Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Kejutan Tengah Ladang
Bilah besi bajak yang dingin menancap lurus ke dalam tanah basah.
Yang Chan memegang kedua gagang kayu alat pembajak itu dengan santai. Udara pagi yang basah membawa aroma tanah gembur ke hidungnya. Ia menarik napas dalam, merasakan sisa energi hangat yang mengalir di dalam nadinya setelah perendaman air spiritual semalam.
Langkah pertamanya dimulai dengan sangat tenang.
Bukan dorongan kasar yang ia lakukan untuk membelah tanah keras itu. Tubuh pemuda itu bergerak dengan keanggunan yang aneh, seolah ia sedang menari. Pinggulnya berputar sedikit, lalu bahunya mengikuti dengan sudut yang sangat presisi dan efisien.
Tanah di depannya mendadak terbelah sebelum mata bajak menyentuh lebih dalam. Pola belahannya begitu lurus dan halus, bersih tanpa ada gumpalan yang tersisa.
Tidak ada bongkahan tanah yang berantakan terlempar ke udara. Semuanya bergeser ke samping dengan tertib, terbagi menjadi dua jalur yang sangat rapi.
Ia tersenyum tipis merasakan aliran energi yang bekerja selaras dengan sekitarnya.
'Teknik ibunya... ternyata bukan sekadar gerakan fisik untuk bertarung,' batin Yang Chan sambil terus melangkah maju tanpa membuang banyak tenaga.
'Ada aliran Qi yang sangat halus di sini. Aliran ini mengatur kepadatan tanah agar tidak pecah berantakan saat menerima tekanan.'
Ia menggeser kaki kanannya ke depan secara perlahan. Gerakannya sangat santai, namun presisi murni dari bakat barunya membuat bajak besi yang berat terasa seperti selembar kertas.
Setiap jengkal tanah yang ia lewati meliuk dengan sempurna. Napasnya teratur, mengalir tenang seirama dengan detak jantungnya sendiri yang stabil.
Konsentrasinya penuh pada pekerjaan kasar ini. Ia seperti sedang tenggelam dalam meditasi mendalam, mengabaikan segala hal lain di sekitarnya.
Dari kejauhan, teras rumah mereka yang sederhana tampak berdiri tenang di bawah bayangan pohon rindang.
Di sana, Yang Wei sedang duduk santai di kursi bambunya. Sebuah cangkir tanah liat berisi teh hangat berada di dalam genggamannya.
Tepat di sebelahnya, Bing Chan menemani dengan melipat kedua tangan di atas meja kayu yang kasar.
Bunyi ketukan pelan terdengar saat Yang Wei meletakkan cangkir tehnya ke atas meja.
Mata Bing Chan yang semula menatap malas ke arah ladang mendadak terpaku pada satu titik. Punggung wanita itu perlahan menegak, kehilangan seluruh kesan santai yang biasa ia tunjukkan.
Ia tidak berkedip sama sekali saat memperhatikan lekuk tubuh anaknya yang sedang mengendalikan bajak tersebut.
"Lihatlah sayang, ia memakai teknik yang kumiliki lebih baik sekarang," bisik Bing Chan dengan nada dingin, tapi wajahnya menunjukkan reaksi sebaliknya.
Yang Wei tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap anaknya dengan muka yang tampak biasa saja.
"Ya, aku tahu, sepertinya dia telah membangkitkan bakat terpendamnya," sahut Yang Wei dengan suara rendah, hampir seperti bisikan angin di sela dedaunan.
"Padahal sebelumnya ia tidak memiliki tanda-tanda seperti akan membangkitkan kekuatannya."
Bing Chan terdiam mendengarnya. Jemarinya yang lentik tampak sedikit mengetuk permukaan meja dengan ritme cepat, mencerminkan isi kepalanya yang berkecamuk.
Kedua orang tua itu kini saling berhadapan. Tatapan mata mereka bertemu dalam keheningan yang sangat pekat di teras depan.
Angin pagi kembali berembus pelan, menggoyangkan dedaunan kering di halaman, namun tidak mampu mencairkan ketegangan yang mendadak mengendap di antara mereka.
Mereka tahu persis arti dari fenomena ini. Arti dari apa yang terbangkitkan dari diri Yang Chan. Meskipun melihat anak itu tampak tidak sadar akan hal itu.
Jiwa Cermin Nirwana. Sebuah kemampuan legendaris yang mampu menyalin dan menyempurnakan teknik apa pun hanya dalam sekali lihat tanpa perlu berlatih puluhan tahun.
Bing Chan menoleh ke arah Yan Wei. Matanya menunjukkan binar.
"Iya, anak kita. Anak yang ditakdirkan dengan karma yang mengenaskan... Telah membangkitkan kekuatannya." ungkap wanita itu, "apakah benar takdir telah mengampuni anak kita?"
"Iya sayang, dan kebetulan ia mendapatkan kemampuan milikmu," ucap Yang Wei, "takdir telah berubah, langit sekali lagi menunjukkan keberkahannya, sesuai apa yang dikatakan hukum langit padaku."
Bing Chan menghela napas pendek, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Pandangannya kembali mengarah ke ladang, menatap punggung tegap anaknya dengan sorot mata protektif yang mendalam.
"Berarti, dia tidak perlu lagi menjalani kehidupan pengasingan, anak kita bisa melanjutkan kehidupan seperti anak normal yang seharusnya," jawab Bing Chan perlahan.
Di ujung ladang, Yang Chan baru saja menyelesaikan baris terakhir dari seluruh tanah yang harus ia bajak.
Ia mengangkat alat bajaknya dengan satu tangan santai, lalu menyeka sedikit peluh yang ada di pelipisnya dengan ujung lengan baju.
Sambil membalikkan badan, ia melemparkan pandangan hangat ke arah teras rumah. Sebuah senyuman tipis yang tulus tersaji di wajah tampannya saat ia melambaikan tangan dengan riang ke arah kedua orang tuanya.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa kehidupannya yang damai baru saja menemui jalan buntu yang tidak terelakkan lagi.
Kedua orang tuanya hanya menatap dari kejauhan tanpa membalas lambaian tangan hangat tersebut, membiarkan keheningan pagi menyelimuti takdir baru yang siap menghadang masa depan mereka.