NovelToon NovelToon
Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.

"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."

"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"

Bagaimana kelanjutannya..?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Matahari di atas kawasan Dago, Bandung, siang itu rasanya seolah-olah sengaja turun beberapa kilometer lebih rendah dari tempatnya yang biasa.

Terik jalang menyengat tanpa ampun, sanggup membuat aspal jalanan kota terasa empuk dan meleleh di bawah sol sepatu.

Namun, bagi seorang Riyan Sadewa, urusan cuaca yang mirip simulasi neraka bocor ini menempati urutan paling buncit dalam daftar masalah hidupnya yang sudah menumpuk setinggi gunung.

Dengan sebilah sekop bergagang kayu lapuk yang permukaannya sudah kasar tertutup semen kering, pemuda berusia dua puluh empat tahun itu terus mengayunkan kedua lengannya yang kekar.

Dia memindahkan tumpukan pasir hitam dari bak truk ke dalam mesin molen semen yang berputar bising tanpa henti.

Kaus oblong abu-abu yang dikenakan Riyan sudah tidak berbentuk lagi warna aslinya. Keringat yang bercampur dengan debu semen kering menempel erat di kain tersebut, menciptakan pola-pola abstrak berwarna keputihan yang berbau matahari menyengat. Kulit lengan dan lehernya yang sawo matang tampak berkilat tajam diterpa cahaya siang. Bagi Riyan, hidup sebagai kuli bangunan di kota besar nan dingin seperti Bandung ini ternyata tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk sekadar mengeluh atau bermalas-malasan.

Selama kedua tangannya masih bisa digerakkan dan otot punggungnya belum memberikan sinyal protes keras, dia akan terus menyekop pasir demi lembaran rupiah yang besok pagi akan langsung habis tanpa sisa untuk membayar sewa kontrakan petak dan sebungkus nasi rames karet dua.

"Woi, Riyan! Jangan melamun terus lo! Itu mesin molennya keburu penuh sama semen, nanti macet mesinnya malah dipotong gaji kita!" teriak Jaka, sesama rekan kuli seproyek yang sedang bersandar santai di tiang perancah bambu sambil mengelap jidatnya menggunakan selembar handuk kecil yang sudah berubah warna jadi dekil.

Riyan mendengus pelan, menyeka butiran keringat di pelipisnya dengan punggung tangan kirinya yang kapalan.

"Siapa juga yang melamun, Jak? Gua ini lagi mikir keras sambil ngitung."

"Ini kalau proyek pembangunan apartemen mewah ini beres bulan depan, kira-kira bon warung kopi si Teteh di depan gang bisa lunas total kagak ya? Gua udah diguntingin kertas bon tiga lembar penuh, tahu!"

Jaka langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan polos temannya itu. Suara tawanya yang nyaring bersaing ketat dengan deru bising dari mesin molen di dekat mereka.

"Halah, gaya lu sok-sokan mikirin bon warung segala! Pikirin tuh malam minggu besok, lu mau ngajak jalan-jalan cewek mana? Oh, gua baru ingat, lu kan jomlo abadi dari zaman purba! Mana ada cewek cantik yang mau diajak kencan pakai motor bebek mogok lu itu!"

"Sialan lo, Jak. Mulut lo gak pernah disekolahin apa ya," umpat Riyan sambil melempar segumpal tanah kecil ke arah Jaka, meski dia sendiri akhirnya ikut tersenyum kecut meratapi nasib diri.

Memikirkan urusan pacaran atau mendekati lawan jenis di saat dompetnya lebih tipis daripada selembar tisu basah murahan adalah sebuah kemewahan yang sama sekali tidak masuk akal sehat bagi Riyan. Dia tahu diri, di zaman sekarang, modal cinta saja tidak cukup untuk membayar semangkuk bakso cuanki di pinggir jalan.

Tiba-tiba, dari arah atas lantai tiga struktur proyek bangunan yang tiang-tiang betonnya belum jadi itu, terdengar sebuah teriakan nyaring yang memutus obrolan santai penuh ledekan di antara kedua kuli tersebut.

"Riyan! Jaka! Tolong naikin ember semen yang ini ke lantai atas! Katrolnya udah gua siapin dari tadi!" Itu suara lantang dari Kang Asep, kepala mandor proyek mereka yang terkenal bertampang galak seperti algojo tapi aslinya berhati sangat baik dan sering membelikan rokok eceran.

