Novel Keempat belas🌶
(area 🌶. no bocil-bocil please)
Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Spill the Tea
Bian mematung. Begitu juga dengan Rere. Mereka terkejut mendengar bahwa laki-laki yang disukai oleh Kayra adalah guru mereka, sekaligus kakak tiri dari Bian.
"Girls, lagi ngomongin apa? Serius amat?" Dinda datang dan duduk di tepi kolam renang bersama ketiganya.
"Luis mana?" tanya Kay.
"Pergi biasa ke klub. Cowok-cowok udah gue bilangin jangan ada yang ke sini," terang Dinda.
"Kenapa? Kapan lagi gue bisa godain mereka pas pakai bik ini kayak gini, Din," gerutu Kayra.
"Dasar lo. Bisa diabisin satu-satu anak-anak cowok sama cowok gue dan cowoknya Bian kalau pas mereka lagi gak ada kita pakai bi kini gini terus ada cowok-cowok di sini. Jangan ngadi-ngadi, Kay." Dinda memperingatkan betapa pencemburunya Luis dan juga Theo. "Eh, kenapa lo berdua diem aja?"
"Mereka pada kaget, gue kasih tahu mereka tentang cowok inceran gue." Kayra maklum.
"Siapa emang? Kalian spill-spill pas gue gak ada. Jahat banget," protes Dinda.
"Kakak tirinya Bian," ulang Kayra.
"Hah?! Kok bisa lo naksir abangnya Bian, Kay? Jangan-jangan lo sama kayak anak-anak cewek di sekolah. Pada kepincut pas Pak Saga ngajar di kelas?" tebak Dinda.
"Aduh, please deh. Ya enggak dong. Okay dia guru di sekolah, tapi gue sama sekali gak anggap dia guru. Bagi gue dia cowok biasa aja," ujar Kayra menyanggah tebakan Dinda.
"Terus? Jangan bilang kalian pernah ketemuan di luar sekolah?" tebak Dinda lagi.
"Aduh udah gak usah tebak-tebakan. Detail tentang hubungan gue sama Kak Saga gak akan gue spill lebih jauh. Itu rahasia perusahaan."
"Pelit banget. Tapi Kay, dia guru loh meskipun katanya Pak Saga cuma guru pengganti 'kan sampai sekolah dapet guru Bahasa Inggris yang baru? Udah deh jangan macem-macem lo. Masa murid sama guru pacaran?" komentar Dinda.
"Emang kenapa kalau guru pacaran sama murid?"
Semua tertuju pada Regina yang tiba-tiba bersuara dengan nada yang cukup tegas.
"Lo kenapa, Re?" tanya Dinda. "Emang bener, 'kan? Guru sama murid itu gak boleh pacaran."
Kayra menatap Rere penuh curiga. "Re, lo gak naksir Kak Saga juga 'kan?"
"Enggak dong," sanggah Regina cepat. "Gue..."
"Atau...lo pacaran sama guru di sekolah kita juga?" tebak Dinda mendahului.
Semua mata tertuju pada Regina, otomatis Regina menatap mereka satu per satu merasa diintervensi. Tak ada lagi jalan untuk menghindar, Regina pun pasrah. "Ini rahasia kita berempat ya. Selain kalian gak ada yang tahu lagi. Cowok gue...iya, dia salah satu guru kita di sekolah."
Sontak Kayra dan Dinda heboh. "Siapa, Re? Guru di sekolah kita selain Pak Saga yang agak suka tebar pesona...gak mungkin 'kan guru sejarah kita yang suka caper itu?" tebak Dinda.
"Gila lo, bagusan dikit dong. 'kan masih ada Pak Kevin, terus guru olahraga kita juga lumayan," komentar Kayra.
"Jadi siapa dong? Re, cepetan lo bilang kalau enggak gue bisa mat i penasaran!" ujar Dinda sedikit memaksa.
"Barusan namanya disebut sama lo, Kay." Regina memberikan clue.
