NovelToon NovelToon
Sistem Sultan Tanpa Batas

Sistem Sultan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mengubah Takdir
Popularitas:239.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eido

Dion Arvion, siswa SMA lemah yang setiap hari menjadi korban penindasan, hidup dalam keputusasaan hingga sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]

Sejak saat itu, uang, kekuatan, dan pengaruh mengalir tanpa batas dalam hidupnya. Dion yang dulu diinjak kini bangkit menjadi sosok mengerikan yang siap membalikkan keadaan.

Kini, dunia yang pernah merendahkannya akan dipaksa tunduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: BARRA YANG TAK BERDAYA

Sreeet.

Suara pintu kelas yang digeser memecah suasana. Dion melangkah masuk dengan tenang.

Dalam sekejap, puluhan pasang mata terangkat serempak.

Udara di kelas seolah berhenti bergerak.

Pemuda tinggi dengan bahu tegap itu, wajahnya tajam, rambutnya jatuh acak dengan aura dingin yang sulit diabaikan, berdiri di ambang pintu.

Seragam SMA Cahaya Senja melekat rapi di tubuhnya, bukan lagi sekadar pakaian sekolah, melainkan penegas perubahan yang tak bisa disangkal.

“Di–Dion…?” bisik seorang siswi, matanya membesar.

“Apakah itu Dion?”

“Sepertinya iya!” sahut siswi lain, nyaris menjerit.

“Kenapa dia jadi setampan itu?! Dan tinggi banget?!”

Di sisi lain bangku, suara dengusan terdengar.

“Cih, mana mungkin orang berubah gitu dalam sehari,” ujar seorang murid laki-laki dengan nada masam.

“Pasti oplas.”

“Iya,” timpal temannya cepat.

“Mana ada orang tiba-tiba ganteng dan tinggi. Jelas oplas.”

Namun suara-suara itu tenggelam.

Para siswi sudah lebih dulu berdiri, bergerombol mendekati Dion. Pujian bertubi-tubi mengalir, tawa kecil, tatapan berbinar, bahkan beberapa sudah berani mengulurkan ponsel, meminta kontak.

Dion hanya tersenyum sopan.

“Maaf,” katanya lembut namun tegas.

“Lain kali saja.”

Senyum itu, tenang, hangat, dan penuh jarak, justru membuat beberapa siswi terdiam sejenak, lalu tersipu. Dengan langkah santai, Dion melewati kerumunan, berjalan ke bangkunya di dekat jendela.

Ia sempat melirik sekilas.

Bangku kosong, bangku tempat Darma biasa duduk.

Tanpa ekspresi, Dion meletakkan tasnya, duduk, lalu memandang keluar jendela. Cahaya pagi menyentuh sisi wajahnya, menegaskan ketenangan yang kontras dengan kegaduhan kelas.

Di saat yang sama, di Kelas Bahasa dan Sastra.

Barra sudah duduk di bangkunya, namun tubuhnya tegang. Jari-jarinya menggenggam ujung meja. Ia melirik bangku-bangku kosong di belakang, firasat buruk merayap di dadanya.

“Sial…” gumamnya lirih.

“Perasaanku nggak enak…”

Sreeet!

Pintu kelas digeser kasar hingga berbunyi nyaring.

“WOI, KURUS! KEMARI KAU!!”

Bentakan itu menghantam ruangan.

Barra tersentak.

'Benar… Benar-benar terjadi…'

Tubuhnya gemetar. Ia membenarkan kacamatanya dengan tangan yang bergetar, lalu berdiri dengan langkah ragu menghampiri pintu.

Rangga berdiri di sana.

Wajahnya merah padam. Amarah dari kejadian di koridor tadi masih membara di dadanya.

“BANGSAT!!”

BUAAAK!!

Pukulan straight melesat cepat, terlalu cepat untuk ditangkap mata biasa.

WUUUSH! BRAAAK!!

Tubuh Barra terpental, menghantam dinding kelas dengan keras. Suara benturan membuat beberapa siswi menjerit tertahan.

“Uhuk!!”

Barra terbatuk. Kacamatanya pecah, lensa berhamburan. Wajahnya membiru, darah mengalir dari hidungnya, menetes ke lantai.

“Bangun, bangsat!” teriak Rangga.

“Berani-beraninya kau mempermalukanku!!”

Tak satu pun siswa berani bergerak.

Mereka tahu, salah langkah, merekalah korban berikutnya.

