Krystal, gadis berusia 22 tahun terpaksa menikah dengan kakak iparnya sendiri karena sebuah surat wasiat, yang kakak kandungnya tinggalkan satu hari sebelum dia meninggal.
Mau tidak mau, Krystal menerimanya meski sebenarnya hatinya menolak.
“Berpura-pura lah menjadi istriku. Dan tanda tangani surat perjanjian kontrak ini. Tapi, kamu harus ingat, jangan sampai jatuh cinta padaku.” Bara Alfredo.
“Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Jangan sampai kamu tergoda dan jatuh cinta padaku, Kakak Ipar.” Krystal Alexander.
Akan seperti apa kehidupan rumah tangga mereka yang tidak di dasari dengan perasaan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 032
Satu bulan berlalu begitu saja. Krystal benar-benar pergi ke Singapura meninggalkan Bara. Awalnya, Krystal bilang satu minggu, namun kenyataannya istrinya itu membohonginya.
Ya, meskipun Bara berulang kali meminta wanita itu untuk tetap bersamanya, hasilnya tetap nihil.
Krystal yang keras kepala tetap saja menolak dan lebih memilih bersama dengan Lio putranya ketimbang memilih tinggal.
Selama itu, Bara dibuat hampir gila. Tanpa kabar dari keluarganya sama sekali. Mereka seakan-akan sengaja untuk tidak menghubunginya.
Bahkan , alamat rumah sakit yang berada di sana pun sengaja disembunyikan rapat-rapat. Mungkin, mereka memang memang ingin Bara merasakan apa yang selama ini Lio rasakan.
"Hoek ... hoek ..." beberapa hari ini Bara terus saja mual dan muntah. Ia terlihat kurus dari biasanya, entah apa yang sedang pria itu pikirkan.
"Bara, kamu gapapa?" tanya Violet—sepupu jauh Bara yang satu bulan ini menemaninya.
Violet adalah putri dari Juna dan Amara. Selama ini ia memilih tinggal di Bandung bersama kedua orangtuanya.
Violet bekerja sebagai model dan kebetulan ia dipindahkan ke Jakarta atas permintaan Rose. Apalagi, semenjak Krystal mengatakan untuk memperpanjang masa cutinya.
"Hmm. Bisa tolong ambilkan aku minum?" pintanya.
Violet mengangguk lalu mengambil segelas air putih dan memberikannya pada Bara.
"Thanks."
"Sama-sama." Violet mengusap punggung Bara. Sungguh, ia tidak tega melihat keadaan Bara saat ini. "Sebaiknya kamu periksa ke dokter, deh. Aku takut kamu kenapa-napa. Udah hampir seminggu loh kamu mual sama muntah gini."
"Aku baik-baik aja," sahut Bara meletakkan gelas kosong tersebut ke atas meja. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Kamu nggak ada pemotretan?" tanyanya, memejamkan kedua mata.
Violet menggeleng. "Gimana aku bisa tenang kerja sementara kamu lagi nggak enak badan gini."
"Pergi aja. Ada Liam."
Violet menyandarkan kepalanya di pundak Bara. Ikut merasakan apa yang pria itu rasakan. Baginya, Bara begitu berarti dan tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.
"Kamu kenapa nggak bilang kalau udah nikah?" tanya Violet.
"Nggak penting," jawab Bara singkat.
Violet menegakkan tubuhnya dan menatap serius ke arah Bara. Ia baru tahu kalau ternyata sepupunya itu sudah menikah dan melepas masa dudanya, setelah satu tahun sendirian.
"Tapi buat aku itu penting, Bar. Aku—"
Belum selesai Violet bicara, Bara merasa perutnya diaduk-aduk kembali. Dengan cepat ia bangkit dan berlari menuju kamar mandi.
"Ck... Nyebelin. Aku 'kan belum selesai ngomong," ketusnya ikut berdiri dan mengejar Bara.
****
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah rumah sakit ternama di Singapura.
Seorang anak kecil tengah tertidur di atas ranjang. Keadaannya perlahan mulai berangsur membaik.
Selama satu bulan terakhir, Lio mendapatkan perawatan yang intensif meski bocah berusia satu tahun itu harua merelakan rambutnya.
"Apa Lio belum bangun?" Anaya menepuk pundak Krystal.
"Belum, Ma. Habis minum obat langsung tidur." Krystal menarik selimut Lio ke atas dan mencium keningnya.
"Kamu pulang gih. Biar Mama sama Papa yang gantiin kamu jaga."
"Gapapa, Ma?" Krystal menatap Anaya lalu beralih pada Abian, dan pria paruh baya itupun mengangguk.
"Wajah kamu pucat, butuh istirahat. Kamu juga nggak doyan makan beberapa hari ini. Mama khawatir kalau kamu ikut sakit, siapa yang akan menjaga Lio. Sedangkan dia cuma mau apa-apa sama kamu."
Krystal mengangguk. Ia bangkit dari tempat duduknya. "Ya udah, aku pulang dulu. Nanti malam aku kesini lagi, Ma, Pa."
Mereka berdua tersenyum dan mengizinkan Krystal untuk pulang.
Dua puluh empat jam penuh, Krystal selalu menjaga Lio. Mereka sepertinya sudah dekat satu sama lain.
Krystal juga sudah menganggap Lio seperti putranya sendiri. Menyayangi bocah itu melebihi apapun.
"Kenapa kepala aku pusing gini ya." Krystal memukul kepalanya, rasanya berdenyut nyeri dan sedikit mual mencium bau rumah sakit. "Ini pasti karena kurang istirahat."
Krystal berjalan melewati lorong, menuju ke lobby. Ia mulai sempoyongan dan berakhir ambruk.
Samar-samar, ia mendengar seseorang memanggil namanya. "Krys, bangun!"
Kesadaran Krystal mulai menghilang. Wanita itu pingsan.