Keheningan malam yang gemuruh memeluk kota Topaz. Sinar gelap menerobos kegelapan dalam penantian panjang. Sunyi riuh memeluk hati yang gaduh merenung diri. Dhona, wanita berusia 22 tahun, dikurung di dalam ruangan sempit di salah satu rumah sakit jiwa.
Apakah dia gila? Tentu saja tidak. Dhona sengaja dibuat gila oleh saudara angkatnya agar dia bisa diusir dari rumah orang tuanya.
Semenjak kehadiran saudara angkatnya, kehidupan Dhona berubah. Dhona yang berhati bak malaikat, dimanfaatkan kebaikannya oleh Alia, anak angkat yang ditemukan ayahnya di sebuah panti asuhan.
Dhona dijadikan pembantu, difitnah, dibully.
Dalam keputusasaan, Dhona lelah menjadi orang baik. Dhona mematahkan julukan malaikat yang selama ini melekat. Dhona dipengaruhi ilmu hitam.
Apakah Dhona benar-benar terjebak dalam lingkaran kebencian?
Terus ikuti jalan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Dhona dengan kuat menjambak rambut Mawar dan menendang kedua lututnya hingga kedua lutut mawar jatuh mengenai pecahan kaca. Dhona melepaskan tangannya.
"AAAAAGGGHH!" Mawar menjerit kesakitan saat lututnya menempel pecahan kaca. Mawar juga memegangi kepalanya yang sakit.
"Dhona, apa-apaan lu!" Eko membantu Mawar berdiri.
"Dhona, sebelumnya lu gak gini," Dhea juga membantu Mawar berdiri.
"Kenapa kalian semua bela Mawar? Jelas-jelas dia yang salah. Seandainya gue yang ada di posisi Mawar, gak mungkin kalian mau bantu. Kalian pasti tertawa. Dia suruh gue berlutut, apa salah gue!"
Semua rekan kerja Dhona diam. Mereka tidak pernah menyangka Dhona berubah. Dulu Dhona tidak pernah marah dibikin seperti babu.
"Dhona, gue laporin lu ke pimpinan!" Ancam Mawar.
"Silakan, gue tunggu." Dhona berbalik badan dan duduk di kursi Bu Apli.
Eko keluar dari ruangan Divisi Kreatif. Dhona mengirimkan pesan kepada seseorang. Tidak berapa lama, Pak Jhon pimpinan Zero Point masuk bersama Eko dan dua orang lainnya.
Eko, Mawar mengadukan Dhona kepada pak Jhon dengan menunjukkan luka yang ada di lutut Mawar. Teman-temannya juga membela Mawar.
Tapi ada seorang gadis yang membela Dhona. Dia bilang Mawar marah karena Dhona tidak mau menuruti kemauan Mawar dan Eko. Dua orang yang ada di belakang pak Jhon menunjukkan rekaman CCTV yang diminta Dhona. Pak Jhon melihat rekaman CCTV.
"Sejak kapan ruangan kita ada CCTV?" Mawar memandangi teman-temannya.
"Sejak Dhona kembali masuk kerja," jawab pak Jhon.
Mawar dan teman-temannya saling pandang. Mereka terdiam karena rekaman CCTV itu bukti nyata mereka telah menyuruh Dhona.
"Dhona juga cerita bagaimana kalian dulu memperlakukannya. Kebaikan Dhona kalian salah gunakan. Untuk membuktikan yang Dhona katakan, saya memasang CCTV di ruangan ini," kata pak Jhon.
"Kamu, siapa namamu?" tanya Dhona pada gadis yang tadi membelanya.
"Isma, Bu," jawab Dhona.
"Apa mereka juga membuat kamu melakukan hal-hal yang bukan pekerjaan kamu? Seperti lembur ngerjain kerjaan mereka?" Dhona menunjuk ke arah staf administrasi.
"Iya," jawab Isma.
"Begitulah saya dulu Pak Jhon. Apakah sekarang Anda percaya?"
"Iya, sekarang saya percaya. Maaf karena dulu saya kurang peka terhadap karyawan. Saya juga ingin memberi tahu kalian, almarhumah Bu Apli sudah mengakui bahwa konsep iklan yang dulu bukan hasil karyanya tapi milik Dhona. Dan perlu kalian ketahui, Dhona sekarang pengganti Bu Apli. Dhona sekarang atasan kalian," kata Pak Jhon.
Mawar, Eko, Dhea dan empat orang rekan kerjanya kaget memandangi Dhona. Mereka menundukkan kepala. Pak Jhon menyerahkan semua keputusan di tangan Dhona. Dhona bebas melakukan apa saja kepada Mawar dan Eko.
Dhona tersenyum. Dhona masih ingat bagaimana semua rekan kerjanya di divisi kreatif memperlakukannya. Hampir semua pekerjaan mereka, Dhona yang mengerjakan. Kerja kerasnya tidak pernah dihargai.
Mawar, Eko sok berkuasa dan sering mengancam akan melaporkan kepada Bu Apli jika Dhona menolak mengerjakan pekerjaan mereka. Dhona memandangi semua staff divisi kreatif.
Dhona sudah mengambil keputusan. Mengingat Mawar, Eko yang tidak mengubah sifatnya, Dhona meminta pak Jhon untuk memecat mereka. Sontak saja Mawar dan Eko lemas dibuatnya.
