Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 Gengsi
"Kenapa ini sulit sekali berdirinya!" Zivanna mulai marah ketika sejak tadi berusaha untuk menancapkan kayu runcing sebagai penopang dari tali yang akan dia gunakan untuk menjemur pakaian.
"Seumur hidup hal seperti ini tidak pernah aku lakukan, dan sekarang harus melakukan hal-hal yang aneh," ucapnya terus mengoceh.
"Seharusnya bagian lebih runcing ditanamkan di bagian bawah dan bukan sebaliknya!" suara tersebut membuat Zivanna menoleh.
Ada seorang pria, memakai seragam tentara terlihat mengomentari pekerjaannya yang salah.
Pria tersebut melangkah menghampiri Zivanna.
"Bagaimana mungkin ini bisa tertancap, jika Dokter meletakkan secara terbalik," ucapnya mengambil kayu tersebut dan justru mengambil Zivanna.
Tidak membutuhkan waktu lama dan tidak harus mengoceh, kayu itu akhirnya tertancap dan bahkan pria tersebut juga menancapkan kayu yang satunya lagi dan mematangkan tali sehingga jemuran yang diinginkan Zivanna sudah dapat digunakan.
"Simple bukan!" ucapnya dengan sedikit menyombongkan diri.
"Wanita dan pria memiliki kelebihan yang berbeda, ini bukan pekerjaan wanita dan sudah pasti sangat mudah untuk kamu kerjakan," ucap Zivanna ternyata tidak menerima pekerjaan laki-laki tersebut dan masih mencari pembelaan.
"Benarkah, tetapi Dokter bisa melakukannya jika menggunakan trik yang benar dan tanpa harus melihat jenis kelamin," ucap pria itu.
"Kamu seorang tentara, hidup di dalam hutan bahkan mungkin sudah sering kamu lakukan dan hal-hal seperti ini sudah sangat pasti sepele kamu kerjakan!" tegas Zivanna tetap saja tidak mau kalah.
"Baiklah, kita abaikan saja permasalahan dalam mendirikan jemuran ini, yang terpenting sekarang jemuran ini sudah terpasang dan Dokter sudah bisa menggunakannya,"
"Saya senang dengan kedatangan rekan-rekan baru di desa ini. Perkenalkan saya Azka!" pria tersebut mengulurkan tangannya.
"Kami sudah 1 bulan berada di desa ini, menggantikan tim yang sebelumnya, sama seperti rekan Dokter yang datang saat ini juga pasti digantikan rekan Dokter yang lain," ucap pria itu ternyata tampak ramah.
"Zivanna," jawabnya ikut memperkenalkan diri tanpa menyambut uluran tangan pria tersebut.
"Dokter Zivanna," sahut Azka dengan mengangguk-anggukan kepala.
Tiba-tiba mata Aska melihat ke arah punggung jari-jari tangan Zivanna yang ternyata masih memakai cincin pernikahannya.
"Dokter ternyata sudah menikah," ucapnya bisa menduga-duga.
Zivanna mengurutkan dahi dan menyadari perhatian pria tersebut terletak pada jari yang memakai cincin tersebut.
"Ya benar," jawab Zivanna ternyata tidak menyembunyikan identitasnya.
Selama di rumah sakit memang tidak ada yang menanyakan dirinya kenapa tiba-tiba memakai cincin, jadi Zivanna tidak perlu menjawab ini dan itu dan saat ini baru pertama kali ada orang yang menanyakan dan bahkan menebak statusnya. Zivanna bahkan tidak panik dan menjawab begitu saja.
"Lalu suaminya tidak ikut?" tanya Azka.
"Sudah tiada dimakan oleh keserakahannya," jawabnya dengan ketus membuat Aska tercengang dengan kaget.
"Maksud Dokter bagaimana?" tanyanya.
"Itu tidak penting, ujung-ujungnya orang yang serakah akan tetap mati dan mati mengenaskan!" tegas Zivanna.
Zivanna sepertinya sangat kesal dan langsung pergi begitu saja dari hadapan Azka.
"Apa maksud Dokter itu? Apa dia sekarang janda, suaminya sudah meninggal, lalu benarkah matinya tidak wajar?" Aska ternyata cukup serius menanggapi pernyataan Zivanna.
