NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Wanita / Ibu Tiri / Ruang Ajaib / Romansa pedesaan
Popularitas:25k
Nilai: 5
Nama Author: ICHA Lauren

Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.

Jenara menolak akhir itu.

Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.

Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.

Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.

Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.

Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa Pemenangnya

Mendengar ocehan Ranisya yang memerahkan telinga, Jenara tetap berdiri tenang. Meski dadanya terasa panas, wajahnya sama sekali tidak berubah. Ia tahu, orang seperti Ranisya tidak perlu dilawan dengan adu mulut, melainkan dengan tindakan nyata.

Tanpa berkata apa-apa terlebih dahulu, Jenara meraih sendok kayu di atas meja. Di hadapan para ibu dan Ranisya, ia menyuapkan nasi kepal ke mulutnya sendiri.

Satu...dua...tiga suapan.

Jenara mengunyah dengan tenang, lalu menatap mereka semua.

“Lihat, saya sendiri makan nasi ini. Kalau jamur di dalamnya beracun, bukankah saya akan sakit juga?”

Ia meletakkan sendok itu kembali. “Tapi saya tidak memaksa ibu-ibu untuk membeli. Keputusan ada di tangan ibu-ibu sekalian. Mau makan nasi kepal yang sehat, bergizi, dan rasanya enak, atau mau makan yang sudah biasa dibeli.”

Nada suara Jenara tetap lembut, tetapi kalimat terakhirnya menusuk.

“Saya tidak suka menjelek-jelekkan makanan orang lain. Itu hanya menunjukkan kelemahan.”

Wajah Ranisya seketika merah padam. Bibirnya bergetar.

“Jenara, kau—”

Belum sempat wanita itu menyelesaikan kata-katanya, salah satu ibu sudah mengulurkan uang ke arah Jenara.

“Saya mau beli,” katanya mantap.

Dua ibu lainnya langsung menyusul. “Kami juga.”

Melihat hasutannya tidak berhasil mempengaruhi para calon pembeli, Ranisya terperangah. “Ibu-ibu yakin mau beli?”

“Iya, kami sudah bosan makan mi kuah. Ingin coba makanan yang lain," jawab salah satu ibu santai.

Jenara menerima uang itu dengan senyum hangat. Kemudian, ia menambahkan masing-masing satu nasi kepal ke dalam bungkus mereka.

“Terima kasih, Bu. Saya berikan bonus satu nasi gratis. Tolong dibagikan ke tetangga, ya. Siapa tahu ada yang mau mencicipi. Bilang saja ini buatan Jenara.”

Ketiga ibu itu mengangguk senang lantas berlalu pergi. Meninggalkan Ranisya yang berdiri dengan wajah menegang menahan geram.

Seolah tak terjadi apa-apa, Jenara menoleh ke Gita dan Giri.

“Tolong jaga jualan Ibu sebentar. Ibu mau ambil kue.”

Ia melenggang santai, bahkan melewati Ranisya tanpa melirik sedikit pun.

Tak lama kemudian, Jenara kembali dengan membawa tampah berisi cupcake kukus ubi ungu. Uap hangat masih mengepul dan warnanya ungu cerah memikat mata.

Ranisya dan Rasmi spontan terbelalak.

“Kau jualan kue juga?” Rasmi tak bisa menahan diri. “Kenapa warnanya ungu begitu?”

Jenara sama sekali tidak menanggapi pertanyaan itu. Ia justru menoleh ke Gita dan Giri.

“Kalian boleh ambil satu.”

“Benarkah, Bu?” mata keduanya langsung berbinar. Mereka mengambil masing-masing satu dan memakannya dengan lahap.

Jenara ikut mengambil satu, mencicipinya, lalu tersenyum puas. “Wah, ternyata enak. Manisnya pas.”

Melihat kue yang menggugah selera itu, Rasmi tanpa sadar menelan ludah.

“Bibi Rasmi mau cicipi juga? Kalau mau, saya beri satu," tanya Jenara.

Rasmi hampir saja membuka mulut untuk menjawab, tetapi Ranisya buru-buru mencegah.

“Ibu, fokus pada jualan kita,” tegurnya tajam.

Melihat putrinya marah, Rasmi terpaksa kembali memasang wajah sinis. Dengan gerakan agak kasar, ia mulai menata mangkuk-mangkuk mi, seolah setiap dentingannya adalah luapan kesal yang ditahan.

Ranisya melangkah maju ke depan, berdiri paling dekat jalan setapak. Suaranya dibuat nyaring saat menawari warga desa yang kebetulan lewat.

“Mi kuah hangat! Baru matang!” serunya.

Di sisi lain, Gita mendekati Jenara, matanya berbinar penuh semangat.

“Ibu, aku dan Giri mau memanggil teman-teman bermainku ke sini supaya mereka beli kue. Pasti mereka suka.”

Jenara menatap mereka lembut. “Boleh. Tapi jangan pergi terlalu jauh. Nanti berbahaya.”

“Sebentar saja, Bu," sahut Gita cepat.

Tak menunggu lama, Gita dan Giri berlari kecil menuju halaman rumput di kejauhan, tempat teman-teman mereka masih asyik bermain.

Jenara pun maju selangkah ke depan lapaknya. Dengan suara tenang, ia berseru, “Ada nasi kepal isi jamur dan sayur, juga kue ubi ungu yang masih hangat.”

