Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.
"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"
Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak sengaja bertemu lagi
Rangga baru saja keluar dari ruangannya untuk memastikan area kerja sudah bersih sebelum operasional ditutup. Langkahnya terhenti di dekat meja kasir ketika ia melihat sebuah benda kecil tergeletak di bawah kursi tunggu.
Rangga membungkuk dan mengambilnya. Itu adalah sebuah gantungan kunci rajutan berbentuk bunga matahari kecil yang sudah agak kusam.
Jantung Rangga berdegup sedikit lebih kencang. Ia mengenali benda itu. Itu adalah hadiah buatan tangan yang ia berikan kepada Ayu tujuh tahun lalu.
Di bagian belakang rajutan itu, masih ada inisial "R & A" yang dibordir manual.
"Ternyata masih disimpan," gumam Rangga pelan.
Rian yang sedang merapikan kunci-kunci di dekat sana menoleh. "Ada apa, Ga? Barang klien ketinggalan?"
Rangga terdiam sejenak, menatap benda di telapak tangannya. Ada sejuta kenangan yang pada benda itu.
"Iya, punya mbak yang tadi bannya kempes," jawab Rangga tenang. Ia memasukkan gantungan kunci itu ke dalam saku kemejanya.
"Wah, berharga kayaknya itu, Ga. Kelihatan barang lama tapi dirawat banget. Mau lu titipin di kasir siapa tahu dia balik?" tanya Rian.
Rangga menggeleng pelan. "Nggak usah, Kang. Saya rasa dia nggak akan berani balik lagi ke sini dalam waktu dekat."
Malamnya, Rangga duduk di meja kerjanya. Rangga menatap gantungan kunci rajutan itu sekali lagi. Detail kecil itu seolah menjadi saksi bisu perjuangan mereka di masa lalu yang kini terasa sangat jauh.
Ia menarik laci meja kerjanya yang paling bawah, meletakkan benda itu di sana, lalu menguncinya.
Biarlah itu menjadi rahasia yang tersimpan rapi, sebagaimana ia menyimpan kenangan masa mudanya.
Setelah mengunci laci itu, Rangga menyandarkan punggungnya ke kursi kerja.
"Mas! Masih di dalam?" Adiknya baru saja sampai di Bandung untuk menghabiskan akhir pekan. Belum sempat Rangga menjawab, pintu terbuka dan Andi melongokkan kepalanya dengan wajah cerah.
Rangga menyandarkan punggungnya di kursi kayu meja makan, menatap asap tipis yang mengepul dari nasi hangat di depannya. Di seberangnya, Andi duduk dengan wajah yang jauh lebih dewasa. Adiknya itu bukan lagi remaja yang ia biayai kuliahnya dengan susah payah, kini Andi sudah menjadi pria mapan dengan pekerjaan tetap di sebuah perusahaan besar di Jakarta.
Setiap akhir pekan jika ada waktu luang, Andi selalu menyempatkan diri pulang ke Bandung, memastikan abang satu-satunya itu tidak kesepian.
"Mas, makan dulu, keburu dingin" ujar Andi memecah keheningan.
Rangga tersenyum, mulai menyuap masakan adiknya.
Di tengah makan malam itu, Andi meletakkan sendoknya sejenak. Ia menatap Rangga dengan ragu, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang besar di kepalanya.
"Mas Rangga," panggil Andi pelan.
"Kenapa, Ndi? Ada masalah di kantor?" Rangga mendongak, perhatiannya langsung terpusat pada adiknya.
Andi tiba-tiba berdehem, meletakkan sendoknya. "Mas, umur Mas sudah mau tiga puluh tahun depan, kan?"
Rangga hanya bergumam pendek tanpa menoleh. "Hm. Terus kenapa?"
"Ya nggak kenapa-kenapa. Heran saja udah punya kerjaan bagus, rumah juga udah ada. Apa lagi yang Mas tunggu?" Andi menatap kakaknya dengan ekspresi menyelidik. "Apa Mas nggak ada niat buat nikah? Maksudku, masa Mas mau jadi bujang lapuk"
Rangga terkekeh pelan, "Masih banyak urusan, Ndi. Ribet kalau kepikiran yang lain."
"Alasan" potong Andi sambil nyengir. "Sebenarnya aku nanya gini karena aku sudah ada rencana mau melamar Rania. Kami sudah obrolin soal ini sama orang tuanya."
Rangga berhenti mengunyah sebentar, lalu mengangguk mantap. "Bagus itu. Rania anak baik. Kamu sudah mapan, sudah punya pegangan di Jakarta. Mau kapan?"
"Bulan depan rencananya. Tapi aku nggak enak saja kalau harus langkahin Mas. Masa adiknya duluan?"
