Kiran adalah wanita yang mempunyai wajah jelek, bahkan semua orang menyebutnya dengan sebutan wanita si buruk rupa. Kiran dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang pengusaha tampan bernama Viki.
Viki terpaksa menikahi Kiran untuk menyelamatkan perusahaan orangtuanya yang hampir bangkrut.
Kehidupan Kiran sangatlah menderita, hingga suatu saat Kiran memergoki Viki sedang selingkuh dengan wanita lain. Kiran memutuskan untuk bercerai dengan Viki, dan bertekad ingin membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah membuatnya menderita.
Akankah Kiran berhasil membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 DESI
Cukup lama mereka saling pandang, hingga akhirnya keduanya tersentak dan langsung memisahkan diri.
"Makanya kalau jalan jangan petakilan, jalan yang benar kalau sampai jatuh bagaimana? Aku yang akan disalahkan oleh Tuan Raj dan Nyonya Kiran!" sentak Guntur.
"Ih, kok malah kamu yang marah-marah sih?" bentak Princes.
"Ya marah-marahlah, soalnya itu sangat bahaya kalau sampai tubuh kamu menggelinding ke bawah bagaimana? Kamu bisa tinggal nama tahu!" bentak Guntur.
"Astaga, amit-amit. Kamu mendo'akan aku meninggal? Lagipula, memangnya aku bola pakai menggelinding segala."
"Dasar bocil, susah sekali kalau dibilangin," kesal Guntur.
Guntur dengan cepat memungut buku dan tas Princes yang berserakan. Sedangkan Princes langsung masuk ke dalam kamarnya, Princes lupa kalau buku dan tasnya ada di Guntur dengan cepat dia membuka bajunya karena sudah merasa gerah.
Princes hendak mengambil handuk di dalam lemari, tapi baru satu langkah pintu kamar Princes terbuka. Princes dan Guntur saling pandang satu sama lain, bahkan Guntur sudah menjatuhkan kembali buku dan tas Princes.
Keduanya membelalakkan matanya. "Huawaaaaaa...."
Princes dan Guntur berteriak bersamaan, Princes langsung berlari menutup tubuhnya dengan selimut sedangkan Guntur langsung keluar dan menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Princes.
"Dasar bodyguard sialan, berani sekali kamu masuk ke kamarku!" teriak Princes.
Sementara itu Guntur tampak ngos-ngosan, dadanya naik turun setelah melihat Princes setengah bugil itu.
"Astaga, ini lebih mengagetkan dibandingkan bertemu dengan setan," gumam Guntur.
Saking luasnya rumah Kiran, teriakan Princes pun tidak terdengar sama sekali oleh Kakeknya. Dengan cepat Guntur segera pergi menuruni anak tangga, Guntur hendak keluar dari rumah itu.
"Guntur."
"Ah, iya Tuan."
"Kamu kenapa? Kok wajah kamu terlihat pucat seperti itu?" tanya Kakek Rahul.
"Ah, ti-tidak ada apa-apa, Tuan," sahut Guntur gugup.
"Sini duduk di samping Kakek, ada sesuatu yang mau Kakek bicarakan denganmu," seru Kakek Rahul.
Perlahan Guntur pun menghampiri Kakek Rahul dan duduk di samping Kakek Rahul.
"Ada apa, Tuan?"
"Jangan panggil Tuan, panggil Kakek saja."
"Ah iya, Kek."
"Kakek bisa lihat kalau kamu adalah anak yang baik dan juga jujur sama seperti Ayah kamu, Kakek ingin sedikit bercerita kepadamu. Dulu, Kakek sangat memanjakan Kiran saking Kakek sayangnya kepada Kiran, Kakek tidak pernah mengizinkan Kiran melakukan apa pun dan ternyata itu salah, justru Kakek sudah membuat Kiran menjadi anak yang sama sekali tidak berguna bahkan sampai saat ini Kiran tidak bisa melakukan apa-apa."
Guntur mendengarkan Kakek Rahul bercerita dengan seksama.
"Begitu pun dengan Princes, Kiran dan Raj memperlakukan Princes seperti Kakek dulu. Tapi kali ini Kakek tidak mau membuat Princes seperti Kiran yang tidak bisa apa-apa, jadi apa kamu mau membantu Kakek?" tanya Kakek Rahul.
"Membantu apa, Kek?"
"Kamu harus membuat Princes menjadi anak yang mandiri dan tidak manja lagi, setidaknya Princes harus bisa memasak atau pun melakukan hal yang nantinya bisa bermanfaat untuk dirinya kelak. Bahkan kalau kamu mau, kamu bisa ajarkan bela diri juga kepada Princes."
