Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.
Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.
Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.
Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.
Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?
****
Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Serangan Pertama Sang Penghianat
Halo, maaf baru update, tadi sibuk banget. Semoga suka part kali ini. Baca sampai bawah yaa, ada kuis nih! Happy reading, jangan lupa jejaknya.
...****...
Sebuah beker berdering dengan nyaringnya, membuat tidur lelap seorang gadis menjadi terusik. Jika saja beker itu bisa bicara, ia pasti akan bicara seperti ini, "Yes, gue berhasil". Pasalnya, selama alarm itu bertugas, ini keempat kalinya ia berhasil membangunkan tidur gadis cantiknya.
Tangan gadis itu meraba-raba nakas dan mematikan alarm dengan cepat. Tangan mungilnya juga meraih handphone yang berada di samping bantalnya.
Ia mengecek ponselnya, siapa tahu ada pesan masuk. Benar saja, ada banyak pesan di ponselnya. Beberapa dari anak buah dan abangnya, juga ada chat dari pacar dan seseorang yang menjalani HTS bersama dirinya.
...PutraRst (3)...
...DevanGRama (2)...
Zahra membuka pesan dari dua laki-laki tersebut.
...PutraRst...
Ra ...
Gue jemput gebetan ya ...
Lo bareng gebetan lo sana!
^^^Y^^^
^^^Bac*ttt!^^^
^^^Posisi gue sekarang tergantikan oleh gebetan yha ...^^^
^^^Ok lah^^^
^^^Gue ngalah😊^^^
Read
^^^Read doang?^^^
^^^Anjirrr lah kau, Put🖕🏻^^^
...DevanGRama...
Ra ...
Berangkat sama gue yukk ...
^^^Yok, lah ...^^^
^^^Ojek gue lagi sama gebetannya^^^
^^^Gue tunggu^^^
Setelah membalas chat, Zahra bergegas merapikan tempat tidurnya lalu memasuki kamar mandi. Lima belas menit kemudian, gadis itu telah rapi dengan pakaian kasual yang akan ia gunakan untuk pergi kuliah, ia segera turun untuk sarapan. Keluarganya sudah menunggu, memang Zahra kalau bangun paling akhir.
"Makan aja bisa ga? Ga usah sambil main handphone," tegur Rio saat melihat adiknya makan dengan tangan kirinya menggenggam handphone.
Zahra mendongak, gadis itu menatap kakaknya sekilas lalu menunduk menatap handphone kembali.
Rio hanya menghela napas dan melanjutkan makannya kembali. Setelah selesai, mereka kembali ke aktivitas masing-masing.
Zahra sedang mengerjakan pekerjaan kantornya, yang baru saja dikirim oleh sekretaris barunya via email.
"Dekk ... dicariin tuh," teriak Rizki dari luar kamar.
"Siapa?" teriak Zahra balik.
"Ga tau. Katanya Bang Rio, ada yang nyariin," balas Rizki sambil teriak.
Zahra menghentikan kegiatannya lalu berjalan ke arah pintu. Saat ia ingin berjalan ke bawah, Rizki menarik lengannya.
Zahra menaikkan alis. "Kenapa?"
"Dasi gue mana?"
"Dasi apaan?"
"Dasi yang kemarin lo buat mainan sama Lucky. Sekarang mana?"
"Mana gue tau. Digondol Lucky kali."
Fyi aja, Lucky itu kucing tetangga yang biasa minta makan di rumah ini.
"Kalau dibawa ambilin dong. Lo harus tanggungjawab!"
"Helleh, holkay ga ada dasi. Baru tau gue. Setau gue dasi lo kan satu almari penuh, kenapa sekarang jadi minta sama gue?"
"Gue ke sini cuma bawa tiga dasi, tiga doang. Yang dua kotor dan yang kemarin lo rebut buat mainan sama Lucky. Tolong pengertiannya Nona Zahra yang terhormat," Rizki menjeda ucapannya, "gue buru-buru, sebentar lagi meeting besar. Client gue dari Eropa," tambah Rizki.
