Dunia berubah dalam semalam. Langit di atas tanah perbatasan Amerika berubah warna, bumi terbelah, dan makhluk-makhluk yang dulunya manusia atau ternak kini bangkit sebagai monster haus darah. Di tengah kekacauan itu, Elena Cross — janda pemilik Rocking Spur Ranch yang tengah hamil delapan bulan — berjuang sendirian mempertahankan tanahnya dari serangan pertama gerombolan ternak yang bermutasi.
Di saat paling genting, sebuah kekuatan misterius bangkit dalam dirinya: **Gudang Tanpa Batas**, sebuah sistem ajaib yang bisa memunculkan senjata, makanan, obat-obatan, dan perbekalan apa pun dari udara kosong — aktif hanya karena satu syarat: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Dua Fragmen, Dua Jalan
Kekuatan gelap di tangan Grimes melesat turun dari balkon—sebuah gelombang energi ungu pekat yang menghantam tanah tepat di depan Elena, meledakkan batu-batu jalanan menjadi serpihan. Elena melompat mundur, jantungnya berdegup kencang, namun matanya tetap terkunci pada sosok yang kini melompat turun dari balkonnya sendiri, mendarat dengan gerakan yang terlalu ringan untuk seorang manusia biasa.
"Kau lihat itu?" Grimes menyeringai, kekuatan gelap masih berkilau di sekeliling tangannya. "Fragmenku telah berkembang jauh melampaui sekadar mengeluarkan perbekalan, Nyonya Cross. Aku telah belajar menariknya lebih dalam, memaksanya menjadi senjata sesungguhnya."
Elena mengangkat tangannya sendiri, kotak cahaya keemasan berpendar terang di sudut penglihatannya. "Memaksa fragmen melampaui niat aslinya," katanya, mengingat kata-kata Dr. Voss. "Itu yang menciptakan pasukan Fase Tiga di Prometheus. Kau bermain dengan sesuatu yang bisa menghancurkanmu sendiri, Grimes."
"Atau menjadikanku dewa di dunia baru ini," balas Grimes, melesatkan gelombang energi kedua.
Kali ini Elena tidak menghindar—ia mengulurkan tangannya, memusatkan pikiran pada perlindungan, pada niat murni yang selalu menuntunnya sejak malam pertama Gudang muncul dalam hidupnya. Sebuah perisai cahaya keemasan terbentuk di depannya tepat waktu, menyerap sebagian besar dampak ledakan meski getarannya membuat Elena terhuyung mundur beberapa langkah.
> **[Resonansi Pertahanan Aktif]**
> **[Fragmen Merespons Niat Perlindungan Murni]**
"Kau lihat itu?" Elena balas menyeringai lemah, meski tubuhnya gemetar menahan dampak serangan. "Fragmenku tidak butuh paksaan untuk melindungi, Grimes. Ia meresonansi secara alami dengan apa yang sudah ada dalam diriku."
Amarah membakar wajah Grimes, menyadari bahwa kekuatannya yang telah ia paksa berkembang tidak serta-merta membuatnya lebih unggul. Ia melesat maju dengan kecepatan tak wajar, mencoba menyerang langsung, namun Elena—dengan naluri yang telah terasah sejak menghadapi ternak bermutasi, perampok, dan pasukan Fase Tiga—berhasil menghindar, menembakkan senapannya tepat ke bahu Grimes.
Peluru itu seharusnya melukai, namun kekuatan gelap yang menyelimuti tubuh Grimes menyerapnya, hanya menyisakan luka permukaan yang cepat menutup kembali.
"Kau tidak bisa mengalahkanku dengan cara konvensional, Nyonya Cross," geram Grimes, mendekat lagi dengan amarah yang kini tak terkendali. "Fragmenku telah melampaui batasan tubuh manusia biasa."
Di tengah pertarungan itu, Elena merasakan sesuatu yang aneh—gema dari kesadaran Prometheus yang pernah ia rasakan di ruang inti, kini bergema lebih kuat, seolah merespons konfrontasi langsung antara dua fragmen yang terikat pada sumber yang sama.
*Fragmen yang dipaksa tumbuh tanpa keseimbangan akan selalu rapuh pada intinya,* suara itu berbisik di benaknya, lembut namun mendesak. *Carilah titik itu, Elena Cross. Jangan lawan kekuatannya—goyahkan fondasinya.*
Elena, meski bingung dengan petunjuk samar itu, mempercayai instingnya. Alih-alih menyerang langsung, ia mengulurkan tangan ke arah Grimes, bukan dengan niat menyerang, melainkan dengan niat yang sama seperti yang ia gunakan untuk menstabilkan inti Prometheus—niat untuk menstabilkan, untuk menyembuhkan.
"Grimes, dengarkan aku," katanya, suaranya tiba-tiba tenang di tengah kekacauan pertarungan. "Fragmen ini tidak diciptakan untuk kekuasaan. Ia diciptakan untuk regenerasi, untuk penyembuhan. Setiap kali kau memaksanya jadi senjata, kau merobek sesuatu di dalam dirimu sendiri yang seharusnya utuh."
"Diam!" raung Grimes, namun suaranya kini terdengar sedikit goyah, seolah kata-kata Elena menyentuh sesuatu yang telah lama ia kubur dalam-dalam.
"Kau dulu pedagang," lanjut Elena, mengingat penjelasan Jedediah, mempertaruhkan segalanya pada satu upaya terakhir untuk menjangkau kemanusiaan yang mungkin masih tersisa. "Bukan penakluk. Apa yang sebenarnya kau takutkan, Grimes, sampai kau harus memaksa dirimu jadi seperti ini?"
Untuk sesaat, kekuatan gelap di sekeliling Grimes berkedip-kedip tidak stabil, dan di balik topeng dingin yang selama ini ia tunjukkan, sesuatu yang jauh lebih rapuh mulai terlihat—ketakutan seorang pria yang telah kehilangan segalanya saat dunia berubah, dan memilih untuk tidak pernah merasa lemah lagi, apa pun harganya.
"Aku kehilangan keluargaku," bisiknya, suaranya tiba-tiba pecah, jauh berbeda dari kesombongan sebelumnya. "Istriku, anak-anakku—semuanya, malam pertama kiamat terjadi. Aku bersumpah tidak akan pernah merasa selemah itu lagi."
Elena, merasakan momentum yang rapuh ini, melangkah lebih dekat meski risikonya besar. "Kehilangan itu bukan salahmu, Grimes. Tapi cara kau menghadapinya sekarang—memaksa orang lain hidup dalam ketakutan yang sama seperti yang kau rasakan—itu tidak akan pernah mengembalikan mereka. Itu hanya akan menciptakan lebih banyak kehilangan."
Kekuatan gelap di sekeliling Grimes mulai goyah lebih hebat, seolah pertarungan internal antara amarah dan kesadaran yang lama terkubur sedang berkecamuk sengit dalam dirinya.
---
ajaib kenapa tidak rahsia kan saja
gila !!