DALAM TAHAP REVISI
Zeda Firdaus bertemu dengan seorang pria yang pernah ia tolong beberapa bulan lalu, pria yang bernama Gabriel Emerson itu mengaku sedang liburan di desa Firda. Kejadian demi kejadian membuat mereka sering bertemu dan menjadi dekat hingga keduanya harus berpisah di karenakan Gabriel yg harus kembali ke kota dan Firda melanjutkan pendidikannya ke pesantren.
Beberapa bulan kemudian Firda dan Gabriel kembali di pertemukan di Jakarta saat Firda datang kesana untuk menghadiri pernikahan kakak sepupunya.
Namun, di pertemuan mereka itu terjadi suatu hal yang membuat Firda harus terikat pernikahan dengan Gabriel yg sebenarnya adalah seorang Don Mafia.
Ig @SkySal98
Fb SkySal Alfaarr
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps31 - Malam Pertama
Acara akad pernikahan Firda dan Gabriel berjalan dengan lancar dan kini mereka sudah sah menjadi suami istri.
Tak ada kebahagiaan yg terpancar di wajah Gabriel maupun Firda, namun pernikahan nya dengan Firda membuat Gabriel setidak nya merasa lega karena ia punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan nya.
Setelah acara selesai. Gabriel dan Firda memasuki kamar Firda.
Gabriel memperhatikan setiap sudut kamar Firda yg tampak unik bagi nya, kamar itu kecil namun tampak indah. Yg menarik perhatian Gabriel adalah banyak kertas memo yg tertempel di dinding kamar Firda, membuat kamar itu tampak seperti kamar detektif.
Gabriel melangkah sembari masih memperhatikan setiap sudut kamar Firda, hingga tanpa sengaja ia mendekati ranjang Firda yg berukuran sangat kecil bagi nya.
"Jangan pernah berani mendekati ranjang ku!" tegas Firda yg langsung mengejutkan Gabriel. Kini perhatian nya tertuju pada Firda yg baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian, bahkan Firda sudah menghapus make up nya.
"Firda, aku...sungguh aku minta maaf" lirih Gabriel penuh penyesalan namun lagi lagi Firda menatap nya dingin. Ia naik ke atas ranjang, menarik selimut dan memejamkan mata. Gabriel masih diam mematung di tempat nya semula, hati nya begitu sakit setiap kali mendapatkan tatapan kebencian dari Firda namun ia hanya bisa menahan nya.
Karena Firda melarang nya mendekati ranjang, Gabriel pun duduk tegak dimeja belajar Firda. Pandangan nya lurus menatap Firda yg masih memejamkan mata.
Ponsel Gabriel berdering, tertera nama John di sana. Gabriel keluar dari kamar Firda dan menjawab panggilan John.
"Ada apa?" tanya Gabriel.
"Nyonya Angeline sudah menandatangani surat cerai nya, Tuan" ujar John dan entah mengapa Gabriel malah bernafas lega mendengar kabar itu.
"Syukurlah" jawab Gabriel "Bagaiamana keadaan Michael?" tanya nya.
"Masih sama, baik baik saja. Tadi Frank membawa nya jalan jalan dan aku mengikuti nya" Gabriel tersenyum tipis mendengar hal itu, sebagai ayah tentu ia merasa iri pada Frank yg bisa begitu dekat dengan Michael. Dan entah bagaimana nanti ia harus memberi tahu Firda bahwa ia memiliki seorang putra.
Gabriel langsung memutuskan sambungan telpon nya kemudian ia segera kembali ke kamar Firda.
Gabriel melihat Firda yg masih memejamkan mata dan seperti nya gadis itu tertidur, karena ia tampak begitu tenang dan terdengar dengkuran halus. Gabriel melihat sebuah botol obat di samping tempat tidur Firda, Gabriel memeriksa nya dan sekarang ia tahu kenpa Firda sudah tertidur, pasti karena pengaruh obat nya ini.
Gabriel kembali ke meja belajar Firda, ia duduk tegak di sana memghadap Firda. Tidak tidur semalaman bukan hal yg baru bagi Gabriel, ia sudah terbiasa melakukan hal itu.
Gabriel memperhatikan bagaimana Firda tidur, sesekali gadis itu menggeliat, berbalik ke kanan dan ke kiri seolah ia tidak tidur dengan nyenyak. Hingga tiba tiba terdengar Firda menangis lirih dalam tidur nya, Gabriel berdiri hendak memeriksa Firda namun ia teringat dengan perintah Firda untuk tidak mendekati ranjang nya. Perlahan Gabriel melangkah mundur dengan perasaan bersalah dan tidak nyaman, ia kembali duduk di meja belajar Firda.
