Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Vonis Tanpa Darah
Dewan tidak pernah berteriak.
Mereka hanya membaca.
Dan pagi itu, nama Selvina Kirana dibaca dengan suara yang terlalu tenang untuk sebuah kehancuran.
Ruang dewan sekolah Imperion Academy dingin, berlapis kayu gelap dan simbol kehormatan yang menua. Empat kursi utama ditempati perwakilan fraksi. Di sisi kanan, tumpukan map cokelat tersusun rapi—terlalu rapi untuk sesuatu yang jujur.
Kepala Dewan membuka satu map.
“Kami menerima laporan resmi,” katanya, “mengenai pelanggaran jam malam, pertemuan lintas fraksi tanpa izin, serta dugaan manipulasi internal.”
Map itu diputar ke tengah meja.
Foto buram.
Dokumen bertanda tangan.
Jadwal yang terlihat sah.
Selvina berdiri tegak di tengah ruangan. Tidak duduk. Tidak membela diri. Karena sejak awal ia tahu—ruang ini bukan tempat untuk kebenaran.
“Apakah terdakwa ingin memberikan klarifikasi?” tanya salah satu anggota dewan.
Selvina membuka mulut—lalu menutupnya kembali.
Klarifikasi butuh pendengar.
Dan mereka sudah memilih percaya.
“Saya tidak melakukan apa pun yang dituduhkan,” katanya akhirnya.
“Namun bukti menunjukkan sebaliknya,” jawab Ketua Dewan cepat.
Seseorang menyebut nama Raisa sebagai penyusun laporan internal.
Seseorang lain menyebut saksi anonim.
Tidak ada wajah yang menatapnya sebagai manusia—hanya sebagai masalah.
Di ujung ruangan, Varrendra berdiri diam. Tatapannya terkunci ke meja, rahangnya mengeras. Ia tahu. Ia mengenali struktur kebohongan itu.
Dan ia juga tahu—kalau ia berbicara sekarang, api akan membakar lebih dari satu fraksi.
“Kami memutuskan,” kata Ketua Dewan, “memberikan sanksi skorsing sementara hingga penyelidikan lanjutan selesai.”
Sementara.
Kata yang bisa berarti seminggu.
Atau selamanya.
“Selama masa skorsing,” lanjutnya, “Selvina Kirana dilarang mengikuti kegiatan akademik dan organisasi, serta diminta meninggalkan lingkungan sekolah.”
Ketukan palu terdengar satu kali.
Selesai.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada sorak.
Hanya keheningan yang terasa seperti pengusiran resmi.
Selvina mengangguk pelan. “Baik.”
Ia berbalik dan berjalan keluar tanpa melihat siapa pun.
Karena jika ia menoleh—ia takut akan menangis.
Dan Imperion tidak memberi ruang untuk air mata.
Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya.
Koper kecilnya ditarik pelan. Jalanan kota yang ramai tidak peduli pada satu siswi yang dikeluarkan tanpa pengumuman. Langit sore abu-abu. Tidak hujan. Tidak cerah.
Saat ia sampai di depan toko bunga kecil itu, langkahnya melambat.
Aroma mawar dan melati menyambutnya.
Ibunya berdiri di balik meja kayu, sedang merapikan rangkaian bunga segar. Jarinya cekatan, penuh luka kecil yang sudah terbiasa. Rambutnya disanggul sederhana. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk dunia yang keras.
“Sel?” ibunya menoleh, terkejut. “Kok pulang hari ini?”
Selvina berhenti di ambang pintu.
Ia melihat tangan ibunya menyusun bunga—hidup, wangi, tidak tahu apa-apa tentang skorsing, dewan, atau bukti palsu.
“Libur,” jawab Selvina singkat.
Ibunya tersenyum kecil. “Bagus. Ibu baru dapet kiriman bunga pagi ini. Bantuin ya.”
Selvina mengangguk. Ia melangkah masuk, meletakkan koper di sudut.
Untuk pertama kalinya sejak lama, tidak ada fraksi.
Tidak ada dewan.
Tidak ada Imperion.
Hanya toko bunga kecil dan seorang ibu yang belum tahu bahwa anaknya baru saja dijatuhkan oleh sistem yang mengaku mendidik.
Selvina memegang satu tangkai mawar merah.
Kelopaknya lembut.
Batangnya berduri.
Ia tersenyum tipis.
Beberapa hal, ternyata, tumbuh indah di tempat yang salah.
Dan beberapa luka… disamarkan dengan aroma bunga.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