NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Pagi itu, suasana kelas XII-IPA 1 masih riuh dengan obrolan ringan sebelum bel masuk berbunyi. Arkan duduk di bangkunya dengan wajah kaku seperti biasa, jemarinya mengetuk meja dengan irama yang hanya ia yang tahu maknanya sebuah kebiasaan saat ia sedang berpikir keras tentang kegagalan penyelidikannya semalam.

Tiba-tiba, pintu kelas terbuka. Naura melangkah masuk dengan gaya ceria yang sangat kontras dengan suasana hati Arkan.

Alih-alih langsung duduk di bangkunya sendiri, ia justru membelokkan arah menuju meja Arkan.

Braak!

Naura meletakkan tasnya di atas meja Arkan, membuat Bimo dan Rio yang sedang asyik bermain gim di dekat sana tersentak kaget.

"Arkan!" seru Naura dengan suara yang cukup nyaring untuk menarik perhatian seluruh penghuni kelas. "Inget janji lo kemarin, kan? Berhubung sistemnya udah 'sehat' walafiat, gue mau nagih imbalan. Pulang sekolah nanti, teraktir gue makan di restoran Jepang yang paling mahal di pusat kota, ya!"

Keheningan seketika melanda. Bimo menjatuhkan ponselnya, sementara Rio tersedak ludahnya sendiri. Murid-murid lain berhenti berbisik dan kini menatap mereka berdua dengan mata membelalak.

"Tunggu, tunggu..." Bimo maju dengan wajah tidak percaya. "Barusan gue nggak salah denger? Naura... minta teraktir sama Arkan? Dan Arkan... punya janji sama lo?"

"Lho, emang kenapa?" Naura menoleh ke arah Bimo dengan wajah polos yang sangat meyakinkan. "Arkan kan baik banget. Kemarin dia butuh bantuan gue, dan sekarang dia mau bayar traktiran sebagai tanda terima kasih. Ya kan, Kan?"

Naura memberikan penekanan pada kata 'Kan' sambil menatap Arkan dengan kilat mata yang seolah berkata: 'Jangan coba-coba mengelak di depan mereka.'

Arkan menarik napas panjang. Ia menyadari bahwa Naura sengaja melakukan ini untuk mengacaukan citranya sebagai "kulkas berjalan" sekaligus memberikan tekanan psikologis padanya. Jika ia menolak, Naura pasti akan mengeluarkan sindiran-sindiran tentang "kantor ayah" yang bisa membahayakan penyamarannya.

"Iya," jawab Arkan pendek, datar, namun tegas.

Gubrak!

"DEMI APA?!" teriak Rio histeris. "Arkan yang kalau diajak patungan beli cilok aja cuma diem, sekarang mau neraktir cewek di restoran Jepang mahal? Ra, lo pake ilmu apa sih?!"

"Ilmu etika literasi," jawab Naura asal sambil tertawa kecil. Ia lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Arkan, suaranya merendah namun tetap bisa didengar oleh teman-teman Arkan yang masih mematung. "Jangan telat jemputnya ya, Kak. Gue dandan cantik lho nanti."

Arkan hanya bisa menatap punggung Naura yang berjalan menjauh menuju bangkunya dengan perasaan campur aduk. Di sudut kelas, Raisa tampak menutup bukunya dengan sangat keras, memberikan tatapan yang lebih dingin dari biasanya ke arah Naura.

"Ar-Arkan..." Bimo merangkul bahu Arkan dengan tangan gemetar. "Lo beneran sehat? Atau lo lagi disandera sama Naura secara digital? Jelasin ke gue sekarang!"

Arkan melepaskan tangan Bimo dengan tenang. "Hanya urusan utang budi, Bim. Nggak usah berlebihan."

Namun, di dalam kepalanya, Arkan sedang memikirkan strategi baru. Jika Naura ingin bermain peran di depan publik, maka ia akan mengikuti permainan itu hingga Naura sendiri yang terpeleset oleh skenarionya.

Naura tidak berhenti sampai di situ. Sambil berjalan menuju bangkunya, ia sengaja berbelok ke arah kerumunan teman-teman perempuannya Nadira, Riska, dan beberapa siswi lain yang sedang asyik merumpi.

Dengan gerakan yang sangat dramatis, Naura meletakkan tangannya di pipi, seolah-olah sedang menceritakan sebuah rahasia besar yang sangat manis. Namun, alih-alih berbisik, ia justru menggunakan suara yang cukup nyaring hingga terdengar ke seluruh sudut kelas, termasuk ke telinga Arkan yang sedang berusaha fokus pada bukunya.

"Aduh, kalian tahu nggak sih?" seru Naura dengan nada antusias yang dibuat-buat.

 "Arkan itu sebenernya jauh banget dari kesan 'dingin' yang selama ini kita pikir. Ternyata dia itu tipe yang sangat perhatian dan bertanggung jawab banget!"

