ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Dua hari setelah serangan asma mereda, Adelia sudah diperbolehkan bergerak bebas di dalam rumah, meski Gyantara berpesan agar jangan terlalu lelah. Pagi itu, saat Gyantara sedang rapat di kantor dan Rama ikut mendampinginya, sebuah mobil hitam meluncur masuk ke halaman kediaman itu. Adelia yang sedang menyiram tanaman di teras belakang tertegun melihat siapa yang turun—orang tuanya, Adam dan Belinda Yhosep.
Ia segera menyeka tangan di celemek, berusaha menyambut mereka dengan sopan, meski hatinya sudah berdebar tidak tenang. Selama ini mereka jarang berkunjung tanpa alasan mendesak, dan Adelia tahu betul bahwa kedatangan mereka pasti membawa kabar yang tidak menyenangkan.
"Adelin... eh, Adelia," tegur Adam dengan nada singkat dan dingin begitu masuk ke ruang tamu. "Kamu duduklah. Kami ada hal penting yang harus dibicarakan."
Adelia duduk di ujung sofa, menekuk tangannya di pangkuan dengan gelisah. "Ada apa, Pa, Bu? Apakah ada masalah di rumah?"
Belinda langsung meletakkan tas tangannya di meja dengan kasar, wajahnya tampak tegang dan cemas. "Ada masalah besar, tentu saja! Utang bunga bank harus dibayar minggu depan, dan pembayaran proyek baru belum cair. Kalau kami tidak punya uang secepatnya, aset terakhir kami akan disita. Kamu harus membantu kami."
Mata Adelia melebar. "Membantu bagaimana? Aku kan tidak punya uang. Selama ini aku tidak pernah bekerja dan tidak punya tabungan apa pun."
"Kamu tidak perlu bekerja!" potong Adam keras. "Kamu sekarang istri Gyantara Raharja! Kamu tinggal minta saja padanya. Bilang butuh uang untuk keperluan keluarga, atau bilang ada keperluan mendadak. Berapa pun yang kamu minta, pasti dia berikan. Dia tidak akan menolak istrinya sendiri."
Kata-kata itu membuat tubuh Adelia terasa lemas. Ia menunduk dalam, menatap lantai. "Tidak bisa begitu, Pa. Aku tidak bisa sembarangan meminta uang pada Mas Gyantara. Apalagi aku sedang menipunya dengan menyamar sebagai Kak Adelin. Bagaimana kalau dia tanya untuk apa, atau bagaimana kalau dia merasa aku hanya mendekatinya demi harta?"
"Kamu bicara apa saja!" bentak Belinda sambil berdiri dan menunjuk wajah Adelia. "Bukankah itu gunanya kamu ada di sana? Bukankah kami memaksamu menggantikan kakakmu justru agar kami bisa selamat dari kemiskinan? Sekarang kamu sudah jadi istrinya, tugasmu adalah mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya dari dia! Jangan jadi anak yang tidak tahu berterima kasih!"
"Aku tahu aku berhutang budi pada kalian..." suara Adelia pecah, air matanya mulai menetes. "Tapi meminta uang seperti itu... itu salah, Bu. Itu sama saja aku menjual diriku. Dan kalau nanti dia tahu siapa aku sebenarnya, dia pasti akan membenci kami semua. Aku tidak tega menyakiti dia lebih jauh lagi."
Belinda tertawa sinis, lalu mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Adelia. Ia menatap tajam dengan mata yang penuh kemarahan dan kecewa. "Menyakiti? Kamu malah memikirkan perasaan orang asing itu dibandingkan nasib orang tuamu sendiri? Kamu memang selalu seperti itu—dingin, tidak punya hati, dan iri pada kesuksesan kakakmu! Kamu pikir kamu siapa menolak perintah kami? Kamu ada di sana karena kemauan kami, bukan karena keinginanmu sendiri!"
"Bu, aku tidak iri..." Adelia mencoba membela diri, tapi suaranya tenggelam oleh bentakan Adam.
"Diam kamu!" Adam berdiri dengan wajah merah padam. "Kamu pikir ini permainan? Kalau kamu tidak membawa uang itu minggu ini, jangan harap kamu berani tampil di depan kami lagi! Kamu pikir kamu bisa hidup enak di sini sementara kami tidur di jalan nanti? Kamu harus melakukannya! Tidak ada kata tidak bisa!"
"Aku tidak mau!" teriak Adelia akhirnya, berani menatap mata mereka meski tubuhnya gemetar hebat. "Aku sudah cukup berbohong dengan menyamar jadi Kak Adelin. Aku tidak mau menipu dia juga soal uang. Kalau memang takdir kami jatuh miskin, ya sudah... tapi jangan dengan cara merampas hak orang lain."