"Siap, Kang! Meluncur sekarang!" sahut Riyan tidak kalah lantang.

Dia segera meletakkan sekop kayunya di gundukan pasir, lalu melangkah lebar menuju area katrol manual yang terpasang di dekat tiang penyangga bambu utama.

Riyan membungkuk sedikit, meraih tali tambang besar yang terhubung langsung dengan sebuah ember besi berukuran jumbo di atasnya. Ember tersebut sudah terisi penuh oleh adonan semen basah yang tebal, padat, dan sangat berat.

Riyan mulai menarik tali tambang tersebut dengan sekuat tenaga, mengerahkan seluruh sisa energi yang ada di kedua lengan dan bahunya. Urat-urat di lehernya tampak menegang kemerahan seiring dengan terangkatnya ember besi itu perlahan-lahan ke udara, merayap menuju lantai atas.

Namun, baru saja ember besi bermuatan penuh itu mencapai ketinggian sekitar lima atau enam meter dari permukaan tanah, sebuah suara derit besi tajam dan patahan kayu yang sangat keras tiba-tiba terdengar bergaung dari arah langit-langit lantai tiga.

KRAAAKK! PINGGG!

"Riyan! Awas! Melompat, Riyan! Minggir lo dari situ!" teriak Jaka dengan wajah yang mendadak berubah menjadi pucat pasi seperti mayat. Jaka memposisikan dirinya meloncat ke belakang bak sampah.

Riyan mendongak ke atas secara refleks karena terkejut mendengarkan kepanikan temannya. Di detik itulah, seluruh dunianya seolah-olah berjalan dalam mode lambat atau slow motion.

Tepat di atas kepalanya, bukan hanya ember besi berisi semen cair yang terlepas dari cantelan katrol besi yang patah, melainkan sebuah balok kayu penyangga utama berukuran dua meter beserta satu karung semen utuh seberat 50 kilogram yang belum sempat dibuka, meluncur bebas ke bawah tanpa ada halangan.

Jarak jatuhnya terlalu dekat dan terlalu cepat. Tubuh Riyan yang sudah terlanjur kelelahan akibat bekerja keras sejak jam tujuh pagi tadi tidak sempat memberikan reaksi motorik untuk melompat menghindar ke samping. Otaknya menyuruh bergerak, tapi kakinya terasa seperti terpaku di atas tanah berdebu.

BRAKKKK!

Suara hantaman keras dan pekak itu terdengar begitu memilukan di telinga siapa saja yang berada di lokasi proyek. Benturan ujung balok kayu keras itu tepat mengenai ubun-ubun kepala Riyan dengan telak, disusul oleh jatuhnya beban karung semen ratusan kilogram yang langsung merubuhkan bodi kurus Riyan ke atas tanah berdebu yang kering. Debu semen langsung mengepul hebat, menghalangi pandangan.

Kesadaran Riyan langsung limbung. Rasa sakit yang luar biasa dahsyat sempat menjalar di seluruh syaraf tubuhnya selama satu detik penuh, membuat pandangannya memutih, sebelum akhirnya kegelapan total yang sunyi menelan seluruh kesadarannya secara utuh tanpa sisa.

Samar-samar, hal terakhir yang bisa ditangkap oleh indra pendengarannya hanyalah teriakan histeris dari Jaka, bentakan panik Kang Asep dari atas, dan derap langkah kaki panik puluhan orang seproyek yang berlarian mendekat ke arah tubuhnya yang terkapar, sebelum semuanya benar-benar berubah menjadi sunyi senyap.

Saat Riyan pertama kali membuka kelopak matanya kembali dengan sangat perlahan, hal pertama yang singgah dan mengganggu indra penciumannya adalah bau menyengat dari zat kimiawi, karbol, dan obat-obatan medis yang sangat khas.

Dia mengerjapkan matanya beberapa kali secara berurutan, mencoba menyesuaikan penglihatannya yang masih agak kabur dengan intensitas cahaya lampu neon putih yang bersinar terang tepat di atas kepalanya.

Langit-langit di atasnya terbuat dari papan gipsum putih bersih tanpa noda, sangat berbeda jauh dengan pemandangan langit-langit tripleks bocor penuh bekas air hujan yang ada di kamar kontrakannya.

1
adib
oke. alur awal terlalu cepat.. jadi nggak berasa .. tp udah cukup unik jalur ceritanya
Bang Haji
Kalo bikin cerita pake otak dong ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!