Warga yang lewat mulai terbelah. Ada yang berhenti di lapak mi, ada pula yang menoleh ke arah Jenara. Persaingan antara dua lapak kian terasa. Saking ingin menang, Ranisya dan Rasmi mulai membagikan mi kuah gratis.

“Silakan dicoba, gratis!” ujar Rasmi dengan senyum yang dipaksakan.

Namun, hampir bersamaan, keramaian justru datang dari arah lain. Beberapa ibu-ibu berjalan mendekat bersama anak-anak mereka. Tepat saat itu, Giri dan Gita juga kembali dengan rombongan kecil teman-temannya.

“Jenara, kami mau beli nasi kepal," salah satu ibu berkata sambil tersenyum. "Tadi kami sudah mencicipi dari ibu tetangga. Rasanya enak sekali.”

Sementara para ibu membeli nasi, anak-anak di samping mereka menatap tampah berisi kue ungu dengan mata berbinar.

“Bu, aku mau kue yang warnanya ungu itu. Namanya apa?” tanya salah satu anak menarik ujung kain ibunya.

Jenara membungkuk sedikit agar sejajar dengan anak itu. “Namanya cupcake kukus ubi ungu.”

Anak itu menggaruk kepala, jelas kebingungan dengan istilah asing yang diucapkan Jenara. Melihat reaksi polos tersebut, Jenara tersenyum hangat.

“Rasanya enak dan manis. Mau coba?”

Anak itu langsung mengangguk mantap. Akhirnya, para ibu membeli nasi kepal dan kue ubi ungu. Bahkan ada yang menambah pesanannya.

Warga yang awalnya membeli mi kuah ikut-ikutan tergiur, apalagi setelah melihat anak-anak memakan kue ungu dengan wajah puas. Harganya yang murah membuat mereka tak ragu untuk membeli.

Belum lama berselang, kue ubi ungu di tampah Jenara ludes tak bersisa. Nasi kepal pun tinggal dua buah.

Ranisya dan Rasmi semakin geram. Dengan nada mendesak, mereka kembali memanggil warga.

“Ayo, makan mi kuah gratis! Ambil saja, gratis!”

Mendapat undangan makan gratis, para warga segera menyerbu ke arah Ranisya. Tak berapa lama kemudian, suasana mendadak berubah ketika Pak Kepala Desa datang berkunjung bersama istrinya. Langkah mereka terhenti di depan dua lapak yang ramai.

Pak Kepala Desa menatap sekeliling, lalu bertanya.

“Bagaimana, Jenara? Ranisya? Apa kalian sudah selesai berjualan?”

Sebelum Jenara menjawab, Ranisya langsung melangkah maju. Senyum sombong terukir di wajahnya.

“Sudah, Pak Kepala Desa," katanya yakin. “Dan pasti kami pemenangnya. Lihat mi kuah kami sudah habis."

Pak Kepala Desa dan istrinya sontak melongok ke arah baskom yang kosong. Sementara punya Jenara masih tersisa dua.

"Tunggu dulu Pak Kepala Desa, penentuan pemenang tidak hanya dilihat dari habis atau tidaknya makanan. Tapi dari jumlah uang yang diterima. Mari kita hitung hasil penjualan saya atau Ranisya yang lebih banyak," ujar Jenara.

"Eh, kau tidak mau mengakui kekalahanmu, Jenara?" sahut Ranisya sinis.

Mencegah adanya keributan lebih lanjut, Pak Kepala Desa langsung mengangkat tangan.

"Tenang dulu. Kita akan menentukan pemenang dari jumlah yang terjual, bukan termasuk yang dibagikan gratis. Dan, pemenangnya nanti akan saya pilih untuk memasak makanan bagi Tuan dan Nyonya Gubernur."

1
Hary Nengsih
gratis walay gak enak juga pd mau
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Endingnya di kasih gratis gak tuh🤣🤣apa balik modal?
Amriati Plg
Biasanya ruang dimensi ini ada nama baru ruang wiji😄
Hary Nengsih
lanjut
Lala Kusumah
semangat Jenara 👍👍💪💪
Azura75
mana lanjutannya. kok nggak bs scroll ke atas lagi? ☺
@Mita🥰
lanjut 😍😍
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
semoga mereka langgeng dan bahagia, tidak berpisah ya 🙏🙏🙏
Wulan Sari: iya betul say biyar bahagia walau ada kerikil2 tajam tetap bersama 👍❤️
total 1 replies
Hary Nengsih
lanjut
SENJA
laaaah lu kenapa yah jadi provokator banget 😶
SENJA
wah wah wah 😶
SENJA
buseh tukang nyiksa anak, tukang judi waduh 🤣
@Mita🥰
semangat jenara
Lala Kusumah
good job Jenara 👍👍👍
Lala Kusumah
kemana ya anak-anak Jenara 🤔🤔🤔
@Mita🥰
seperti nya di bawa si cewek yang suka sama seran
Wulan Sari
lhaaa pada ke mana tu anak2 3G, membuat panik sj semoga cepat ketemu yaaaa ayo Thor lanjut critanya terimakasih semangat 💪 salam ❤️
Hary Nengsih
wah kemana ya
@Mita🥰
emang gak bisa ya sekali jentik kan jari langsung hilang semuanya 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!