"Hah...tapi Kek---"
"Kenapa, kamu tidak mau?"
"Bukannya Guntur tidak mau Kek, tapi apa tidak masalah kalau Guntur tegas kepada Non Princes? Nanti takutnya Non Princes mengadu kepada Tuan Raj dan Nyonya Kiran lalu Guntur akan di pecat."
"Masalah Raj dan Kiran itu urusan Kakek, di rumah ini yang membuat aturan Kakek jadi mereka tidak akan membantah apa pun yang Kakek perintahkan."
Guntur terdiam dan berpikir sejenak, saat ini Guntur tidak bisa menolak apa yang sudah diperintahkan Kakek Rahul selain menyetujuinya.
"Baiklah Kek, Guntur akan berusaha."
"Bagus, mulai besok kamu sudah mulai bisa melakukannya. Pokoknya kamu jangan sungkan-sungkan, jika Princes membantah kamu marahi saja."
"Baik, Kek."
"Ya sudah, sekarang kamu sudah boleh istirahat."
"Maaf Kek, Guntur mau izin pulang dulu soalnya baju Guntur masih di rumah. Lagipula sekarang Guntur mau latihan dulu sebentar, dan kemungkinan Guntur akan ke sini lagi nanti malam."
"Oh begitu ya, baiklah Kakek izinkan kamu."
"Terima kasih Kek, kalau begitu Guntur pamit dulu."
Guntur pun dengan cepat menaiki motornya dan pergi meninggalkan kediaman Kakek Rahul menuju rumahnya.
Sementara itu di kamar Princes, tisu sudah berserakan di mana-mana. Princes menangis sejadi-jadinya karena kejadian tadi membuatnya sangat malu.
"Bodyguard sialan, kenapa dia harus melihat aku yang sedang telanjang sih," seru Princes sesenggukan.
Princes sungguh sangat malu bahkan dia tidak punya wajah lagi jika bertemu dengan Guntur.
***
Guntur sampai di rumahnya...
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Sudah pulang, Nak?" tanya Ayah Ali.
Guntur menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. "Iya Yah, Guntur mau ambil baju soalnya Guntur harus tinggal di rumahnya Tuan Raj."
"Memang kamu harus tinggal di sana, karena kita kan tidak tahu apa Non Princes mau. Bisa jadi, malam-malam Non Princes butuh sesuatu," sahut Ayah Ali dengan senyumannya.
"Yah, anak itu sungguh sangat menyebalkan manjanya Naudzubillah membuat Guntur emosi," kesal Guntur.
"Maklumlah Gun, Non Princes kan lahir dari keluarga yang kaya raya jadi wajar kalau dia manja."
"Tapi dia manjanya sudah kelewatan Yah, Ayah hebat sudah mampu bertahan puluhan tahun menghadapi bocah manja itu. Pantas saja Ayah sakit, apa jangan-jangan karena Ayah terlalu kecapean?"
"Ishh..jangan salahkan orang lain, Ayah sakit karena sudah takdir dari Allah bukan karena kecapean mengurus Non Princes. Non Princes tidak pernah menyusahkan Ayah kok, Ayah cuma menjaga dia supaya tidak ada yang ganggu dia, selebihnya dia lakukan sendiri," sahut Ayah Ali.
Guntur membuka matanya dan menatap Ayahnya itu.
"Serius Yah? Apa dia suka menyuruh Ayah untuk bawakan buku dan juga tasnya?"
"Tidak pernah."
"Apa dia suka nyuruh Ayah suapin dia?"
"Tidak pernah juga."
"Astaga, kurang ajar ternyata bocah itu mengerjai aku," batin Guntur dengan mengepalkan tangannya.
"Memangnya kenapa? Non Princes menyuruh kamu seperti itu?"
"Iya Yah."
"Ya sudah, tidak apa-apa memang pada dasarnya Non Princes manja jadi kamu terima saja. Tapi walaupun begitu, Non Princes itu baik loh."
"Ya sudah Yah, Guntur masuk kamar dulu soalnya sebentar lagi Guntur mau latihan."
Guntur masuk ke dalam kamarnya, dia tampak sangat geram mendengar ucapan Ayahnya itu.
"Awas kamu bocah, lihat saja tunggu pembalasanku," geram Guntur.
Guntur dengan cepat mengganti bajunya yang sudah terasa sangat gerah, dia sama sekali tidak terbiasa memakai jas seperti itu.
Guntur dengan cepat mengganti bajunya dan memasukan beberapa baju ganti untuk dia bawa ke rumah Princes. Setelah semuanya siap, Guntur pun berpamitan kepada Ayahnya dan segera pergi menuju tempat latihan.