TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOXIC AND CONTROL`* *`BAB 1: DUA SISI KINARA`*
*`TOXIC AND CONTROL`*
*`BAB 1: DUA SISI KINARA`*
Bagi Kinara Jose, jam istirahat adalah waktu yang paling dihindarinya di SMA Garuda Nusantara.
Di saat murid-murid lain berbondong-bondong ke kantin untuk pamer barang bermerek, Kinara memilih tetap diam di sudut kelas. Dia menunduk, membiarkan rambut hitamnya yang sengaja diikat asal-asalan menutupi sebagian wajahnya. Di atas hidungnya, bertengger sebuah kacamata dengan lensa super tebal.
Sebenarnya, mata Kinara normal. Dia tidak minus ataupun silinder. Kacamata tebal itu hanyalah topeng besi yang dia pakai sengaja agar matanya terlihat kecil, aneh, dan membuat wajah cantiknya tersembunyi sempurna.
Menjadi tidak terlihat adalah cara terbaik untuk bertahan hidup di sekolah elit ini. Dia di sini hanya untuk belajar, mempertahankan beasiswanya, lalu pulang. Tidak kurang, tidak lebih.
---
"Kinara?"
Sebuah suara bariton yang ramah memecah keheningan kelas dua yang mulai sepi. Kinara mendongak.
Di depannya berdiri Randy, kakak kelas tingkat tiga sekaligus kapten tim basket. Wajahnya tampan, murah senyum, dan selalu memancarkan aura hangat.
Randy meletakkan sekotak susu cokelat hangat dan sebungkus roti isi daging di atas meja Kinara. "Buat kamu. Tadi aku lihat kamu enggak ke kantin. Kamu pasti belum makan siang, kan?"
"Kak Randy, ini—"
"Dimakan, ya. Aku duluan," potong Randy cepat sambil mengedipkan sebelah mata, lalu pergi sebelum Kinara sempat mengembalikan makanan itu.
Kinara menghela napas berat. Dia sama sekali tidak tertarik dengan romansa sekolah. Kepalanya sudah terlalu penuh memikirkan biaya rumah sakit ibunya yang menumpuk.
Baru saja dia hendak memasukkan susu itu ke dalam tas, sebuah bayangan besar tiba-tiba menggelapkan mejanya.
Jena, siswi paling vokal di kelasnya, sudah berdiri di sana. Wajahnya merah padam menahan dongkol karena melihat interaksi Randy dan Kinara tadi.
Tanpa peringatan, Jena menyambar kotak susu dari meja Kinara, meremasnya dengan kasar, lalu...
Plak!
Cairan cokelat pekat itu disiramkan tepat ke atas rok abu-abu Kinara. Noda basah yang lengket langsung menyebar luas, mengotori kain bersih tersebut. Seisi kelas yang tersisa langsung menoleh, beberapa di antaranya mulai berbisik sambil menertawakan Kinara.
"Dasar cewek jelek! Berani-beraninya kamu goda Kak Randy!" makian Jena menggema, telunjuknya hampir menyentuh hidung Kinara.
"Kaca diri dulu dong! Murid miskin bermuka cupu kayak kamu enggak pantes deket-deket sama cowok populer!"
Kinara menatap roknya yang kini basah kuyup dan lengket. Alih-alih menangis atau membalas dengan teriakan, dia justru menarik napas dalam-dalam.
Dengan gerakan tenang, dia berdiri, membetulkan letak kacamata tebalnya, lalu menatap Jena datar tanpa rasa takut sedikit pun.
"Aku tahu aku jelek," ucap Kinara, suaranya terdengar sangat tenang namun dingin. "Jadi, harusnya kamu tidak perlu merasa terancam. Kamu tidak perlu takut aku akan merebut Kak Randy-mu itu."
Sebelum Jena sempat membalas karena merasa diremehkan, Kinara sudah melangkah pergi. Dia memegang roknya yang basah, berjalan cepat menuju toilet perempuan di ujung koridor untuk membersihkan diri.
---
Di dalam toilet yang sepi, Kinara menyalakan keran wastafel. Dia menggosok noda cokelat di roknya dengan sapu tangan, mencoba menghilangkan bekas lengketnya.
Rasa kesal menyergap dadanya, bukan karena makian Jena, melainkan karena rok ini adalah satu-satunya seragam yang dia miliki minggu ini. Ibunya sedang sekarat di rumah sakit, ayahnya kabur entah ke mana dengan selingkuhannya, dan dia harus menumpang di rumah Bibi Sinta yang selalu mengungkit-ungkit biaya makan.
Hidup terlalu keras untuk menangisi segelas susu cokelat.
Ah... k-kak, jangan di sini... nanti ada yang lihat...
Kinara seketika menghentikan gerakan tangannya. Suara bisikan yang berat, disusul kekehan rendah seorang laki-laki terdengar dari arah bilik ujung toilet.
