NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 SWMU

Fajar menyingsing di atas kediaman Mahendra dengan keangkuhan yang sama seperti pemiliknya. Nadia terbangun dengan rasa berat di pergelangan tangannya—gelar emas putih itu berkilau dingin, mengingatkannya bahwa setiap geraknya kini berada dalam pengawasan Bramantya. Namun, fokusnya pagi ini bukan pada borgol mewah itu, melainkan pada langkah kaki yang terburu-buru di lorong luar kamar.

Bramantya sudah tidak ada di sampingnya. Pria itu selalu menjadi mesin yang efisien, berangkat ke kantor sebelum matahari benar-benar naik untuk mengendalikan imperiumnya. Nadia bangkit, mengenakan jubah sutra panjangnya, dan melangkah menuju balkon yang menghadap ke taman belakang.

Saat itulah dia melihat sosok yang sangat tidak asing sedang beradu mulut dengan penjaga di gerbang samping yang tersembunyi.

"Tolong... aku hanya ingin bicara dengan Nadia! Hanya sebentar!"

Itu suara Maya. Wanita yang dulu merebut segalanya dari Nadia—kekasihnya, harga dirinya, dan posisinya. Namun kini, sosok yang berdiri di sana tampak hancur. Pakaiannya yang biasanya bermerek kini terlihat kusam, rambutnya acak-acakkan, dan wajahnya sembab.

Nadia tersenyum tipis. Ia turun ke lantai bawah, memerintahkan penjaga untuk membiarkan Maya masuk ke area paviliun taman, namun tetap di bawah pengawasan ketat.

Nadia duduk di kursi rotan paviliun, menyesap teh melatinya dengan keanggunan seorang ratu yang sedang menerima rakyat yang terusir. Maya berdiri di depannya, gemetar, matanya terbelalak melihat kemewahan yang kini menyelimuti Nadia.

"Nadia... kau... kau terlihat sangat berbeda," bisik Maya, suaranya parau.

"Tentu saja. Lingkungan menentukan kelas, bukan?" sahut Nadia dingin. "Ada apa, Maya? Bukankah kau seharusnya sedang merayakan kemenanganmu dengan Yudhistira di suatu tempat yang jauh dari sini?"

Maya jatuh terduduk di lantai, bersimpuh di kaki Nadia. "Nadia, tolong aku... Yudhistira... dia sudah gila. Sejak Bramantya menghancurkan bisnisnya, dia melampiaskan semuanya padaku. Kami jatuh miskin. Semua aset disita. Dia menyalahkanku atas segalanya!"

"Lalu apa hubungannya denganku?" Nadia menyesap tehnya lagi.

"Bicaralah pada Bramantya! Aku tahu dia terobsesi padamu. Satu kata saja darimu bisa menghentikan kejaran pengacara-pengacaranya. Kami tidak punya tempat tinggal lagi, Nadia. Aku memohon padamu... demi pertemanan kita dulu..."

Nadia tertawa, sebuah tawa yang merdu namun menyayat. "Pertemanan? Kau menyebut pengkhianatan di belakang punggungku sebagai pertemanan? Kau mengambil pria yang kucintai, kau menghasut ibuku, dan sekarang kau datang mengemis?"

"Aku khilaf, Nadia! Aku tidak tahu kalau Yudhistira selemah itu di depan Bramantya!" seru Maya histeris.

Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar. Bramantya kembali lebih awal. Nadia melihat pria itu melangkah masuk ke area taman dengan aura yang mencekam. Penjaga segera membungkuk.

"Ada gangguan di sini, Sayang?" suara Bramantya menggelegar, dingin dan tajam.

Maya membeku melihat sosok Bramantya. Ia merangkak mundur, ketakutan. Bramantya mendekati Nadia, melingkarkan tangannya di bahu Nadia dengan cara yang sangat posesif, seolah sedang menandai wilayahnya.

"Hanya sampah masa lalu yang mencoba masuk ke taman kita, Bram," ucap Nadia sambil menyandarkan kepalanya di dada Bramantya, sengaja memamerkan kemesraan itu di depan mata Maya yang merana.

Bramantya menatap Maya dengan jijik. "Kau wanita yang membantu Yudhistira mengirim pesan itu, bukan? Beraninya kau menginjakkan kaki di sini."

"Tuan Mahendra... saya mohon..."

"Keluar. Sebelum aku memutuskan untuk membuat Yudhistira menghilang secara permanen," ancam Bramantya tanpa nada tinggi, namun penuh otoritas yang mematikan.

Maya lari terbirit-birit, dikejar oleh dua penjaga menuju pintu keluar. Nadia menatap kepergiannya dengan kepuasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Inilah pembalasan dendam yang paling manis: melihat orang yang menghancurkanmu hancur di tangan orang yang paling kau benci, sementara kau berdiri di puncak kemewahan.

Bramantya membalikkan tubuh Nadia, menatapnya dengan intens. "Kau puas melihatnya menderita?"

