Zuy adalah gadis cantik Yang sederhana, dia pernah jadi pengasuh Seorang anak laki-laki yg bernama Rayyan. mereka terpisah karena Rayyan harus pindah ke Amerika.
Beberapa tahun kemudian..
Zuy bekerja menjadi OB di sebuah Perusahaan CV, suatu ketika di Perusahaan di mana tempat ia bekerja mengumumkan bahwa Pak Willy Ceo dari Perusahaan CV mengundurkan diri, dan di gantikan oleh keponakannya yang bernama Rayyan G Michael. Dari situlah mereka di pertemukan kembali.
Rayyan G Michael, sosok Pria tampan blasteran, berkharisma, dan sosok pemimpin yang bertanggung jawab, akan tetapi sifatnya sangat dingin dan emosional, terutama terhadap Wanita. Namun sifatnya tersebut tidak berlaku untuk Pengasuhnya yaitu Zuy.
Setelah pertemuannya dengan Zuy, perasaan Rayyan terhadap Zuy semakin besar, perasaan Cinta yang tumbuh di hati Ray sejak lama, bahkan saat ia berpisah dari Zuy dan tinggal di Amerika.
Lalu apakah kisah Cinta Tuan Muda akan terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ananda andin angraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama Seperti Dulu...
<<<<<
Setelah sampai di kamar, Ray langsung duduk di atas kasurnya, ia pun membuka laci nakas yang berada di dekatnya dan mengambil kalung miliknya yang di berikan oleh Zuy.
"Kak Zuy, aku janji akan secepatnya menyelesaikan sandiwara ini. Setelah itu aku akan ungkapin perasaanku yang sebenarnya pada Kakak. Jadi aku mohon bersabarlah sebentar Kakak."
Ray terus memandangi kalung tersebut.
Setelah beberapa saat kemudian, Ray merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memegang kalung dari Zuy, perlahan memejamkan matanya dan tertidur lelap.
Sementara itu di dapur.
Beberapa saat kemudian, setelah Zuy puas menangis, ia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, sesudah itu ia keluar dari kamar mandi dan melanjutkan masaknya, Zuy mulai memotong-motong sayuran untuk ia masak. Lalu...
Trrrrrrt... Trrrrrrt
Suara bunyi ponselnya Zuy, ia pun langsung menjawab telponnya.
"Iya Bi," sapa Zuy yang ternyata telpon dari bibinya.
"Zuy, kata Bu Ima kamu semalam nggak pulang ke rumah, memang kamu ada masalah lagi dengan si Ida? Terus kamu nginap dimana lagi?!!" cecar Bi Nana.
"Hah! Zuy nggak ada masalah lagi dengan Bu Ida dan sebenarnya Zuy itu lagi di rumah Tuan Muda dan Zuy nginap di rumah tuan, sebab Tuan Muda yang meminta Zuy, jadinya Zuy nurut," kata Zuy.
"Apa!" bi Nana terkejut. "Kenapa kamu menginap di rumah Tuan muda, Zuy?!!" sambung tanyanya.
"Ya karena kemaren Tuan muda sakit Bi, terus ia meminta Zuy untuk merawatnya," ujar Zuy.
"Oh, lalu bagaimana keadaannya, terus dimana sekarang Tuan muda tinggal?!!" tanya Bi Nana.
"Rumah tuan muda masih yang dulu Bi, tentunya Bi Nana masih ingat kan?!" papar Zuy.
"Oh masih ingat Zuy. Yaudah kalau gitu, bibi akan kesana kamu tunggu ya!" kata Bi Nana
"Iya Bi.."
Lalu telpon pun terputus.
"Bi Nana pun masih sepertiku, masih peduli sama Tuan Muda," lirih Zuy.
Zuy meletakkan ponselnya di atas meja dan ia pun kembali memotong sayuran untuk ia masak.
*****
Perusahaan CV
Setelah selesai Meeting di luar, Davin pun kembali ke Perusahaan dan ia pun langsung ke ruang kerjanya.
`Di ruang kerja
Setelah sampai di ruang kerjanya, Davin pun mulai mengecek semua berkas-berkas yang di mejanya, karena ia menggantikan Ray yang gak masuk ke kantor karena sakit. Lalu....
Trrrrrrrrrrrt....
Ponsel miliknya berbunyi, ia pun segera mengambil ponselnya dari saku celana dan melihat ke layarnya, 'Lesya Calling."
Kemudian menjawab telponnya.
"Iya Lesya sayangku ada apa?" tanya Davin.
"Davin, apa Ray ada di sampingmu?!!" tanya Lesya dengan nada lantang.
"Kalau aku bilang Tuan sakit, pasti Tuan Ray bakalan marah, hmmm.." batin Davin
"Halo Vin,"
"Ah sorry Lesy, Tu-Tuan Ray lagi ada Rapat penting di luar, jadi dia nggak ada di sini," Davin pun berbohong.
"Oh, apa dia baik-baik saja? Aku dari semalam menghubungi Ray tapi nggak aktif sampai sekarang pun tetap sama. Sampai Daddy khawatir dengan Ray," kata Lesya.
"Oh mungkin ponselnya sengaja di matiin takut ganggu. Nanti kalau Tuan sudah datang, saya kasih tau ke Tuan suruh menghubungi mu!" lontar Davin sembari garuk-garuk kepalanya.
"Oke kalau gitu.." balas Lesya.
Lalu telpon pun terputus.
"Bagaimana bisa di hubungi, orang ponselnya hancur gara-gara ia banting. Mungkin untuk sementara tuan Ray jangan di ganggu dulu sampai ia benar-benar sembuh," lirih Davin.
Ia pun melanjutkan pekerjaannya.
Sementara di pantry....
Airin terlihat sangat sedang tidak semangat bekerja karena tidak ada Zuy, ia pun sering ngedumel nggak jelas. Brian yang melihat gelagat Airin seperti itu pun langsung menghampiri Airin.
"Hoe, dari tadi aku perhatikan kamu seperti gak semangat kerja, terus cemberut nggak jelas gitu, emang ada apa?!!" cecar Brian.
Airin melirik ke arah Brian.
"Ah, si jelek Brian ternyata. Iya aku lagi nggak semangat karena nggak ada Zuy, dia harus merawat pangerannya," jawab Airin.
Lalu Brian pun mendekat ke telinga Airin.
"Tenang aja kan ada aku," bisiknya.
Tiba-tiba....
Plaaak..
Airin langsung refleks menampar pelan Brian.
"Aaah dasar Brian jelek, ngomong apa sih.." gumam Airin.
Brian pun memegang pipinya yang kena tampar Airin.
"Aww, kira-kira dong kalau nampar! Pedas banget tau." gerutu Brian.
"Emangnya cabai pedas, lagian kamu ngapain sih?!" ujar Airin.
"Ck, aku kan cuma mau menghibur kamu, Rin."
Lalu Rere pun datang.
"Kalian ngapain sih, ribut terus perasaan ya," celetuk Rere.
Seketika Airin dan Brian menoleh ke arah Rere.
"Eh Bu Rere, ada apa?!!" tanya Airin
Rere pun memberikan bingkisan ke Airin.
"Ini tolong titip ya! Soalnya nanti sore kita akan menjenguk Tuan Ray di rumahnya," kata Rere.
"Oh gitu! Emmm, bu Rere aku ikut boleh ya? Walau aku hanya OB tapi Tuan bos itu juga atasan kami, boleh ya..!!" pinta Airin menangkup kedua tangannya.
Rere menghela nafasnya. "Yaudah kamu boleh ikut Rin."
"Asik.... Terimakasih bu Rere."
"Iya, jangan lupa taruh itu di tempat yang benar! Aku mau balik ke tempatku lagi." tutur Rere.
Airin mengangguk patuh kemudian membungkukkan badannya.
"Siap bu Rere, terimakasih banyak Bu Rere," ucapnya.
*****
Rumah Ray
Setelah beberapa saat kemudian, Zuy akhirnya selesai memasak. Ia pun menyiapkan makanannya di atas meja makan, setelah selesai Zuy berjalan menaiki tangga menuju ke kamar Ray
Setibanya di kamar Ray, ia pun mengetuk pintunya, namun tidak ada jawaban dari Ray. Zuy lalu membuka pintunya dan berjalan masuk ke dalam menghampiri Ray yang sedang tertidur pulas.
Ketika hendak membangunkan Ray, tiba-tiba....
"Kakak Zuy jangan pergi, tetaplah tinggal disini, aku mohon jangan pergi! Aku sayang Kakak." lirih Ray yang sedang mengigau.
Zuy pun terpaku mendengarnya dan mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang.
"Hmmm, ternyata tuan muda bisa mengigau juga ya!"
Zuy terkekeh kemudian ia mengelus rambut Ray.
"Tuan tenang aja, Zuy akan disini sampai Tuan bangun."
Sesaat ia bangkit dari duduknya mengambil wadah bekas kompres Ray semalam serta pakaian kotor yang berada di kamar Ray.