Rangga meletakkan sendoknya, menatap Andi dengan santai. "Ya tinggal langkahin saja, nggak usah pakai acara nggak enak segala. Mas malah senang kalau kamu cepat berkeluarga. Masalah Mas, itu urusan gampang. Jodoh nggak akan ke mana-mana."
"Tapi beneran, Mas nggak lagi nungguin siapa-siapa, kan?" tanya Andi lagi, seolah ingin memastikan kakaknya tidak sedang terjebak masa lalu.
Rangga menggeleng sambil tersenyum tipis. "Nggak ada yang ditunggu. Mas cuma lagi menikmati hidup saja. Sudah, jangan banyak tanya. Nanti Mas siapkan semua keperluan lamaranmu. Mas mau adik Mas satu-satunya ini kelihatan gagah pas datang ke rumah calon mertua."
Andi tertawa, merasa lega karena kakaknya menanggapi dengan sangat terbuka. Mereka lanjut makan dengan obrolan ringan seputar persiapan lamaran. Bagi Rangga, melihat adiknya melangkah ke jenjang baru tanpa harus merasakan pahitnya penolakan seperti dirinya dulu, sudah menjadi pencapaian yang cukup untuk saat ini.
Keesokan harinya, suasana rumah kembali sunyi. Andi sudah berangkat subuh tadi untuk mengejar jadwal kereta pertama menuju Jakarta karena ada rapat penting di kantornya.
Rangga meminggirkan motornya di depan sebuah kedai nasi Padang sederhana yang bangunannya tampak sudah cukup berumur. Ia masuk ke dalam, disambut oleh aroma rendang yang khas dan hangat. Di balik etalase kaca, seorang nenek tua tersenyum ramah ke arahnya.
"Mau makan apa, kasep?" tanya nenek itu dengan suara yang agak parau namun lembut.
Rangga membalas senyuman itu dengan sopan. Di usianya yang hampir kepala tiga, ia memang lebih menyukai tempat-tempat tenang seperti ini daripada kafe mewah di pusat kota. "Makan di sini ya, Nek. Nasi pakai rendang sama perkedel saja," jawabnya tenang.
"Siap, tunggu sebentar ya," kata si nenek sambil mulai meraih piring.
Rangga kemudian memilih meja di sudut yang dekat dengan jendela.
Namun, belum sempat si nenek mengambilkan nasi, terdengar langkah kaki terburu-buru dari arah dapur.
"Nek, biar aku saja yang melayani. Nenek istirahat saja di belakang, tadi kan katanya kakinya agak pegal," suara seorang wanita terdengar lembut namun tegas penuh perhatian.
Rangga yang sedang memperhatikan jalanan di luar, seketika menoleh ke arah sumber suara.
Wanita itu muncul dari balik tirai dapur, sudah mengenakan celemek sederhana. Tangannya dengan sigap mengambil piring dari tangan si nenek. Begitu ia mendongak untuk melihat siapa pelanggan yang duduk di sudut, gerakannya mendadak terkunci. Itu Ayu.
Ayu terpaku dengan piring di tangannya. Ia tidak menyangka pelanggan pagi ini adalah Rangga pria yang kemarin membantunya di bengkel, pria yang selama ini menghuni ruang paling rahasia di hatinya. Di sisi lain, Rangga juga tampak terkejut, namun ia segera menguasai diri.
Ayu berjalan menghampiri meja Rangga, meletakkan piring itu dengan gerakan yang sangat rapi dan formal. "Silakan, Mas," ucapnya singkat, tanpa menatap wajah Rangga.
Rangga memperhatikan gerak-gerik Ayu. Ia menyadari bahwa Ayu sengaja menjaga jarak, berusaha bersikap profesional seolah mereka tidak punya sejarah apa pun. Rangga mencuci tangannya di kobokan, lalu memulai basa-basi dengan nada suara yang tenang, tanpa maksud menyudutkan.
"Kamu sekarang tinggal di sini?" tanya Rangga datar, sambil mulai membelah perkedelnya.
Ayu yang baru saja hendak berbalik kembali ke etalase, menghentikan langkahnya sejenak. Ia terdiam sebentar sebelum menjawab tanpa menoleh sepenuhnya.
"Iya, Mas. Sudah empat tahun belakangan ini," jawab Ayu singkat.
"Hanya itu," gumam Rangga dalam hati melihat jawaban Ayu yang sangat terbatas.
Rangga menyuap nasinya perlahan, jauh lebih lambat dari cara makan biasanya. Entah apa yang sedang ia harapkan. Apakah ia berharap Ayu akan kembali menoleh? Atau ia berharap wanita itu akan menanyakan kabarnya sebagaimana seorang teman lama?.
Ia memperhatikan Ayu dari sudut matanya. Wanita itu kini sibuk melayani pembeli lain yang baru saja datang.
"Terima kasih, Pak. Hati-hati di jalan," ucap Ayu ramah kepada pembeli yang baru saja beranjak.