Rizki memang sudah resmi tinggal di mansion Ario, kemarin saat Zahra masih di rumah sakit, ia pindahan dibantu Rio dan anak buahnya. Kamarnya pun berada tepat di depan kamar Zahra.
Zahra tersenyum mengejek kemudian berlari ke bawah.
"Kak Riiiii ... noh, adek lo mau meeting katanya, tapi ga ada dasi. Masa pemimpin rapat ga pake dasi, ga banget deh," kata Zahra setelah sampai di bawah, maniknya melirik Rizki yang mengikutinya turun.
Rio memijat kepalanya pusing. "Ribet amat lo, noh dasi gue ambil aja di lemari!" Rio menyerahkan kunci kamar dan almarinya pada Rizki.
Rizki langsung berlari kembali menuju tangga setelah mendapatkan kunci itu.
"Dicariin, tuh!"
"Siapa?"
Zahra melenggang pergi, tapi sebelum itu lengannya kembali ditarik oleh Rio.
"Gak lo, gak dia, hobi banget narik-narik gue," protes Zahra.
"Tolong dong, sisirin rambut gue. Noh, sisirnya ada di meja makan. Gue lagi nyemir sepatu."
Zahra mengangguk, kapan lagi coba bisa berduaan sama kakaknya ini. Sebentar lagi ia pasti menghilang kembali.
Zahra berjalan ke dapur, heran saja kenapa ada sisir di meja makan, pantas saja kemarin ia menemukan rambut saat makan malam. Kerjaan kakaknya ternyata.
Setelah sampai di meja makan, Zahra dikejutkan oleh sejenis manusia berkelamin laki-laki, yang sedang menumpang makan di rumahnya.
"Eh, Paijoo, numpang makan loo," hardik Zahra.
Devan menggaruk tengkuknya. "He-he, iya. Laper gue belum makan dari tadi malem."
"Lah, pe'a. Siapa suruh lo ke sini pagi-pagi gini. Kelas kita tuh jam sepuluh, jam sepuluh. Bukan jam tujuh," jelas Zahra dengan menekan kata jam sepuluh.
"Habis ini jalan, yukk!" ajak Devan.
"Raaaa ... jangan pacaran, pacarannya nanti aja. Sini woiii," teriak Rio dari ruang keluarga.
"Gue ke kakak dulu ya, Van." Devan mengangguk.
Sesampainya di ruang keluarga, dia bukan hanya menemukan seorang, tapi dua orang pekerja kantoran yang masih berantakan.
Sebenarnya niat ngantor ga, sih?
Kalau ga niat mending ngamen aja sama Zahra di taman lawang!
"Niat kerja ga sih, udah mau jam tujuh masih pada berantakan gini. Ngamen sono!"
"Ngamen mah jam sembilan bukan jam tujuh," jawab Rizki yang membuat bungsu itu bertambah kesal.
"Buruan, kemejanya dikancingin dulu!"
"Kenapa? Nafsu lo?"
Lagi, gadis itu merotasikan bola matanya. Pagi-pagi seharusnya ia bersantai bukan malah disibukkan oleh mereka.
Akhirnya dengan terpaksa Zahra mengancingkan kemeja Rizki dengan ogah-ogahan. Setelah itu ia menyisir rambut keduanya dengan kedua tangannya. Jadi, tadi Rizki juga membawa sisir sendiri.
Selesai sudah Zahra membantu kedua kakaknya siap-siap ke kantor. Kenapa kakaknya yang biasanya mandiri jadi ikut-ikut manja seperti kakak pendatangnya, ya?
"Sekongkol ya kalian berdua?" ucap Zahra ketika dua kakaknya tersenyum manis ke arahnya.
"Engga, kita seneng aja jailin lo," ucap Rizki.
"Ya udah, kita berangkat dulu. Baik-baik di rumah, jangan aneh-aneh. Kalau mau jalan hati-hati," petuah Rio pada adik gadisnya.
"Iya, siap. Ya udah, kalian berangkat sana," ucap Zahra.
"Cium dulu sini!" Zahra menurut. Ia mencium pipi kedua kakaknya. Setelahnya Rio dan Rizki mencium Zahra bergantian.