"Ini sama seperti dulu ketika aku masih menjadi pengasuh kecilnya. Apa sekarang aku akan menjadi pengasuhmu lagi Tuan muda?" gumamnya.
Setelah selesai Zuy pun keluar dari kamar Ray dan menutup kembali pintunya lalu menuruni tangga dan berjalan ke tempat khusus mencuci untuk menaruh cucian di mesin cuci.
Lalu tiba-tiba suara bel pintu berbunyi.
Zuy bergegas menuju ke ruang depan kemudian membukakan pintunya.
Cekleeek..
"Kakak.." seru Nara sambil memeluk Zuy.
"Lho Nara kamu kesini, mana Mami?" tanya Zuy mengedarkan pandangannya.
Kemudian ia menggendong Nara.
"Itu mami." Nara menunjuk ke arah bi Nana.
"Bibi disini Zuy! Tadi bayar taxi dulu."
Bi Nana berjalan menghampiri Zuy.
"Memangnya nggak bawa mobil, bi?!" tanya Zuy.
"Nggak, mobilnya di pakai papinya Nara."
"Oh gitu. Ayo masuk bi!" ajak Zuy.
Bi Nana melangkah masuk ke dalam, saat di dalam ia tertegun melihat rumah yang dulu pernah di tempatinya saat masih bekerja di rumah Ray tidak berubah sama sekali dan tanpa sadar Bi Nana menitihkan air matanya.
Melihat itu Zuy langsung mendekati Bi Nana.
"Bibi kenapa menangis?!"
"Nggak apa-apa, bibi cuma ingat masa-masa dulu dimana bibi masih kerja di sini dan Mrs Candika masih ada. Setelah bertahun-tahun lamanya ternyata rumah ini nggak pernah berubah sama sekali." ujar Bi Nana.
Zuy mengangguk. "Iya memang benar apa kata bibi, rumah ini masih seperti dulu."
Zuy lalu menurunkan Nara dari gendongannya.
"Bentar ya Nara! Kakak mau bikin minuman dulu untuk kalian. Bibi dan Nara duduk dulu ya!" pinta Zuy.
Bi Nana mengangguk dan duduk di sofa, Zuy berjalan ke dapur dan membuatkan teh untuk Bi Nana, setelah selesai ia pun kembali ke ruang tamu.
"Ini Bi Nana minum dulu!" kata Zuy sambil meletakkan cangkir minuman di meja.
"Terimakasih Zuy." ucap Bi Nana, "Lalu dimana Tuan Muda?!!" sambung tanyanya.
"Tuan Muda sedang tidur Bi, mungkin efek dari obatnya," balas Zuy.
Tanpa sengaja Bi Nana melirik ke arah tangan Zuy.
"Hmmm, itu tanganmu kenapa lagi?!!" tanya Bi Nana
"Oh ini Zuy tadi ceroboh, waktu lagi masak malah di tinggal pergi. Terus masakan Zuy jadi gosong deh, karena gugup Zuy lupa pake lap buat ngangkat pancinya jadi ya gini." ujar Zuy.
Bi Nana berdecak." Ck, ya ampun Zuy, ada-ada aja kamu tuh ya! Liat tuh pipi juga masih memar gitu sekarang tangan pula."
Zuy pun menggaruk belakang kepalanya.
Ya mau gimana lagi bi, orang Zuy ceroboh." ucap Zuy di susul tawa kecilnya.
"Lalu apa kamu sudah memasak lagi?" tanya Bi Nana.
Zuy menganggukkan kepalanya.
"Udah bi malah udah matang dan nggak gosong lagi, apa bi Nana mau makan?"
"Nanti aja sekalian nunggu Tuan Muda bangun," jawab Bi Nana.
Zuy melirik ke arah Nara dan bertanya, "Nara sayang kenapa diam aja, apa kamu nggak betah di sini?"
"Nara ngantuk, mau gendong Kakak lagi!" Nara mulai merengek.
Zuy pun menggendong Nara kembali, lalu....
"Zuy berarti kamu hari nggak kerja dong?!!" tanya Bi Nana.
"Iya bi, soalnya pak Davin yang menyuruh Zuy untuk menjaga Tuan muda." jawab Zuy
Bi Nana menyeruput secangkir tehnya.
"Oh jadi begitu, berarti kalian di sini hanya berdua saja?!!" Bi Nana bertanya kembali.
Zuy menganggukkan kepalanya.
"Iya bi, ta-tapi tadi ada Mrs Kimberly datang kok terus sekarang udah pergi." jelas Zuy.
