku takut deh," ledek Karin dengan nada menyindir sebelum berbalik meninggalkan ruangan.
Karin! Karin! Jangan pergi kamu! Aku belum selesai!" teriak Laura histeris, berusaha bangkit namun tubuhnya masih terlalu lemah untuk mengejar Karin yang sudah melangkah keluar.
"Laura, sudah! Kamu jangan teriak-teriak terus. Kamu harus tenang, ingat kamu baru saja keguguran. Jangan banyak bergerak dulu," ujar Dirga sambil menahan bahu istrinya agar tetap berbaring.
"Mas, tapi aku nggak terima harus kehilangan anak kita! Aku nggak sudi lihat Karin bebas begitu saja!" ucap Laura dengan napas memburu dan mata yang masih basah.
"Kamu harus ikhlas, Ra. Ini juga bukan sepenuhnya kesalahan Karin," ucap Dirga pelan, mencoba memberi pengertian.
Laura menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.
. "Jadi kamu belain Karin, Mas? Ingat, Mas, ini anak kamu! Kamu sudah lama sekali menantikan kehadiran seorang anak!"
"Aku bukan belain Karin, Ra. Tapi coba kamu pikir lagi, seandainya kamu nggak datang ke rumah Karin marah-marah, nggak mungkin kan kamu keguguran?" tegas Dirga. Nada suaranya kini terdengar lebih dalam dan serius.
"Kamu sama saja, Mas! Kamu jahat! Kamu bahkan nggak merasa marah karena kehilangan anak kita! Aku tahu, kamu masih cinta kan sama Karin?" tuduh Laura dengan suara gemetar.
"Ra, asal kamu tahu, aku juga kecewa, marah, dan sedih karena kehilangan anak kita!. Tapi apa kamu nggak dengar omongan Karin tadi? Kamulah yang awalnya mendorong Karin sampai akhirnya kamu jatuh sendiri. Bahkan Karin punya bukti rekaman CCTV-nya!"
Laura terdiam, namun dadanya masih naik turun menahan amarah yang tidak tersalurkan. Dirga menghela napas panjang, mencoba meredam suasana agar tidak semakin panas.
"Sudah, sekarang lebih baik kamu istirahat dulu ya. Aku mau mengurus biaya administrasi kamu dulu," pungkas Dirga. Ia membenarkan selimut Laura sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar ruangan .
Dirga melangkah menuju ruang administrasi dengan perasaan campur aduk. Setiap langkahnya terasa berat, diselimuti keraguan yang mendalam. Ia teringat saldo di rekeningnya yang hanya menyisakan angka satu juta rupiah—jumlah yang rasanya mustahil bisa melunasi biaya pengobatan Laura.
Gimana ini? Uangku tinggal satu juta. Apa mungkin cukup untuk membayar biaya rumah sakit Laura?" gumamnya dalam hati, penuh kecemasan.
Sesampainya di loket, Dirga mencoba memberanikan diri.
"Permisi, Sus. Saya Dirga, suami dari Ibu Laura. Saya ingin menyelesaikan biaya administrasinya," ucap Dirga pelan kepada perawat yang berjaga.
"Baik, Pak Dirga. Sebentar, saya cek terlebih dahulu ya," jawab suster itu sembari jemarinya menari di atas keyboard, mencari nama Laura.
"Kira-kira habis berapa ya, Sus?" tanyanya, mencoba mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
Suster itu mendongak dan tersenyum tipis. "Maaf, Pak Dirga, semua biaya administrasi Ibu Laura ternyata sudah ada yang melunasi. Jadi, Bapak tidak perlu membayar apa-apa lagi."
"Apa, Sus? Sudah dibayar? Siapa... siapa yang membayarnya?" Dirga tertegun.Matanya membelalak tidak percaya.
"Benar, Pak. Semuanya sudah dibayar oleh Ibu Karin Sanjaya," jelas suster itu dengan tenang.
"Karin...?". Dirga membeku di tempat. Ada rasa sesak sekaligus haru yang menyeruak di dadanya. Ia tak menyangka bahwa setelah semua yang terjadi, Karin masih peduli padanya.
"Ya sudah, Sus. Terima kasih banyak, kalau begitu. Saya permisi dulu," ucap Dirga pelan.
Pikirannya masih berkecamuk saat ia melangkah meninggalkan loket administrasi. Ada rasa lega, namun juga beban moral yang berat di pundaknya. Dirga pun kembali menuju ruang perawatan Laura.
Begitu pintu terbuka, Laura yang sedang bersandar di ranjang langsung menoleh.
"Mas, sudah selesai? Bagaimana? Apa uangnya cukup untuk membayar biayanya?" tanya Laura cemas.
D"Sudah, Ra. Tapi... aku tidak jadi membayar biayanya," ujarnya jujur.
"Hah? Kenapa tidak jadi membayar, Mas? Bukankah itu harus segera diselesaikan?"
"Iya, soalnya semua biaya rumah sakit kamu sudah ada yang melunasi, Ra," jawab Dirga tenang, mencoba membaca reaksi istrinya.
"Sudah ada yang bayar? Siapa, Mas?".
Dirga terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Karin. Karin yang sudah membayar semua tagihannya, Ra. Jadi... aku mohon, tolong jangan menaruh dendam lagi padanya."
Mendengar nama itu, raut wajah Laura berubah drastis. Tatapannya yang tadi lembut seketika berubah penuh amarah.
"Tidak, Mas! Tidak bisa! Walaupun Karin sudah membayar seluruh biaya rumah sakit ku, itu tidak mengubah apa pun. Aku tetap tidak akan memaafkannya!" tukas Laura ketus
Dirga memijat pangkal hidungnya, merasa lelah dengan sikap Laura yang tidak kunjung melunak.
"Kamu jangan keras kepala, Ra. Mau sampai kapan kamu terus-terusan seperti ini?" tanya Dirga dengan nada frustrasi.
"Sampai aku bisa membalaskan dendamku, Mas!" sahut Laura "Aku tidak akan membiarkan Karin hidup tenang setelah apa yang sudah dia lakukan."
"Tapi dia sudah membantu kita, Ra! Setidaknya hargai niat baiknya," sela Dirga mencoba memberi pengertian.
Namun, Laura justru terkekeh sinis, sebuah tawa yang terdengar dingin.
"Membantu? Bagiku itu bukan bantuan, Mas. Itu hanyalah cara dia untuk pamer kekuasaan atau mungkin sekadar pencitraan agar terlihat baik di matamu. Jangan harap uang itu bisa membeli rasa sakit hatiku." tegasnya
Bersambung........
Jangan lupa like dan subscribe ya kak supaya aku bisa lebih semangat lagi 😁 🙏
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak