Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
Sementara Violet masih membeku, tubuhnya tiba- tiba terasa lunglai.
Dia benar -benar dibuat terkejut perihal fakta Yohan yang baru saja dikatakan oleh Romeo.
Fakta perihal Yohan yang sebelumnya sudah lulus S3, sengaja sekolah disini untuk mengejarnya.
Dia kita Yohan hanya main-main seperti yang lain, karena tidak gigih Felix saat mengejarnya.
Violet tiba-tiba merasa bodoh, karena tidak menerima cinta tulus dari Yohan dan malah memilih cinta palsu dari Felix yang pada akhirnya membuat dirinya rugi.
'Penyesalan kenapa harus selalu datang terlambat?' pikir Violet dalam hatinya.
Dia menatap Romeo lalu bergantian menatap ke arah Yohan.
Keduanya terlihat saling adu argumen, tapi Violet merasa hening.
Dan tak berselang lama dia kembali pingsan, karena sebenarnya tubuhnya belum begitu pulih pasca melahirkan.
***
Mata Violet terbuka perlahan setelah mencium bau desinfektan yang menyengat.
Setelah kedua bola matanya membuka sempurna pandangannya pada selang infus yang melilit pergelangan tangannya.
Kepalanya terasa berat, namun itu tidak menghalangi kejutan yang ia rasakan saat melihat sosok laki-laki tampan duduk di samping tempat tidurnya, terbalut sinar matahari yang masuk melalui jendela.
Yohan, dengan rambutnya yang sempurna dan tatapan yang hangat, menghampiri sambil tersenyum.
"Vio... Kamu sudah sadar?" suara Yohan lembut, namun terdengar khawatir.
Suara Yohan yang memanggil namanya begitu akrab ditelinga sangat tidak asing.
Violet mengangguk pelan, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk berbicara.
"Yohan, kenapa kamu melakukan semua ini?"
"Melakukan apa?" Jawab Yohan.
"Kamu itu pewaris tunggal keluarga Draken yang berkuasa di kota ini. Bahkan kamu sudah lulus S3 jalur khusus, kenapa malah sekolah lagi dan menyamar sebagai murid SMA Taruna dan selalu berada di kelas yang sama denganku?" tanya Violet, rasa penasarannya bercampur dengan rasa sakit yang masih tersisa.
Akhirnya Violet teringat, jika nilai Yohan selama ini terlihat biasa saja.
Dengan kemampuannya yang sudah lulus S3 seharusnya pelajaran SMA Taruna sangat mudah bukan?
Yohan menghela napas, matanya menunjukkan semburat kesedihan sebelum dia menjawab.
"Karena kamu, Violet. Semua ini aku lakukan karena kamu. Aku ingin mengenal kamu lebih dekat, ingin melindungi kamu tanpa membuat kamu merasa terbebani."
Yohan menggenggam tangan Violet yang tidak terpasang infus, matanya tidak berkedip, penuh dengan ketulusan.
Violet terdiam, menatap Yohan dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Aku gak ingin memaksamu, melihatmu begitu menyukai Felix. Aku gak bisa memaksamu dan membuatmu merasa gak nyaman," kata Yohan lagi dengan kata yang halus.
"Tapi melihat akhirnya Felix merusak mu, sungguh aku merasa kalah dan semakin merasa bersalah padamu Violet, tapi sekarang aku berjanji akan membahagiakanmu."
Di satu sisi, dia terharu dengan pengorbanan Yohan, namun di sisi lain, dia merasa dikhianati karena telah didekati dengan kedok yang bukan diri Yohan yang sebenarnya.
"Vio, aku mohon pengertianmu. Aku tidak memiliki niat buruk. Semua yang aku lakukan adalah untuk menjagamu," lanjut Yohan, suaranya bergetar menahan emosi.
Violet menatap Yohan, mencoba memproses segala informasi dan perasaan yang kini menghujam jantungnya.
Dia tahu dia membutuhkan waktu untuk memaafkan dan memahami semua kejadian ini, tetapi melihat keikhlasan di mata Yohan, mungkin saja suatu hari nanti dia bisa.
"Menjagaku? Tapi apakah perlu melakukan hal sampai sejauh ini?" tanya Violet.
Yohan mengangguk, netranya masih menatap ke arah Violet.
"Perlu," sahut Yohan singkat, dia sebenarnya adalah pribadi yang irit bicara.
"Kenapa? Kamu sampai berkorban sejauh ini." Violet berbicara dengan wajah murung.