NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Buumm!

Aura hitam pekat meledak dahsyat ke segala arah bagaikan badai topan. Pohon-pohon besar di sekitar perbatasan desa tercabut hingga ke akar-akarnya, sementara beberapa rumah kayu tua langsung roboh berantakan hanya karena tidak kuat menahan hantaman tekanan Qi yang begitu masif.

Di dalam rumah-rumah yang masih bertahan, tangisan dan doa warga desa terdengar semakin histeris dikepung ketakutan yang mencekam.

Arga berdiri kokoh di garda terdepan. Meskipun kedua lututnya bergetar hebat akibat tekanan aura yang meremukkan sendi, ia tidak menggeser pijakan kakinya barang satu sentimeter pun.

Guru Tian berbicara di dalam benak Arga, nadanya terdengar sangat berat. "Arga."

"Ya, Senior," sahut Arga, memfokuskan seluruh sisa energinya.

"Jika pertarungan ini dipaksakan berlanjut... kalkulasi kasarku menunjukkan peluang menangmu saat ini kurang dari satu persen."

Arga mengulas senyum tipis di sudut bibirnya yang berdarah. "Kurang dari satu persen... artinya masih ada peluang, bukan?"

Guru Tian hanya bisa menghela napas panjang di dalam ruang kesadaran. Muridnya yang satu ini memang memiliki tingkat kekerasan kepala yang tidak ada duanya.

Di depan mereka, pria berjubah hitam itu perlahan mengangkat telapak tangannya yang kini diselimuti oleh api Qi hitam yang menyala-nyala. "Anak muda, aku akan berbaik hati memberimu satu kesempatan terakhir. Serahkan pedang legendaris itu kepadaku secara sukarela, maka aku berjanji akan langsung angkat kaki dari desa ini tanpa menumpahkan darah lagi."

Nara yang berada di belakang Arga langsung berbisik dengan nada mendesak. "Jangan pernah percaya pada ucapannya, Arga!"

Arga mengangguk pelan, tatapannya tidak beralih dari musuh. "Aku tahu."

Pria berjubah hitam itu menyeringai kejam saat menyadari penolakan Arga. "Kalau begitu... matilah!"

Boom!

Sosok pria itu mendadak lenyap dari pandangan. Kali ini, kecepatan geraknya melonjak hingga dua kali lipat lebih cepat daripada sebelumnya akibat efek Teknik Pembakaran Darah.

Arga sama sekali tidak bisa menangkap pergerakannya; ia hanya mampu melihat sekelebat bayangan hitam yang kabur membelah malam.

Buk!

Sebuah hantaman telak berlapis Qi Fondasi menghantam bahu kiri Arga.

Krak!

Suara retakan tulang terdengar mengerikan di keheningan malam. Arga mengerang hebat, tubuhnya terpental dan berguling beberapa kali di atas tanah yang keras.

"Arga!" teriak Nara histeris. Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, gadis itu langsung berlari meninggalkan posisinya demi menghampiri Arga.

"Jangan ke mari, Nara!" teriak Arga dengan sisa tenaganya.

Namun, segalanya sudah terlambat. Pria berjubah hitam itu entah sejak kapan sudah melesat dan berdiri tegak tepat di depan jalur lari Nara.

"Jika kau memang sangat memedulikan bocah ini... maka kau yang akan mati lebih dulu di tanganku!" desis pria itu kejam. Telapak tangan hitamnya yang mematikan meluncur cepat, mengincar tepat ke arah dada Nara.

Nara seketika membeku di tempat. Tubuhnya menolak bergerak akibat tekanan intimidasi yang begitu dekat. Ia tahu dengan sangat pasti... serangan jarak dekat ini mustahil untuk dihindari oleh manusia biasa seperti dirinya.

Tepat di saat kritis tersebut, sebuah bayangan compang-camping menerjang dengan kecepatan nekat dari arah samping.

Brak!

