Bukan hal yang mudah menjalani kehidupan sebagai seorang anak tiri, Vabilla Ahsyaniza, seorang perempuan baik hati yang selalu mendapat perlakuan tidak pantas dari ibu tirinya, dia mencoba untuk tetap ikhlas menjalani semua yang ditakdirkan didalam hidupnya.
Ibu tirinya itu sangat membenci Billa karena dia adalah anak hasil hubungan gelap suaminya dengan perempuan lain.
Pertemuannya dengan laki-laki bernama Bisma membuat Billa semakin gencar dihina oleh ibu tirinya.
Bisma menyukai Billa sejak pertemuan pertama mereka, diapun berusaha untuk masuk kedalam kehidupan Billa, tanpa mengetahui apa yang akan Billa hadapi nantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa terkena serangan jantung
Hari mulai berganti. Keadaan Billa tak kunjung membaik, malah terlihat semakin memburuk.
Namun dia tetap dengan pendiriannya itu, dia tak ingin dibawa kerumah sakit.
Dia tak ingin keluarganya tau apa yang terjadi pada dirinya.
"Ngerepotin banget sih!" Sindir tante Vera yang sesekali masuk kedalam kamarnya.
Dia tak berhenti nyinyir walau Billa tengah sakitpun, dia justru semakin gencar menghina dan mencaci Billa.
Namun Billa tak memperdulikannya, masalah dihidupnya sudah terlalu penuh.
Papa yang melihat keadaan putrinya itu tak tinggal diam, dia memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Billa dirumah.
Billa sempat memberikan perlawanan, namun berkat obat penenang diapun sedikit rileks.
"Selamat, sebentar lagi anda akan memiliki seorang cucu." Ucap Dokter itu sambil menjabat tangan Om Ardi.
Semua orang tercengang mendengar penuturan Dokter itu.
"Apa dok?" Tanya Om Ardi, tante Vera, Billa dan Rafael bersamaan.
"Iya, Billa tengah mengandung." Ucap Dokter itu kemudian.
Bagai disambar petir disiang hari Billa mendengar perkataan Dokter itu, dia merasa dunianya telah benar-benar hancur, sehancur perasaannya saat itu.
Dia berharap jika Tuhan segera mencabut nyawanya detik ini juga.
Billa sama sekali tak menginginkan hal ini terjadi.
"Baiklah, saya akan membuatkan resep. Obat penambah darah dan penguatkan kandungan. Saya rasa kandungannya sangat lemah. Dia harus bedres dan jangan terlalu banyak fikiran!" Ucap Dokter sambil menulis resep.
Om Ardi benar-benar tercengang dengan penuturan dokter itu, seketika dadanya terasa sangat sesak.
Namun dia berusaha untuk menanhan rasa sakitnya.
"Siapa yang lakuin itu kekamu nak?" Tanya Om Ardi dengan suara pelan.
Billa tak menjawab, dia benar-benar merasa malu. Dia hanya bisa menundukkan wajahnya.
"Alah, paling juga semua laki-laki dia layanin." Celetuk Tante Vera asal.
Astaga! Perkataan ibu tiri itu, Billa semakin hancur mendengar ucapannya.
"Udah saya duga dari awal, kalau dia itu nggak jauh beda dari ibunya. Dasar p*****r. Dibayar berapa kamu sekali jalan?" Tanya Tante Vera menggebu-gebu.
Dia merasa sedang diatas angin melihat penderitaan Billa, dia semakin merasa menang, dengan sesuka hatinya dia dapat menghina perempuan malang itu.
Entah perasaan apa yang sedang Om Ardi rasakan, yang jelas dia sangat merasa kesakitan, apa lagi ketika mendengar perkataan istrinya itu.
Dadanya semakin sesak, nafasnya terasa pendek.
Papa memegangi dadanya yang sakit.
Sepertinya penyakit kolesterol yang dia derita mendadak kambuh ketika mendengar kabar itu.
Entahlah ini kabar baik atau buruk, Om Ardi seketika tumbang, tubuhnya tergeletak dilantai, dia terlihat tak sadarkan diri.
Semua orang termasuk Billa dibuat panik dengan papa yang tiba-tiba pingsan.
Tante Vera dan Rafael segera menghampiri Om Ardi.
"Papa kenapa pa? Bangun pa!" Seru Tante Vera sambil menggoyangkan tubuh suaminya yang kaku.
Dia merasa sangat panik ketika tiba-tiba suaminya itu tak sadarkan diri.
"Papa!" Seru Rafael yang terlihat sangat panik.
"Biar saya periksa!" Ucap Dokter itu yang juga ikut panik.
Dokterpun segera memeriksa keadaan Om Ardi.
Billa merasa papanya itu tidak sedang baik-baik saja, diapun berusaha untuk menghampiri papanya walaupun badannya terasa lemas.
"Papa, bangun pa! Maafin Billa undah bikin papa kaya gini!" Ucap Billa.