Mawar dan Eko meminta maaf kepada Dhona. Mereka salah, mereka berjanji tidak akan melakukan hal yang sama. Dhona tetap dengan keputusannya. Dhona juga mengingatkan kepada para staff Divisi Kreatif, kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi.
Mawar dan Eko disuruh pak Jhon ke bagian HRD. Dan untuk staff divisi kreatif yang lain, pak Jhon memerintahkan mereka meminta maaf kepada Dhona. Dhea langsung meminta maaf kepada Dhona begitu juga teman-temannya yang lain. Mereka tidak mau dipecat.
Dhona memanggil Isma ke ruangannya. Dhona ingin Isma mengawasi staff divisi kreatif. Jika terjadi kecurangan dan ada yang diperlakuan tidak pantas, Isma laporkan segera kepada Dhona.
Dhona memandangi Mawar dan Eko dari balik kaca di dalam ruangannya. Mawar dan Eko terlihat menatap penuh kebencian kepada Dhona. Mereka dipecat gara-gara Dhona. Setelah mengambil barang-barangnya, Mawar dan Eko berpamitan keluar dari kantor Zero Point.
Dhona pun menjalani hari pertama kerjanya di Zero Point sebagai Kepala Divisi Kreatif. Dhona sebelumnya pernah mengerjakan pekerjaan Mawar, Eko dan beberapa staff divisi kreatif yang lain. Dhona juga pernah mengerjakan pekerjaan Bu Apli. Dhona tidak terlalu sulit beradaptasi dengan posisinya yang sekarang.
Waktu kerja sudah berakhir, Dhona merapikan pekerjaan. Beberapa staff divisi kreatif berpamitan ke ruangan Dhona. Dhona memeriksa ponselnya. Dhona mendapatkan pesan dari Zayyan. Zayyan menunggunya di sebuah hotel. Zayyan menyiapkan sebuah kejutan.
Dhona bergegas meninggalkan kantor. Dhona memesan taxi online menuju hotel yang dikirim Zayyan ke ponselnya.
Dhona keluar dari taxi. Dhona masuk ke dalam hotel menuju meja resepsionis. Petugas resepsionis memberikan kartu kunci kepada Dhona. Dhona masuk ke dalam lift dan memencet tombol 3.
Dhona mencari kamar 303. Dhona menempelkan kartu kunci ke pintu. Pintu terbuka, Dhona perlahan masuk ke dalamnya.
Dhona melihat banyak kelopak bunga mawar di lantai. Dhona mengikuti sampai di mana kelopak mawar itu. Dhona juga melihat buket bunga mawar merah di atas meja.
Betapa terkejutnya Dhona, di atas tempat tidur, Zayyan dalam keadaan tidur memeluk seorang wanita. Mereka berdua dalam satu selimut yang sama. Zayyan dan wanita itu tidak memakai busana. Di atas tempat tidur juga bertaburan kelopak bunga mawar.
Dhona mengepalkan tangannya. "Inikah kejutannya! Selamat. Kamu berhasil membuatku terkejut!"
Dhona membalikkan badannya. Dhona dengan cepat keluar dari kamar 303. Dhona masuk ke dalam lift. Dhona menstabilkan napasnya. Walaupun ini hanya pernikahan kontrak, tapi sakit hati Dhona melihat Zayyan bersama wanita lain.
Dhona berjalan jauh meninggalkan hotel. Dhona memutuskan tidak pulang ke rumah. Dhona bingung mau pergi ke mana. Dhona terus melangkah tidak tahu arah. Dhona berhenti sejenak di pinggir taman kota.
Dhona duduk di kursi pinggir jalan sambil menikmati jajanan. Senja hampir menjelang. Dhona memandangi orang-orang yang ramai menikmati pusat jajanan yang cukup terkenal di kota Topaz. Taman kota tidak pernah sepi pengunjung.
Dhona memijat sebentar kakinya yang pegal. Telepon Dhona berdering. Dhona sengaja tidak mengangkat telepon dari Zayyan. Zayyan juga mengirimkan pesan. Dhona malas berurusan dengan Zayyan, pasti dia akan memberikan penjelasan.
Dhona langsung memblokir nomor kontak Zayyan. Dhona sadar, tidak ada cinta antara dia dan Zayyan. Zayyan bebas bersama siapa saja tapi Dhona tidak bisa memungkiri, sakit hatinya saat ini. Tak terasa air matanya menetes.
"Dhona!"
Dhona tersentak. Tiba-tiba saja Mawar berdiri di depannya. Mawar dengan raut wajah memelas, meminta maaf kepada Dhona. Mawar menangis penuh penyesalan berdiri di depan Dhona sambil mengatupkan kedua tangan. Semua yang ada di taman memperhatikan mereka.
Dhona malas meladeni Mawar. Dhona merasa Mawar hanya berpura-pura menyesal. Dhona bangkit dari tempat duduknya. Mawar menyemprotkan sesuatu ke wajah Dhona. Dhona menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Dhona memandangi Mawar yang menyeringai. Pandangan Dhona mulai berbayang. Dhona memegangi kepalanya. Pandangan Dhona mulai kehitaman. Dhona kehilangan keseimbangan. Tubuh Dhona merosot jatuh ke bawah.
BRUUUUKK!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...