Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhatan Hati
Malam telah melarutkan sisa-sisa kesibukan di kawasan bisnis Sudirman. Jakarta jam sembilan malam masih menyisakan hawa gerah yang memantul dari aspal, berpadu dengan deretan lampu merah buram dari ekor kendaraan yang merayap membelah kemacetan.
Tasya baru saja keluar dari salah satu gedung perkantoran setelah menyelesaikan pertemuan dengan calon klien untuk proyek penerjemahan lepasnya. Menyandang tas ransel kanvasnya, ia berjalan menyusuri trotoar menuju halte TransJakarta terdekat, berniat untuk segera pulang dan mengistirahatkan kepalanya yang pening.
Langkah kaki Tasya mendadak terhenti di dekat sebuah persimpangan lampu merah yang cukup ramai. Di seberang jalan, di bawah temaram lampu merkuri yang agak berkedip, ia melihat sesosok pria yang siluetnya terasa tidak asing.
Pria itu mengenakan kemeja kantoran yang lengannya digulung asal, dasinya sudah dilonggarkan, dan jasnya tersampir lesu di pundak kirinya.
Devan? batin Tasya meyakinkan diri, ia menyipit matanya. Benar, itu Devan pacar Laila.
Namun, kondisi Devan saat ini tampak sangat mengerikan. Tatapan mata pria itu lurus menatap kosong ke depan, seolah jiwanya tidak sedang berada di dalam raganya. Langkah kakinya gontai, terseret-seret tanpa arah.
Ketika lampu penyeberangan jalan masih menyala merah untuk pejalan kaki, Devan justru melangkah turun dari pembatas trotoar, masuk ke jalur aspal yang sedang ramai.
"Devan! Jangan menyeberang!" teriak Tasya spontan. Namun, suaranya langsung tenggelam oleh deru mesin bus kota.
Dari arah kanan, sebuah mobil sedan putih melaju dengan kecepatan cukup tinggi, mencoba mengejar sisa lampu hijau yang berkedip. Pengemudi mobil itu berulang kali membunyikan klakson dengan nyaring, membelah malam.
Namun, Devan sama sekali tidak menoleh. Ia tetap berjalan dengan tatapan kosong, seolah-olah suara klakson bernada peringatan maut itu hanyalah embusan angin lalu.
Jarak mobil dan tubuh Devan hanya tinggal beberapa meter saja.
"DEVAN!!"
Tasya tidak berpikir dua kali. Instingnya mengambil alih. Ia berlari kencang, melompat turun dari trotoar, dan dengan sekuat tenaga menarik bagian belakang jas Devan yang tersampir di pundaknya, menyeret tubuh pria itu mundur ke belakang tepat sesaat seblum mobil sedan putih itu melesat lewat dengan suara decitan rem yang memekakkan telinga.
Sreeeeet!
"Woi! Kalau mau mati jangan di jalanan, bikin susah orang aja!" teriak si pengemudi mobil dari balik jendela yang terbuka sekilas sebelum kembali memacu kendaraannya dengan emosi.
Tasya terduduk di atas pembatas jalan yang agak berdebu, napasnya memburu hebat, jantungnya berdegup kencang. Tangan kanannya masih mencengkeram erat jas Devan. Sementara itu, Devan terhuyung dan jatuh terduduk di sampingnya. Pria itu berkedip beberapa kali, seolah baru saja dibangunkan paksa dari mimpi buruk yang sangat panjang.
"Tas... Tasya?" gumam Devan lirih, menatap gadis di sebelahnya dengan tatapan bingung yang sangat kentara.
Tasya membetulkan letak kaca matanya yang sempat miring dengan tangan yang masih gemetar. Ia menatap Devan dengan campuran rasa marah dan ngeri.
"Lo gila ya, Van! Lo hampir mati ditabrak mobil tadi, lo kalau ada masalah jangan kayak gini dong, jangan bikin nyawa lo jadi taruhannya," ucap Tasya dengan nada tinggi.
Devan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia melihat ke arah telapak tangannya yang sedikit tergores aspal. Alih-alih merintih kesakitan karena luka fisik atau syok karena hampir tertabrak, Devan justru melepaskan sebuah tawa kecil yang sangat getir. Sebuah tawa yang terdengar begitu hampa dan meletupkan keputusasaan yang pekat.
"Mati ya?" bisik Devan, suaranya bergetar hebat.
"Mungkin kalau tadi gue ketabrak... rasanya gak bakal lebih sakit daripada apa yang gue rasain di dalam sini dari kemarin, Sya." Devan memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan, tepat di bagian jantungnya.