Kinara mengernyit tajam. Ini toilet perempuan. Siapa yang berani berbuat mesum di sekolah saat jam pelajaran?
Didorong rasa ingin tahu yang besar, Kinara melangkah pelan tanpa suara. Dia mengintip ke celah lorong yang agak remang menuju bilik paling belakang. Pandangannya terasa buram dan pusing karena lensa kacamata palsunya yang tebal membuat matanya yang sehat sulit fokus di tempat temaram.
Demi memperjelas penglihatan dan memastikan siapa pelakunya, Kinara menurunkan kacamata tebal itu hingga ke ujung hidung. Dia berkedip beberapa kali, membiarkan mata jernihnya menangkap cahaya dengan normal.
Bam!
Di sudut remang itu, seorang cowok jangkung sedang menyudutkan seorang siswi ke dinding, saling bertukar ciuman panas.
Namun, saat kacamata Kinara turun, cowok itu tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Kepalanya berputar cepat ke arah luar bilik.
Detik itu juga, sepasang mata jernih, besar, dan luar biasa indah milik Kinara beradu tatap langsung dengan mata elang milik cowok itu.
Jantung Kinara mencelos sampai ke perut. Seolah seluruh pasokan oksigen di toilet itu mendadak menguap.
Cowok itu adalah Rian Pradifta.
Anak dari pemilik yayasan konglomerat, idola nomor satu di sekolah, sekaligus monster berwajah malaikat yang terkenal toxic, kasar, dan gila kendali. Siapa pun yang berurusan dengan Rian tidak akan pernah berakhir baik.
Bukannya panik karena tertangkap basah, Rian justru melepaskan dekapannya dari siswi itu. Seulas senyum miring yang meremehkan sekaligus penasaran terbit di bibirnya yang basah.
Tatapannya terkunci rapat pada wajah asli Kinara yang luar biasa cantik tanpa penghalang kacamata tebal. Rian seperti baru saja melihat sebuah permata berharga tersembunyi di balik tumpukan lumpur.
Kinara syok setengah mati. Tubuhnya gemetar hebat hingga cengkeramannya melonggar.
Prak!
Kacamata tebalnya lolos dari jari dan jatuh menghantam lantai ubin dengan bunyi nyaring.
Kesadaran Kinara tersentak. Sadar bahwa bahaya besar sedang mengancam eksistensinya, Kinara langsung berbalik, mundur dua langkah, lalu berlari sekencang mungkin meninggalkan toilet tanpa menoleh lagi.
"Kak Rian, kok berhenti? Kenapa dilepas?" tanya siswi di dalam bilik dengan nada manja yang dibuat-buat, merasa tidak puas karena kemesraan mereka terganggu.
Rian tidak menyahut. Matanya masih menatap tajam ke arah pintu toilet yang kosong, tempat gadis misterius tadi baru saja menghilang.
Langkah kakinya yang panjang bergerak perlahan, mendekati benda yang tergelosor di lantai. Rian berjongkok, memungut kacamata dengan lensa tebal yang tertinggal di sana.
"Kamu kenal cewek cantik yang barusan lari?" tanya Rian, suaranya berat, dalam, dan penuh selidik.
Siswi di sampingnya ikut keluar dari bilik, merapikan bajunya yang berantakan sambil mengernyit bingung. "Cewek cantik yang mana, Kak? Perasaan dari tadi enggak ada siapa-siapa. Oh... tapi setahuku, yang pakai kacamata tebal kayak gini cuma anak beasiswa kelas dua, namanya Kinara Jose. Tapi dia cupu, Kak, jelek banget. Enggak ada cantik-cantiknya sama sekali."
Rian memutar-mutar gagang kacamata di tangannya. Senyum misterius yang sarat akan obsesi kembali muncul di wajah tampannya.
`Jelek?` batin Rian menolak keras.
Mata jernih yang menatapnya tadi adalah mata paling indah dan menghipnotis yang pernah dia lihat seumur hidupnya. Rian tahu, gadis itu sengaja memakai benda bodoh ini untuk menipu seluruh sekolah. Dan sekarang, kacamata itu ada di tangannya.
---
Sementara itu di dalam ruang kelas, Kinara duduk bertumpu pada kedua lututnya yang masih lemas dan gemetar. Jantungnya berpacu gila-gilaan seperti habis dikejar setan. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Dengan panik, tangan yang gemetar itu merogoh bagian paling dalam dari tas sekolahnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi kacamata cadangan dengan model yang persis sama. Setelah memakainya, dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya kembali.
"Wah... tadi itu serem banget," bisik Kinara pada dirinya sendiri, meraba dadanya yang masih bergemuruh.
Kinara mengira dia berhasil lolos. Dia sama sekali tidak tahu bahwa siang itu, seekor predator paling berbahaya di sekolah baru saja mencium bau buruannya, dan Rian Pradifta tidak akan pernah melepaskan apa pun yang sudah menarik perhatiannya.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk