Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Ajo mengusap wajahnya berkali-kali. "Kalian pulang."
"Tapi,"
"Pulang! Biar aku yang mengurusnya."
Ketiga remaja itu saling berpandangan sebelum akhirnya pergi dengan langkah gontai. Mereka meninggalkan Ajo seorang diri bersama Harapan.
Ajo memandangi wajah anak itu. "Duh... kenapa bisa sampai begini..." Karena panik dan tidak memiliki pengetahuan medis, Ajo menyangka Harapan telah meninggal. Ia tidak menyadari bahwa memastikan seseorang telah meninggal memerlukan pemeriksaan yang semestinya. Dalam kepanikannya, ia mengambil keputusan yang keliru. Ia membawa tubuh Harapan menuju tepian sungai yang tidak jauh dari kebun tebu, berharap perbuatannya dapat menutupi apa yang telah terjadi. Arus sungai mengalir tenang pagi itu. Ajo berdiri beberapa saat di tepinya, napasnya memburu. "Maafkan aku..." Dengan tangan gemetar, ia menurunkan tubuh Harapan ke dalam air.
Beberapa detik berlalu. Tiba-tiba Tubuh Harapan bergerak pelan. Kelopak matanya terbuka. Ia tersedak dan berusaha mengangkat kepalanya ke permukaan. Tangan kanannya meraih apa saja yang bisa dijadikan pegangan.
Ajo terperanjat. "Astaghfirullah... Masih hidup...?"
Harapan yang masih lemah mencoba berbicara, tetapi yang keluar hanyalah batuk dan suara lirih yang nyaris tak terdengar. Ia berusaha merangkak menuju tepian. Melihat itu, Ajo dilanda kepanikan yang lebih besar. Pikirannya kacau. Ia membayangkan akibat dari peristiwa yang baru saja terjadi, dan ketakutan menguasai dirinya.
Dalam keadaan panik dan kehilangan kendali, ia mengambil keputusan yang tragis. Peristiwa berikutnya berlangsung sangat singkat. Ajo memukul kepala Harapan dengan batu, ia juga melempar tubuh anak itu dengan bebatuan besar agar tenggelam. Ketika semuanya berakhir, Harapan tidak lagi bergerak.
Suara sungai kembali menjadi satu-satunya yang terdengar. Ajo terduduk di tepi sungai. Tangannya gemetar hebat. Wajahnya pucat. "Apa yang sudah kulakukan..." Air matanya jatuh.
Ia menatap tubuh Harapan dengan tatapan kosong. Di dalam hatinya, ia sadar bahwa keputusan-keputusan yang lahir dari kemarahan, kepanikan, dan dendam telah membawa akibat yang tidak mungkin diperbaiki.
***
Sidang berlangsung dalam suasana yang mencekam. Setelah pembacaan rangkaian peristiwa dan keterangan para saksi selesai, ruang sidang dipenuhi keheningan. Mida yang sejak tadi duduk dengan kepala tertunduk tak lagi mampu menahan air matanya. Setiap kalimat yang dibacakan terasa seperti mengoyak kembali luka di hatinya. Tangannya gemetar. Napasnya memburu.
Dewi yang duduk di sampingnya mencoba menenangkan. "Mi... sabar."
Namun Mida perlahan berdiri dari kursinya. Air matanya mengalir deras. Seluruh pandangan di ruang sidang tertuju kepadanya. Dengan suara bergetar karena tangis, ia berkata, "Aku tidak rela..." Ia memeluk foto Harapan yang selalu dibawanya. "Aku tidak rela melihat anakku diperlakukan seperti itu." Tangisnya pecah."Demi Allah... aku tidak rela. Dunia maupun akhirat, aku tidak rela."
Ruangan menjadi sunyi.
Mida mengusap air matanya, tetapi suaranya justru semakin tegas. "Demi Allah Yang Maha Adil... Aku bersumpah, jika di dunia ini keadilan tidak ditegakkan sebagaimana mestinya maka pada hari ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Allah, aku akan memohon keadilan kepada-Nya." Ia menatap ke depan dengan mata yang dipenuhi luka dan keyakinan. "Aku akan menuntut setiap orang yang benar-benar bertanggung jawab atas kematian anakku."
"Siapa pun yang terbukti terlibat."
"Siapa pun yang dengan sengaja melakukan kezaliman."
"Dan siapa pun yang menyalahgunakan amanah sehingga keadilan tidak ditegakkan."