"Pak Kevin?!" teriak Dinda dan Kayra bersamaan.
Kevin adalah guru matematika yang terkenal guru paling tampan dan ramah sebelum Saga datang. Berbeda dengan Saga, Kevin memang cenderung lebih dewasa dan bijaksana, khas guru favorit para sisa-siswi. Banyak siswi mengidolakannya namun ia tak pernah tebar pesona seperti Saga. Gambaran sosok guru sejati Kevin itu.
"Tapi masuk akal sih kalau Pak Kevin pacaran sama lo, Re." Dinda masih dalam keadaan tercengang. "Lo lebih dewasa dari kita-kita, jadi cocok pacaran sama orang dewasa kayak Pak Kevin. Tapi sekali lagi dia guru kita, Re!"
"Tapi...bukannya Pak Kevin Kakaknya Si Andre?!" pekik Kayra baru sadar.
"Hah? Iya, lagi. Lo gila adik-kakak lo embat dua-duanya?" timpal Dinda.
Regina mengangguk tenang. "Makanya kalian diem ya. Jangan sampai Andre tahu tentang ini."
"Beneran deh, gue gak nyangka banget..." ujar Dinda masih belum bisa mempercayainya. Tak sengaja ia menatap wajah Bian yang hanya menunduk tak bersuara dari tadi. "Bi, lo kenapa? Kok dari tadi diem aja? Ini Rere pacaran sama Pak Kevin! Lo gak akan komentar atau apa gitu?"
"Iya bener, lo kenapa, Bi?" Regina pun baru 'ngeh' Bian hanya diam saja sejak tadi.
"Lo kepikiran sama pengakuan gue, Bi?" tanya Kayra. "Lo gak setuju gue sama Pak Saga?"
"Hah?" Bian menggelengkan kepala dan menggoyangkan tangannya tanda tidak setuju. "Bukan gitu...gue cuma kaget aja. Kak Saga bukan cowok yang baik. Dia..."
Pikiran Bian begitu ruwet. Bagaimana bisa ini terjadi? Apa Kayra pernah dibawa Saga ke ruang listening? Begitu banyak pertanyaan di dalam kepala Bian tapi tak bisa ia tanyakan pada Kayra sekarang. Ruang listening adalah tempat rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun. Bahkan Dinda dan yang lainnya pun tak boleh tahu.
Tapi bagaimana jika Kayra ternyata pernah bersama Saga di ruangan itu?
Sangat mungkin mereka pernah melakukannya. Kayra adalah tipe perempuan yang bersedia melakukan dengan siapa saja. Juga Saga, termasuk ke dalam laki-laki yang akan menikmati perempuan mana pun yang ia mau.
Dan...entah kenapa Bian merasa terusik karenanya.
...***...
"Bian? Ada apa?" tanya Saga. Ia senang melihat sosok sang adik tiri berdiri di depan pintu kamarnya.
Bian pun masuk ke dalam kamar Saga. "Ada yang mau gue tanyain," ungkap Bian.
Saga menutup pintu dan menguncinya.
"Gak usah dikunci kali." Bian waspada. Ia sedikit menyesal kenapa tidak ia tanyakan saja apa yang akan ia tanyakan pada Saga lewat chat.
"Gak apa-apa. Kamu bisa buka lagi kuncinya kalau kamu mau," ujar Saga. Ia berjalan menjauh dari pintu menuju tempat tidurnya, ingin membuat Bian berpikir untuk tidak perlu terlalu khawatir dengan pintu yang terkunci.
Saga pun duduk di tepi tempat tidurnya sambil menumpukkan kedua tangannya ke belakang. "Jadi kamu mau nanya apa?"
"Lo pernah ketemu sama Kayra di ruang listening?"
Dahi Saga mengerut gemas. "Kok kamu tahu?" tanyanya.
mending td ga usah ditolongin aja, biar kamu terbebas dr obsesi ibu yg ga ada akhlaknya itu