Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesona Dalam Kesederhanaan
Yeza meletakkan ponselnya, lalu segera beranjak dari kasur. Jarum jam sudah mendekati pukul enam sore. Ia harus bergegas bersiap-siap agar tidak membuat Bram—dan tentu saja Max—menunggunya terlalu lama.
Yeza berdiri di depan lemari pakaiannya yang sederhana. Setelah menimbang-nimbang beberapa gaun yang dirasanya terlalu berlebihan untuk acara makan malam kasual tim, ia akhirnya menjatuhkan pilihan pada gaya yang paling membuat dirinya nyaman.
Ia mengenakan kaos lengan panjang berwarna putih polos bertekstur rajut halus yang pas di tubuh mungilnya, dipadukan dengan celana jeans biru gelap bersiluet straight-cut yang mempertegas kakinya yang jenjang. Rambut hitam sebahunya dibiarkan terurai bebas, hanya dicatok rapi ke dalam di bagian ujungnya agar membingkai wajahnya dengan sempurna.
Yeza hanya memoles wajahnya dengan riasan sangat tipis—sedikit pelembap, maskara untuk melentikkan bulu matanya yang lentik alami, serta lip tint berwarna merah ceri yang membuat bibirnya terlihat segar dan sehat.
Ketika ia bercermin untuk terakhir kalinya, penampilannya benar-benar definisi dari "less is more". Pakaiannya sangat biasa, namun aura kecantikan alami yang terpancar dari wajah bersih, postur mungilnya yang anggun, serta senyuman manisnya membuat siapapun yang melihat pasti akan menoleh dua kali. Memang benar, pakaian sesederhana apa pun akan terlihat luar biasa mewah jika dikenakan oleh orang yang tepat.
Saat Yeza melangkah keluar kamar sambil membawa tas kecilnya, sang ibu yang sedang merapikan meja makan langsung menghentikan kegiatannya. Ibunya menatap anak gadisnya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan binar mata yang bangga sekaligus terharu.
"Anak Ibu cantik sekali," puji ibunya dengan tulus, tangannya mengusap lembut lengan Yeza. "Sederhana begini malah kelihatan anggun, Nduk. Sangat pas untukmu."
"Ibu bisa saja," sahut Yeza malu-malu, pipinya merona merah muda alami tanpa perlu sapuan blush-on.
Tepat pukul setengah tujuh malam, suara klakson mobil yang halus terdengar dari depan gang. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Yeza dari Bram, mengabarkan bahwa ia sudah sampai.
Yeza menarik napas panjang, mencium punggung tangan ibunya dengan takzim untuk berpamitan. "Yeza pergi dulu ya, Bu. Ibu jangan lupa makan malam dan langsung kunci pintunya, ya."
"Iya, Nduk. Hati-hati di jalan. Nikmati malammu," jawab ibunya hangat mengantar Yeza sampai ke pintu depan.
Dengan langkah mantap dan penuh percaya diri, Yeza berjalan menyusuri gang di bawah temaram lampu jalanan. Di ujung gang, mobil MPV hitam mewah milik Max sudah menunggu, siap membawanya masuk lebih dalam ke dunia sang bintang malam ini.
Mobil MPV hitam yang membawa Yeza membelah jalanan malam kota yang mulai padat. Sepanjang perjalanan, Bram sesekali mengajjaknya mengobrol santai untuk mencairkan ketegangan, membuat Yeza merasa jauh lebih rileks. Hingga akhirnya, mobil berbelok memasuki area parkir sebuah kafe berkonsep fine dining yang cukup mewah di bilangan Jakarta Selatan. Tatakan lampu gantung kristal yang hangat terlihat berpendar dari balik jendela kaca besar kafe tersebut.
"Mari, Yeza. Yang lain sudah menunggu di dalam," ajak Bram dengan ramah setelah memarkirkan mobil.
Yeza mengangguk, merapikan kaos putih lengan panjangnya sejenak, lalu melangkah mendampingi Bram. Begitu mereka memasuki area VIP lounge yang telah dipesan khusus, kehangatan kafe menyambut mereka. Di sana, sebuah meja panjang telah dikelilingi oleh sekitar sepuluh orang staf—mulai dari tim publikasi, asisten, hingga beberapa kru inti pemotretan tadi siang.
Namun, langkah Yeza mendadak memelan saat matanya menangkap sosok pria yang duduk di ujung meja tengah tertawa bersama kru lain.
Jefri juga ada di sana.