"Astaga, sungguh kasihan sekali dia, pantas saja nada berbicaranya seperti itu dan pasti ada luka mental yang ditimbulkan atas kepergian suaminya untuk selama-lamanya," Aska cukup simpati dengan menutup mulutnya, benar-benar memperlihatkan prihatin kepada Zivanna atas ucapan yang sembarangan dia lontarkan dari mulutnya.
*****
Jakarta.
Jika Zivanna sudah sampai di lokasi tempatnya menjadi relawan, sudah menghadapi beberapa hal dan sementara Dikta baru saja pulang ke rumahnya, kamar terasa sepi, tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada, pada meja rias pada tempat-tempat di mana biasanya istrinya selalu saja ada.
Tidak lepas kamar itu menjadi pendengar dan saksi keributan yang terjadi di antara pasangan itu, hanya keduanya tertidur yang membuat kamar itu benar-benar penuh dengan keheningan.
"Apa dia sudah sampai," batin Dikta tiba-tiba saja penasaran dengan keadaan istrinya.
Dikta mengeluarkan ponsel, tangan itu mulai membuka kontak pada WhatsApp, Zivanna yang tertulis pada kontak tersebut rasanya ingin sekali dia menelepon, tetapi benteng gengsi masih berdiri kokoh pada dirinya sehingga tidak jadi melakukan hal itu.
Tetapi tetap saja Dikta penasaran dan ingin melakukannya lagi. Sampai akhirnya Dikta mengirim mengetik pesan cukup panjang kepada istrinya.
Zivanna saat ini baru saja selesai mandi, jangan tanya bagaimana untuk mendapatkan air bersih di tempat itu, mereka harus mandi ke sungai yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka.
Zivanna menyempatkan diri untuk keramas dan saat ini duduk di pinggir ranjang yang pasti sangat ekonomis. Zivanna duduk dan mengambil ponselnya.
Zivanna memeriksa ponsel yang sejak awal dia sampai ke tempat itu dan belum pernah memegang ponselnya sama sekali. Zivanna langsung melihat pesan yang masuk.
..."Zivanna, selamat menjalankan tugas kamu. Aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini, kamu adalah temanku yang sangat berjuang dalam hal apapun dan terus memberikan semangat. Semangat Zivanna! Di sini aku bersama Dikta akan selalu mendoakan kamu dan semoga saja tidak ada pertengkaran diantara kami" Zivanna ternyata mendapatkan pesan dari Nayla yang mungkin saja dikirim Nayla sudah cukup lama karena mengalami terkendala pada sinyal di lokasi tersebut sehingga pesan itu baru sampai....
Zivanna hanya membalas pesan tersebut.
..."Sama-sama," jawabnya dengan singkat....
"Kenapa juga harus mengirim pesan seperti ini kepadaku? Membawa-bawa nama Dikta segala lagi, apa peduliku jika kalian bertengkar dan adanya keburukan dalam hubungan kalian, terserah kalian mau melakukan apapun," ucap Zivanna.
Zivanna kembali memeriksa ponselnya, tidak ada panggilan yang tidak terjawab dari orang tuanya, tidak ada pesan yang didapatkan dari orang tuanya.
"Benar-benar tidak peduli kepadaku. Mama dan Papa juga tidak menanyakan apakah aku sudah sampai apa tidak ada apa lagi dia, mungkin saja dia mengharapkan aku tidak sampai dan jatuh dari helikopter dan tidak akan kembali ke Jakarta lagi," oceh Zivanna semakin kesal saat orangnya dimaksudkan tak lain adalah Dikta.
Dikta ternyata masih gelisah di kamarnya, bagaimana tidak pesan yang dia kirim ternyata tidak terkirim dan terus saja gagal.
"Apa mungkin koneksi di sana tidak baik!" ucap Dikta menghela nafas.
Padahal ingin basa-basi sedikit pada istrinya melalui pesan dan ternyata alam tidak mendukung mereka dan alam lebih mendukung mereka untuk terus salah paham dan memperbesar kebencian masing-masing.
Dikta hanya menghela nafas, berharap pesan itu bisa sampai pada sang istri. Walau di ujung desa sana Zivanna sudah menuduh suaminya yang tidak-tidak.
Bersambung....