Menikah muda tidak selalu berakhir dengan tragis, meskipun banyak yang berjalan tak manis. Semua itu hanya tentang bagaimana kita menyikapi dan mempertahankannya.
Jadi, tidak perlu takut untuk menikah muda, karena tidak semua pernikahan berakhir dengan kegagalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Ngidam
Usia kandungan Lyra yang masih berada di trimester pertama membuat perempuan cantik itu selalu muntah dan mual di setiap pagi hingga menjelang siang, dan itu membuat Pandu menjadi tidak tega untuk meninggalkan sang istri yang sudah resmi cuti kuliah satu minggu yang lalu.
“Aku gak usah ke kampus aja deh, ya? Di rumah aja rawat kamu,” ucap Pandu yang tidak tega melihat Lyra yang lemas, karena sedari tadi muntah-muntah.
“Kamu harus kuliah, sayang biar cepat lulus. Aku gak apa-apa, kok, nanti juga mualnya hilang, kamu gak perlu khawatir, ya,” bujuk Lyra lembut pada sang suami.
“Aku ikut cuti aja deh, biar bisa jaga kamu,”
“No, sayang, lebih baik kamu sekarang berangkat kuliah deh, Lily biar Mama yang jaga,” cepat Linda berkata saat baru saja sampai di kediaman Lyra-Pandu bersama Leon yang sudah rapi dengan setelan kerjanya.
“Apa Mama gak keberatan?” tanya Pandu yang tak enak hati.
Linda menggeleng. “Lily 'kan anak Mama, Pan jadi, mana ada Mama keberatan. Ya sudah, kamu berangkat sana bareng sama Papa juga. Lily aman, kok, sama Mama,” ujar Linda yang kemudian di angguki Pandu meski dengan berat hati.
“Princess, Daddy berangkat kerja, ya, kamu baik-baik di rumah kalau mau apa-apa bilang, nanti Daddy belikan.” Leon mengecup kening sang putri yang terduduk lemas di sofa.
"So-soan mau beliin, kemarin aja protes mulu." Cibir Lyra membuat Leon menatap tajam anaknya yang sayangnya di abaikan oleh ibu hamil itu.
“Aku juga berangkat kuliah dulu, ya, sayang, kamu kalau mau apa-apa hubungin aku.” Kini giliran Pandu yang berpamitan. Mengecup kening Lyra dengan sayang, kemudian mendaratkan kecupan pada perut Lyra yang masih rata.
Seperginya kedua laki-laki beda usia itu Linda membuka kotak makan yang tadi di bawanya, lalu memberikan itu pada Lyra yang kini sudah berbinar, tak sabar ingin segera melahap apa yang sang mama bawa.
“Mama kenapa bawanya sedikit banget sih!” komentar Lyra seraya memasukan satu suapan salad buah buatan Linda.
“Nanti Mama bikin lagi buat kamu,” ucap Linda lembut. Dengan berbinar, Lyra mengangguk semangat dan melanjutkan kembali memakan saladnya hingga kotak makan itu bersih tak tersisa.
🍒🍒🍒
Jam dua siang Pandu pulang dan langsung mendatangi Lyra yang tengah duduk bersantai di kamar, menonton televisi yang menayangkan drama kesukaannya. Kebiasaan baru Pandu semenjak kehamilan Lyra adalah mengecup kening istrinya, kemudian mengecup perut ratanya seraya berbisik pada sang jabang bayi mengatakan bahwa ia sudah pulang.
“Susu hamil sama vitaminnya di minum belum?” tanya Pandu yang baru saja ikut duduk di samping Lyra.
“Udah kok.” Jawab Lyra singkat tanpa menoleh pada sang suami.
“Pintar! Aku mandi dulu sebentar, ya,” ucap Pandu seraya bangkit berjalan menuju kamar mandi.
Setelah menyiapkan pakaian santai untuk Pandu ganti, Lyra kembali duduk bersandar pada kepala ranjang menikmati kembali tontonannya yang sedikit terganggu.
Drett… drettt … drett
Suara ponsel yang tergeletak begitu saja di atas nakas mengalihkan Lyra dari layar di depannya. Lyra, meraih ponsel tersebut lalu mengangkatnya dengan enggan, menempelkan benda tersebut pada telinga sebelah kirinya.
“Siapa nih?” tanya Lyra malas-malasan.
“Hallo, dek Lyra cantik, gue Bimo kating dari jurusan Mulmed.” Jawaban yang di berikan dari seberang telepon sana membuat Lyra mengernyitkan kening.