Arga melompat sekuat tenaga, memeluk erat tubuh Nara lalu memutar posisi tubuh mereka di udara. Alhasil, pukulan maut yang seharusnya menghancurkan dada Nara itu akhirnya menghantam telak tepat di punggung Arga.

“Pfftt!”

Seteguk besar darah segar menyembur dari mulut Arga, menodai bahu pakaian Nara. Tubuh keduanya jatuh terhempas ke tanah, dengan Arga yang langsung berlutut bertumpu pada pedangnya, napasnya tersedak oleh darah.

"Arga!" Sepasang mata Nara seketika memerah, air mata mulai menggenang di sudut kelopak matanya. "Kenapa... kenapa kau bertindak sebodoh ini demi melindungiku?!"

Arga memaksakan sebuah senyuman lemah di wajahnya yang pucat pasi. "Bukankah... kita sudah sepakat untuk menjadi teman seperjalanan?"

Kalimat sederhana yang diucapkan dengan tulus di ambang maut itu seketika membuat seluruh dinding pertahanan hati Nara bergetar hebat. Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga berdarah, menahan diri sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah di medan laga.

Pria berjubah hitam itu mendengus jijik menyaksikan pemandangan di depannya. "Persahabatan... Ikatan emosional bodoh yang paling tidak berguna di dunia kultivasi."

Di dalam liontin, Guru Tian menatap Arga dalam keheningan yang mendalam, sebelum akhirnya seulas senyuman kecil terukir di wajah tak kasat matanya. "Tidak, Bajingan... Justru ketulusan dan keteguhan hati untuk melindungi itulah yang menjadi sumber kekuatan terbesar muridku."

Wunggg...

Tiba-tiba, Pedang Penjaga Langit di genggaman Arga mulai bergetar hebat. Getaran kali ini terasa sangat berbeda. Benda pusaka itu beresonansi bukan karena dipicu oleh rasa amarah murni atau insting bertahan hidup karena bahaya, melainkan... karena ia merespons tekad suci sang pemilik yang bertaruh nyawa demi melindungi orang lain.

Perlahan tapi pasti, seberkas cahaya keemasan yang sangat murni mulai mengalir keluar dari gagang pedang, merambat perlahan menyelimuti seluruh permukaan bilah tajamnya. Pancaran energinya memang tidak sedahsyat saat Arga terdesak melawan Tetua Agung Sekte Bayangan Darah tempo hari, namun aliran Qi keemasan kali ini terasa jauh lebih stabil, padat, dan menenangkan.

Guru Tian membelalakkan matanya dengan tidak percaya melihat fenomena tersebut. "Jadi begitu rupanya... Pedang suci ini... ia akan mengaktifkan kekuatan sejatinya dan menjadi berkali-kali lipat lebih kuat justru saat digunakan untuk melindungi seseorang, bukan untuk membantai demi kepuasan murni!"

Arga pun bisa merasakan perubahan itu dengan sangat jelas. Gagang pedang di tangannya mendadak mengalirkan hawa hangat yang menjalar cepat ke dalam meridian tubuhnya, seolah-olah senjata legendaris itu sedang menjawab jeritan isi hatinya. Rasa sakit di punggung dan bahunya perlahan tersamarkan oleh pasokan energi keemasan tersebut.

Di hadapan mereka, pria berjubah hitam itu seketika menyipitkan matanya, langkah kakinya tertahan. "Pedang itu... bagaimana mungkin bisa beresonansi sedalam ini dengan kultivator tingkat rendah sepertimu?!"

Untuk pertama kalinya sejak pertarungan berdarah ini dimulai, raut wajah pucat sang pengendali mayat. memperlihatkan secercah kegelisahan dan keraguan yang nyata. Karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia mulai menyadari sebuah kesalahan fatal... bahwa ia mungkin telah meremehkan lawan dan memberi terlalu banyak waktu bagi bocah di depannya ini untuk membangkitkan monster yang tertidur.

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!