Penolakan itu memicu kemarahan yang meledak. Belinda menampar pipi Adelia dengan keras. Plak! Suaranya bergema di ruangan hening itu. Adelia terhuyung ke belakang, menahan pipinya yang terasa panas dan perih.
"Kamu berani menentang kami?" mata Belinda berair karena emosi. "Selama dua puluh tahun kami memelihara kamu, memberi makan dan tempat tinggal, sekarang kamu berani menolak sekali saja kami minta tolong? Kamu tahu tidak, dari dulu kami tidak pernah menginginkanmu! Kamu hanya beban yang harus kami pikul karena takut pada omongan orang! Kalau saja kamu tidak lahir, mungkin hidup kami tidak akan sesusah ini!"
Kata-kata itu menghantam hati Adelia jauh lebih sakit daripada tamparan di pipinya. Ia merasa seolah tulang punggungnya dipukul patah. Ia bukan anak yang diharapkan, ia beban. Selama ini yang ia kira sebagai rumah ternyata hanya tempat singgah yang penuh rasa terpaksa.
Adam ikut menambahkan dengan nada dingin yang menusuk tulang. "Dengar ya, Adelia. Pilihannya cuma dua: kamu minta uang itu hari ini juga, atau kami akan bilang pada Gyantara siapa kamu sebenarnya. Kami akan katakan kamu yang menyusup dan menipu dia sendirian, tanpa sepengetahuan kami. Lihat nanti apakah dia masih mau memelihara pembohong seperti kamu."
Ancaman itu membuat kaki Adelia lemas seketika. Ia jatuh berlutut di lantai dingin. "Jangan... tolong jangan lakukan itu padaku. Aku janji akan berusaha menjadi istri yang baik, aku akan patuh... tapi jangan paksa aku meminta uang."
"Kalau begitu buktikan sekarang!" tantang Belinda. "Panggil Gyantara sekarang juga, atau ambil ponselnya dan transfer uang ke rekening kami. Atau kamu mau kami yang masuk ke dalam kamar dan mengambilnya sendiri?"
Adelia menggeleng kuat-kuat, air matanya mengalir deras membasahi lantai. Ia merasa terjepit di dinding tanpa jalan keluar. Di satu sisi ada orang tua kandungnya yang mengancam dan memaksanya melakukan hal yang bertentangan dengan hati nurani. Di sisi lain ada pria yang mulai ia cintai, yang ia sayangi, dan yang tidak pantas ditipu lebih jauh lagi. Ia merasa sendirian, sepi, dan tidak berdaya di rumah besar yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya sekarang.
"Kalian kejam..." bisiknya lirih. "Kenapa harus aku yang selalu jadi korban? Kenapa Kak Adelin yang lari, tapi aku yang harus membayar semua kesalahannya?"
Karena Adelia tetap diam dan tidak bergerak sedikit pun, Adam dan Belinda akhirnya pergi dengan amarah yang belum habis. Sebelum masuk ke mobil, Belinda berbalik dan berteriak keras agar Adelia mendengarnya dengan jelas.
"Kami beri waktu tiga hari! Kalau sampai uang itu tidak ada di tangan kami, kamu akan lihat apa yang akan terjadi! Jangan harap kamu bisa hidup tenang di sini!"
Pintu pagar tertutup dengan bunyi keras yang menyakitkan hati. Adelia tetap berlutut di ruang tamu yang kosong, menangis sejadi-jadinya. Ia memeluk tubuhnya sendiri erat, mencoba menahan rasa sakit yang menyiksa batinnya. Pipi kanannya masih terasa perih, tapi luka di hatinya terasa jauh lebih dalam dan tak berdarah.
Sore itu, saat Gyantara pulang, ia menemukan Adelia duduk meringkuk di sudut ruangan gelap, wajahnya pucat, matanya bengkak, dan pipinya memerah jelas bekas tamparan. Hati Gyantara langsung berdenyut sakit. Ia mendekat perlahan, tapi Adelia menekuk wajahnya ke lutut, tak berani menatapnya. Ia tidak sanggup meminta uang itu. Ia tidak sanggup membuka mulutnya untuk menipu pria ini demi keserakahan orang tuanya.
Di sudut ruangan itu, Adelia menyadari satu hal pahit: tidak ada tempat untuknya pulang. Rumah orang tuanya mengusirnya dengan kata-kata kejam, dan rumah di sini ia tempati dengan kebohongan yang suatu saat pasti akan hancur. Ia benar-benar sendirian, terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.