Melihat kehancuran yang begitu nyata pada sosok di depannya, kemarahan Tasya seketika menguap, digantikan oleh rasa iba yang mendalam. Sebagai sahabat Laila, Tasya tahu betul bagaimana rumitnya benang kusut yang mengikat mereka bertiga saat ini.
Tasya bangkit berdiri, menepuk-nepuk debu di celananya, lalu mengulurkan tangan pada Devan. "Ayo berdiri. Gak jauh dari sini ada kedai kopi 24 jam yang agak sepi. Lo butuh duduk, dan lo butuh tempat buat numpahin semua ini sebelum otak lo bener-bener meledak," ajak Tasya.
Kedai kopi di sudut jalan itu hanya diisi oleh beberapa pengunjung malam. Mereka memilih meja di pojok luar, di bawah naungan pohon peneduh yang diterangi lampu taman bercahaya kuning temaram.
Tasya memesan dua cangkir kopi hitam hangat. Setelah pelayan meletakkan pesanan dan pergi, Devan hanya menatap permukaan kopinya yang hitam pekat, memantulkan bayangan wajahnya sendiri yang tampak sangat tirus dan memiliki lingkaran hitam tebal di bawah mata.
"Gue gak tahu harus gimana lagi, Sya," Devan membuka suara tanpa diminta, suaranya serak dan pelan, bersaing dengan suara desir angin malam Jakarta.
"Dua hari ini di kantor, gue gak bisa kerja sama sekali. Gue tanda tangan berkas tanpa gue baca. Gue rapat tapi otak gue gak tahu ada di mana. Setiap kali gue merem, gue cuma bisa ngeliat Laila yang lagi jalan ke pelaminan sama cowok lain. Dan yang paling membunuh gue... gue gak punya hak sedikit pun buat marah atau narik dia pulang."
Devan mencengkeram cangkir kopinya hingga buku-buku jarinya memutih, mencari kehangatan fisik untuk mengusir rasa dingin yang membekukan hatinya.
"Gue tahu pernikahan itu demi Papinya yang sakit. Gue tahu Laila terpaksa. Tapi fakta bahwa dia sekarang serumah sama cowok itu, di bawah atap yang sama, itu bikin gue gila, Sya. Pikiran-pikiran buruk itu selalu datang tiap malam. Apakah Laila mulai terbiasa sama cowok itu? Apakah cowok itu menyentuh dia? Gue ngerasa kayak pecundang paling besar di dunia ini karena cuma bisa nunggu kayak orang bodoh."
Tasya mendengarkan setiap bait keluh kesah Devan dengan seksama tanpa sekali pun memotong. Ia membiarkan pria itu memuntahkan seluruh racun emosional yang menyumbat dadanya. Sebagai orang luar yang berdiri di perbatasan konflik ini, Tasya bisa melihat dengan jelas bagaimana cinta telah bertransformasi menjadi rantai yang menyiksa Devan.
"Devan," panggil Tasya lembut setelah Devan terdiam dengan napas yang agak memburu. "Siang tadi, gue baru aja dari rumah Arjuna. Gue ketemu Laila."
Mendengar nama Laila disebut, Devan langsung mendongakkan kepalanya, matanya yang redup mendadak memancarkan secercah harapan yang sangat rapuh.
"Laila... dia gimana, Sya? Dia baik-baik aja kan? Dia nangis? Dia... dia ada ngomongin gue?" tanya Devan berturut-turut dengan nada gemetar.
Tasya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menenangkan. "Dia baik-baik aja secara fisik, Van. Rumah Arjuna itu cukup bagus dan sangat aman buat Laila tingali. Tapi kalau lo nanya soal hatinya, Laila itu masih Laila yang sama yang lo kenal. Dinding pertahanannya masih sekokoh baja. Tahu gak apa yang dia lakuin begitu sampai di rumah itu?"
Devan menggeleng pelan, menanti kalimat Tasya dengan jantung yang berdegup kencang.
"Dia langsung ngeklaim kamar lantai dua sebagai wilayah privatnya sendiri. Dia ngusir Arjuna buat tidur di kamar lantai bawah. Dan dia ngunci pintunya dari dalam," cerita Tasya, memberikan fakta yang sengaja ia sampaikan untuk menenangkan badai cemburu di kepala Devan.
"Di kamar atas itu, dia nyimpen hadiah dari lo. Pembatas buku perak itu, Van. Dia taruh di tempat paling aman di nakasnya. Dia bahkan nangis pas baca surat dari lo setelah seharian akting pasang wajah dingin di depan suaminya."
Mendengar cerita itu, Devan merasakan ada sesuatu yang hangat yang perlahan mencairkan kebekuan di dadanya. Air matanya menetes pelan, namun kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa lega yang teramat sangat. Laila masih berjuang. Laila tidak mengkhianati janji mereka.