"Sangat puas," bisik Nadia. "Terima kasih, Bram."

Bramantya menyeringai, matanya menyala oleh gairah yang tiba-tiba tersulut. "Terima kasih saja tidak cukup, Nadia. Kau tahu apa yang kuinginkan sebagai bayarannya."

Tanpa menunggu jawaban, Bramantya mengangkat tubuh Nadia, membawanya kembali ke dalam mansion, langsung menuju kamar utama. Pintu ditutup dengan bantingan keras.

Bramantya mendorong Nadia ke atas ranjang besar mereka, tubuhnya segera menindih Nadia, mengunci setiap gerak istrinya.

"Pameran kemesraan tadi... kau melakukannya dengan sangat baik," geram Bramantya di telinga Nadia. "Tapi aku ingin lebih dari sekadar sandiwara di depan wanita itu."

"Mmh... Bram... ini masih siang," desah Nadia saat bibir Bramantya mulai menjelajahi bahunya yang terbuka.

"Aku penguasa waktu di rumah ini, Nadia. Tidak ada siang atau malam jika aku menginginkanmu," balas Bramantya parau. Tangannya yang besar merayap di balik sutra Nadia, memberikan sentuhan-sentuhan yang menuntut penyerahan total.

"Ahh... nngghh... pelan, Bram..." Nadia merintih, jemarinya mencengkeram bahu kokoh pria itu.

Sentuhan Bramantya hari ini terasa berbeda—lebih lapar, lebih mendominasi, seolah ia ingin menghapus jejak ingatan Nadia tentang pria mana pun di masa lalunya. Setiap ciumannya adalah segel, setiap belaiannya adalah rantai tak kasat mata.

"Panggil namaku lagi... seperti tadi di paviliun," perintah Bramantya sambil menyatukan raga mereka dalam ritme yang membara.

"Bram... ohhh... mmmh... Bram..." Nadia mendesah, suaranya pecah di antara keheningan kamar yang mewah.

Di bawah dekapan pria yang ia benci sekaligus ia butuhkan ini, Nadia merasakan badai emosi yang berkecamuk. Tubuhnya mengkhianati logikanya; gairah yang diciptakan Bramantya terlalu kuat untuk dilawan. Di bawah kelambu transparan, mereka tenggelam dalam tarian asmara yang penuh dengan bumbu kekuasaan dan kepemilikan.

"Aaaahhh... nngghhh... lebih... mmm..." rintih Nadia saat puncak kenikmatan itu mulai mendekat, menyelimuti kesadarannya dengan kabut kenikmatan yang menyiksa.

Bramantya membenamkan wajahnya di dada Nadia, menghirup aroma wanita itu seolah itu adalah udara terakhirnya. "Kau milikku... hanya milikku... katakan!"

"Mmh... ya... aku... ahh... aku milikmu..." bisik Nadia dalam kepasrahan yang mendalam saat ledakan sensasi itu menghantam mereka berdua secara bersamaan.

Beberapa saat kemudian, suasana kamar kembali tenang. Bramantya berbaring dengan napas yang masih terengah, memeluk Nadia dari belakang, tangannya kembali mengelus gelang pelacak di pergelangan tangan istrinya.

"Jangan pernah berpikir untuk membantunya lagi, Nadia. Maya, Yudhistira... mereka sudah mati bagimu," bisik Bramantya sebelum ia bangkit untuk mandi.

Nadia hanya menatap langit-langit, matanya kembali dingin. "Tentu, Bram. Mereka sudah mati bagiku."

Namun di dalam hatinya, Nadia tahu satu hal. Kehadiran Maya hari ini memberinya informasi berharga: Yudhistira sedang putus asa. Dan orang yang putus asa adalah senjata yang sempurna jika diarahkan dengan benar.

Nadia melirik bantal tempat ia menyembunyikan micro-chip semalam. Ia hanya perlu satu celah lagi. Sandiwara ranjang ini mungkin melelahkan, tapi ini adalah harga yang harus ia bayar untuk membuat Bramantya lengah.

"Kau pikir kau telah mengikatku dengan emas ini, Bramantya," batin Nadia sambil menyentuh gelang di tangannya. "Tapi kau hanya memberiku akses untuk menghancurkanmu dari dalam."

1
Nisa Fatimah
penuh teka teki...🧐🤨💪💪
MomSaa: 🤭Biar greget
total 1 replies
Nisa Fatimah
ngeri2 sedap kak 👍🥲
MomSaa: Hihi iya🤭
total 1 replies
Nisa Fatimah
semangat kk 💪💪💪
MomSaa: Siap kak😍
total 1 replies
Nisa Fatimah
baru hadir ni kak...💪💪💪
itsmeiblova
good
Midah Zaenudien
aku binggung blum ketemu alur x
Han*_sal
seru uuuuu ini
Han*_sal
lanjut
MomSaa: Siap kak
total 1 replies
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!