...****...
"Nonton apaan sih, seru banget?" tanya Devan yang lagi disenderin Zahra.
Iya, mereka lagi berduaan. Di dalam mobil. Mobil ayahnya Devan, soalnya mobilnya Devan lagi perawatan.
Ga elit banget, sumpah!
"Ini nih, tau ga? Novel kesenengan gue lagi mau dibikin film. Gue seneng banget coba. Kapan-kapan kalau udah tayang filmnya, kita nonton yuk?" ajak Zahra.
"Iya. Nanti kita nonton. Turun yukk, kita diliatin loh dari tadi berduaan di mobil gini," ujar Devan sambil mengelus rambut Zahra yang halus.
Sedari mereka berangkat, kedua insan itu lebih memilih berdiam diri di dalam mobil ketimbang bergabung dengan teman mereka yang lain. Sudah lebih 2 jam mereka di sana dan mungkin akan menjadi 3 jam jika mereka tetap berdiam diri menghabiskan waktu. Mobil berkaca transparan milik Devan menjadi pembicaraan hangat orang yang melewati mereka, keduanya baru menyadari hal itu.
"Yok, lah!"
Baru saja mereka turun, keduanya dikejutkan oleh sepasang anak manusia tanpa status, yang main rangkul mesra di depannya.
"Woiii, berduaan mulu lo. Ga tau tempat lagi." Zahra menepuk pundak kedua pasangan itu.
Putra berdehem sesaat. "Maaf, yang dari tadi berduaan di dalam mobil sampai jadi gosip siapa, ya? Lo tau ga, Na?"
Gadis yang bersama Putra itu terkekeh renyah bersama Devan.
"Itu yang masih gibah, kalo ga berhenti. Mau berhenti sendiri atau gue yang hentiin?" teriak Zahra pada beberapa mahasiswa yang masih senang hati membicarakan dirinya dan Devan.
Setelah mendengar teriakan Zahra, mereka buru-buru meninggalkan parkiran dan menjauh.
Mereka berempat berjalan bersamaan menuju tempat berkumpul, masih ada sisa waktu 45 menit sebelum kelas dimulai.
Saat dipertengahan jalan, seorang laki-laki berperawakan agak gemuk dengan kulit sawo matang dan pandangan tajam menghampiri Zahra.
"Bos!"
Zahra menoleh ke arah orang yang memanggilnya kemudian menghentikan langkah, membuat tiga orang lainnya melakukan hal sama. Mereka mengikuti arah pandang Zahra.
"Bima, kenapa?"
"Ada uang nganggur, mau dimasukin kantung apa di buang?" jawab pemuda itu.
Zahra terkekeh mendengarnya, ia paham maksud juniornya tersebut. Ada yang ingin memakai jasa mereka dalam urusan baku hantam. "Di mana dia sekarang?"
Devan dan Putra memberikan tatapan peringatannya pada pemuda di depan mereka dan pada Zahra. "Jangan khawatir, gue cuma ngurus administrasinya aja, mereka yang akan turun." Gadis itu kembali menatap Bima, memang ia tidak akan turun langsung ketika ada yang membutuhkan jasa mereka—ia hanya akan turun langsung saat rivalnya berani menyerang Merpati Putih.
"Dia menunggu di markas."
Zahra mengangguk lalu memisahkan diri dari ketiganya, bergerak merangkul Bima yang lebih tinggi darinya. Pemuda itu menurunkan tangan Zahra yang terlalu memaksa, bergantian dengan dirinya yang merangkul Zahra.
"Kalau gitu kita duluan," ucap Putra.
Zahra mengangguk lalu melambai, ia dan Bima berjalan menuju markas Gretak, dimana seseorang tengah menunggunya di sana.
...****...
Ina menyeringai ketika baru memasuki kantin, ia melihat orang yang dicintainya tengah bermesraan dengan gadis yang dibencinya.
"Kehancuran lo dimulai adik manis."
