1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19 matahari setelah tengah malam
Sinar matahari pagi menyelinap melalui jendela Hotel Karunia.
Untuk pertama kalinya...
Hotel itu tampak seperti bangunan biasa.
Tidak ada lagi lorong yang berubah sendiri.
Tidak ada lagi lift yang berhenti di lantai yang tak pernah ada.
Dan jam tua di lobi kini berdetak normal.
08.00.
Alea membuka matanya perlahan.
Ia berada di halaman depan hotel bersama Naya, Raka, Keanu, Dimas, dan Liora.
Beberapa guru serta peserta study tour berlarian menghampiri mereka.
"Ya Tuhan!"
"Kalian di mana saja semalaman?"
Pak Bima juga berdiri di sana.
Namun kali ini...
Wajahnya tampak jauh lebih tenang.
Ia memandang keenam muridnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan Bapak..."
katanya lirih.
Alea tersenyum.
"Kami sudah memaafkan Bapak."
Pak Bima menundukkan kepala.
Beban yang selama dua puluh tahun menghantuinya akhirnya menghilang.
Beberapa minggu kemudian...
Hotel Karunia resmi ditutup.
Saat proses renovasi dilakukan, para pekerja menemukan sebuah ruang bawah tanah yang selama ini tersembunyi.
Di dalamnya terdapat enam lencana sekolah yang hangus.
Sebuah buku harian.
Dan foto enam siswa yang tersenyum ke arah kamera.
Maya,Riko,Doni,Sinta,Arga,Niko.
Semua barang itu diserahkan kepada keluarga masing-masing.
Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun...
Mereka mendapatkan kepastian tentang orang-orang yang mereka cintai.
Raka akhirnya berbicara jujur kepada ibunya.
Sang ibu menangis sambil memeluknya erat.
Ia mengakui bahwa selama ini ia berbohong demi melindungi Raka dari masa lalu keluarganya.
Di makam Rio, Raka meletakkan bunga putih.
"Aku memang terlambat mengenalmu..."
"Tapi aku bangga punya kakak sepertimu."
Angin bertiup pelan.
Membawa aroma bunga melati.
Entah mengapa...
Raka merasa ada seseorang yang tersenyum di sampingnya.
Alea kembali membuka buku harian Maya.
Seluruh halamannya kini kosong.
Hanya tersisa satu kalimat di halaman terakhir.
«"Terima kasih telah mengantar kami pulang."»
Alea menutup buku itu sambil tersenyum.
Ia tahu...
Mereka semua akhirnya benar-benar telah pergi.
Satu tahun kemudian...
Sekolah mereka kembali mengadakan study tour.
Saat bus melewati bekas lokasi Hotel Karunia...
Bangunan itu sudah tidak ada.
Sebagai gantinya berdiri sebuah taman kecil.
Di tengah taman terdapat sebuah monumen batu.
Di atasnya terukir enam nama:
- Maya
- Rio
- Doni
- Sinta
- Arga
- Niko
Di bagian bawah monumen tertulis:
«"Mereka tidak hilang. Mereka hanya menunggu seseorang yang cukup berani untuk mengungkap kebenaran."»
Alea tersenyum tipis naya menggenggam tangannya.
Keanu, Dimas, Liora, dan Raka berdiri di samping mereka.
Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun.
Mereka hanya memandang langit yang cerah.
Karena mereka tahu...Tidak semua luka bisa dilupakan Tetapi semua luka...Bisa disembuhkan.
Tiga bulan setelah Hotel Karunia diratakan Malam itu hujan turun sangat deras.
Seorang pekerja proyek lembur sendirian untuk merapikan sisa puing bangunan.
Saat sedang memindahkan batu besar, sekopnya mengenai sesuatu yang keras.
Klang!
"Hah?"
Ia berjongkok dan mulai menggali tanah.
Beberapa menit kemudian...Terlihat sebuah kotak besi tua berkarat Kotak itu terkunci rapat.
Di bagian atasnya terukir simbol yang sangat familiar angka 13.
"Isinya apa, ya?"
Pekerja itu mengambil palu dan memukul gemboknya.
BRAK!
Gembok terbuka perlahan ia mengangkat tutup kotak Di dalamnya hanya ada dua benda.Sebuah pena hitam tua Dan...Buku Hitam.
Namun kali ini sampulnya tidak lagi kosong.
Di bagian depan kini tertulis jelas dengan tinta merah.
PERJANJIAN PENJAGA
Pekerja itu membalik halaman pertama Kosong halaman kedua kosong semua halaman kosong Ia menghela napas lega.
"Ternyata cuma buku tua."
Saat hendak menutupnya...
Muncul satu tetes tinta merah dari tengah halaman.
Tik...
Kemudian satu nama mulai tertulis dengan sendirinya Huruf demi huruf muncul perlahan.
Pekerja itu membelalak Karena nama yang sedang ditulis adalah...Namanya sendiri Tangannya gemetar Ia mencoba melempar buku itu Namun buku tersebut tidak bergerak Seolah menempel di telapak tangannya.
Lampu proyek tiba-tiba padam.
Klik...
Suasana menjadi gelap gulita.
Lalu...
Di belakangnya terdengar suara lift berbunyi.
DING...
Padahal...
Hotel itu sudah tidak ada lagi Pekerja itu menoleh perlahan.
Di tengah hujan...
Berdiri sebuah pintu lift tua yang dipenuhi karat.
Di atasnya...
Angka merah itu kembali menyala 13 Pintu lift terbuka perlahan Dari dalamnya terdengar suara seorang anak perempuan tertawa pelan.
Namun...
Suara itu bukan suara Maya,Bukan pula Mira.
Suara itu belum pernah terdengar sebelumnya Lalu sebuah bisikan memenuhi udara.
«"Setiap akhir... hanyalah awal dari perjanjian yang baru."»
DING...
Pintu lift menutup sendiri dan hujan turun semakin deras