NovelToon NovelToon
#SALAHFOLLOW

#SALAHFOLLOW

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Berbaikan
Popularitas:117
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.

Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.

#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: FUTURE, FREAK OUT, DAN FOTO DI PAMERAN PERTAMA

Disclaimer: Bab ini mengandung pameran seni yang bikin deg-degan, krisis eksistensial di depan karya sendiri, dan satu pertanyaan yang mengubah arah angin.

---

Enam bulan berlalu di Jogja. Studio kecil Kinan mulai dikenal. Dia nggak cuma desain logo, tapi mulai bikin ilustrasi digital yang dijual sebagai print. Kliennya dari UMKL mulai merambah ke kafe-kafe indie dan brand fashion lokal. Ardi punya rutin baru: bikin musik ambient untuk ruang pamer dan video instalasi seniman lokal. Hidup mereka mulai punya ritme yang stabil. Uang belum banyak, tapi cukup buat bernapas tanpa sesak.

Lalu datanglah undangan yang bikin Kinan freak out total: "Open Call: Pameran Seni Digital 'Re:Connect'". Sebuah galeri kecil tapi berpengaruh di Jogja membuka kesempatan buat 10 seniman muda buat pamerin karya. Tema-nya tepat: hubungan manusia dengan teknologi, keaslian di era digital. Ini tema hidup mereka.

"Gue harus ikut," kata Kinan, tapi tangannya gemetar memegang mouse.

"Ya ikut aja. Lo punya banyak karya yang cocok," dukung Ardi.

"Tapi ini... pameran beneran. Bukan di Instagram. Orang bakal dateng, ngeliatin, ngasih kritik. Bayangin kalo karya gue dicuekin, atau dikatain jelek di depan umum."

"Lebih baik dicuekin di pameran daripada nggak dicoba sama sekali."

Kinan akhirnya kirim portofolio. Dua minggu penuh kecemasan. Saat email penerimaan masuk, dia nangis di depan laptop.

"DITERIMA! GUE DITERIMA!"

Ardi peluk dia erat, ikut senang. Tapi di balik senyumnya, dia juga cemas. Ini pameran pertama Kinan. Dan dia... apa perannya? Support system? Pacar? Atau cuma jadi penonton?

---

Masa persiapan pameran adalah neraka kreatif.

Kinan harus bikin karya baru khusus buat pameran. Dia memutuskan bikin seri ilustrasi digital berjudul "Error 404: Human Not Found" tentang ironi mencari koneksi manusia di dunia yang overload informasi. Karyanya dalam, gelap, tapi tetap ada sentuhan warna.

Tapi tekanan bikin dia jadi monster. Kinan yang biasanya chill, jadi perfectionist akut. Dia bisa nangis karena satu pixel yang nggak sempurna. Bisa marah-marah ke Ardi karena suara klik mouse-nya "terlalu berisik". Ardi berusaha sabar, bikinkan kopi, beliin makan, jagain dia jangan sampe kelaparan. Tapi dalam hati, dia ngerasa... kehilangan.

Kehilangan Kinan yang santai. Kehilangan obrolan receh mereka. Kehilangan waktu "bersama" yang berubah jadi waktu "Kinan kerja, Ardi nungguin".

"Lo nggak capek nemenin gue?" tanya Kinan suatu malam, matanya lelah.

"Capek. Tapi gue mau lo sukses," jawab Ardi jujur.

"Gue takut, Ard. Takut kalo ini cuma kesempatan sekali. Takut kalo gue gagal."

"Gue juga takut."

"Takut apa?"

"Takut kalo lo sukses, lo nggak butuh gue lagi."

Kinan terhenyak. Dia baru sadar bahwa selama ini, Ardi juga berjuang dengan insecurity nya sendiri.

---

Hari pameran.

Kinan berdiri di depan karyanya yang terpampang di dinding galeri. Dia pake dress hitam simpel, rambut diikat rapi. Tapi matanya kosong, seperti orang yang lagi dissociate. Ardi berdiri di sampingnya, pegang tangannya yang dingin.

Orang mulai berdatangan. Banyak yang berhenti di depan karya Kinan. Ada yang ngobrol serius, ada yang foto-foto. Seorang kurator tua mendekat.

"Karya yang menarik," katanya. "Bisa rasakan konflik personal di sini. Antara ingin terhubung dan takut kehilangan diri."

Kinan cuma bisa angguk, suaranya hilang.

Ardi mengamati dari jauh. Dia lihat Kinan berubah jadi "Kinan si Seniman" confident, pinter ngomong konsep, berani jawab pertanyaan sulit. Dia bangga. Tapi juga... sedih. Sedih karena merasa seperti penonton di kehidupan Kinan yang baru.

Saat sesi diskusi panel, Kinan dipanggil ke depan. Dia bicara soal proses kreatif, soal pengalamannya jadi "produk" algoritma, soal perjalanan cari jati diri di era digital. Suaranya jelas, memukau. Ardi duduk di barisan belakang, tepuk tangan pelan. Dia merasa seperti melihat bintang yang semakin menjauh.

---

Pasca pameran, di afterparty kecil.

Kinan dikelilingi banyak orang: sesama seniman, kurator, kolektor. Dia bersinar. Ardi nongkrong di bar, minum jus jeruk doang, ngobrol sama Bowo yang sengaja dateng dari Bandung buat support.

"Lo keliatan kaya bodyguard yang kesepian," canda Bowo.

"Gue cuma... ngerasa nggak ada di tempat yang tepat."

"Lo iri?"

"Bukan iri. Cuma... ngerasa kita lagi di jalur yang berbeda. Dia naik pesawat, gue masih naik sepeda."

"Tapi lo yang bensin nin pesawatnya."

Ardi tersenyum getir. Bener juga. Tapi apa cukup jadi tukang bensin?

Kinan akhirnya mendekat, pipinya memerah karena anggur. "Maaf, gue nggak nemenin lo."

"Gapapa. Lo lagi jagoan."

"Gue... gue dapat tawaran. Buat pameran di Jakarta. Di galeri yang lebih besar."

"Wih! Keren! Lo harus terima!"

"Tapi... itu artinya gue harus sering ke Jakarta. Mungkin seminggu sekali. Atau... tinggal di sana beberapa bulan."

"Oh."

Diam. Musik jazz mengisi keheningan yang tiba-taya jatuh.

---

Pulang ke loteng, mereka berdua kecapekan.

Kinan melepas heels, duduk di lantai. "Gue nggak mau ini ngerusak kita," katanya.

"Kenapa harus ngerusak? Ini kesempatan lo."

"Tapi lo... lo nggak keliatan seneng."

Ardi duduk di depannya. "Gue seneng buat lo. Tapi gue takut buat kita. Kita udah lewatin LDR, dan itu susah. Sekarang lo mau sering ke Jakarta, gue di sini... gue nggak mau jadi alasan lo nggak berkembang."

"Jadi lo mau putus?"

"NGGAK! Tapi... kita harus nemuin cara baru. Yang nggak bikin salah satu merasa tertinggal."

Mereka nangis. Bukan karena sedih, tapi karena bingung. Mereka saling mencintai, tapi dunia mulai menarik mereka ke arah yang berbeda. Apakah cinta cukup buat nahan dua orbit yang makin menjauh?

---

Keputusan datang pagi-pagi buta.

Mereka nggak tidur semalaman. Ngobrol di balkon, lihat matahari terbit.

"Gue punya ide," kata Ardi. "Gue nggak mau cuma jadi penunggu di sini. Gue juga pengin berkembang. Ada workshop sound design di Jakarta bulan depan. 3 minggu. Gue mau ikut."

"Jadi... kita pisah sementara? Lo ke Jakarta ikut workshop, gue ke Jakarta buat pameran?"

"Bukan pisah. Tapi... paralel. Kita berkembang sendiri-sendiri dulu. Tapi dengan komitmen buat tetap nyambung. Bukan kayak dulu yang LDR karena terpaksa. Tapi LDR karena pilihan. Karena kita percaya kita bisa tetep satu tim meski di lapangan yang beda."

Kinan memandangnya, ada haru di matanya. "Lo serius?"

"Iya. Kita udah kuat lewatin gempa, lewatin miskin, lewatin orang tua. Masa nggak kuat lewatin kesuksesan satu sama lain?"

Mereka tersenyum. Mungkin ini jawabannya: cinta nggak harus selalu bersama 24/7. Kadang, cinta itu tentang memberi ruang buat terbang, sambil tetap menjaga benang merah yang menghubungkan.

---

LAST LINE: Saat mereka packing barang masing-masing untuk ke Jakarta Kinan bawa iPad dan tablet grafis, Ardi bawa laptop dan headphone mereka nemu foto lama di ponsel: foto mereka pertama kali di kantor Dadu Champ, muka masih awkward, belum tau apa-apa tentang gempa, tentang perbedaan, tentang pameran. Kinan nyeletuk, "Dulu kita cuma bisa bikin konten receh. Sekarang lo mau belajar sound design, gue mau pameran di galeri." Ardi tertawa. "Kita emang udah jauh ya. Tapi kita masih di frame yang sama." Mereka save foto itu sebagai wallpaper ponsel masing-masing. Sebagai pengingat: bahwa sejauh apapun mereka terbang, titik awalnya tetap sama dua orang yang ketemu karena salah like, dan memutuskan buat salah jalan bareng-bareng. Dan kali ini, mereka sengaja memilih buat jalan yang berbeda dulu, dengan percaya bahwa nanti akan ketemu lagi di persimpangan yang lebih tinggi. ✈️🎨🎧

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!