Dia benar-benar tak dapat menahan air matanya, dia sangat takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada papanya.
Billa sangat merasa bersalah, papa seperti ini setelah mendapat kabar jika dirinya sedang hamil.
Tante Vera sedikit menoleh kearah Billa, seketika matanya menatap anak tirinya itu dengan tatapan tajam seperti dia ingin memangsa perempuan itu.
Tante Vera dengan kasarnya mendorong Billa, Billa sangat tercengang mendapat perlakuan seperti itu, tubuhnya seketika tersungkur.
"Ini semua gara-gara kamu, suami saya jadi seperti ini! Dasar kamu anak pembawa sial!" Ucap Tante Vera kasar.
Tangis Billa semakin menjadi-jadi, dia selalu saja disalahkan ketika sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Apa mungkin benar yang ibu tirinya itu katakan jika dirinya adalah pembawa masalah?
"Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk sama suami saya, saya nggak akan segan-segan bunuh kamu!" Ucap Tante Vera yang semakin menggebu-gebu.
Hati Billa semakin sakit, apa sehina itukah dirinya hingga dia selalu diperlakukan seperti ini.
Selalu disalahkan, selalu dicaci dan dihina.
"Udah mah, berhenti! Ini bukan waktunya buat nyalahin Billa. Kita harus fokus dulu sama papa!" Seru Rafael bijak, dia berusaha menahan ibunya agar tidak menyakiti Billa.
"Benar apa yang dikatakan Rafael, kita harus segera membawa Pak Ardi kerumah sakit agar segera mendapat penanganan." Ucap dokter yang baru saja selesai memeriksa Om Ardi.
"Jadi suami saya kenapa Dok?" Tanya Tante Vera.
"Kemungkinan besar jika riwayat penyakit kolester yang Pa Ardi derita itu yang menyebabkan dia terkena serangan jantung." Jawab Dokter itu.
Semua orang tercengang dengan penuturan Dokter itu.
"Tapi papa saya bisa sembuh kan, Dok?" Tanya Rafael yang berusaha bersikap tenang.
"Kita serahkan semuanya sama Tuhan, kita hanya bisa berusaha. Dan mudah-mudahan saja pak Ardi bisa tertolong. Kita bawa dia kerumah sakit sekarang juga." Balas Dokter itu.
"Iya dok!" Balas Rafael.
Papapun segera dilarikan kerumah sakit.
"Billa ikut, Co!" Ucap Billa.
"Kamu dirumah aja, kamu lagi sakit kan? Jangan mikir macem-macem, do'ain yang terbaik buat papa." Balas Rafael.
'Semoga keadaan papa baik-baik saja.' Do'a Billa.
"Awas kamu, ya! Jangan harap bisa lolos dari saya!" Seru Tante Vera sinis.
Billa hanya menundukkan kepalanya, dia melihat papanya yang dibopong Rafael dan Dokter itu dengan tatapan sendu.
Belum juga masalah yang satu selesai, sekarang masalah lain muncul.
Kenapa kejadian seperti ini bisa terulang lagi, kenapa aku selalu saja menyakiti orang-orang yang aku sayang.
Akupun tak ingin semua ini terjadi, ini semua karena kesalahan Bisma.
Sekian lama dia berusaha untuk menyembuhkan diri dari rasa sakit hati, dia tak menyangka jika semua kesakitan itu akan dia rasakan kembali.
***
Bisma menjalani hari-harinya dengan rasa cemas yang berlebih.
Hidupnya sangat tak tenang atas apa yang telah dia perbuat.
Bayang-bayang perempuan itu terus menghantui fikirannya.
Bagaimana keadaan Billa sekarang? Pasti dia tidak sedang baik-baik saja.
Bisma benar-benar sudah tak tahan dengan perasaan bersalah yang bersarang dihatinya.
Bisma memutuskan untuk menemui Billa, dia harus gantle, dia tak perduli apa yang akan terjadi nantinya, dia akan bertanggung jawab atas semua perbuatan yang telah dia lakukan.
Dia harus siap menghadapi situasi terburuk sekalipun.
***
Berhari-hari Billa mengurung diri, untuk sekedar makanpun rasanya dia tidak berselera.
Billa terus terhanyut dalam keterpurukannya, dia tak sanggup untuk menghadapi kenyataan, menghadapi dunia luar sana yang sangat kejam.
Rafael terlihat baru pulang dari rumah sakit, berhari-hari dia berada disana untuk menemani papanya yang tak kunjung membaik.
Jika bukan dia, siapa lagi yang akan mengurusi papanya itu.
Ibunya hanya bisa bicara tanpa mengambil tindakan.
Rafaelpun memutuskan pulang sebentar untuk sekedar beristirahat dengan tenang.
Wajahnya terlihat sangat kusut benar-benar tak karuan.
Dia berjalan gontai menuju rumahnya.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat didepannya.