Zahra yang baru saja keluar dari markas terkejut melihat Ina yang sedang meracik minuman di pantry kantin. Tidak biasanya Ina seperti itu, biasanya juga ogah-ogahan. Untuk beberapa orang yang akrab dengan ibu kantin, mereka kadang bisa meracik minuman sendiri.
Zahra perlahan mendekat dan bersembunyi di balik tembok.
"Nahhh, jadi. Selamat menikmati permainan gue, he-he."
Ina membuang bungkus sesuatu ke tempat sampah di sampingnya.
"Mak, titip minuman dulu, ya. Saya mau ke toilet bentar," ucap Ina pada ibu kantin.
"Ya udah, sana!" jawab Ibu Kantin.
Zahra keluar dari persembunyian, ia menatap keenam minuman tersebut dengan curiga. Lalu mengambil bungkusan yang dibuang Ina ke sampah tadi.
"Obat apaan, nih?" Zahra mengendus bungkusan tersebut, lalu disamakan dengan aroma masing-masing minuman.
Dari salah satu minuman, Zahra membuang minuman tersebut, karena aromanya sama seperti bungkusan yang tadi dipungutnya.
Dia mengganti minuman yang dibuangnya dengan yang asli, lalu memasukkan bungkusan tadi ke kantung jaketnya.
Zahra mengambil sejumput garam dan lada, lalu dimasukkan ke masing-masing gelas. Setelah itu diaduk sampai larut. Tak lupa, Zahra menambahkan bahan tambahan untuk membuat kue, vanili. Ia tersenyum miring, bisa membayangkan seperti apa minuman itu nantinya.
"Ini nih permainan yang lebih seru, hi-hi." Zahra terkekeh devil lalu kembali ke markas.
Di sana ada salah satu seniornya yang sedang beristirahat.
"Bang Andre." Zahra menggoyangkan lengan laki-laki yang tengah memejamkan mata tersebut, tak lama laki-laki itu membuka mata—menatap Zahra bingung.
"Balik lagi, ada yang ketinggalan?" tanyannya dengan setengah sadar.
Zahra menggeleng. "Bangun dulu. Obat apaan, nih?" Zahra mengeluarkan bungkusan yang tadi diambilnya dari tempat sampah.
Andre duduk dan mencoba membau barang yang ditunjukkan Zahra padanya. Mata itu membelalak terkejut. "Makai?"
Zahra terkejut dengan ekspresi yang ditampilkan Andre. "Kagak, nemu itu. Emang obat apaan, Bang?"
"Perangsang, anjir!"
"Hah. Perangsang?!"
...****...
Setelah keluar dari markas, Zahra menghampiri teman-temannya yang sedang mengisi perut. Ia duduk di samping Devan. Di depannya ada Ina yang telah membagikan minuman abal-abal tersebut.
Zahra tahu sekarang untuk apa obat perangsang tersebut. Di meja mereka ada pacarnya yang tengah bermesraan dengan junior manis.
Jadi, di meja itu ada Devan, Putra, Una, lalu di depannya ada Ica, Ardelia dan Ina.
"Eh Ra, lo ga gue pesenin. Gue kira lo netap di markas," kata Ina setelah selesai membagikan minuman, menatap bersalah sahabatnya.
"Ga papa, gue udah minum tadi di markas. Kalian makan aja ga papa kok," ucap Zahra sembari tersenyum.
Mereka memakan makanan masing-masing dengan tenang, sedangkan Zahra berselancar di sosial media miliknya, sambil sesekali menuliskan komentar.
"Mau nyoba ga, Ra?" Devan menengok ke sampingnya.
Gadis itu menoleh. "Nasi goreng seafood?"
Devan mengangguk. "Mau?"
Zahra mengangguk dengan gemasnya, membuat laki-laki di sebelahnya tersenyum merekah.
"Gue suap ya ... aaaaaaaa. Gimana?" tanyanya selesai Zahra menelan suapan tersebut.
"Enak. Apalagi yang nyuap cogan, he-he. Lagi ...," rengek Zahra.
Akhirnya Devan makan sambil menyuapi Zahra. Karena tak tega mengambil jatah makan Devan, gadis itu akhirnya juga memesan mie ayam dan strawberry juice, serta memakannya bergantian dengan Devan.