Tangis Mida kembali pecah. "Aku hanya seorang ibu. Aku tidak punya harta. Aku tidak punya kekuasaan. Tapi aku percaya Allah Maha Adil. Tak ada satu pun perbuatan manusia yang luput dari pengetahuan-Nya."
Suasana ruang sidang berubah hening. Beberapa orang yang hadir tampak menundukkan kepala.
Fandi, yang masih dalam masa pemulihan, memandang Mida dengan mata berkaca-kaca. Ia memahami bahwa yang berbicara saat itu bukanlah kemarahan semata, melainkan jeritan hati seorang ibu yang kehilangan anaknya.
Ketua majelis kemudian mengingatkan seluruh pihak agar persidangan tetap berjalan dengan tertib dan sesuai hukum.
Mida perlahan kembali duduk. Ia memeluk foto Harapan erat-erat. Dalam hati, ia terus berdoa agar keadilan benar-benar ditegakkan, baik melalui proses hukum di dunia maupun, menurut keyakinannya, melalui keadilan Allah di akhirat. Mida masih terisak setelah kembali duduk di kursinya. Dadanya naik turun menahan sesak. Foto Harapan masih dipeluk erat seakan itulah satu-satunya yang menguatkan dirinya.
Bu Ana, ibu Fandi, yang sejak tadi duduk tidak jauh darinya, perlahan mendekat. Ia menggenggam kedua tangan Mida yang dingin. "Mida."
Mida menoleh. Matanya merah karena terlalu lama menangis. "Aku sudah tidak sanggup lagi, Bu."
Bu Ana mengusap air mata di pipi Mida dengan lembut. "Aku tahu. Tidak ada luka yang lebih dalam daripada kehilangan seorang anak."
Mida kembali menangis. "Aku hanya ingin Harapan mendapatkan keadilan."
Bu Ana memeluk Mida erat. Dengan suara yang tenang, ia berkata, "Mi, menurut keyakinanku, keadilan manusia memang tidak selalu sempurna. Karena itu, jangan gantungkan seluruh harapanmu hanya pada putusan manusia."
Mida mengangkat wajahnya perlahan.
Bu Ana melanjutkan, "Kita tetap berikhtiar memperjuangkan keadilan melalui hukum yang berlaku. Namun, jika ada orang yang lolos dari pertanggungjawaban di dunia...percayalah, tidak ada yang dapat lolos dari pengadilan Allah."
Air mata Mida kembali mengalir. "Apa Allah benar-benar akan mengadili semuanya, Bu?"
Bu Ana mengangguk pelan. "Allah Maha Adil. Tidak ada air mata seorang ibu yang diabaikan-Nya. Tidak ada kezaliman yang luput dari perhitungan-Nya." Ia menggenggam tangan Mida semakin erat. "Karena itu, kamu harus kuat. Jangan biarkan kesedihan menghancurkan dirimu. Teruslah berjuang di dunia dengan cara yang benar. Dan jika masih ada keadilan yang belum kamu rasakan di dunia ini... serahkan semuanya kepada Allah, lalu mintalah keadilan kepada-Nya pada hari ketika seluruh manusia mempertanggungjawabkan amalnya."
Mida memejamkan mata. Ucapan Bu Ana sedikit demi sedikit menenangkan gejolak di dalam dadanya. Ia mengangguk pelan. "Aku akan bertahan. Aku akan terus berjuang."
Bu Ana tersenyum hangat. "Itulah yang pasti diinginkan Harapan. Kamu tetap menjadi ibunya yang kuat."
Di sudut ruangan, Fandi memandangi ibunya dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu, tidak ada kata-kata yang mampu menghapus duka Mida. Namun setidaknya, di tengah perjuangan yang berat itu, Mida tidak lagi memikul bebannya seorang diri.
Persidangan kembali dilanjutkan. Setelah beberapa saksi selesai memberikan keterangan, giliran Gilang dimintai penjelasan mengenai motif di balik perbuatannya. Hakim memandang remaja itu dengan tenang. "Gilang, kami ingin mengetahui alasan mengapa peristiwa ini bisa terjadi. Jelaskan dengan jujur."
Gilang menundukkan kepala. Beberapa saat ia terdiam. Suaranya pelan ketika akhirnya mulai berbicara. "Saya... kesal kepada Harapan."
Hakim kembali bertanya. "Kesal karena apa?"
Gilang mengepalkan tangannya. "Karena kakek saya."
Ruangan menjadi hening. "Kakekmu melakukan apa?"