Tasya menyesap kopinya sedikit, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Devan dengan tatapan mata seorang sahabat yang bijaksana.
"Van, gue paham banget rasa hancur lo. Gak ada satu pun cowok di dunia ini yang bakal kuat nemuin posisi lo sekarang. Tapi lo harus sadar satu hal," kata Tasya, nadanya berubah menjadi tegas namun tetap bersahabat.
"Janji satu tahun yang lo bikin sama Laila itu bukan cuma sekadar hitungan hari di kalender. Itu adalah ujian ketahanan mental buat kalian berdua. Kalau lo di sini hancur-hancuran, nyaris ketabrak mobil, gak fokus kerja sampai performa lo di kantor turun, apa yang bakal lo tawarin ke Laila pas satu tahun itu selesai?"
Devan tertegun, menatap Tasya dengan mata yang masih basah.
"Laila itu nekat ngambil risiko nerima perjodohan ini demi menjaga kesehatan Papinya, tapi dia juga punya rencana buat masa depan kalian. Siang tadi, dia sibuk ngelamar lowongan kerja di Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Dia ngerencanain masa depan yang baik ketika nanti kembali sama lo setelah kondisi Papinya stabil," lanjut Tasya, membeberkan rencana masa depan Laila.
"Dia di sana berjuang pake caranya sendiri, Van. Dia pasang wajah tembok tiap hari di depan suaminya cuma buat menjaga hatinya tetap utuh buat lo."
Tasya memajukan badannya sedikit, menatap Devan tepat di manik matanya. "Jadi, kalau Laila di sana berjuang sekuat itu, lo di di sini gak boleh kalah, Van. Jangan biarin diri lo hancur karena pikiran-pikiran buruk lo sendiri. Cowok bernama Arjuna itu, dari apa yang gue liat, dia memang tengil dan suka bercanda, tapi dia punya wibawa dan respek.
Dia tahu batasan. Dia gak bakal maksa Laila kalau Laila-nya gak mau. Lo harus percaya sama Laila, dan lo harus percaya sama kekuatan hubungan yang udah kalian bangun bertahun-tahun."
Kata-kata Tasya malam itu bekerja seperti obat penawar racun yang manjur di dalam tubuh Devan. Kalimat-kalimat itu menata kembali kepingan-kepingan jiwanya yang sempat berhamburan tak tentu arah akibat kepanikan dan cemburu buta. Fokusnya yang sempat hilang kini perlahan-lahan mulai ditarik kembali ke poros yang benar.
Devan menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan dari mulutnya. Udara malam Jakarta yang gerah mendadak terasa sedikit lebih bersahabat. Beban di dadanya belum sepenuhnya hilang dan tidak akan pernah hilang sampai Laila kembali ke pelukannya. Namun setidaknya, kini ia tahu bahwa ia tidak sedang berjalan sendirian di kegelapan.
"Makasih ya, Sya," ujar Devan dengan suara yang jauh lebih stabil dan berenergi daripada sebelumnya. Ia mengusap sisa air mata di pipinya dengan ujung lengan kemeja.
"Kalau tadi gak ada lo, gue mungkin udah ada di rumah sakit sekarang, atau lebih buruk lagi. Dan makasih buat info tentang Laila. Itu berarti banget buat gue."
"Sama-sama, Van. Itulah gunanya temen," balas Tasya sambil tersenyum lebar, menepuk lengan Devan dengan gaya santai.
"Tapi inget ya, ini utang nyawa. Besok-besok kalau lo sukses bawa Laila balik ke sisi lo setelah satu tahun, lo harus traktir gue makan steak premium sepuasnya di restoran paling mahal di Senopati. Gak mau tahu!"
Devan akhirnya bisa melepaskan sebuah tawa kecil yang tulus, sebuah tawa nyata pertama yang muncul di wajahnya sejak hari akad nikah Laila.
"Siap. Jangankan steak premium, satu restoran beserta koki-kokinya bakal gue sewa buat lo, Sya."
Malam itu, di bawah temaram lampu kedai kopi di sudut Jakarta, Devan akhirnya meminum kopi hitamnya yang sudah mulai mendingin dengan perasaan yang jauh lebih tenang.
Janji satu tahun itu kini tidak lagi terasa seperti vonis hukuman mati yang menyiksa, melainkan sebuah garis finis dari sebuah perlombaan ketahanan mental yang harus ia menangkan dengan kepala tegak.
Ia akan kembali ke kantor besok pagi, merapikan berkas-berkasnya, dan bekerja dua kali lebih keras demi membangun fondasi masa depan yang kokoh untuk menyambut kembalinya Laila.
...Bersambung......