Rupanya sebagai fotografer utama proyek iklan hari ini, Jefri diundang untuk bergabung dalam perayaan. Kehadiran mantan kekasihnya itu seketika membuat atmosfer ruangan terasa sedikit mencekik bagi Yeza. Ia mencoba mempertahankan senyum profesionalnya, berusaha sekuat tenaga agar tidak terlihat goyah.
Di sisi lain meja, Maxemilian duduk dengan tenang. Penampilannya malam itu tampak kasual namun sangat karismatik dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Sejak pintu VIP terbuka, mata elang Max langsung tertuju pada Yeza. Ia sempat terpaku sejenak melihat penampilan Yeza yang begitu sederhana namun luar biasa manis malam itu.
Namun, fokus Max segera teralihkan oleh hal lain.
Sebagai aktor yang terlatih membaca detail sekecil apa pun dari gerak-gerik manusia, Max menangkap perubahan ekspresi Jefri. Begitu Yeza melangkah masuk, Jefri langsung menghentikan tawanya. Tatapan mata pria itu berubah drastis—ada binar kagum yang tak tertahankan melihat kecantikan kasual Yeza, namun bercampur dengan rasa bersalah yang mendalam dan kecemasan yang tertahan. Jefri bahkan gelisah di kursinya, beberapa kali membenarkan letak jam tangannya sambil terus melirik ke arah Yeza dengan pandangan yang terlalu intens untuk ukuran "hanya menyapa rekan kerja baru".
Tingkah aneh Jefri tidak luput dari pengamatan tajam Max. Rahang sang aktor mengeras tipis. Ia memperhatikan bagaimana Yeza sebisa mungkin membuang muka dan menghindari kontak mata dengan fotografer itu.
Max meletakkan gelas minumannya ke meja dengan ketukan yang cukup terdengar, lalu berdiri dari kursinya.
"Yeza, di sini," panggil Max dengan suara baritonnya yang tenang namun tegas, memecah perhatian semua orang di ruangan. Ia menepuk kursi kosong yang berada tepat di sebelah kirinya—posisi yang paling aman dan paling dekat dengannya.
Mendengar panggilan Max, perhatian seluruh meja langsung teralihkan sepenuhnya kepada Yeza yang baru saja tiba. Begitu gadis itu melangkah mendekati kursi kosong di sebelah Max, beberapa staf wanita dan pria di sana tampak terpana.
Malam ini, di bawah temaram lampu kafe yang hangat, kesederhanaan Yeza justru membuatnya terlihat sangat menonjol. Kulitnya yang bersih berpadu kontras dengan kaos putih rajutnya, dan rambut sebahunya membingkai wajah imutnya dengan begitu manis.
"Wah... luar biasa!" celetuk salah satu staf publikasi wanita dengan heboh. "Max, kamu menemukan MUA secantik dan seimut ini di mana, sih?"
"Iya, benar! Aku pikir tadi dia salah satu model baru atau aktris magang yang mau gabung proyek kita," sahut staf kreatif pria di sebelahnya sambil tersenyum lebar. "Sederhana saja tapi manisnya kelewatan. Halo, Yeza, ya? Salam kenal!"
Pujian yang bertubi-tubi itu langsung membuat pipi Yeza merona merah seperti buah ceri. Ia membungkuk kecil dengan sopan, mencoba menyembunyikan rasa malunya. "Ah, tidak... terima kasih banyak. Salam kenal semuanya, saya Yeza."
Di ujung meja, Jefri hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja. Melihat Yeza yang kini terlihat jauh lebih cantik, dewasa, dan dihargai oleh orang-orang hebat di industri ini membuat dadanya didera rasa sesak yang luar biasa. Penyesalan itu datang menghantamnya berkali-kali lipat lebih keras. Dulu, gadis secantik dan seberbakat ini adalah miliknya.
Max yang menyadari perubahan raut wajah Jefri yang semakin masam diam-diam menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman miring yang misterius. Ia menarik kursi di sebelahnya sedikit lebih lebar, seolah menyambut Yeza masuk ke dalam zona teritorinya.
"Dia bukan untuk jadi model," sahut Max santai, suaranya yang berat langsung mendominasi ruangan dan menghentikan riuh pujian para staf. Ia menatap Yeza dengan tatapan hangat yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. "Sentuhan tangannya terlalu berharga untuk sekadar dipajang di depan kamera. Silakan duduk, Yeza."
Kata-kata Max yang bernada protektif sekaligus penuh sanjungan itu tidak hanya membuat jantung Yeza berdegup kencang, tapi juga membuat para staf saling lirik dan tersenyum menggoda. Bram yang duduk di seberang mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum penuh arti. Malam ini baru saja dimulai, namun ketegangan manis dan dingin di meja itu sudah terasa begitu pekat.