Season 1:
Dena, gadis yang baru saja menginjak bangku sekolah menengah atas. Ia harus pasrah saat sang Papa mengirimnya ke perkampungan? ya, tepatnya kampung sang Kakek. Di sana ia akan bertemu dengan seorang pemuda yang terkenal di desanya. Terkenal bukan karena sifatnya yang kalem tapi nakal.
Diselingi kisah sang papa yang statusnya sebagai duda dipertemukan dengan seorang wanita yang juga sebagai karyawan di kantornya. Tidak disangka, putrinya lebih dahulu mengenal wanita itu. Dimulai dari perdebatan hingga berujung percintaan. Wira, sebagai papa Dena harus berjuang mendapatkan restu dari calon mertuanya. Statusnya sebagai duda yang menjadi permasalahan. Duda anak satu sedangkan sang wanita masih berstatus lajang.
Bagaimanakah Dena merajut kisah asmaranya dengan seorang pemuda dari kampung kakeknya?
𝗦𝗲𝗮𝘀𝗼𝗻 𝟮: (𝗠𝘆 𝗙𝗶𝗲𝗿𝗰𝗲 𝗕𝗼𝘀𝘀)
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Jam pelajaran kedua adalah mata pelajaran olahraga yang diajar oleh Bapak Sapto tercinta. Gurunya ganteng, senyumnya manis, apalagi punya gigi gingsul. Semua siswa-siswi yang melihatnya pasti akan meleleh. Bahkan para guru pun ikut mlenyot. Tapi sayang, Pak Sapto sudah memiliki istri ada satu anak yang masih bayi. Tapi, itu semua tidak membuat para murid patah semangat.
Seperti saat ini, saat pemanasan, murid di kelas Dena begitu antusias. Bahkan, murid cewek yang malas sekolah pun masuk karena ingin melihat guru favoritnya.
"Baik semua. Hitung sampai delapan."
Semuanya bahkan tanpa terkecuali mulai menghitung. Mulai dari pemanasan tangan, kepala, kaki, semuanya mereka lakukan untuk mencegah kram.
Materi olahraga kali ini adalah volly. Setelah pemanasan, semua murid langsung turun ke lapangan.
Praktik kali adalah melakukan servis, seperti servis atas maupun bawah. Satu per satu nama dipanggil sesuatu urutan absen.
Setelah olahraga, mereka diberikan waktu istirahat sekitar 20 menit lamanya. Dena duduk di pinggiran lapangan sembari mengipasi wajahnya dengan telapak tangannya.
"Minum?"
Dena mendongak begitu mendengar suara seseorang di hadapannya.
"Thank's, Za." ujar Dena menerima minuman aqua botol yang masih bersegel. Lagi pula gadis itu sangat haus jadi ia menerimanya dengan percuma.
"Panas banget ya? Btw, lo hebat bisa ngelakuin servis sekeren itu." puji Reza yang mengambil duduk tepat di samping Dena. Reza adalah teman sekelasnya, orangnya lumayan baik dan juga tentunya memiliki paras rupawan.
"Makasih, Za. Lo juga gak kalah keren kok. Oh ya, waktunya udah mau abis nih. Gue cabut duluan ya? Mau ganti baju juga soalnya."
"Owh, oke. Na."
"Hmmm... apa?" tanya Dena menghentikan langkahnya.
"Mumpung gue lagi baik. Lo mau gue temenin gak?" perkataan Reza sontak mendapat cubitan keras di lengannya.
"Aww awww... becanda ya ampun, Na. Serius banget sih nanggepinnya."
"Bodo." gadis itu berlenggang pergi meninggalkan Reza yang senyam senyum sendiri di lapangan.
"Woyyy... kesambet lo ntar. Baek baek, di depan tuh ada pohon beringin."
"Sialan lo pada." balas Reza kesal akan omongan temannya.
Dena bergegas menuju ruang ganti, setelahnya ia keluar dengan seragam yang berbeda. Kemudian kembali masuk ke kelas mengikuti mata pelajaran selanjutnya.
"Siang, Pak." sapa Dena yang tidak sengaja berpapasan dengan salah satu guru.
"Oh ya, Dena? Siang juga."
"Hehe, iya. Saya ke kelas dulu, Pak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Dena, tunggu!"
Langkah kaki Dena otomatis terhenti saat namanya terpanggil. Badannya membalik sambil mencari-cari sang pemanggil.
Oh 'rupanya itu Taufik si ketua osis yang datang dari arah ruang osis. Kening Dena mengerut seakan-akan bertanya ada apa.
"Lo... punya waktu bentar gak pas nanti pulang sekolah?"
"Kayaknya enggak. Kenapa emang?"
"Gue mau ngomong bentar. Sekarang aja ya?"
"Sorry, Fik. Udah mau masuk, takut telat. Lain kali aja ya?"
"Gue maunya sekarang, Na. Sorry kalau maksa."
"Lain kali aja, Fik. Beneran, ini udah mepet banget. Takut nanti dihukum Pak Saptono."
"Plis, Na. Masih ada waktu 3 menit. Bentar aja?"
Sekarang, mereka sudah menjadi pusat perhatian karena mereka mengobrol tepat di depa kelas 12.
"Oke, apaan? Cepetan ya? Gue gak punya banyak waktu, lo mah enak ketos."
"Na..."
"Apaan? Jangan bertele-tele!"
"Gue suka sama lo, Dena. Lo mau gak jadi pacar gue?"
"Uhukk!!!"
"Cieeeeee... cieeeee..."
Dena tersedak ludahnya sendiri saat mendengar ucapan Taufik yang sembrono. Matanya langsung melotot tidak percaya. Diwaktu genting seperti ini, ah sudahlah.
"Sorry, Fik. Gue harus balik ke kelas." ujar Dena mengabaikan.
"Jawab dulu, Na." desak Taufik berharap.
Terdengar suara ramai yang menyoraki mereka. Siapa yang tidak kenal Taufik si ketua osis. Pasti banyak yang mau dengannya. Begitu juga dengan Dena, memiliki parah cantik dan otak yang cemerlang membuatnya harus pandai-pandai memilih teman.
Dena menatap Taufik dengan ragu. Mau menerima... jelas ia tidak mau. Mau menolak pun takut takut membuat suasana kacau apalagi di keramaian seperti ini. Harusnya cukup mereka berdua saja yang tau dan merasakannya.
"Gue--"
kykny keluar dr judul ya,Thor...
🥰😊😊
Semangat tetap& Ttp semangat,Kak Thor!!!!💪💪🤺
udh dong mewek ya.
skrg bhgian ya plk dong thor
kok melo ya eps yg in
lain judl pun gak ap2 thor.
yg pnt arel sma dena
Disini aj laaa Ampe habis cerita Dena&Fairel..