"Oh, jadi kamu bertemu lagi dengan Kimberly itu. Lalu apa dia berbicara sesuatu tentangmu seperti waktu itu?"
"Nggak bi, dia nggak bilang apa-apa kok," jawab Zuy.
"Oh baguslah kalau gitu," lirih Bi Nana.
Zuy lalu memalingkan pandangannya ke arah Nara yang di gendongnya.
"Padahal tadi juga ada Mrs Maria, tapi kalau aku bilang ke bi Nana, nanti Bi Nana bakalan marah dan nggak mau bicara kaya waktu itu. Aku nggak mau kalau sampai bi Nana marah, walau sekarang aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi mungkin suatu saat nanti aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua." batin Zuy.
*******
AMERIKA
Rumah Daddy Michael....
Beberapa saat sebelumnya, setelah menelpon Davin, Lesya pun langsung keluar dari kamarnya dan menghampiri Daddy Michael yang sedang duduk melamun di sofa.
"Daddy..." tegur Lesya.
Daddy Michael pun langsung menoleh.
"Lesya bagaimana, apa kamu sudah bisa menghubungi Ray?!!" tanya Michael.
Lesya pun langsung duduk di sebelah Daddy Michael.
"Tadi aku telpon kak Davin terus dia bilang kalau Ray lagi ada Meeting di luar, katanya ponselnya Ray di nonaktifkan biar tidak mengganggu," ujar Lesya.
Daddy Michael mengerutkan dahinya.
"Oh jadi gitu, apa dia baik-baik saja?" tanya Michael.
"Kak Davin bilang kalau Ray baik-baik aja Dad. Sebenarnya apa yang terjadi Dad?!!"
"Ah itu ...."
Saat hendak menjelaskan pada Lesya, tiba-tiba Liora menghampiri mereka sehingga membuat Daddy Michael mengurungkan niatnya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Liora.
"Kami tidak sedang bicara apa-apa. Oh ya Lesya, bisakah kamu kembali ke kamarmu! Daddy ingin bicara dengan Momy," suruh Daddy Michael.
Lesya mengangguk. "Okay Dad, Momy Lesya ke kamar dulu ya."
Lesya mencium pipi Daddy Michael dan Liora, kemudian berjalan menuju ke kamarnya.
Sesaat Liora pun langsung duduk di sebelah Daddy Michael.
"Ada apa Dad, sepertinya ada yang penting sampai menyuruh Lesya ke kamarnya?"
Daddy Michael menatap Liora dengan sorot mata tak biasa.
"Apa yang telah kau rencanakan dengan Maria soal pertunangan antara Ray dengan Kimberly?" tanya Michael dengan nada sedikit kesal.
"A-aku tidak merencanakan apa-apa, aku hanya ingin Ray dan Kimberly secepatnya bertunangan, itu saja!" jelas Liora.
"Tapi kenapa Maria memberitahu ke Ray bahwa mereka akan bertunangan dua bulan lagi? Padahal waktu itu aku sudah bilang untuk menunggu keputusan Ray, karena dia yang wajib memutuskannya bukan kamu ataupun Maria." Pekik Michael.
Melihat Michael seperti itu, Liora pun sedikit ketakutan.
"Tunggu-tunggu kenapa kamu marah padaku? Lagian kita ngelakuin ini demi kebaikan mereka berdua dan satu sisi juga kita mendambakan cucu," cicit Liora.
Daddy Michael pun memegang bahu Liora.
"Gara-gara rencana gila kamu dan Maria, Ray jadi marah padaku dan sekarang dia tidak bisa di hubungi."
"Apa..!!"
**Bersambung...
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada kesalahan, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author 😉✌😉✌
Kisah Zuy & Ray benar2 luar biasa, selalu bikin meleleh.. 🥰
Konfliknya bikin greget, tapi endingnya benar2 memuaskan & membahagiakan 🤍
Semangat terus Kakak Author.. 😘
Ending yang sangat memuaskan, semua kisah tokoh2nya berakhir bahagia 🥰
Selain Ray & Zuy, Davin & Airin juga yang lain bahagia sama pasangannya masing2, aku juga seneng Maria & Kimberly berubah jd baik.. Akhirnya Zuy bisa ngerasain kasih sayang Ibu kandungnya..
Semoga selalu bahagia, sampai menua bersama & sampai maut memisahkan 🤍
Ray & Zuy juga Davin & Airin, bahagia terus ya, sampai maut memisahkan 🤍
Semoga semua baik2 aja ya..