“Yang mana, ya, kok, gue gak tahu?”
“Jahat banget lo, dek, sampai gak inget. Gue yang itu loh, yang waktu itu makan siang bareng lo, Devi sama Luna dan Rangga,”
“O, iya-iya gue ingat, lo yang ganteng itu 'kan?”
“Bisa aja sih lo, Ra iya gue yang itu. Ingat lo sekarang?”
“Ingat dong, masa sama cowok ganteng gue lupa, sih, rugi dong gue, haha.”
“Haha bisa aja lo, Ra. Btw lo apa kabar, kok sekarang jarang kelihatan?”
“Kabar gue baik kok Kak. Masa sih lo gak lihat gue? Padahal gue sering, loh, lihat lo,”
“Masa sih? Lihat dimana emang?” begitu jelas si penelepon amat penasaran.
Pandu tak lama keluar dari kamar mandi dan hendak mengeluarkan suara, tapi dengan cepat Lyra melarang dengan cara menggeleng dan menyimpan telunjuknya di bibir. Pandu yang awalnya bingung pun , kemudian mengangguk dan duduk di samping Lyra sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
“Gue lihat lo di masa depan, Kak,” ucap Lyra seraya mengedipkan sebelah matanya pada Pandu yang sudah melotot dan langsung merebut ponsel Lyra, kemudian memutuskan sambungan.
“Barusan siapa?” tanya Pandu tak suka.
“Kak Bimo.” Jawab Lyra singkat.
“Jangan kamu gombalin dong, Yang, nanti dia baper gimana coba?”
“Ya, biarin aja, kan yang baper dia bukan aku.” Cuek Lyra. Pandu hanya menggelengkan kepalanya, kemudian mencubit pipi Lyra yang berisi dengan gemas.
“Pan, aku pengen Kebab turki,” ucap Lyra menatap dengan memohon.
“Ya, udah nanti aku beliin buat kamu.”
“Pengennya sekarang,” rengek Lyra manja.
“Oke, ayok kita beli. Sekarang kamu siap-siap.” Cepat Lyra mengangguk dengan gembira dan langsung berganti pakaian.
Satu jam perjalanan cukup membuat Lyra musing dan kembali mual-mual. Awalnya Pandu memilih untuk kembali ke rumah dan memesan lewat layanan online, tapi Lyra menolak dan tetap kekeh ingin pergi ketempatnya sendiri. Akhirnya mau tak mau Pandu menuruti, meskipun harus beberapa kali berhenti di pinggir jalan, karena Lyra yang mabuk. Dan disini lah sekarang mereka berada, di kedai kebab turki yang terkenal di kota ini.
“Pak, dua ya,” pesan Pandu pada si pedagang. Lyra duduk di kursi plastik yang tersedia diikuti Pandu setelahnya.
“Pan, pengen itu,” telunjuk Lyra mengarah pada penjual batagor yang melintas di depan sana.
“Kamu yakin?” tanya Pandu yang diangguki oleh Lyra. Pandu menuruti keinginan sang istri yang tengah mengidam.
Pandu hanya bisa menepuk jidat saat lagi dan lagi Lyra menunjuk penjual makanan yang melitas, di tangannya sudah ada hampir sepuluh macam makanan yang berbeda mulai dari batagor, siomay, kebab, rujak manga, cilok, bakpau, cireng, kue cubit hingga tahu krispi. Sesampainya di rumah, wanita hamil itu bukan memakan semua yang diinginkannya ketika di jalan tadi melainkan malah mengambil cup es krim yang berada di kulkas dan melahapnya dengan tenang di sofa, sambil menonton siaran televisi.
“Yang, terus ini makanannya gimana, siapa yang mau ngabisin?” tanya Pandu menatap bergantian kantong-kantong berisi makanan dengan Lyra.
“Kamu aja yang abisin, Pan, aku udah kenyang.”
“Kalau kamu kenyang kenapa kamu beli ini semua, Lyra!” geram Pandu yang masih berusaha selembut mungkin, karena tidak ingin membuat Lyra menangis.
Menghela napas seraya mengusap-usap dadanya Pandu memakan makanan yang tadi di beli dengan perasaan dongkol, menggerutu dalam hati sambil menatap Lyra yang masih asik dengan es krim di tangangannya. Tidak sama sekali wanita hamil itu merasa bersalah.
@ ank ips jga😎