Nadira dan teman-temannya langsung mendekat, mata mereka berbinar haus akan informasi. "Serius, Ra? Masa sih si Kulkas Berjalan itu bisa kayak gitu?"

"Beneran!" Naura mengangguk mantap sambil melirik Arkan lewat sudut matanya. "Kemarin pas kita ngerjain tugas, dia itu sabaaar banget. Terus, dia nggak tegaan kalau liat temennya kesulitan. Makanya hari ini dia maksa mau neraktir gue sebagai bentuk apresiasi. Katanya, 'Naura, lo udah kerja keras, biar gue yang urus semuanya'. Sweet banget, kan?"

Arkan yang mendengar namanya disebut dalam narasi yang begitu "lembut" dan "penyayang" hanya bisa memejamkan mata sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menarik napas panjang, dan membiarkan kepalanya sedikit tertunduk. Ia merasa seolah-olah seluruh sistem pertahanannya sedang dipreteli oleh kata-kata manis Naura.

"Gila, Arkan ternyata tipe hidden gem ya!" bisik Riska yang suaranya masih cukup keras.

"Ra, lo hoki banget bisa dapet sisi lembutnya dia!" timpal yang lain.

Bimo yang duduk di samping Arkan menyenggol lengan sahabatnya itu sambil menahan tawa. "Woy, Ar-Rais... selembut itu ya lo? 'Naura, biar gue yang urus semuanya'... Ciaaaa! Sejak kapan lo jadi pahlawan kesiangan begini?"

Arkan hanya menatap Bimo dengan tatapan datar yang sudah pasrah. Ia tidak membantah, karena ia tahu membantah di depan publik hanya akan membuat Naura semakin liar dalam mengarang cerita. Ia memilih untuk membiarkan "fitnah baik" itu menyebar, meski harga dirinya sebagai agen yang tegas sedikit tercoreng.

"Gue cuma mau tugas kelompok itu cepet selesai," gumam Arkan pelan, sebuah pembelaan diri yang langsung tenggelam oleh sorak-sorai siswi-siswi di depan kelas.

Naura yang melihat reaksi Arkan hanya tersenyum puas. Ia tahu Arkan tidak punya pilihan selain mengikuti alur ini jika ingin rahasia umurnya tetap aman. Baginya, melihat wajah pasrah pria "24 tahun" itu adalah hiburan terbaik yang lebih mahal daripada makanan Jepang mana pun.

Raisa yang biasanya duduk tegak dengan ekspresi sedingin es, kali ini sedikit menurunkan bukunya. Dari balik sampul tebal itu, sudut bibirnya sedikit terangkat, sebuah pemandangan langka yang bahkan Arkan sendiri jarang melihatnya.

Ia memperhatikan Arkan yang kini hanya bisa menatap kosong ke arah papan tulis, tampak benar-benar tidak berdaya menghadapi serangan lisan Naura. Bagi Raisa, melihat sepupunya yang dikenal sebagai lulusan terbaik akademi taktis dan pemimpin operasional yang disegani, kini justru takluk oleh gosip siswi SMA, adalah hiburan tingkat tinggi.

Raisa mengeluarkan ponselnya, lalu mengirimkan pesan singkat ke perangkat terenkripsi milik Arkan yang terletak di bawah kolong meja.

[Frost]: Selembut itu ya, Komandan? "Biar gue yang urus semuanya"? Haruskah aku melaporkan taktik 'pahlawan kesiangan' ini ke paman di markas?

Arkan merasakan getaran di sakunya. Ia membaca pesan itu dan melirik Raisa dengan tajam. Raisa tidak menghindar; ia justru menatap balik sambil memberikan anggukan kecil yang provokatif. Ia benar-benar sedang menikmati drama ini. Baginya, penyamaran di sekolah yang tadinya terasa membosankan dan membuang waktu, kini berubah menjadi komedi situasi yang menarik.

“Ternyata misi ini ada gunanya juga,” batin Raisa sambil kembali menyesap air mineralnya dengan tenang. “Melihat harga diri Arkan dipreteli perlahan-lahan oleh gadis itu jauh lebih menyenangkan daripada latihan menembak.”

Sementara itu, Naura yang sudah kembali ke bangkunya, menoleh ke arah Raisa. Kedua gadis itu sempat beradu pandang. Naura memberikan senyum penuh kemenangan, seolah tahu bahwa Raisa pun diam-diam sedang menertawakan Arkan.

Naura lalu kembali berteriak kecil ke arah teman-temannya, "Eh, jangan lupa ya! Kalau nanti Arkan kelihatan sombong lagi, ingetin aja soal 'sisi lembutnya'. Pasti dia langsung luluh!"

"Siap, Naura!" jawab geng perempuan itu serempak, diikuti tawa pecah yang membuat Arkan benar-benar ingin segera menghilang dari kelas itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!