Rangga melangkah cepat, mencengkeram kerah jas almamater Barra dan mengangkat tubuhnya setengah paksa.

Plak!

Plak!

Plak!

Tamparan demi tamparan mendarat brutal. Wajah Barra membengkak, darah keluar dari sudut bibirnya, matanya kosong, nyaris tak bernyawa.

“BERHENTI, BOS!!” teriak salah satu anak buah Rangga panik.

“Kau akan membunuhnya!!”

Tiga anak buah lainnya ikut menahan lengan Rangga.

“LEPASKAN AKU!!” Rangga mengamuk.

“BANGSAT!!”

Tenaga Rangga begitu besar hingga ketiganya hampir tak sanggup menahannya.

Lalu.

“Apakah kau ingin membunuh seseorang di sekolah?”

Suara itu dingin. Tenang. Menekan.

Semua kepala menoleh.

Alex berdiri di ambang pintu kelas.

Matanya menyipit, ekspresinya datar, namun aura yang keluar dari tubuhnya membuat udara di ruangan terasa berat.

“Alex…!” Rangga terengah.

“Aku sangat marah! Pecundang ini...!”

Alex melangkah maju perlahan.

Setiap langkahnya seperti menekan dada Rangga. Aura Alex keluar tanpa disembunyikan, tekanan murni dari seseorang yang terbiasa berada di atas.

“Rangga,” ucap Alex dingin.

“Apakah kau ingin melawan perkataanku?”

Tubuh Rangga membeku.

Amarahnya runtuh seketika. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Ma–maafkan aku…” ucap Rangga lirih, lalu membungkuk ke arah Alex.

Alex menepuk pundaknya ringan.

“Aku tahu kau marah,” katanya datar.

“Tapi bukan ke anak ini.”

Ia melirik Barra sekilas.

“Tunggu sampai perkumpulan murid terkuat dari tiap kelas.”

Setelah itu, Alex berjalan ke bangkunya, duduk seolah tak terjadi apa-apa.

“Baik…” jawab Rangga patuh.

Ia melirik Barra sekali lagi, tubuh yang babak belur, tak mampu bangun, lalu berbalik.

Ding! Dong!

Bel sekolah akhirnya berbunyi.

Tak lama kemudian, para guru masuk ke kelas masing-masing. Pelajaran dimulai seolah kekerasan barusan hanyalah angin lewat.

Namun bagi Barra, dan bagi mereka yang melihat, hari itu telah meninggalkan luka yang tak mudah dilupakan.

.....

Jam istirahat akhirnya tiba.

Di kelas yang mulai riuh oleh suara kursi bergeser dan obrolan siswa, Dion duduk sejenak sebelum mengeluarkan ponselnya. Alisnya berkerut tipis. Sejak kejadian pagi tadi, perasaannya tak tenang. Ada sesuatu yang mengganjal, terlalu sunyi dari sisi Barra.

Ia menekan nama itu di layar.

Klik.

Sambungan terhubung.

“Halo,” suara Dion rendah namun jelas. “Kau di mana, Bar?”

“A-aku…” suara di seberang terdengar lirih, serak, seolah setiap kata ditarik dengan susah payah.

“Di UKS.”

Jantung Dion berdenyut lebih cepat.

“Tunggu aku di sana,” katanya singkat.

Telepon ditutup.

Dion berdiri. Kursinya bergeser pelan. “Anak ini…” gumamnya, langkahnya sudah bergerak keluar kelas. “Apa yang sebenarnya terjadi padanya.”

Koridor sekolah terasa lebih panjang dari biasanya. Dion melangkah cepat, hampir berlari, melewati siswa-siswi yang lalu-lalang tanpa memedulikan tatapan mereka.

Beberapa menit kemudian, tangannya mendorong pintu UKS.

Pintu terbuka.

Aroma obat dan antiseptik menyambutnya. Ruangan itu cukup luas, rapi, dengan beberapa ranjang khusus berjejer di sisi kanan dan kiri. Tirai putih tergantung sebagian, menutup privasi para siswa yang terluka.

Pandangan Dion langsung terkunci.

Di salah satu ranjang, Barra terbaring.

Tubuhnya dibalut perban putih. Wajahnya pucat, pipinya lebam, sudut bibirnya tampak mengering oleh sisa darah. Salah satu lengannya diperban tebal, dan tangan lainnya tampak gemetar pelan di atas selimut.

Dion mendekat.

“Bar…” suaranya tertahan.

“Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu?”

Mata Barra yang setengah terbuka bergerak pelan. Begitu melihat Dion, air mata langsung menggenang, lalu jatuh tanpa suara.

“Sa-sakit…” ucapnya lirih.

“Tubuhku… sangat sakit…”

Napasnya tersengal kecil, seperti menahan gelombang nyeri yang datang dan pergi.

“Kali ini…” lanjutnya dengan suara gemetar,

“dia tidak menahan amarahnya…”

Dion mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras.

“Siapa,” tanyanya pelan, namun ada tekanan dingin di balik suaranya.

“Siapa yang melakukan ini? Apakah Alex?”

Barra menggeleng lemah.

“Bu-bukan…” katanya cepat, ketakutan masih jelas di matanya.

“Yang memukulku… Rangga.”

Nama itu jatuh berat di udara.

“Dia anak buahnya Alex,” lanjut Barra, matanya membelalak seolah bayangan itu masih menghantuinya.

“Dan… sebaiknya kau jangan ikut campur.”

Dion menatapnya tajam. “Apa maksudmu?”

“Mereka…” Barra menelan ludah.

“Mereka akan berkumpul.”

“Berkumpul?” Dion mengulang.

“Mereka itu siapa?”

“Perwakilan orang-orang terkuat di setiap kelas,” jelas Barra dengan suara hampir berbisik.

“Para penindas… mereka semua.”

Dion terdiam.

'Rangga, Alex. Perkumpulan para terkuat dari tiap kelas...'

Potongan-potongan itu akhirnya tersambung.

'Jadi inilah pusatnya,' pikir Dion, tatapannya menggelap.

'Bukan sekadar satu atau dua orang. Ini jaringan.'

Ia menatap Barra kembali, suaranya kini lebih lembut namun tegas.

“Kau istirahatlah,” katanya. “Aku akan urus sisanya.”

Barra ingin berkata sesuatu, namun kata-kata itu tak sempat keluar. Matanya perlahan terpejam, kelelahan dan rasa sakit mengambil alih.

Dion berdiri di samping ranjang beberapa detik lebih lama, lalu berbalik dan melangkah keluar dari UKS.

Di kepalanya, satu hal kini jelas. Ia akhirnya tahu ke mana harus melangkah.

1
Kaisar surgawi
stats MC sudah 100/100 seharusnya itu udh melebihi pasukan elite tentara atau bahkan pembunuh bayaran, tpi kenapa lawan pelajar 2vs1 masih lama perlawanannya ? ini authornya ga bisa memahami kalkulasi kekuatan yg dia buat kah ? misal kekuatan orang dewasa saja 10/100 harusnya dengan kekuatan MC 100/100 apalagi semua statnya 100/100 udh sangat kuat dan ga perlu lama2 ngadepin semut2 kaya mereka
Dita Permana
duit ratusan milyar tapi brangkat skolah masih naik bis🤭
Dita Permana
lagi-lagi dapet novel yg dialog system nya gak pake tanda kurung, tapi yg ini mudah2han seru ceritanya dan tata bahasa nya bagus
pauzi aja
ceritanya makin kacau
pauzi aja
coba d naikan kekuatan mcnya sekil cma 1 musuh semakin gila.
pauzi aja
pondasi tapi masih lemah
pauzi aja
cnya babi terlalu lembek.
pauzi aja
babi sama alurnya yg d harar mcnya anak buahnya jga minta ampun.
pauzi aja
sdh babak belus baru datang dasar pokisi indonesia taunya d kasih duit baru datang.
pauzi aja
knpa kekuatan mcnya ega d tingkatkan,dan jga ega menambah bela dirinya.
pauzi aja
kn ada kasbek 50%.. jadi kembali 150m.
pauzi aja
wih murah betul 10juta..ap ega salah.membangun 1 lantai aja kalau harga normal 100juta lebih ini cerita tahun berapa sih ap ceritanya tahun 80
pauzi aja
coba kekuatanya d naikan k 5ribu.dan tampah sekil bertarungnya.
pauzi aja
mcnya goblok sdh tau kekuatan lawan meningkat ,knpa ega menambah kekuatan jga
pauzi aja
coba tambah sekil berkelahinya jangan boQking aja.
pauzi aja
tambah kehalian lagi taici.,
pauzi aja
coba tambah lagi kekuatannya
pauzi aja
ceritanya bagus.
pauzi aja
sepi
pauzi aja
coba langsung rak s
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!