Zahra melihat teman-temannya telah menghabiskan makanan mereka, gadis itu tersenyum kemenangan. Sebelumnya Devan telah menawarinya minuman tersebut, tapi ia menggeleng—mengucapkan terimakasih sembari tersenyum.
Ujung sedotan menempel di bibir masing-masing, satu seruputan terlalui—keenam temannya itu terdiam sebentar sebelum sebuah semburan keluar dari bibir mereka.
"Orange juice kan, ni?"
"Sialan. Minuman apaan, nih?" Ardelia dan Ica berlari ke toilet, mereka melanjutkan memesan minuman kembali pada ibu kantin.
"Anjir, sianida."
"Rasanya aneh."
"Kok gini rasanya?"
"Rasa abstrak wujud orange jus."
"Ini orange jus kan, Na?"
"Iya lah. Lo kira apaan?"
"Kok beda rasanya. Kek air kobokan." Ardelia dan Ica telah kembali, keduanya kembali ke tempat duduknya.
"Jadi lo pernah minum air kobokan, Del?"
"Kagak, ya," bantah Ardelia
Kok jadi gini? batin Ina.
"Makkk, es teh dua," Putra memutuskan memesan kembali minuman untuknya dan Una.
"Nih, minum punya gue!" Zahra memberikan minuman Strawberry-nya yang baru diminum sedikit.
Devan mengembalikan gelas berwarna merah tersebut, meminta Zahra menghabiskan isinya.
"Habisin mienya, katanya tadi mau ke rumah mama. Jadi?" bisik Devan di telinga Zahra.
Zahra mendongak, menatap Devan dengan wajah cemberut. Kan Devan jadi gemas sendiri sama gadis yang sejak tadi dipeluknya.
"Katanya tante lagi ga di rumah?" ucap Zahra
"Kalau gue bilang mama di rumah, pasti lo ngajak bolos. Bener, ga?"
"He-he."
"Gue ga mau ya kalau anak kita nantinya jadi penerus bolosnya lo, gue maunya mereka rajin berkat didikan lo."
"De-van ... apaan, sih." Zahra memalingkan wajah, ia tidak mau Devan melihat semburat merah muda yang kini menghiasi pipinya.
Devan menghadapkan Zahra kembali ke hadapannya, ia bisa melihat rona di wajah gadis yang dicintainya dengan jelas.
"Udah, lo duluan sana. Nanti tambah merah kalau lo digodain sama mereka. Biar gue yang pamitin, gih!" titah Devan.
Zahra mengangguk, ingin menjawab tapi bibirnya tak bisa diajak berkompromi. Akhirnya ia buru-buru menyuapkan satu sendok terakhir, setelah itu berjalan keluar kantin lebih dulu.
"Woe, kemana lo?" teriak Ica setelah sadar Zahra pergi tanpa berpamitan.
"Berisik lo, suka-suka dia lah!" ucap Ina menimpali.
"Gaes, gue sama Zahra duluan, ya?" pamit Devan ke temen-temennya.
"Dating lo, broo ...." Putra menghentikan sejenak nobarnya bersama Una.
Devan hanya membalas dengan senyuman. "Gue duluan."
"Yoi, hati-hati."
Devan berhasil mensejajarkan langkah dengan Zahra, ia mengalungkan tangannya di leher gadis itu dan mengecup keningnya.
Duh ilehhh, apa kabar ni pipi? batin Zahra
Devan tersenyum tipis, netranya melirik rona yang tadi belum hilang, karena aksinya barusan—rona itu semakin terlihat.
Anjir lah, apa kabar ini jantung? batin Zahra lagi.
****
**Jadi kuis kali ini yaitu ;
Tahun berapa Zahra lahir?
Jawabannya bisa dicari dengan menggunakan usia Zahra saat ini dan tahun hilangnya Aldo.
Yuk berpatisipasi.
Juara 1 : 2 mawar
Juara 2 n 3 : 1 mawar
Semoga berhasil, sampai jumpa di next chapter ❤️**