Sementara Firda memang tidak pernah tidur dengan tenang sejak kejadian hari itu, bahkan untuk tidur saja ia membutuhkan obat yg di resepkan dokter pada nya. Firda selalu merasa bersalah pada keluarga nya dan berdosa pada Tuhan nya, karena yg terjadi pada nya juga salah Firda yg melanggar perintah ibu nya. Seandainya ia tidak pergi waktu itu, seandainya ia tidak mempercayai Gabriel seperti perintah ibu nya, semua ini pasti tidak akan terjadi.
Saat adzan subuh berkumandang, Firda terbangun dan seketika tatapan nya langsung tertuju pada Gabriel yg masih duduk tegak di meja belajar nya bahkan ia masih dengan pakaian nya semalam. Firda sedikit terkejut melihat hal itu namun kemudian ia mengabaikan Gabriel.
Firda bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, kemudian ia keluar lagi dan masih melihat Gabriel yg duduk di meja belajar nya.
Firda mengambil sejadah dan mukena nya, ia menghamparkan sejadah nya dan berdiri di atas nya.
Firda hendak melaksanakan sholat, namun saat hendak melakukan takbir, ia menoleh dan melihat Gabriel yg saat ini juga melihat nya.
"Memang nya kamu engga mau sholat?" tanya Firda ketus yg tentu saja membuat Gabriel terkejut dan ia langsung berdiri tegak. Ia pun berjalan ke arah Firda dan berdiri tepat di samping Firda, membuat Firda mengernyit bingung.
"Belum wudhu kamu itu" tukas Firda kemudian yg kini malah membuat Gabriel bingung.
"Maksud nya?" tanya nya lirih.
"Wudhu, sebelum sholat harus wudhu" tegas Firda kesal.
"Tapi aku tidak tahu cara nya" jawab Gabriel jujur yg membuat Firda menganga. Dalam hati ia semakin merutuki diri nya, ia bukan hanya menikahi pria penjahat tapi juga pria tak fahan agama.
"Ayo, aku ajarkan" ucap nya kemudian sembari menyuruh Gabriel ke kamar mandi.
Firda menuntun Gabriel untuk melakukan langkah langkah wudhu nya beserta bacaan nya yg tampak sulit di ucapkan Gabriel, namun Firda masih sabar mengajari Gabriel.
Gabriel merasa sangat senang dengan hal itu. Ia sama sekali tak menyangka, semarah marah nya Firda pada nya, ternyata Firda masih bisa berbuat baik padahal Firda tampak sangat membenci nya juga. Membuat Gabriel semakin mengagumi Firda.
Gabriel tidak bisa menjadi imam Firda karena ia bahkan tidak bisa membaca fatihah, dan ia juga tidak boleh menjadi makmum Firda karena ia laki laki. Alhasil, Gabriel sholat di samping Firda dan hanya mengikuti gerakan Firda. Firda yg menyuruh nya karena ia merasa berkewajiban membantu Gabriel dalam ibadahnya, karena jika bukan Firda, siapa lagi?
Gabriel merasa begitu bahagia, malam pertama nya begitu berkesan. Karena di malam pertama nya ini, Firda memberikan sesuatu yg tidak bisa siapapun berikan. Firda mengajarkan nya sesuatu yg tidak pernah di ajarkan siapapun. Dan di malam pertama nya ini, Gabriel semakin mengenal betapa baik nya Firda. Begitu mengagumkan.
Setelah sholat selesei, Firda berdizkir dan berdoa. Lagi lagi Gabriel hanya bisa mengikuti nya dan terkadang ia tampak bingung, Firda kembali meneteskan air mata saat berdoa bahkan ia tidak peduli dengan keberadaan Gabriel di samping nya. Firda masih merasa bersalah, apa lagi kini ia telah membohongi seluruh keluarga besar nya dengan pura pura mencintai Gabriel.
Melihat Firda menangis sesegukan, Gabriel hendak menenangkan Firda dengan menyentuh pundak nya namun Firda langsung menepis nya.
"Semua ini salah mu, aku ternoda, aku berdosa, dan sekarang aku membohongi semua orang. Semua salah mu" lirih Firda yg membuat Gabriel hanya bisa terdiam seribu bahasa.
Baru saja ia merasa senang karena Firda mau berbicara dan membantu nya dalam ibadah, sekarang ia harus kembali merasakan pahit nya kebencian Firda.
Firda ke mode jengkelin..
Klo sudah...
Muntah kok Terus lari ke hamidun?
Ga perlu ke dokter da alat namanya test pack, bener2 Dah waktu da pembagian otak di kelurahan absen x...